Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 74 (Part 1)


__ADS_3

Dean tengah berdiri disamping mobil seketika mengalihkan pandangannya pada Xavier yang baru saja keluar dari dalam rumah. Pria itu sendirian. Raut wajah Tuan Mudanya tampak tak ramah. Masih dingin dan kaku. Dean yakin, masalah kedua majikannya itu belum sepenuhnya terselesaikan. Dean menegakkan tubuhnya saat Xavier sudah mendekat bersiap menunggu perintah.


“Kita pergi sekarang.”


“Kemana Tuan?” tanya Dean menyelidik.


“Mansion.” Tegas Xavier.


“Untuk apa kita kesana jika Nona ada disini? Jangan bilang Tuan akan tinggal disana meninggalkan Nona.” Ucap Dean berasumsi. Ia tahu betul, setiap Tuan Mudanya sedang dalam masalah, pria itu akan memilih menyendiri. Mengacuhkan segala hal dan berkutat dengan kesendirian. Jika itu terjadi, Tuan Besar akan tahu dan datang mencampuri urusan mereka. Posisi Tuan Mudanya akan semakin sulit.


“Jangan beritahu padanya!” tegas Xavier seolah tahu apa isi pikiran Dean.


“Walaupun saya tidak memberitahu, cepat atau lambat Tuan Besar akan menyadarinya. Anda tahu sendiri bagaimana beliau marah. Saya hanya mengingatkan.” Ucap Dean.


Xavier menghela nafas dengan kasar. Menyentuh pelipisnya yang terasa pening.


“Tuan, tolong ajak Nona bersama Anda. Ini demi kebaikan Anda!” bujuk Dean.


Xavier mengedarkan pandangan sekeliling. Berkacak pinggang dengan berdecak kesal. Xavier tidak bisa mengacuhkan peringatan Dean tentang Kakek. Pria yang sudah merawatnya itu telah menjadi prioritas utamanya dalam setiap tindakan yang ia ambil. Menjaga perasaan Kakek jauh lebih sulit ketimbang menghadapi musuh-musuhnya. Haruskah ia mengalah pada sakit hatinya dibandingkan menjaga hubungannya dengan Kakek agar tidak memburuk. Xavier dilema. Disisi lain, Ia tidak bisa terus berada disamping Charlotte dalam keadaan seperti ini. Ia bisa saja melukai wanita itu lebih banyak lagi. Ia takut tidak bisa mengontrol diri dan berujung menyakiti hati dan fisik wanita itu.

__ADS_1


Jujur saja, ia masih sangat mencintai Charlotte. Bahkan mengalahkan sakit hati yang wanita itu berikan padanya. Tapi ia tidak bisa bersamanya saat ini. Bukan untuk menjauhkan diri, tapi karena tidak kuasa melihat wanita itu menangis karena dia. Ia menjadi lemah oleh satu wanita yang mampu memporak-porandakan pikirannya.


Ditengah kesibukannya berpikir, Xavier tidak menyadari kedatangan sebuah mobil memasuki halaman rumah dan berhenti disampingnya. Itu adalah mobil Susanto, ayah mertua Xavier. Pria itu segera turun dari mobil dan berjalan cepat mendekati Xavier.


“Xavi, apa yang terjadi? Kata Fredy kau datang ke Hotel.” Tanya Susanto.


Xavier tidak langsung menjawabnya, pria itu memejamkan mata seakan tengah menata pikirannya. Dean yang mengerti suasana hati Xavier bergerak mendekati Susanto.


“Tuan Muda sedang tidak ingin berbicara pada siapapun. Tolong Anda kembalilah.” Ujar Dean.


“Tapi aku ingin tahu apa yang terjadi? Fredy bilang-“


Susanto dan Dean langsung terdiam. Aura mengerikan terasa disekitar mereka. Xavier bergerak maju dan langsung menarik kerah baju Susanto. Sikapnya tak sopan dan Xavier tak peduli hal itu.


“Tidak bisakah Anda menasehati calon menantu Anda itu? Beraninya dia menggoda istri orang lain dengan tidak tahu malunya! Jika Anda pintar, jauhkan dia dari mataku atau aku akan benar-benar menghabisinya sekarang juga!” Xavier menghempas tubuh Susanto hingga Dean harus menahannya agar tidak terjatuh. Xavier berdengus kesal dan memilih masuk kedalam mobil.


“Tolong maafkan sikap Tuan Xavier. Tuan sedang dalam kondisi tidak baik.” Ucap Dean membungkuk mengucapkan permohonan maaf atas sikap Tuan Mudanya.


Setelah mengatakan itu, Dean memutari mobil dan membuka pintu kemudi.

__ADS_1


“Tunggu.” Xavier berkata seraya membuka kaca pintu mobil sampingnya. Ia melirik Susanto yang berdiri tak jauh darinya. Dengan gerakan tangannya, pria itu meminta Susanto mendekat. Mau tidak mau, Susanto menggerakkan tubuhnya dan mendekatkan kepalanya.


“Selama aku pergi, jangan biarkan putrimu keluar dari rumah ini. Jika sampai aku tahu dia kabur, perusahaan ataupun keluargamu tidak akan selamat dariku. Mengerti?!”


Susanto menelan ludah dengan susah payah mendengar ancaman Xavier. Ia mengangguk tanda mengerti. Xavier menutup kaca jendela mobil. Mobil mewah Mercedes benz itu melaju pergi meninggalkan rumah keluarga Hasana.


^


“Sayang, apa yang dikatakan Xavier padamu? Aku tahu dia marah pada Charlotte, tapi kenapa kau juga kena imbasnya?”


Sella mengekori suaminya meminta jawaban atas apa yang ia lihat beberapa menit lalu di luar rumah. Sella begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada menantunya yang tiba-tiba datang dengan membawa kemarahan besar. Menurut apa yang ia dengar , Charlotte telah berselingkuh dibelakang Xavier. Dan itu dengan calon menantunya yang lain.


Sella tidak habis pikir, bagaimana bisa Fredy begitu buta dengan cintanya pada wanita seperti Charlotte. Padahal sebentar lagi, pria itu akan menikahi Shinta putri kandungnya.


“Sayang!”


“Diamlah!! Kau ini cerewet sekali huh? Bisakah kau pergi ke dapur dan bawakan aku kopi! Kenapa setiap hari aku selalu mendengar keluhanmu. Bosan aku dengarnya!” Susanto ikut-ikutan marah. Ia masih kesal dengan sikap Xavier yang seenaknya.


“Baiklah. Akan kubuatkan untukmu!” ucap Sella dengan suara kesal, wanita itu terpaksa menyeret kakinya ke dapur daripada kena marah suaminya.

__ADS_1


__ADS_2