
Dona mendekati Charlotte, ia menunduk dan menyapanya. “Selamat siang Nona.”
“Siang. Apa maksudmu Xavier berasal dari sana Dona?” tanya Charlotte.
“Tuan Muda lahir disana. Tuan Muda baru pindah kesini, setelah orang tuanya meninggal. Jadi, semua makanan ini disesuaikan dengan permintaan Tuan Muda yang menyukai masakan disana. Apa Nona tidak tahu hal sepenting itu?” tanya Dona sengaja membuat Charlotte tersudut. Kepala Pelayan Xavier satu itu sangat bisa membuat Charlotte salah tingkah, karena sikapnya yang datar dan terkesan mengintimidasi. Sebelas duabelas dengan Xavier.
“Aa, eumb soal itu, t-tentu saja aku tahu. Cuma tadi sedikit lupa.” Charlotte tersenyum kikuk menyembunyikan kebohongannya. Bikin malu jika orang sekitar mereka tahu ia bukan istri yang pengertian. Ia memang tidak tahu apa-apa tentang Xavier.
Koki dan para pelayan kembali melanjutkan aktivitasnya. Membiarkan Charlotte dan Dona berbicara. “Tuan Muda sebulan sekali pergi kesana. Namun tidak dengan bulan kemarin karena banyak hal yang harus dilakukan Tuan Muda untuk mengurus acara pernikahan.” Sambungnya.
“Oh, baiklah.” Charlotte menundukkan kepala. Ingin rasanya ia tahu semua hal tentang Xavier. Makanan kesukaannya, hobynya dan juga orang tuanya. Semua tentang pria itu. Rasanya ia seperti orang lain.
“Dona, boleh aku minta sesuatu?”
“Ya Nona?”
“Aku ingin tahu lebih banyak tentangnya. Bisakah kau memberitahuku?” pinta Charlotte.
Dona tersenyum lalu ia meraih kedua tangan Charlotte. “Nona, saya bukan orang yang tahu semua hal tentang Tuan Muda. Bukanlah jauh lebih baik, Nona mengenalnya sendiri? Jika Nona tahu apa yang tidak diketahui orang lain, itu akan menjadi keistimewaan tersendiri Nona dimata Tuan Muda.” Tuturnya.
Charlotte menarik sudut bibirnya, perkataan Dona memang benar. Ia sendiri yang harus mengenal Xavier dibanding siapapun. Xavier suaminya, apalagi pria itu telah menunjukkan sisi lain yang belum ia lihat sebelumnya. Xavier berani menyatakan cintanya dan tidak senang melihatnya dengan pria lain. Charlotte sekarang tahu, dibalik sikap dinginnya pria itu, ada sisi lembut yang membuatnya luluh.
“Sekarang Nona mengerti?”
“Iya. Aku akan mencobanya.”
Charlotte dan Dona saling melempar senyum. Ini adalah awal bagi Charlotte kembali membuka hatinya untuk Xavier. Step by step to be Succes.
“Apa Nona ingin memasakkan sesuatu untuk Tuan Muda?” tanya Dona.
“Emb, iya. Tapi bagaimana kalau aku menghancurkannya lagi?” ucap Charlotte sangsi.
“Belajar itu kadangkala dimulai dari kegagalan Nona. Tidak semua harus berjalan sesuai keinginan. Saya akan membantu Nona.” Ucap Dona.
Charlotte melebarkan senyumnya, lantas ia mengangguk penuh semangat. “Baiklah.”
__ADS_1
^
Xavier terbangun dari tidurnya. Tubuhnya pegal namun tidak menghilangkan rasa puasnya. Ia puas telah menyatakan perasaannya sendiri. Dan mendapat umpan balik yang sama. Cintanya terbalaskan. Tidak ada yang lebih mennyenangkan hatinya sebaik hari ini.
Xavier menoleh kesamping, tempat tidurnya kembali kosong seperti tadi pagi. Ia menghela nafas. Charlotte selalu pergi seenaknya sendiri. Bukankah lebih baik, wanita itu itu menunggunya bangun? Atau menemaninya disini. Apa perlu ia mengatakan semua itu agar wanita itu tahu.
Ah, hari ini ia lupa, seharusnya ia tidak merasa kesal dan terus berbahagia. Semua tingkah menyebalkan Charlotte harus ia maafkan. Mereka telah menemukan hubungan baru dengan perasaan baru. Tidak baik mencari kesalahan satu sama lain. Hari-harinya kini akan terisi dengan kabahagiaan mencintai istrinya begitupun sebaliknya.
Xavier menyikap selimutnya dan turun dari tempat tidur, Memakai kaos dan celananya lalu keluar dari kamar.
Xavier mengedarkan pandangannya melihat ke bawah, ia berada dilantai dua dipinggir pembatas sedang mencari keberadaan istrinya. Mungkinkah wanita itu didapur lagi? Ditempatnya berdiri sekarang sangat cocok untuk mengamati aktivitas wanita itu. Tidak perlu bermenit-menit ia mencarinya, Charlotte memang sedang membuat makanan dibawah sana bersama Koki terbaiknya.
“Dia terlalu berusaha keras. Perlukah aku memujinya kali ini?” Xavier menyentuh dagunya seraya menyunggingkan senyum kecil. Menimang-nimang berapa nilai yang akan ia berikan. Mungkin sekitar 1 sampai 5. Itu cukup baik bukan?
Ting Tong!
Bel mansion berbunyi dengan keras. Xavier mengalihkan perhatiannya ke pintu utama. Tampak seorang pelayan tengah membuka pintu itu.
Susanto, ayah mertuanya muncul dari sana. Xavier bertanya-bertanya untuk apa pria itu datang ke Mansionnya.
“Ayah, kenapa tiba-tiba datang kemari? Ayah dengan siapa? Kesini naik apa?” Charlotte tak sabar melontarkan berbagai pertanyaan pada Susanto.
“Ayah sendiri kesini Char. Tadi ayah naik taksi. Ngomong-ngomong suamimu dimana?”
“Xavi dikamar yah, dia masih tidur.”
“Tidur? Jam segini? Dia tidak kerja?”
Charlotte menunduk malu, “Xavi kurang istirahat yah. Jadi dia tidak bekerja hari ini.” Charlotte membuat alasan yang lebih masuk akal. Andai saja, ia tidak meladeni keinginan Xavier pasti pria itu akan bekerja. Ia adalah orang yang membuat pria itu malas.
“Begitu ya. Kalau begitu Ayah akan tunggu.”
“Apa Ayah kesini hanya ingin bertemu Xavier?”
“Tentu saja. Apa kau tahu Char, perusahaan kembali krisis. Ayah tidak tahu kenapa bisa seperti itu, padahal Ayah sudah meminta Tuan Abraham untuk membantu kondisi perusahaan kita. Awalnya membaik tapi dalam sepekan, saham banyak yang turun.” Ujar Susanto.
__ADS_1
“Kenapa bisa begitu ya Yah?”
“Entahlah. Ayah sekarang ingin meminta bantuan Xavier untuk memulihkan situasinya. Ya mau tidak mau, kita butuh dana lagi Char. Ayah bingung.”
Charlotte sekarang mengerti. Ayahnya datang hanya ingin meminjam dana dari Xavier. Bukan untuk menemuinya. Ada rasa kecewa mengetahuinya. Tidak ada yang bisa membuat Ayah cemas selain perusahaan dan keluarga tirinya. Pria itu tidak akan mungkin datang karena merindukan dirinya. Ia harus sadar akan hal itu.
“Yah, bisa tidak kita jangan menggantungkan semua masalah pada Xavier. Kita bisa solusinya sendiri yah. Apa perlu aku membantu? Aku siap melakukannya.” Ujar Charlotte menyarankan.
“Tidak semudah itu Charlotte. Lagipula ini masalah sangat serius. Kau tidak akan bisa menanganinya. Sudahlah kau diam saja disini, buat Xavier senang. Itu saja tugasmu!”
DEG!
Jantungnya serasa berhenti mendengar perkataan Ayahnya. Serendah itukah tugasnya dimata ayahnya? Dia anaknya, tapi kenapa seolah-olah ia diperlakukan sebagai wanita penyelamat perusahaan? Hatinya benar-benar sakit.
“Selamat siang Tuan Hasana.” Xavier datang mendekat. Melihat Xavier datang, Susanto dengan cepat berdiri dan menghampirinya.
“Xavier menantuku! Senang melihatmu. Apa kau sehat? Charlotte bilang kau kelelahan, pasti sangat melelahkan mengurus perusahaan besar ya.” Ucap Susanto. Menepuk bahu Xavier seraya berjabat tangan.
“Begitulah. Perusahaan tidak terlalu melelahkanku, tapi ada hal lain yang lebih menguras tenagaku.” Xavier melirik penuh arti pada Charlotte. Mengedipkan matanya dengan sudut bibir terangkat.
Charlotte cepat-cepat memalingkan wajahnya. Rona merah menyembul dikedua pipinya. Ucapan Xavier sudah membuatnya malu sendiri.
“Mari duduklah.” Ajak Xavier pada Susanto. Sedangkan pria itu, sudah duduk menempel disamping Charlotte seraya memeluknya dari samping. Benar-benar terlihat seperti pasangan pengantin baru.
Charlotte memberi kode dengan mengedikkan mata agar Xavier melepaskan pelukannya. Xavier hanya meliriknya tapi tidak menghiraukan keinginan wanita itu.
Susanto tampak senang, hubungan Charlotte dan Xavier berjalan lancar. Dengan begitu lancar pula tujuannya.
“Xavier, begini. Aku datang ingin meminta bantuan darimu. Perusahaan kami sedang dalam masalah. Bisakah kau membantu finansial kami?” ujar Susanto penuh harap.
“Tentu. Akan kubantu.”
.
.
__ADS_1
.