
Xavier diam. Charlotte maju selangkah dan meraih wajah suaminya. Ia hadapkan wajah penuh kesakitan itu dan ditatapnya lama-lama.
“Xavi, tolong beritahu padaku. Apa benar kau masih sakit hati tentang hubunganku dengan Fredy?” tanya Charlotte lirih.
Xavier memberanikan diri melihat kedalam sorot mata Charlotte. Ia menyentuh tangan istrinya. “Jangan pedulikan aku. Kau tidak akan mengerti. Aku selalu melakukan yang terbaik untukmu. Kau hanya perlu tetap disampingku, apapun yang terjadi!”
“Aku akan terus disampingmu kalau kau mau terbuka denganku Xavi. Kupikir, kau benar-benar sudah melupakannya dan memaafkanku. Tapi yang kau lakukan sekarang, justru membuatku ragu untuk tetap disampingmu..”
Mata Xavier berubah tajam, tubuhnya sedikit gemetar. “Apa kau bilang? Kau ingin meninggalkanku, begitu??!”
“Xavi, semua masalah akan selesai jika kita saling terbuka dan menghadapinya bersama-sama! Aku mencintaimu da-“
“Omong kosong!” Xavier menghempaskan tangan Charlotte begitu saja. Deru nafas Xavier memburu, rahangnya mengeras dengan urat-urat wajah yang terlihat jelas. “Kau tidak mencintaiku Char! Kau hanya cinta dengan mantan kekasihmu itu! Ini buktinya, iya kan?!” Xavier menunjuk perut Charlotte dengan seringai kecut.
“…..Kau mengandung anaknya. Rasa cintamu hanya untuknya! Bukan untukku!” Charlotte tertegun, ia tidak menyangka Xavier akan berkata seperti itu.
“A-anaknya? Kau ini bicara hal bodoh apa sih Xavi?”
“Sudahlah Char, aku lelah dengan bantahanmu! Kau dan dia sudah bermain api dibelakangku. Akui saja! Kalian berhubungan intim sampai kau hamil anaknya! Mungkin awalnya aku marah… kecewa… dan tentu saja sakit hati karena kau perlakukan aku seperti orang bodoh! Tapi sekarang, aku tidak lagi menyalahkanmu. Aku menerimamu. Tapi tidak dengan anak itu!!” seru Xavier dengan mata yang sudah merah akibat luapan amarahnya. Xavier mengacak rambutnya frustasi.
Air mata Charlotte tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Perkataan Xavier sungguh membuatnya sedih dan juga kecewa. “A-aku tidak salah dengar kan? Bagaimana bisa kau mengatakan kalau anak ini bukan anakmu? Bagaimana kau bisa menuduhku tidur dengan pria lain? Kenapa kau bisa setega itu padaku?!” Charlotte terisak, ia melihat Xavier dengan tatapan kecewa. Charlotte sakit hati. Ia memegang dadanya yang terasa sesak. Tubuhnya gemetar menahan tangisnya. Cukup sudah ia bersabar. Xavier masih menganggapnya wanita buruk. Suaminya tidak mangakui anak yang ia kandung. Tuduhan yang menyakitkan kembali menghantam hatinya sampai yang terdalam. Ia tidak tahu, bagaimana harus menghadapi pria didepannya ini.
Rasanya, Charlotte ingin memukul Xavier. Berharap suaminya itu sadar akan kesalahannya. Ia ingin Xavier percaya jika anak yang ia kandung adalah anak pria itu. Darah dagingnya! Apa yang harus ia lakukan, agar Xavier tahu jika ia sangat mencintainya?
“Aku mengatakan apa yang kulihat. Tidak apa kau tidak mencintaiku. Tidak masalah kau mencintai pria itu. Aku hanya minta satu hal padamu. Tetaplah disampingku.” Ujar Xavier seraya menyeka air mata Charlotte dengan kedua ibu jarinya. Ia hadapkan wajah istrinya agar menatap balik padanya. “Char…. Aku sangat mencintaimu. Lihatlah aku seorang. Kita mulai hidup baru. Pernikahan baru. Hanya kita berdua.….” Xavier memindahkan pandangannya ke bawah, giginya bergemelatuk menatap tak senang perut istrinya. Lalu ia kembali menatap dalam sorot mata istrinya. “Tolong gugurkan anak ini, demi kebahagiaan kita.”
^
Charlotte menepis tangan Xavier dari wajahnya. Wanita itu tampak terkejut atas permintaan Xavier. Ia menatap balik wajah pria yang ia cintai. Berharap ada kebohongan atau candaan yang biasa pria itu lakukan. Namun nihil. Xavier benar-benar serius mengatakan itu! Suaminya ingin menghilangkan anak mereka, memintanya untuk menggugurkan kandungannya!
__ADS_1
Charlotte melangkah mundur. Air matanya semakin menganak sungai, bercucuran bersamaan dengan hatinya yang hancur. Menggugurkan kandungan sama saja membunuhnya juga! Ia tidak akan bisa melakukan tindakan kejam itu pada darah dagingnya! Ia sangat menantikan bahkan rela memberikan nyawanya demi calon bayinya. Kini, justru ayahnya sendiri yang tidak menginginkannya.
“Aku tidak akan pernah melakukannya. Aku akan mempertahankan anak ini. Jika kau ingin membunuhnya, kau juga harus membunuhku.” Lirih Charlotte.
“Kau masih menginginkan anak itu setelah aku menerimamu?!” sentak Xavier.
“Ya! Aku tidak peduli kau menerimaku atau tidak. Aku tetap akan memilih bayiku! Untuk apa aku bersama pria kejam sepertimu, yang bahkan tega untuk melenyapkan anaknya sendiri…”
“Dia bukan anakku!”
“Kata siapa dia bukan anakmu?!! Aku yang tahu, siapa ayah anak ini. Dan kau, segampang itu ingin menyingkirkannya?” Charlotte menjeda perkataannya. Dadanya serasa ingin meledak meluapkan kekecewaan dan sakit hatinya. “Aku capek mendengar ucapan menyakitkanmu. Kau yang selalu bilang aku berbohong. Tidak percaya padaku. Aku tukang selingkuh……..” Charlotte menghela nafas lalu mendekatkan diri pada Xavier. Keduanya saling pandang dengan tatapan mereka masing-masing. “Kau yang membuatku pergi, kau sendiri yang akan menyesalinya.”
Charlotte melewati Xavier dan langsung masuk kedalam kamar. Xavier bergeming ditempatnya. Pria itu hanya diam. Ingin membalas ucapan Charlotte dan masuk kedalam kamar, namun perkataan wanita itu seolah telah membekukan dirinya. Charlotte sudah menetapkan keputusan, wanita itu akan mempertahankan anak dalam kandungannya dan memilih ….. pergi.
Kedua tangan Xavier terkepal kuat. Kepalanya dipenuhi kemarahan. Bibirnya terkatup rapat tengah memendam amukannya. Ia sejenak melihat pintu kamar yang tertutup. Hingga kemudian, pria itu memilih pergi dari sana.
^
Teriakan Tuan Muda pemilik seluruh Mansion menggelegar memenuhi setiap sudut tempat. Xavier sebenarnya bisa menghubungi pengawalnya itu lewat telepon, tapi yang ia lakukan justru membuat orang-orang takut dan bingung atas sikap Xavier.
Untung saja, William lewat disekitar sana. Pria itu berlari cepat menghampiri Tuan Majikannya. Ia menundukkan kepala hormat pada Xavier.
“Suruh dua orang pengawal berjaga di depan kamarku! Jangan biarkan istriku keluar tanpa ijin! Setelah itu, temui aku diruang kerjaku!” perintah Xavier seraya berjalan pergi tanpa menunggu jawaban dari William. Pengawalnya itu sejenak terdiam memikirkan alasan, kenapa orang-orangnya harus menjaga Nona Charlotte. Ia punya firasat buruk tentang hal itu.
^
“Tuan, ada apa memanggil saya?”
Brak!
__ADS_1
Sebuah mini tablet tiba-tiba dilemparkan begitu saja di meja oleh Xavier. William hampir melompat saking kagetnya. Ia maju dan mengambil benda itu. Ia melihat ada gambar obat yang ia tidak tahu apa khasiatnya dan kegunaannya.
“Carikan barang itu untukku. Sore ini harus dapat!” perintah Xavier.
“I-ini obat apa Tuan?” tanya William bingung menatap gambar itu dan Xavier bergantian.
“Jangan banyak tanya! Kau bisa atau tidak? Hah!!” emosi Xavier kembali kumat.
“Ba-baik Tuan. Saya akan carikan secepatnya!” Jawab William cepat-cepat. Tidak ingin membuat Xavier semakin emosi.
“Tunggu!”
William yang hampir membuka pintu langsung berbalik. Ditempat duduknya, Xavier menatap pemuda itu dengan tajam. Aura dingin seorang mafia terlihat begitu menakutkan. William tak berani menatap langsung mata hitam itu.
“Apapun tugas yang kuberikan padamu. Pastikan tidak ada satupun orang yang tahu. Kau mengerti!”
“Saya mengerti Tuan!”
“Bagus. Kau bisa pergi.”
.
.
.
Masih on proses penyelesaian novel yes...sabar dulu yg minta perampungan konflik, sebentar lg diusahakan tamat kok. Insyaallah Target akhir bulan ini selesai konflik, diusahakan ya.
Selamat membaca... see youu ^-^
__ADS_1