
“Kakak!”
Hugo merangsek maju untuk meraih tubuh Xavier yang hampir jatuh kebelakang. Ia menahan tubuh Sang Kakak yang sudah mengucurkan darah segar diarea perutnya. Michael yang melihat itu berniat pergi dari sana untuk melarikan diri.
“Jangan lari bajing*n! Atau pistol ini melubangi kepalamu!” Geram Hugo seraya menodongkan pistol Glock milik Xavier tepat dari arah belakang Michael. Hugo tak akan membiarkan pria licik seperti Michael bebas setelah melukai Sang kakak. Hugo melirik Xavier yang hampir tak sadarkan diri. Ia harus bergegas membawanya pergi dari tempat itu.
“Hugo, tenanglah. A-aku tidak akan pergi.. Tolong maafkan aku. ” pinta Michael bergidik ngeri melihat pistol terarah padanya. Ia berusaha membujuk pria bermata tajam itu.
“Tenang kau bilang?! Kau sudah melukai kak Xavier! Beraninya kau minta ampun?!” Tangan Hugo menggenggam erat pistol ditangannya. Menarik pemicu kebawah, bersiap melesatkan peluru ke kepala Michael.
Dor!
Peluru melesat mengenai telinga Michael sebelah kiri. Pria itu berteriak kesakitan dan tubuhnya ambruk kebawah. Darah segar mengucur deras disisi kiri kepalanya.
Michael berdesis tak berdaya. Telinganya terasa sakit, sampai keujung kepala. Ia melirik Hugo dengan wajah penuh amarah, merasa dipojokkan. Ia lebih baik bernegosiasi dengan Xavier daripada dengan adiknya yang merepotkan ini. Hugo tidak bisa ia ajak bicara baik-baik. Bagaimanapun, Xavier bersedia bernegosiasi dengannya.
Hugo merebahkan tubuh lemah Xavier. Sayup-sayup ia bisa mendengar nama kakak iparnya disebut oleh Sang kakak. Begitu cintanya pria itu kepada istrinya, sungguh ia tega melihat keadaan Sang Kakak yang kesakitan seperti sekarang.
“Bertahanlah Kak. Aku akan membawamu kepada Kakak Ipar. Kumohon jangan mati!” bisik Hugo dengan wajah cemas. Tangan satunya masih mengarahkan senjata pada Michael.
“Charlotte…… “ lirih Xavier, kedua matanya mulai sayu. Tubuh perkasanya kini tak berdaya. Darah ikut keluar dari mulutnya. Wajah tampan Xavier kini berubah pucat.
“Bertahanlah sebentar lagi Kak. Kumohon…” Hugo beranjak bangkit. Ia berjalan penuh kemarahan seraya memandang tajam musuh menjijikkan didepannya.
“Hugo, kumohon… Tolong biarkan aku hidup.” Michael masih merengek meminta untuk mengampuni nyawanya. Bersimpuh di tanah.
__ADS_1
“Jika terjadi sesuatu pada Kakakku, aku pasti akan mengejarmu sampai ke neraka Bajing*n! Hidupmu yang kotor itu cukup sampai disini. Aku sudah muak denganmu!” Hugo mulai mengarahkan pintol kearah Michael. “Say Hello to the Hell……”
^^
Mobil hitam mewah Mercedes Benz berhenti di sebuah area rumah sakit. Dari dalam mobil itu keluar Charlotte bersama Dona, Kepala pelayan Mansion. Dona membantu Charlotte memasuki gedung, tak membiarkannya untuk berlari. Ia sangat tahu, apa yang sedang Nona Mudanya itu pikirkan sekarang. Kabar tentang kondisi Tuan Muda Xavier telah sampai kepadanya. Membuat wanita itu khawatir bukan main.
“Dimana dia? Dona, cepat beritahu aku!” Charlotte bergerak kesana kemari melihat sekeliling. Tak sabar untuk menemukan keberadaan Sang suami. Wajah cantiknya berubah kecemasan, keringat dingin bercucuran dari keningnya. Berharap Xavier baik-baik saja.
“Mari ikut sana Nona.” Dona menunjukkan arah pada Charlotte. Wanita itu menurut dan mengikutinya.
Setelah 2 menit berjalan, akhirnya mereka sampai di ruangan khusus yang menangani pasien gawat darurat. Dikursi tunggu depan ruangan, kakek duduk disana seraya ditemani dua pria. Charlotte tidak pedulikan itu dan berjalan cepat kesana.
“Kakek…”
“Charlotte, kemari sayang.” Kakek melebarkan kedua tangannya dan meraih wanita itu kedalam pelukannya. Tangis Charlotte langsung meledak di pelukan Sang Kakek.
“Bagaimana ini bisa terjadi? Kenapa Xavi bisa terluka? Dimana dia? Bagaimana kondisinya…hiks.” Charlotte tak kuasa menahan kekhawatirannya. Ia tumpahkan semuanya disana. Ketakutan akan kehilangan Sang suami begitu menyiksanya. Ia takut, terjadi apa-apa dengan Xavier.
“Tenang Charlotte, ayo duduklah.” Kakek mengajak Charlotte duduk. Ia memberi kode pada Dean untuk membawa semua orang pergi. Dean mengerti dan menyuruh Hugo dan Dona pergi dari sana.
“Xavi pasti akan baik-baik saja. Dokter masih menanganinya.” Tutur Kakek mencoba menenangkan Charlotte.
“Kenapa Kakek tidak beritahu padaku, jika dia mau pergi? Aku belum sempat meminta maaf padanya…” Charlotte merasa menyesal karena membiarkan Xavier mencarinya selama satu bulan ini. Ia ingin meminta maaf pada Sang suami atas keegoisannya. Ia mencintainya, dan tidak mau berpisah darinya lagi.
“Maafkan Kakek. Ini semua salah Kakek. Xavi terluka atas kebodohan Kakek, Charlotte. Kamu jangan merasa bersalah, ya.” Pinta kakek.
__ADS_1
“Dia pasti akan selamat kan Kek?”
“Iya! Xavi pasti selamat. Dia sangat ingin menemuimu dan anak kalian. Kita berdoa agar operasinya berjalan lancar. Ya…”
“Iya kek…” Charlotte kembali memeluk Kakek. Ia memejamkan mata, berharap badai segera berlalu.
^^
Dalam penerangan cahaya lampu kamar pasien, Charlotte duduk disamping Sang suami yang terbaring lemah. Sejak satu jam yang lalu, dokter telah berhasil mengoperasinya, kini tinggal menunggu pria itu sadar. Charlotte ingin berdua bersama Xavier. Ia ingin dialah satu-satu orang yang ada disamping pria itu saat tersadar nanti.
Untung saja, luka tusuk yang dialami sang suami tidak cukup serius. Xavier hanya kehabisan darah dan beruntungnya, rumah sakit memiliki stock kantong darah yang cukup. Charlotte lega, ia bisa melihat sang suami terhindar dari masa kritis. Berharap mata terpejam itu segera terbuka dan menyambutnya dengan hangat.
Cukup lama Charlotte menunggu Xavier sadar, berulang kali mengecup tangan Xavier dengan sayang. Mengecek mata yang terpejam itu jika mulai terbuka. Charlotte begitu merindukan suara suaminya, melihat tatapan cinta yang selalu ia terima dari sang suami. Sibuk dengan pikirannya, tanpa Charlotte sadari, kedua matanya mulai terpejam. Berulang kali ia menguap, namun ia coba tahan rasa kantuk yang terus mendera. Ia letakkan kepalanya di kasur. Perlahan-lahan namun pasti, Charlotte jatuh kedalam mimpi.
^
Tidur nyaman Charlotte mulai terusik saat sesuatu menyentuh kepalanya. Sebuah usapan hangat menari-nari diantara sela-sela rambut panjangnya. Tangan Charlotte tergerak keatas meraih sesuatu yang membuatnya penasaran, tanpa membuka matanya.
“Eh?”
Charlotte merasa seseorang mengecup pipinya dengan mesra. Entah ini mimpi atau bukan, rasanya seperti nyata. Charlotte merasa nyaman dengan sentuhan itu. Perlahan, ia membuka mata. Menghilangkan rasa kantuk yang masih melekat di matanya.
Samar-samar ia melihat wajah yang selalu dinanti setiap malam. Wajah yang selalu menghampiri setiap mimpi tidurnya. Charlotte begitu rindu, begitu ingin membelai wajah rupawan yang menghiasi warna hidupnya. Ia melebarkan kelopak matanya, dan melihat dengan jelas sosok yang selalu ia rindukan.
“Sayang….”
__ADS_1