
“Terima kasih atas bantuannya Tuan Harfin.”
“Ya. Salamkan untuk Nona Charlotte. Sayang sekali, padahal aku masih ingin bicara banyak padanya.”
“Saya akan sampaikan. Maaf karena tidak sempat berpamitan dengan Anda.”
“Tidak apa. Mungkin urusannya jauh lebih penting. Kita bisa bertemu di lain waktu.”
“Baiklah. Kalau begitu saya permisi.”
Fredy terpaksa berbohong atas kepergian Charlotte yang tiba-tiba. Tuan Harfin datang setelah kepergian Xavier. Jujur saja, ia sangat ingin menjelaskan runtut kejadian yang terjadi. Tapi Xavier tak ingin mendengarnya. Yang ia takutkan sekarang adalah kondisi Charlotte.
Xavier begitu marah melihat kedekatannya dengan Charlotte. Pria itu pikir mereka masih memiliki hubungan. Ia takut Xavier akan menyakiti Charlotte. Walaupun mereka sudah berpisah, tapi Fredy masih terus mengkhawatirkan wanita itu.
Fredy tak menyangka Xavier orang yang keras kepala. Ia tahu Xavier memiliki segalanya. Otak cerdas, hebat dan kekayaan tiada batas. Namun sangat disayangkan, pria itu sangat pencemburu. Tidak ada satu katapun yang boleh ia ucapkan, ataupun memperbolehkannya memberi penjelasan. Pria itu justru memberikan ancaman keras padanya.
“Aku akan membalasmu secepat mungkin. Tunggu saja.” Ucap Xavier dengan tatapan smirknya. Tak ada keraguan dalam intonasi setiap perkataannya. Pria itu berlalu dari sana menyisakan bayangan gelap di koridor kamar hotel.
Fredy menghela nafas begitu berat. Ia duduk di mobilnya setelah memikirkan ancaman Xavier. Ia tidak takut dengan pria itu. Pikirannya beralih pada Charlotte. Wanita itu bisa mendapat masalah karena dirinya. Sejak awal, Charlotte sudah memperingatkannya. Ia seharusnya tahu batas mereka.
Fredy tak bisa berpikir jernih, pria itu kemudian membawa kendaraannya keluar dari lingkungan Hotel.
^
__ADS_1
Didalam mobil hanya ada keheningan menyelimuti suasana disana. Dean menyetir dengan tenang. Sedangkan Xavier, sejak tadi diam dengan mengalihkan pandangannya keluar. Tidak ada sepatah katapun keluar dari mulutnya. Charlotte meremat tangannya yang sudah dipenuhi keringat dingin.
Sesekali, dengan ekor matanya, Charlotte melirik ekpresi dingin Xavier. Pria itu diam seribu bahasa. Ingin rasanya Charlotte bicara dan memberitahu pada Xavier tentang kesalahpahaman mereka. Setidaknya rasa bersalah yang hinggap didirinya hilang setelah mengungkapkan semua itu.
“Xavi, aku ingin-“
“Ke rumah keluarga Hasana!” perintah Xavier tanpa menoleh sedikitpun. Ia tujukan pada Dean, asistennya.
“Baik Tuan.”
“Xavi, ki-kita tidak akan kembali ke Kota S kan?” pikiran kembali ke mansion mereka di Kota S menghantui Charlotte. Jika mereka kembali ke rumah orang tuanya, mungkinkah Xavier berniat mengemasi barang-barang mereka? Dan pergi ke Kota S segera?
Charlotte tak bisa melakukan itu! Ia belum berhasil menyelamatkan perusahaan Kakeknya. Apa yang harus ia lakukan untuk membujuk Xavier agar mau memberinya kesempatan?
Tak Terasa, mobil sudah masuk ke halaman rumah keluarga Hasana. Jari jemari Charlotte semakin tak terkendali. Meremat apapun termasuk baju kantor yang ia pakai. Ia tidak ingin kembali secepat ini.
“Keluar.”
Xavier lah yang membukakan pintu. Raut wajahnya masih dingin dan lebih dingin dari sebelumnya. Charlotte menelan ludah dengan susah payah. Ia tidak berani melawan pria itu walaupun ia adalah istrinya. Apakah perang dunia ketiga akan meledak sebentar lagi? Ia sangat takut.
Kaki kecil Charlotte keluar lebih dulu hingga menginjak tanah. Kepala yang menunduk dengan wajah menyesal memperlihatkan bagaimana kondisi ketakutan wanita itu. Tak ayal, Charlotte mengurungkan keberaniannya.
Xavier langsung menarik tangan Charlotte untuk mengikutinya. Pria itu membawa Charlotte masuk kedalam rumah. Sella, ibu tiri Charlotte dibuat terkejut saat Xavier membawa Charlotte dengan paksa menuju lantai dua. Tak mau ketinggalan informasi, wanita berusia 50 tahunan itu mengendap-endap mengikuti mereka.
__ADS_1
Langkah lebar Xavier tidak mampu diikuti Charlotte. Wanita itu terlihat kesulitan mengikuti Xavier. Hingga beberapa kali hampir jatuh. Namun dengan sigap, pria itu memegang erat lengan Charlotte.
Xavier membawa Charlotte masuk kedalam kamar wanita itu. Dengan dorongan kuat, Xavier menjatuhkan Charlotte diatas tempat tidur.
“Jangan berani keluar dari rumah itu sebelum kuijinkan!” perintah Xavier tak terbantahan.
“Xavi, kau mau mengurungku?” tanya Charlotte tak percaya.
“Kau sudah mengerti. Tidak perlu kuulangi.” Xavier membalikkan tubuhnya dengan angkuh dan berniat pergi dari sana.
Charlotte tidak patah arang, wanita itu segera turun dari tempat tidur dan berlari menghadang Xavier. “Kenapa kau melakukan ini padaku? Aku salah apa?”
“Intropeksi diri lebih penting untukmu. Minggir!”
“Tidak mau! Kumohon jangan marah, aku bisa jelaskan alasanku ada disana. Tolong dengarkan aku dulu Xavi!” seru Charlotte bersikeras.
Xavier melirik tangan Charlotte yang menyentuh lengannya. Dengan sekali hempasan, Xavier melepaskannya dari tubuhnya. Ia bersikap seolah tak ingin Charlotte menyentuhnya. Kemarahan pria itu masih ada. Dalam sekali tarikan nafas, Xavier berusaha meredamnya. Ia kembali menatap Charlotte dan menundukkan kepalanya.
“Yang aku tahu hanya….. istriku berselingkuh dibelakangku. Segala alasan yang keluar dari bibirmu, tidak akan bisa menepis hal itu. Kau puas sudah mengkhianatiku? Inikah caramu membalas dendam? Kau sudah mendapatkan hatiku sepenuhnya. Tetapi dalam sekejap kau meleburkan semua. Kau puas sekarang?”
.
.
__ADS_1
.
Happy reading bestie... ^-^ VOTE nya dong Bestie.. Saranghae....