Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 54


__ADS_3

Sinar mentari pagi menelisik masuk kedalam celah tirai kamar. Menerangi sebagian ruangan dengan hangatnya pancaran sinarnya. Menembus batas, menyentuh setiap benda apapun yang dijangkaunya. Burung parkit bersama teman-temannya menyapa pagi dengan alunan kicauan indahnya. Saling bersautan penuh riuh. Langit biru pun melambai kala menunjukkan kesempurnaan cerahnya pagi ini.


Dikamar, tepatnya dibawah selimut putih, dua orang tengah saling berpelukan berbagi kehangatan satu sama lain. Pakaian yang berceceran dan benda-benda disekitarnya menjadi saksi bisu bagaimana mereka menghabiskan malam bersama. Dan tentunya, apa yang belum pernah terjadi sebelumnya pasti telah mereka lalui.


Charlotte bergelung nyaman dipelukan Xavier. Kedua mata wanita itu masih terpejam rapat dengan nafas teratur, sedangkan Xavier, pria itu sudah terbangun sejak 10 menit yang lalu. Membiarkan tubuhnya menjadi penghangat wanita itu.


Tangan kanan Xavier tak henti mengusap lembut kepala Charlotte, sesekali memainkan rambutnya yang bergelombang. Wanita itu telihat begitu menikmati tidurnya setelah ia hanya menyisakan waktu dua jam untuk mereka tidur.


Xavier tahu apa yang sudah dilakukannya sangat tidak manusiawi pada Charlotte. Memaksa wanita itu menuruti keinginannya. Hanya karena emosionalnya yang tidak terkontrol, ia terpaksa memilih keputusan itu. Mengikat Charlotte dalam genggamannya, agar wanita itu tidak melawannya.


Selama ini, Xavier sangat membenci siapapun yang melawannya. Tidak memandang gender atau darimana kasta mereka. Jika mereka memilih berselisih dengannya, kehancuranlah yang mereka dapatkan. Ia bukan Tuhan yang bisa menentukan takdir seseorang, ia hanya manusia yang memiliki ribuan dosa yang tidak termaafkan. Xavier hanya bertindak sesuai apa yang diperbuat orang lain kepadanya.


Ia akui, Charlotte adalah wanita pertama yang berani menentangnya dengan sangat gigih. Wanita itu, sejak awal mereka bertemu, telah membuatnya tertarik. Ia tidak tahu apa yang dirasakannya ini salah atau tidak. Namun ada suatu perasaan dimana dirinya menjadi orang berbeda saat disamping wanita itu. Rasa ingin melindungi wanita itu, juga…. Rasa ingin memilikinya….


“Eeuummm..”


Tubuh Charlotte menggeliat, merasa terganggu dengan sentuhan dikepalanya. Kedua matanya terbuka secara perlahan menyesuaikan pencahayaan disekelilingnya.


“Akhh.”


Charlotte terpekik pelan saat berniat menggeser tubuhnya, rasanya sakit seperti dihantam ribuan palu hingga mengenai tulang-tulangnya. Rasanya sakit sekali.


“Tidurlah, jika kau lelah.”


Suara serak Xavier membuatnya menengadah, wajah bantal pria yang kini menjadi suaminya itu sama sekali tidak melunturkan wajah tampannya. Justru sebaliknya, Charlotte dibuat terpana oleh pesonanya.


Xavier terlihat tenang, tidak merasa terganggu. Justru kedua tangannya kembali memeluk wanita itu kedalam dekapannya. Memberikan kecupan singkat dikening Charlotte.


Sejenak wanita itu terdiam, menggerakkan tubuhnya pun hanya akan menambah rasa sakit ditubuhnya. Ia kembali mengingat apa yang telah mereka lalui malam ini. Rona merah menyembul dikedua pipinya. Matanya yang indah tak berhenti berkedip mengingat kehebatan pria disampingnya ini. Rasa malu menyeruak masuk dalam benaknya. Harga dirinya seketika hilang dan berganti rasa malu yang amat besar.


“Pejamkan matamu.”


“I-iya..” balas Charlotte dengan suara gemetar. Debaran didadanya semakin kencang. Mendengar suara serak Xavier justru membuatnya tak bisa memejamkan mata.


Xavier tersenyum kecil, istrinya berubah penurut. “Aku akan memandikanmu setelah ini.”


“A-apa?! K-kau bilang apa?” Charlotte bangun tiba-tiba seraya menjauhi Xavier saking terkejutnya.


“Aku mengatakannya dengan jelas.”


“Ta-tapi, kenapa harus memandikanku? Aku bisa melakukannya sendiri!” tolak Charlotte.

__ADS_1


“Kau kesakitan, bergerak saja kesulitan.”


“Siapa yang bilang, aku masih bisa jalan kok. Lihat ini, Akhh!” pekik Charlotte setelah memaksakan diri untuk bangkit dari tempat tidur.


“Keras kepala.” Ucap Xavier meremehkan.


“Hei! Aku seperti ini juga karena siapa! Bicara seenaknya!” seru Charlotte melimpahkan kekesalannya pada Xavier. Ia melilitkan selimut ditubuhnya dan turun perlahan dari tempat tidur. Berjalan pelan ke kamar mandi. Dan menghilang dibalik pintu.


Xavier tersenyum lucu melihat tingkah Charlotte. Semua yang dikatakan wanita itu memang benar, semua karena dia yang tidak bisa mengontrol diri. Xavier meraih ponsel diatas nakas dan menghubungi Dean.


“Ya Tuan?”


“Dimana kau?”


“Saya sedang bersama Tuan Besar, menemaninya sarapan.”


“Tunggu aku, 30 menit aku akan turun.”


“Baik Tuan.”


Sambil menunggu Charlotte selesai mandi, Xavier membuka beberapa email masuk dari rekan bisnisnya yang berada diluar negeri. Sesekali matanya melirik pintu kamar mandi, memastikan keadaan Charlotte.


“Sudah bangun anak itu?”


Kakek bertanya pada Dean seraya memasukkan es krim kedalam mulutnya. Dean mengangguk. “Ya Tuan. Tigapuluh menit lagi, Tuan Muda akan turun.”


“Hmm, baiklah.” Kakek masih sibuk dengan satu cup kecil makanan favoritnya itu.


“Tuan Besar, berhentilah makan es krim. Tidak baik untuk kesehatan Tuan.” Tegur Dean. Tuan Besarnya itu memiliki kebiasaan aneh dipagi hari. Tingkahnya yang suka memakan es krim dicuaca dingin atau  pagi hari terkadang membuatnya cemas tentang kesehatannya.


“Ya. Ya. Sekali ini saja ya.” Tawar Kakek masih bandel seolah tak peduli kekhawatiran seseorang disampingnya.


“Tuan Muda juga sudah melarang Anda. Kenapa masih memakannya. Bagaimana jika Tuan Muda tahu.”


“Shuushh… jika kita diam, dia tidak akan tahu. Oke.” Bisik kakek sambil melempar senyum usilnya.


Dean menghela nafas, lagi-lagi ia harus mengalah demi kesenangan laki-laki tua yang demen makan es krim. Astaga….


“Kakekkkk!!”


Suara teriakan Charlotte saat menuruni tangga mengalihkan perhatian mereka. Kakek tersenyum lebar melihat cucu menantunya itu bersemangat menghampirinya. Xavier dibelakangnya hanya menggelengkan kepala melihat tingkah istrinya. Charlotte langsung memeluk kakek dengan sayang.

__ADS_1


“Woaaa… cucu kakek cantik sekali pagi ini.” Puji Kakek seraya melepaskan pelukan mereka.


“Kakek juga tampan.” Balas Charlotte memberikan dua jempol dengan senyum riangnya.


“Hahaha… boleh juga rayuan cucu Kakek ini.” Ucap Kakek mengusap kepala Charlotte gemas.


“Dua bocah kecil saling berjumpa.” Gumam Xavier pelan, memutar bola matanya dengan malas. Duduk didepan Dean seraya mengambil kopi yang disediakan untuknya. Dean menahan tawanya membenarkan perkataan Xavier.


“Duduklah. Ayo kita sarapan bersama.” Ajak Kakek.


“Baik Kek.” Charlotte langsung mengambil tempat duduk disamping Xavier.


“Apa kalian tidur nyenyak semalam?” tanya Kakek disela-sela mereka makan.


“Uhuk! Uhuk!” Charlotte tersedak dan cepat-cepat mengambil air. Meminumnya hingga tandas. Xavier melirik Charlotte sekilas dan kembali melanjutkan makannya.


“Iya.” Jawab Xavier tenang.


Lirikan maut diarahkan Charlotte pada Xavier. Raut wajahnya yang merah seolah tak terima pernyataan pria itu. Ingin rasanya mencakar wajah tampannya dan membuangnya ke lubang nereka. Nyenyak dia bilang? Hah!! Dialah yang menjadi korban nafsunya! Enak saja bicara!


Tidak ada waktu istirahat baginya semalaman. Xavier terus saja memintanya tanpa henti. Ia lelah, tapi diacuhkan pria itu. Terkadang ia serasa mau mati saking remuknya tubuhnya saat ini. Pria gila, sebutan yang pantas bagi Xavier.


“Baguslah. Aku ingin Charlotte betah disini. Kau harus baik-baik padanya Xavi. Ingat pesan kakek.” Ujar kakek.


“Iya kek. Aku mengerti.”


“Kakek senang dengarnya. Kalau begitu segeralah punya anak, agar kalian semakin bahagia.” Ujar Kakek dengan senyuman cerianya.


Byurrr!!


Charlotte tanpa sengaja menyemburkan air yang diminumnya tepat diwajah Dean.


‘Anak??!!’


.


.


.


Jgn lupa VOTE dan koment ya,,, biar Nana tmbah seneng.. see you^-^

__ADS_1


__ADS_2