
PERINGATAN ! DIBAWAH UMUR 18 THN HARAP LEWATI YAA.....
Tak ingin menunggu lama, Xavier segera membawa Charlotte masuk kedalam kamar mandi. Berniat meredam gairah wanita itu. Xavier mendudukkan Charlotte disamping wastafel. Lalu mengambil shower yang tak jauh dari sana. Pria itu menyiramkan air dingin pada Charlotte.
Charlotte berteriak dan menjerit ketika Xavier membasahi tubuhnya dengan air dingin. Kembali memohon agar menghentikan tindakan Xavier, namun lagi-lagi pria itu mengacuhkan permintaannya. Handuk yang melekat ditubuh Charlotte telah basah begitupun dengan rambut panjangnya. Saat mandi, Charlotte sengaja tak membasuhi wajahnya karena takut Xavier mengetahui wajah aslinya.
Charlotte sekarang tak bisa berpikir jernih akibat obat yang diberikan pria itu. Menerima saja apa yang dilakukan Xavier kepadanya.
“Hiks.. Hiks… tolong hentikan. Aku salah, aku minta maaf.” Ucapnya memohon. Berpegang erat pada lengan kekar Xavier. Tubuhnya sudah lemas tak berdaya. “Aku janji tidak akan kabur lagi darimu Xavi, tolong hentikan semua ini. Akan kuturuti semua perkataanmu. Kumohon..”
Xavier tersenyum smirk melihat Charlotte memohon. Ada kepuasan tersendiri melihat wanita itu tak berdaya karena dirinya. Memohon padanya untuk menghentikan semua itu. Hal itu membuat Xavier menang atas diri Charlotte. Itulah yang sejak awal diinginkan, wanita itu bertekuk lutut padanya dan mengakui kesalahannya. Balasan yang pantas untuk situasi sulit yang sudah dialaminya.
“Kau janji, akan menurutiku?” tanya Xavier memastikan. Belum seratus persen mempercayai Charlotte. Berpikir kemungkinan jika wanita akan membangkangnya lagi.
“Ya! Aku janji. Kumohon hentikan ini semua.” Pinta Charlotte terdengar putus asa.
Xavier semakin melebarkan senyumnya. Namun sedetik kemudian tergantikan dengan senyum licik. Xavier mendekatkan kepalanya pada Charlotte, dan berbisik ditelinga wanita itu. “Kiss me, aku akan menghentikan semua ini.”
“Ap-apa?” Charlotte tertegun, tidak mengerti kenapa Xavier menginginkan dirinya menciumnya.
“Kau tidak tuli, cepat lakukan, atau aku berubah pikiran.” Titah Xavier seraya menjauhkan diri. Dia ingin wanita itu datang padanya dengan sukarela.
“Ta-tapi…”
“Satu.. Dua…” Xavier mulai menghitung. Tak peduli alasan wanita itu. “Ti…”
CUP!
__ADS_1
Charlotte langsung mengecup bibir Xavier dengan cepat. Ciuman yang tergesa-gesa namun berhasil membuat Xavier tertegun sesaat. Pria itu bisa merasakan bibir ranum Charlotte yang kenyal dan manis. Xavier berpikir, bagaimana rasanya jika lid*hnya masuk lebih jauh kedalam sana, mungkinkah sesuai dengan ekpektasi liarnya? Charlotte sedang lemah, wanita itu bisa menuntaskan hasrat terpendamnya. Suasananya begitu mendukung untuk mereka melakukan hal lebih. Xavier seolah lupa tentang kesalahan wanita itu. Saat ini, hasratnya lebih besar dari janjinya sendiri.
Ketika Xavier menikmati momen mereka, Charlotte tiba-tiba melepaskan ciumannya. Menjauhkan diri dengan kepala menunduk. Kedua pipinya merona dan Xavier bisa melihat itu. Entah kenapa, Charlotte tampak manis jika sedang tersipu malu. Ingin rasanya dirinya mendekap wanita itu dalam pelukannya. Xavier tak tahu, perasaannya pada Charlotte sering berubah-ubah saat berada didekat wanita itu.
Tak ingin menunggu, Xavier langsung menarik tengkuk Charlotte dan menciumnya dengan rakus. Entah apa yang sedang pria itu pikirkan, dia ingin terus menikmati bibir manis Charlotte. Dia menjadi candu, dan tak ingin melepaskan kenikmatan itu. Hah! Pikiran warasnya mengabaikan semua kesalahan yang dilakukan wanita itu. Disingkirkannya jauh-jauh amarahnya dan menikmati apa yang kini menjadi candu baginya.
Charlotte secara tak sadar mengalungkan tangannya ke leher Xavier. Mencoba mengimbangi ciuman menggebu-gebu pria itu. Memejamkan mata, mereguk setiap manisnya semua yang diberikan Xavier. Charlotte tak menolak, karena kini tubuhnya lebih menginginkan sentuhan pria itu. Charlotte akui, jika Xavier memang pria hebat dalam membangkitkan gairahnya. Dia gila dibuatnya.
Mendapat balasan yang sama\, Xavier menurunkan ciumannya ke leher Charlotte. Mengecupnya dengan lembut serta memberikan gigi*-gigi*an kecil disana. Charlotte tak bisa lagi menahan desahannya\, tangannya mencengkram kuat surai rambut hitam milik Xavier\, menyalurkan perasaannya yang tak mampu diwakilkan oleh apapun. Xavier Semakin tertantang untuk berbuat lebih\, semakin mengeratkan tubuh mereka.
“Embbhh, Xavihhh… Jangann…”
Charlotte mendesah tatkala tangan nakal Xavier mere**s gundukan kembarnya dari luar handuk. Hal itu membuat Charlotte menggelijang seketika, tak kuasa mengontrol dirinya sendiri. Xavier meraih gagang shower dan kembali menyiramkan air ke tubuh Charlotte. Wanita itu terkejut dan mengusap wajahnya yang terkena air. Menyingkirkan air itu yang mengganggu penglihatannya, diusap-usapnya dengan kesal.
Air itu membasahi seluruh wajah Charlotte dengan leluasa. Kemudian, Xavier membuka lebar kaki Charlotte dan kembali mencium bibir ranumnya yang kian menggoda. Sungguh, sensasi saat bersama wanita itu sangat sulit dijelaskan olehnya.
Xavier sesaat terkesiap, merasa bingung dengan sosok wanita dihadapannya ini. Benar-benar berbeda dengan wanita yang selama ini dia kenal. Mulutnya tanpa sadar berucap, “Wajahmu berubah?”
Charlotte membuka matanya dan memberanikan diri menatap Xavier. Pria itu masih terpaku menatapnya. Raut wajahnya dipenuhi keterkejutan. Secara tak sadar, tangan Xavier menyentuh wajah Charlotte kembali.
Tak mengerti apa maksud ucapan pria itu, Charlotte yang sudah mulai kehilangan pengaruh obat, segera menepis kasar tangan pria itu. Perasaan emosi yang lenyap kini menguasainya saat menyadari apa yang telah terjadi diantara mereka. Dirinya meruntukki kebodohannya karena terbuai dengan sikap Xavier. Charlotte belum menyadari jika pria itu sudah melihat wajah ayunya dan malah ingin mendampratnya.
“Puas kau, sudah dapat apa yang kau mau?!” seru Charlotte dengan wajah merah padam. Dia marah namun juga malu disaat bersamaan. Xavier berhasil melihat sisi lemahnya dan memanfaatkan hal itu demi nafsu sesaat. Itulah yang saat ini dipikirkan wanita itu.
“Inikah dirimu yang asli?” Xavier tidak memperdulikan kemarahan Charlotte, dia terus menatap intens padanya. Seolah tak yakin dengan penglihatannya sendiri.
“Kau ini bicara apa, aku gak ngerti.” Balas Charlotte belum menyadari apapun.
__ADS_1
“Lihatlah wajahmu”, Xavier mengedikkan kepala agar Charlotte berbalik melihat kearah cermin wastafel dibelakangnya. Charlotte melakukannya, netra mata cokelatnya bertemu pantulan dirinya disana. Sedetik kemudian, kedua matanya membola penuh, terkejut sendiri melihat hasil polesan wajahnya yang hilang begitu saja. Wajahnya kini mulus, tanpa bintik-bintik hitam. Semua noda menjijikkan itu seolah lenyap begitu saja meninggalkan Charlotte yang kini terlihat cantik walau tanpa polesan make up jadi-jadian.
Tubuh Charlotte seketika gemetar. Dia perlahan berbalik kembali berhadapan dengan Xavier yang sejak tadi masih menatap tajam kepadanya. Seolah menunggu pembenaran pada Charlotte. Kedua alis Xavier saling bertaut menandakan dirinya tengah kebingungan.
“Apa ini kebohonganmu yang lain?”
Charlotte terdiam. Bibirnya tertutup rapat.
.
.
.
NB : VOTEnya kecengin ya say.... Othor jd gak semngat mau update... hiks...
VOTE smpe 40 auto update lagi....
Jgn lupa Follow IG Othor @nanayu_95 yaaaaa... see youu
__ADS_1