
“T-tunggu xavihhhh….” Charlotte melepaskan ciuman mereka. Dadanya naik turun, pandangannya sudah berkabut gairah. Mereka sedang berada ditempat yang salah, untung saja ia cepat-cepat tersadar sebelum mereka melewati batas.
Xavier tampak kecewa, namun segera ditepis. Ia menegakkan tubuhnya meredam nafsunya yang sudah dipuncak. Charlotte berdiri dengan wajah malu. Ia terkejut ketika melihat raut kekecewaan di wajah pria itu. Ia semakin merasa bersalah dan tidak bermaksud menyakiti Xavier
“Xavi, kita-“
“Sudahlah. Lupakan.”
Xavier berniat pergi setelah tak berniat melanjutkan aktivitas mereka. Namun secara tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri.
“Permisi Tuan Muda, diluar ada tamu yang mencari Nona.”
“Mencariku?” Charlotte menimpali.
“Iya Nona. Tamu itu bilang ia teman Nona. Namanya Tuan Fredy.”
Seketika wajah Xavier berubah tak suka, ia amat tak senang mendengar nama mantan kekasih istrinya disebut apalagi pria itu datang untuk menemui istrinya. Berani sekali, pikirnya.
“Suruh dia pergi. Katakan aku tidak mengijinkannya menemui siapapun disini.” Tegas Xavier.
“Kenapa begitu? Dia sudah jauh-jauh datang kemari. Biarkan aku menemuinya.” Ucap Charlotte.
Xavier menatap tajam Charlotte. Terlihat sekali guratan kemarahan diwajahnya. Tangannya terkepal kuat, giginya terkatup rapat dengan rahang yang sudah mengeras. Ucapan Charlotte yang menentangnya semakin memperburuk moodnya, ia tidak suka. Kenapa Charlotte masih menemui pria yang sudah mengkhianatinya!
“Baiklah. Lakukan semaumu.”
Xavier langsung pergi begitu saja meninggalkan Charlotte yang bingung dengan sikapnya.
“Nona, apa yang harus saya katakan pada Teman Nona? Memintanya pergi atau..”
“Suruh dia masuk. Aku akan menemuinya.” Jawab Charlotte.
“Baik Nona.”
Pelayan itu pergi. Ditempatnya, Charlotte masih kepikiran dengan sikap Xavier. Pria itu terlihat kecewa, Charlotte bertanya-tanya dalam hati. Mungkinkah karena ciuman mereka yang terputus karena dirinya? Charlotte semakin dihantui rasa bersalah saat Xavier seolah mengacuhkannya begitu saja.Ia mondar-mandir didapur berpikir bagaimana cara mengembalikan mood pria itu. Satu hal yang ia kesalkan adalah keinginan Xavier saat ingin menyentuhnya. Pria itu tidak mengenal waktu dan tempat. Dan itu sangat menyulitkan Charlotte untuk mengimbanginya.
Salahkah ia menolak?
__ADS_1
Ia tentu saja malu jika ada orang yang mengetahui kegiatan mereka. Ia tidak mau hal itu terjadi. Mungkin saja, jika ia minta maaf pada Xavier, pria itu akan memaafkannya? Ya, lebih baik dicoba daripada hubungan mereka kembali renggang. Akhirnya Charlotte memutuskan menemui Xavier setelah pertemuannya dengan Fredy.
Sementara itu, dikamar. Xavier berdiri dibalkon dengan menyesap sebuah rokok. Ia bertelanjang dada dan hanya memakai celana selutut. Rambutnya dibiarkan acak-acakkan. Sepuntung rokok ia habiskan hampir setengahnya. Gigi-giginya bergemelatuk dengan rahang mengeras. Tangannya mencengkram kuat pembatas besi. Pandangannya menatap tajam kedepan. Ia tidak tahu, kenapa ucapan Charlotte begitu mempengaruhinya.
“Sial, kenapa masih seperti ini! Keterlaluan!” geramnya mencoba menahan emosinya.
Xavier bukan pria gampangan dengan wanita. Ia sangat selektif dalam memilih. Banyak wanita yang rela mengantri untuk menjadi kekasihnya. Ia tidak memperdulikan mereka dan terkesan acuh. Xavier tidak suka dengan wanita terlalu jual mahal. Ataupun rela memberikan tubuh mereka demi secuil uang miliknya.
Menikah bukan tujuan hidupnya. Ia hanya ingin memberikan yang terbaik untuk Kakeknya. Orang yang sudah menjaga dan merawatnya hingga menjadi pria hebat. Sukses dibidang apapun. Dan tidak terkalahkan oleh musuhnya. Xavier tumbuh menjadi pria kuat dan tahan mental. Punya otak cerdas dan pemikiran yang rasional. Dipuja banyak orang dan ditakuti oleh musuhnya. Tidak ada sedikitpun kelemahan yang bisa orang lain lihat darinya.
Memutuskan untuk menikah tidak bisa ia hindari memang. Mempunyai seseorang yang penting disampingnya sangat beresiko tinggi dirinya dimanfaatkan oleh musuh. Xavier tidak mau tunduk pada mereka. Baginya menikah sama artinya dengan melemahkan dirinya.
Berulangkali ia mencoba bersabar menghadapi Charlotte. Melihatnya memberontak dan keberaniannya menghinanya telah menumbuhkan ketertarikan yang besar dari dalam diri Xavier. Ia berkeinginan besar memilikinya. Ia punya segalanya, dan apapun yang ia inginkan harus ia dapatkan. Termasuk mendapatkan wanita itu.
Ia pikir, setelah apa yang ia lakukan demi Charlotte, mampu meluluhkan hatinya. Sikapnya yang lunak telah disalahgunakan oleh Charlotte. Kini yang terjadi justru sebaliknya, perasaannya yang semakin berkembang, penolakan Charlotte semakin terasa. Wanita itu sama sekali tidak mengidahkan perintahnya dan tetap bersikeras menemui mantan kekasihnya.
Ia sangat kesal!
Tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia sudah cukup lelah. Menghadapi Charlotte lebih menguras emosinya dibanding menghadapi orang-orang yang bersitegang dengannya. Tidak terbayangkan, ia bisa selemah ini.
Apa yang dilakukan bede*ah itu? Beraninya datang ke tempatnya dan menemui istrinya? Apa bede*ah itu tidak punya malu! Ingin cari mati disini?!!
“Sial!!” umpatnya.
^
“Fred, ada apa datang kemari?”
Charlotte berjalan menghampiri Fredy yang duduk di ruang tamu. Fredy berdiri menyapa Charlotte sambil tersenyum. Mimik mukanya terlihat senang bisa melihat Charlotte.
“Hai, Char. Bagaimana kabarmu?” Balas Fredy.
“Baik. Duduklah. Kau mau minum apa?”tanya Charlotte.
“Tidak perlu Char, aku kesini hanya ingin bicara denganmu.” Ucap Fredy.
“Oh, baiklah. Kau mau bicara apa?” Charlotte duduk didepan Fredy.
__ADS_1
“Mulai hari ini aku bekerja di kota ini. Papa sedang membutuhkan orang di cabang sini. Jadi sekalian aku mampir.” Ucap Fredy.
“Benarkah. Bagus dong. Aku baru ingat kalau kau punya cabang disini.” Ucap Charlotte ikut senang.
“Ngomong-ngomong dimana Xavier?” Fredy mengedarkan pandangannya dan tidak menemukan seseorang.
“Sepertinya dia dikamar. Kami baru saja sarapan. Oh ya, kau sudah sarapan? Mau kuambilkan makanan?” tawar Charlotte.
“Tidak perlu Char. Terima kasih. Kau sudah terlalu baik padaku. Sebenarnya, ada hal yang lebih penting ingin kukatakan.” Ujar Fredy tampak diam berpikir.
“Apa itu? Katakanlah.”
Fredy menatap Charlotte, raut wajahnya dipenuhi penyesalan. “Maafkan aku tentang kejadian di Apartemen waktu itu.”
Charlotte terdiam sejenak ia menunduk lalu menatap Fredy dengan senyum kecil, “Tidak perlu dibahas. Aku sudah melupakannya.”
Mendengar itu, Fredy justru semakin merasa bersalah. Ia tahu, Charlotte tidak mungkin membalas perbuatannya walaupun ia bisa melakukannya. Fredy sangat mengenal baik sifat wanita itu. Ketulusan Charlotte justru membuatnya hilang harga diri. Ia sungguh malu atas perbuatannya.
Keinginan untuk memiliki wanita itu telah menghilangkan akal sehatnya. Ia berani mengajak Charlotte kabur dan membawanya ketempat yang ia mau. Ia pikir cara itu bisa mengembalikan miliknya yang pergi. Kesalahan terbesar yang ia buat dalam hidupnya. Charlotte harus menanggung keegoisannya.
“Aku yang salah Char. Seharusnya aku bisa mengendalikan diri. Aku berusaha menyakitimu dan pergi seperti pecundang. Maafkan aku.” Fredy menunduk, perasaan bersalah menghantam dirinya. Ia malu. Tidak ada harga diri yang ia bawa. Charlotte adalah wanita yang seharusnya ia lindungi. Mereka selalu bersama dan mengenal baik satu sama lain. Ia seharusnya tahu apa yang akan terjadi jika mereka saling menyakiti. Bodohnya dia, menjadi budak ambisinya sendiri.
“Jangan menyalahkan dirimu.” Charlotte beranjak dari tempatnya dan duduk disebelah Fredy. Ia mengusap lembut punggung pria itu. Mencoba memberikan pengertian agar Fredy tidak terlalu emosional.
“Aku sudah melupakannya. Aku tidak suka melihatmu seperti ini. Jangan membahasnya lagi.” Tuturnya. Ia tahu betul, Fredy telah melakukan kesalahan yang hampir membuatnya dalam kesulitan. Tapi ia tahu, pria itu sangat menghargainya. Setiap pria itu melakukan kesalahan, Fredy akan meminta maaf padanya sampai Charlotte benar-benar memaafkannya.
Fredy mengusap ujung matanya yang sedikit basah. Mengulas senyum kecil pada Charlotte. Mereka saling pandang. Fredy seolah sedang melihat Charlotte kecilnya yang selalu ceria. Ia akan selalu menganggap wanita itu Little Angel-nya. Malaikat kecil yang membawa kebahagiaan.
“Ehem!”
Xavier berdeham dengan keras. Tanpa mereka sadari, pria itu sudah berdiri tak jauh dari sana. Menatap dingin keduanya seraya bersedekap tangan. Wajahnya benar-benar tak ramah. Seperti Raja Singa siap menerkam.
.
.
.
__ADS_1
Ew ew ew.... ada ygcembukurrr... wkwk