
Charlotte terbangun ketika mendengar suara berisik diluar kamarnya. Ia melihat sekeliling kamar. Suaminya tidak ada disana. Charlotte bangun dari tempat tidur dan menegakkan tubuhnya. Sayup-sayup ia mendengar teriakan wanita diluar sana. Seprti suara Shinta. Tapi entah kenapa adik tirinya itu berisik.
Charlotte perlahan turun dari tempat tidur. Kepalanya masih terasa pusing. Ia berpegangan meja di sampingnya. Meraba dinding kamar untuk menjaga keseimbangannya. Satu tangannya memegang kepalanya yang masih berdenyut. Rasa ingin tahu keadaan diluar mengalahkan rasa sakitnya.
“Nona, Kenapa bangun?” tiba-tiba seorang pelayan rumahnya datang seraya membantu Charlotte berjalan. Melihat Nona Mudany kesulitan berjalan membuat pelayan itu membantu memapahnya.
“Aku ingin keluar. Kenapa disana berisik sekali?” tanya Charlotte ingin tahu.
“Emb, tidak ada apa-apa Nona. Nona Charlotte lebih baik istirahat saja. Nona perlu apa, biar saya yang ambilkan.” Ujar pelayan itu merasa takut jika Charlotte melihat apa yang terjadi diluar sana.
“Tidak. Aku hanya ingin keluar.”
Charlotte melanjutkan langkahnya untuk keluar dari kamar. Pelayan itu tampak cemas, namun terpaksa membantu Charlotte berjalan.
“Suaranya ada dibawah ya?”
Charlotte melongok kebawah, ia baru saja mendengar jeritan. Perasaannya jadi tak karuan. Ia menoleh pada pelayan disampingnya yang jantungnya ikut berdebar-debar. Keringat dingin membasahi wajahnya yang pucat.
“S-saya tidak dengar apa-apa Nona. Lebih baik kita kembali ke kamar saja.” Ajak pelayan itu.
“TIdak. Aku capek tidur terus. Lagipula, aku mendengar jelas ada orang berteriak tadi. Seperti suara adik tiriku.” Ujar Charlotte.
“Tapi Nona-“
“Aku ingin melihatnya. Ayo bantu aku.” Charlotte berpegangan pada tangan pelayan itu, berjalan menuruni tangga dengan perlahan.
__ADS_1
Langkah Charlotte tiba-tiba terhenti ketika melihat ayahnya pulang. Pria itu tampak terburu-buru dan berjalan menuju ruangan tak jauh dari sana. Ia masuk kedalam sana. Charlotte berniat mengikutinya untuk tahu apa yang terjadi. Ia tadi juga mendengar suara terikan dari dalam ruangan itu. Charlotte tak menunggu lama, ia meminta pelayannnya untuk membawa cepat kesana.
Semakin dekat dengan pintu, jantung Charlotte semakin tak karuan. Ia bisa mendengar ayahnya sedang berteriak dan meluapkan emosinya. Ayahnya seolah sedang berbicara dengan sesorang didalam sana. Tangan Charlotte memegang handle pintu berniat membuka pintu berpelitur kayu itu.
“Nona, jangan masuk.” Ucap pelayan melarang. Melihat tubuh pelayan itu gemetar semakin menambah rasa penasaran Charlotte. Sebenarnya ada apa didalam ruangan itu. Charlotte tak menghiraukan ucapan pelayan dan perlahan membuka pintu. Dengan jelas ia melihat ayah dan suaminya sedang bicara, dilantai juga ada ibu dan saudara tirinya sedang menangis.
“Setelah mengambil alih perusahaanku, kau juga ingin membunuh keluargaku satu persatu!? Aku tahu kau ingin memiliki perusahaanku dengan cara licik. Kau dan Kakekmu itu sama sekali tak berniat membantu kami! Kau dan Kakekmu sama-sama bajing*an!!”
“Apa kau tahu siapa yang baru saja kau hina?”
“Ya aku tahu! Tidak seharusnya aku menikahkan putriku dengan manusia kejam sepertimu! Kau tidak pantas mendapat wanita baik manapun. Kau hanya orang yang haus dengan kekayaan orang lain, dasar bajing*n!!”
Charlotte melihat ayahnya ingin melukai Xavier, namun suaminya itu justru berhasil membalikkan keadaan. Kini ayahnya yang dalam kesulitan, tubuhnya terpanting kelantai cukup keras. Bahkan Charlotte melihat senyuman jahat diwajah suaminya.
“Apa yang kau lakukan pada ayahku, Xavi!” teriak Charlotte ia berjalan perlahan mendekati suaminya. Hingga mereka berhadapan. Charlotte yang tingginya sebatas dada Xavier, harus mendongakkan kepalanya.
“Jangan ikut campur, kembalilah kekamarmu.” Balas Xavier datar.
“Kenapa aku tidak boleh ikut campur saat suamiku sendiri menyakiti keluargaku?! Jika mereka salah, kau bisa bicara baik-baik dengan mereka, bukan main pukul seperti ini. Dia ayahku, bagaimana kau bisa menyakitinya sampai terluka?” lirih Charlotte, ia sampai menitikkan air mata didepan Xavier.
“Jadi kau keberatan aku melukai mereka?” tanya Xavier berdiri tegap didepan Charlotte.
“Ya!”
Xavier mengamati wajah Charlotte yang bersikap berani. Lalu bola matanya turun kebawah pada perut rata Charlotte. Gumpalan kabut gelap menguasai otaknya. Ia merasa sakit hati karena wanita yang ia cintai harus mengandung benih orang lain. Tubuh Xavier bergetar menahan amarahnya.
__ADS_1
“Dean!!!”
Xavier berteriak memanggil asistennya. Suaranya yang keras dan menggelegar itu tidak membuatnya mengulang teriakannya. Dean langsung tiba diruangan itu secepat kilat.
“Ya Tuan?” Dean melihat Susanto dan istrinya dilantai dengan kondisi memprihatinkan. Sedangkan Nona Mudanya tampak diliputi amarahnya begitupun dengan Tuan Mudanya. Ia bingung apa sebenarnya yang terjadi.
“Siapkan pesawat! Hari ini aku akan kembali ke Kota S! Tentang masalah disini….” Xavier melirik sinis Susanto begitupun istrinya. “….Kau urus sampai selesai. Begitu juga si brengs*k itu!” titahnya tak terbantahkan.
“Baik Tuan.” Dean tahu perintah yang dimaksud Xavier. Ia harus segera mengambil alih perusahaan Setiawan Group milik Kakek Charlotte sampai clear. Dan memberi ‘hadiah’ pada Tuan Fredy. Entah apa ‘hadiah’ yang dimaksud, hanya Xavier dan Dean yang tahu. Mereka sudah biasa memberikan penghargaan itu untuk orang-orang yang sudah berani kepada keluarga Xavier.
Xavier mengalihkan padangannya pada Charlotte yang terkesiap mendengar perintahnya untuk segera kembali ke kota S. Xavier dengan cepat menarik tangan Charlotte keluar dari ruangan.
“Xavi, kau mau bawa aku kemana?” seru Charlotte seraya berusaha melepaskan genggaman kuat Xavier yang terus menariknya keluar rumah.
“Jangan melawan, atau aku bisa lebih keras kepadamu.” Tegas Xavier tak memperdulikan penolakan Charlotte.
“Tolong jangan seperti ini. Aku tidak bisa pergi begitu saja!” akhirnya tangan Charlotte berhasil lepas. Xavier terpaksa menoleh. “Aku ingin dengar penjelasanmu, apa benar kau sudah mengambil alih perusahaan Kakekku?”
Xavier terdiam, ia sama sekali tak berniat menjawab Charlotte. Hingga ia memilih membuka pintu mobil dan berjalan kembali. Dengan mudah, ia gendong istrinya untuk masuk kedalam mobil dan menguncinya disana.
.
.
.
__ADS_1
Doakan Nana bisa rampungin novel MTP bulan dpn ya...Biar gk lama-lama, dan bs fokus ke novel lainnya.. Happy reading... ^-^