Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 82 (Part 2)


__ADS_3

“Kenapa Kakek menanyakan hal itu?” Charlotte menatap Kakek dengan perasaan khawatir. Mungkinkah, Xavier sudah memberitahu masalah mereka? Atau… Xavier memutuskan untuk berpisah?


Tidak mustahil jika suaminya meminta hal itu. Dia saja telah menuduhnya berselingkuh. Bahkan menolak bertemu dengan dirinya. Jantung Charlotte berdegup kencang. Ia sontak menyentuh dada kirinya. Pikiran itu membuat Charlotte susah mengendalikan diri.


“Sayang, kamu tidak apa-apa?” Kakek tampak cemas melihat Charlotte yang menyentuh dadanya seolah menahan rasa sakit. Ia sangat takut cucu menantunya terjadi sesuatu.


“A-aku tidak apa-apa kek.” Charlotte berusaha tersenyum.


“Kamu yakin?”


“Iya.”


“Kalau begitu minum dulu.” Kakek menyodorkan air putih pada Charlotte. Menyuruhnya untuk menghabiskannya. Ia lalu kembali meletakkan gelas kosong itu diatas meja.


“Sekarang istirahatlah. Nanti kita bicara lagi ya.” Ujar Kakek seraya membantu Charlotte terbaring. Kakek menyelimuti Charlotte dan memintanya tidur.

__ADS_1


Charlotte memang gampang merasa lelah akhir-akhir ini. Hanya masalah kecil saja selalu ia pikirkan. Berdebat dengan Xavier yang seperti biasa saja kini tidak mampu ia lakukan. Walaupun ia sudah sering mendengar kata-kata menyakitkan pria itu, tapi yang dilakukan terakhir kepadanya sungguh membuat Charlotte terluka. Sangat terluka. Karena itu, ia tidak bisa berhadapan dengan Xavier untuk saat ini.


Kakek terus menemani Charlotte sampai wanita itu terlelap. Ia mengusap kepala Charlotte dengan tangan keriputnya. Bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman kecil dan tulus.


“Aku pernah berjanji pada Kakekmu, untuk terus mempertahankan hubungan keluarga ini. Jika terjadi sesuatu kepadamu nak, aku sama saja mengingkari janji itu. Kamu harus bahagia, walaupun hidup ini sulit. Kakek akan menjamin hal itu.” Gumam Kakek seraya membuang nafasnya. Ia bangkit dari tempat duduknya lalu mematikan lampu utama. Ia keluar dari kamar.


Kakek melirik kearah samping, dimana Xavier tengah berdiri tegak menunggunya. Kakek langsung meluruskan pandangannya seraya mendengus kesal. Ia berjalan pergi seolah tak melihat siapapun disana.


“Pergilah, aku tidak ingin bicara denganmu!” perintah Kakek yang menyadari Xavier mengikutinya dari belakang.


Kakek menghentikan langkahnya ketika ia sudah berada di pintu kamarnya. Ia berbalik dan menatap tajam cucu satu-satunya itu.


“Apa lagi? Kau ingin mempermalukan Kakek dengan omong kosongmu?!” bentak Kakek menggelegar. Wajah kuyu penuh kelembutan itu kini berubah garang dan menyeramkan. Nafas Kakek memburu tanpa mengalihkan padangannya pada Xavier yang berdiri tanpa rasa takut.


“Kita bicara didalam.”

__ADS_1


Xavier langsung membuka pintu dan masuk lebih dulu. Pria itu takut jika ada orang atau pelayan yang mendengar pembicaraan mereka. Mau tidak mau, kakek mengikuti Xavier masuk kedalam dan menutup pintu rapat-rapat.


“Bicaralah! Aku tidak punya waktu!” ketus Kakek masih dalam kondisi marah.


Xavier memberanikan diri menatap Kakek. “Aku ingin memperjelaskan perkataanku tentang Charlotte. Dan juga… anak itu.”


Kakek langsung menoleh, melemparkan pandangan yang amat menusuk. Ia kembali teringat kejadian beberapa jam yang lalu.


Kakek baru saja mendapat kabar tentang pertengkaran Xavier dengan orang tua Charlotte. Cucunya itu juga membawa Charlotte kembali ke Mansion di Kota S. Ia marah ketika mendengar Xavier melukai Susanto dan istrinya dengan semena-mena. Kabar itu ia dapat dari orang yang ia suruh mengawasi Xavier dan Charlotte. Kakek meminta orang suruhannya mencari sebab pertengkaran itu. Hingga pada Akhirnya ia tahu jika Xavier memergoki Charlotte bersama pria lain. Kakek tahu persis sifat cucunya. Biasanya Xavier tidak peduli dengan hal remeh temeh tentang kehidupan wanita disekelilingnya. Xavier selalu acuh pada mereka asal itu tidak menyangkut kehidupannya. Kakek pikir, Xavier masih bersikap acuh pada Charlotte. Tapi kenyataannya, cucunya begitu emosional dan tidak terima dengan hubungan mereka. Lebih parahnya, Xavier meninggalkan Charlotte sendirian dirumah orang tuanya yang jelas-jelas, tempat itu adalah tempat dimana Charlotte tidak dihargai. Setelah mengetahui semua itu, Kakek terbang ke Kota S untuk bertemu Xavier secara langsung.


Kakek tahu, Markas Pusat telah diserang. Tapi bukan berarti cucunya itu pergi begitu saja tanpa membawa istrinya! Dia pikir masih jomblo tung tung apa! Hah, sifat dan sikapnya sama seperti putranya yang sudah meninggal. Tidak punya aturan dan senang menyakiti hati wanita. Berlaku saat masih pengantin muda. Ckck.


Tidak menunggu lama, Kakek sampai di Mansion dengan cepat. Ia turun dari mobil dan berjalan masuk kedalam. Hal pertama yang ia lihat adalah sikap para pelayan yang berlari kesana kemari, tampak cemas. Kakek menghampiri salah satu pelayan itu untuk menanyakan apa yang terjadi.


Pelayan itu mengatakan jika cucu menantunya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Ia langsung menyuruh Samson (asisten pribadi Kakek Abraham) memanggil seorang Dokter. Kakek berjalan cepat ke tempat Charlotte. Kakek terkesiap saat menyadari jika Kamar yang dituju ternyata adalah kamar kedua orang tua Xavier. Kakek tidak menyangka, Xavier bisa berada dikamar yang sudah lama tidak ditinggali itu. Ia akhirnya masuk kedalam sana.

__ADS_1


Kakek kembali terkesiap saat melihat Xavier memerintah ini itu pada pelayan dengan suara panik, pria itu tampak khawatir. Xavier duduk disamping Charlotte yang tidak sadarkan diri. Cucunya itu terus berusaha menyadarkan istrinya. Baru kali ini, Kakek melihat Xavier seperti manusia biasa. Pria itu begitu khawatir kepada istrinya.


__ADS_2