Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 72 (Part 2)


__ADS_3

“Siapa yang menyuruhmu bicara, bajing*n?!”


Suara yang tenang namun menyiutkan nyali lawan bicara. Charlotte terkesiap, ia baru sadar dengan situasi mereka sekarang. Ia melihat penampilan Fredy yang hanya bertelanjang dada. Mereka keluar dalam satu kamar yang sama. Tidak ada orang lain yang dilihat Xavier selain mereka berdua.


Xavier pasti berpikir ia dan Fredy telah terjadi sesuatu! Hal yang sama ia alami beberapa waktu yang lalu. Xavier kembali memergoki mereka didalam sebuah hotel! Ia harus memberi pengertian pria itu sebelum terlambat!


“Xavi, dengarkan aku. Aku dan Fredy-“


“Jangan sebut nama pria bajing*an ini didepanku !!!” bentak Xavier dengan sangat keras!


Charlotte terjingkat saking terkejutnya. Ia memundurkan kakinya. Xavier kini dipenuhi amarah besar. Charlotte tidak berani mendekatinya. Bagaimana ia harus membujuk suaminya itu?


“Jangan membentak Charlotte seperti itu! Dia tidak bersalah.” Fredy siap membela.


“DIAM KAU!! Bicara sekali lagi kupatahkan kakimu itu!” ancam Xavier seraya mengacungkan jari telujukknya didepan wajah Fredy. Menegaskan pada pria itu jika dirinya tidak main-main.


Guratan diwajahnya semakin jelas, rahangnya mengeras dengan gigi gemelatuk. Menandakan kemarahan pria itu. Emosi Xavier kini mulai tak terkendali. Charlotte tidak tahu harus melakukan apa. Xavier seolah tidak mau mendengarkan ucapan siapapun. Bagaimana cara ia bisa menjelaskan semuanya?


Tap tap tap!


Langkah kaki seseorang yang berlari kian mendekat. Dean telah sampai disana. Ia dibuat heran saat melihat Tuan Mudanya bersama Nona Charlotte  dan Tuan Fredy. Namun kebingungannya seketika hilang saat melihat penampilan Fredy dan wajah penuh amarah Tuan Mudanya. Sepertinya kejadian waktu itu kembali terulang.


“Tuan Muda, tolong jangan membuat keributan disini. Saya mohon.” Dean menengahi. Ia tahu betul, bagaimana Xavier jika dalam kondisi emosional.  Pria itu akan tunduk pada egonya, tidak mau mendengar siapapun dan bisa menyakiti orang lain tanpa pandang bulu. Hal yang ditakutkan adalah kemarahan Xavier yang meledak bisa menghancurkan apapun. Tak terkecuali membalas dendam!

__ADS_1


“Diam kau! Ini bukan urusanmu!” sentak Xavier tak peduli.


“Ini jadi urusan saya jika Tuan melakukan keributan mengingat kita sedang berada di hotel. Apa yang akan tamu  pikirkan jika tahu pemilik hotel ini melakukan perbuatan tidak pantas! Saya mengatakan ini demi Anda, Tuan Muda! Tolong dengarkan saya!”


Apa?? Jadi hotel ini milik Xavier?  Suaminya? Charlotte terkesiap mendengarnya. Astaga, kenapa ia begitu bodoh datang ke tempat ini. Dan membuat suaminya salah paham. Jika Xavier mengamuk disini, nama baiknya pasti akan tercoreng. Ia tidak bisa membiarkan hal itu!


“Xavi, kumohon. Kita pergi ya, aku bisa jelaskan semua.” Pinta Charlotte memohon, memegang tangan suaminya. Mencoba meredam amarah pria itu.


Xavier hanya diam, pandangannya tak lepas dari Fredy sejak tadi. Tatapan seolah ingin sekali membunuh pria yang ada didepannya. Mencincang-cincang tubuhnya hingga hancur.


Berulang kali Xavier ditenangkan oleh Dean maupun Charlotte. Hingga pada akhirnya, pria itu memilih meredam semua amarahnya.


“Bawa dia pulang.”


Tiga kata yang mewakili emosi pria itu. Dean langsung mengerti, ia lebih baik mengikuti perintah Xavier dan berpindah tempat. Ia mendekati Charlotte.


“Tidak! Aku ingin disini dan pergi denganmu Xavi.” Tolak Charlotte yang tidak bisa meninggalkan mereka berdua disana. Bagaimana nanti jika mereka berkelahi seperti waktu itu?


“Aku bilang pergi!!!” sentak Xavier keras cukup menghentikan rengekan Charlotte.


“Nona…” Dean kembali memanggilnya, agar Charlotte mendengarkan perkataan Xavier.


Charlotte tidak punya pilihan lain. Ia terpaksa mengikuti langkah Dean pergi. Sesekali ia menoleh kebelakang. Pada kedua singa saling beradu tatapan maut itu. Charlotte sungguh tak berdaya. Ia terpaksa mengikuti Dean pergi. Tubuh mereka menghilang dibalik pintu lift yang tertutup.

__ADS_1


^


Charlotte turun ke bawah. Dean membawanya keluar dari hotel. Saat ia hendak masuk kedalam mobil, Charlotte kembali memutar tubuhnya berniat kembali kedalam sana.


“Nona, jangan kesana!” Dean dengan sigap menahan Charlotte agar wanita itu tak kembali kedalam sana.


“Lepaskan aku! Aku ingin melihat mereka. Apa kau tidak takut jika mereka berkelahi disana?!”


“Tuan bisa mengontrol emosinya. Nona tenang saja.”


“Tenang bagaimana!? Kau lupa mereka babak belur waktu itu! Sekarang mungkin saja sama.” Eh Ralat, sebenarnya yang babak belur hanya Fredy sih, batin Charlotte.


“Tuan sudah meminta saya membawa Nona pulang. Itu artinya tidak akan terjadi apa-apa pada mereka. Nona Jangan khawatir.” Ucap Dean masih mencoba menasehati Charlotte.


“Aku tidak percaya! Lepaskan aku! Aku harus melihatnya sendiri!” Charlotte tetap bersikeras, hingga pada akhirnya wanita itu berhasil meloloskan diri.


Ketika langkah Charlotte ingin menjejak tangga pertama, ia kembali mematung saat dilihatnya Xavier keluar dari hotel dengan sikap yang tenang. Berjalan mendekatinya.


“Xavi…” Suara Charlotte tercekat saat suaminya sudah berada didepannya. Menatap dingin padanya. Tatapan yang mampu membuat panca inderaitubuh Charlotte mati rasa.


“Masuk kedalam mobil!”


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2