Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 107 (Extra Part)


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju rumah sakit, Xavier tak hentinya berteriak menyuruh ini dan itu pada setiap orang. Meminta pada Dean agar persalinan sang istri tak terhambat. Pikiran Xavier terlalu fokus pada keselamatan istri dan anak-anaknya. Berharap sang istri mendapatkan penanganan terbaik untuk kelahiran si kembar.


Disini Dean merasa kelelahan. Ia lelah membuat Xavier bersikap tenang. Sejak mereka di Mansion dan sekarang di rumah sakit, lelaki itu terus berteriak dan mengancam pada siapapun orang disekitarnya. Agar istrinya segera ditangani. Penyakit Mafianya mulai kambuh disaat seperti ini.


“Cepat urus kelahiran anak-anakku! Ibunya juga harus selamat! Kalau tidak, aku tembak kepala kalian satu persatu, dan kupotong tubuh kalian jadi makanan buaya!” Xavier tak henti memberi petuah indah disaat nyawa istri dan anak-anaknya dipertaruhkan. Dean dan Dona hanya geleng-geleng kepala.


“B-baik Tuan. Saya akan berusaha keras untuk menyelamatkan istri dan anak-anak Anda.” Kepala Dokter yang khusus menangani persalinan Charlotte hanya bisa tertunduk ketakutan saat Xavier melayangkan beberapa ancaman padanya dan perawatnya. Tidak bisa membantah.


“Ya! Harus itu! Tunggu apa lagi? Cepat selamatkan mereka! Fu*k!” kembali mengumpat seperti biasa. Sepertinya Xavier sering melakukan itu akhir-akhir ini. Mungkin efek ngidam sang istri yang kadang berlebihan? Entahlah….


“Tuan menakuti mereka. Biarkan mereka kerja dengan tenang. Agar istri dan anak-anak Tuan selamat!” Tegur Dean. Akhirnya ia buka suara dan mempersilahkan Dokter dan paramedis melakukan tugasnya didalam sana. Diruangan khusus bersalin.


“Awas saja kalau mereka tidak mendengar ucapanku. Ku bom saja rumah sakit ini!” dengus Xavier seraya berkacak pinggang. Berjalan hilir mudik tak tentu. Pikirannya terus tertuju pada istri dan anak-anaknya didalam sana. Melihat sang istri kesakitan, membuat ia ikut merasakan sakit secara bersamaan. Ia begitu mencintai Charlotte, maka dari itu, ia tak akan membiarkan apapun terjadi padanya.


“Apa Tuan mau menemani Nona didalam?” tanya Dona berdiri disamping Xavier.


Xavier berbalik badan dan memikirkan tawaran Dona. Dibalik punggung sang Bos, Dean memberi isyarat pada kepala pelayan itu agar tidak mengijinkan sang Bos masuk. Menyilang kedua tangan berulang kali, dengan bibir tanpa suara seolah berucap ‘JANGAN!’. Sebuah peringatan yang sangat jelas.


Melihat bagaimana paniknya Xavier dan amukan kepada para tenaga medis didalam sana, bagaimana nanti saat lelaki itu melihat Nona kesakitan akibat melahirkan si kembar. Semua orang pasti kena amukannya dan malah pergi ketakutan! Itu bukan ide bagus.


“Apa aku boleh masuk kesana?” tanya Xavier terdengar berharap.


“Itu bukan ide baik Tuan.” Dean maju kedepan, berdiri didepan sang Bos. “Lebih baik kita menunggunya disini. Biarkan orang-orang medis bekerja dengan baik.” Ujar sang Asisten berharap lelaki keras kepala didepannya menurut. “Aku benar kan Dona?” Tidak ada sautan dari sang Bos, Dean meminta bantuan Dona. Berkedip-kedip seperti kena ayan.


Dona salah tingkah. “Emb, sepertinya Dean benar Tuan. Ada baiknya Anda disini saja.” Setuju saja apa keinginan Dean. Biar masalah tidak semakin rumit, pikirnya.


Menghela nafas kasar, Xavier kembali melihat kedalam ruangan dari balik kaca pintu. Ia juga berharap bisa menemani istrinya berjuang didalam sana. Bukankah lebih baik ia berada disampingnya?


“Xavi!”


Suara seseorang datang dari arah samping. Ketiga orang didepan pintu bersamaan menoleh. Kakek Abraham datang bersama dengan Hugo. Mereka berjalan mendekat.

__ADS_1


“Bagaimana keadaan Charlotte? Apa dia baik-baik saja?” tanya Kakek.


“Dia akan segera melahirkan. Didalam sana, Dokter sedang menangani kelahiran si kembar.” Ucap Xavier.


“Begitu ya.” Menghela nafas sedikit lega. Lalu melirik Xavier kembali. “Lalu kenapa kau ada disini?” tanyanya heran.


“Aku menung-“


“Seharusnya kau menemani istrimu didalam sana! Dasar anak bodoh!” Kakek memukul punggung Xavier cukup keras.


“Hah? Tapi-“


“Cepat masuk! Istrimu membutuhkanmu disampingnya!” Kakek mendorong tubuh Xavier.


“Ayo masuk saja Kak.” Timpal Hugo ikut mendorong.


Mata Dean mendelik. Tadi ia sudah berusaha memperingatkan Dona agar tidak mengijinkan Xavier masuk kedalam. Sekarang giliran Kakek yang menyuruhnya! Kenapa jadi begini? Keluh Dean. Pasrah dengan titah Tuan Besar. Ya sudahlah…… Dia tidak mau ikut campur kalau terjadi apa-apa nanti, gerutunya kesal.


Xavier masuk kedalam. Melihat istrinya terbaring di ranjang rumah sakit seraya menahan sakit, hati Xavier seolah teriris pisau. Ia langsung berlari mendekatinya.


“Xavi…”


“Ya sayang, aku disini.” Bisik Xavier menenangkan. Direngkuhnya tubuh sang istri lebih erat. Tak ingin kembali berpisah seperti dulu. Seolah udara hidupnya hanya ada disekitar wanita itu.


Berjuang bersama Charlotte melalui segala macam masalah yang menguji cinta mereka. Menemani dengan setia menanti kelahiran buah hati. Xavier tak henti mengecup puncak kepala Charlotte memberinya bukti nyata akan cinta besarnya. Seolah ia merasa hanya wanita itu, separuh belahan jiwanya.


“Kamu harus bertahan sayang. Demi anak-anak kita. Demi aku.” Ucapnya lembut dengan nafas yang membelai sendu di pipi sang istri.


“Aku cinta kamu Xavi… Jangan tinggalkan aku.” Lirih Charlotte.


“Aku juga mencintaimu. Aku selalu disini sayang. I love you..”

__ADS_1


^


“Kami akan segera melakukan persalinan. Nona Charlotte akan melahirkan secara normal. Saya minta pada Tuan, untuk membantu Nona melewati tahap kelahiran ini dengan tenang. Dalam hitungan menit kedepan kita berharap dapat melihat bayi-bayi mungil nan menggemaskan.” Ucap Dokter kandungan wanita memberi semangat pada kedua pasangan.


Charlotte tersenyum, berharap apa yang dikatakan Dokter terwujud. Ia dan Xavier bisa melihat anak-anak mereka lahir kedunia tanpa kurang apapun. Ia memejamkan mata seraya mengucap berbagai doa pada yang Kuasa.


“Selamatkan istri dan anak-anakku.” Pinta Xavier ditengah ketegangannya.


“Pasti Tuan. Kami akan berusaha dengan semaksimal mungkin.”


Dokter itu mulai memakai sarung tangan plastik. Wajahnya mulai serius mengamati keadaan Charlotte. Lalu semua mulai berjalan seiring…….


“Aaaaaaa!!! Sakittt!” Charlotte berteriak seiring merasa tubuhnya terbelah dua. Tulang-tulang di tubuhnya seolah hampir retak setiap ia mendorong keluar bayinya didalam sana.


“Sayang, tenanglahh, aku disini. Aku disiniii….Dokter! Kenapa istriku kesakitan seperti ini!!” gelegar Xavier marah. Memelototi satu persatu tenaga medis disana.


“Memang seperti ini kalau melahirkan Tuan.” Ucap Dokter. “Kalau tidak sakit, itu justru aneh.” Kata aneh ia tekankan seraya melirik kesal pada Xavier. Ia hampir kehilangan konsentrasi. Lelaki itu selalu berisik saat sang istri berteriak. Ia sampai geleng-gelang kepala melihatnya.


“Apa-apaa-“ Ingin menyemprot…..


“Xavi, hentikan! Kamu bikin aku pusing. Aku kesakitan seperti ini masih saja berdebat dengan Dokter!” kesal Charlotte ikut-ikut menyalahkan. Ia mati-matian menahan sakit ditubuhnya. Lelaki itu bukannya menenangkan dia justru malah mengajak Dokter berdebat!


“Tapi sayang, aku khawatir-“


“Diam! Kamu diam saja oke! Itu lebih membantu. Akh!” Perut Charlotte terasa nyeri teramat sakit. Ia mencengkram lengan suaminya sampai kuku di jarinya menusuk dalam ke kulit sang suami.


“Sayang, kamu kesakitan seperti ini. Aku tidak tega. Mereka tidak becus bekerja! Aku akan ganti mereka! Aku ganti mereka!” Mulai marah-marah lagi.


“Aku bilang diamm!!!! Argghhh! Suster! Tolong bawa orang ini keluar! Dia mengganggu saja!” seru Charlotte mulai naik darah.


“Jika Tuan tidak bisa diam, saya akan suruh orang untuk membawa Anda keluar.” Tegas Sang Dokter.

__ADS_1


Xavier seketika tutup mulut. Ancaman Dokter itu ampuh membuatnya tak berkutik. Xavier memilih diam daripada diusir dari sana. Diam seperti kucing manis. Ckck…..


__ADS_2