Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 75 (Part 1)


__ADS_3

Menjelang malam hari, Charlotte merasa cemas dengan ketidakhadiran Xavier dirumahnya. Charlotte berusaha menghubungi nomor teleponnya namun tidak diangkat oleh pria itu. Sepertinya Xavier benar-benar masih marah padanya. Memutuskan komunikasi secara sepihak padanya.


Ia tidak punya nomor Dean. Jika tahu hal seperti akan terjadi, ia pasti lebih dulu meminta nomor asisten Xavier itu. Charlotte kebingungan bagaimana menghubungi Xavier. Ia ingin tahu keberadaan suaminya.


Xavier orang yang susah diprediksi. Pria itu sangat menakutkan jika sedang dalam kondisi emosional. Mulutnya seperti harimau sedang kelaparan. Tidak mau mendengarkan orang lain. Tidak tersentuh dan sulit diajak bicara. Egois dan ingin menang sendiri. Sifatnya sama sekali tidak ada bagus-bagusnya. Charlotte merasa gemas sendiri. Memikirkan Xavier terus, semakin membuat kepalanya pusing. Charlotte memutuskan keluar kamar untuk mendapatkan informasi.


Saat menuruni tangga, sayup-sayup ia mendengar pembicaraan ayah dan ibu tirinya diruang makan. Suara wanita yang selalu membuatnya dalam masalah itu terdengar jelas diindera pendengaran Charlotte. Ia terdiam ditempatnya berdiri.


“Jelas-jelas itu kesalahan putrimu masih saja mengelak! Coba dari awal kita tahu, pasti kita tidak akan menikahkannya dengan pria jahat itu! Ini salahmu! Dan juga  putrimu itu!”


“Lhoh kok salahku sih. Bukannya kamu yang mau mereka dinikahkan. Gara-gara hutangmu dengan rentenir itu!” protes Susanto.


“Kok aku lagi sih yang disalahin! Aku hutang ya karena mau bantu perusahaanmu yang mau bangkrut itu. Aku pinjam uang juga buat kamu! Malah nyalahin!” ketus Sella.


“… Kalau begini jadinya, kita nikahkan Charlotte dengan pria pilihanku!”


“Kamu gila ya! Sudah terlilit hutang dengan rentenir malah mau punya mantu Rentenir juga! Kamu kira putriku wanita murahan! Hah!” geram Susanto.


Charlotte mendesahkan nafasnya ke udara. Sungguh ia tidak menyangka ibu tirinya sepicik itu! Kenapa harus dirinya yang dikorbankan, kenapa tidak putrinya saja saat itu! Dan sekarang, mereka berdebat seolah telah salah pilih mantu. Hah! Seharusnya dialah yang tersiksa disini, bukan mereka.


Lagipula, Xavier tidak buruk-buruk amat. Suaminya punya sisi lembut juga kok. Pria itu juga tidak sejahat ibu tirinya. Batin Charlotte dongkol.


Charlotte melanjutkan menuruni tangga dan berjalan menghampiri mereka. Menepiskan senyum kecil saat dua orang itu menyadari kedatangannya.


“Selamat malam..” sapa Charlotte.


“Malam Char.” Balas Susanto lalu kembali melanjutkan makannya. Sedangkan Sella, ibu tiri Charlotte itu hanya memalingkan wajahnya.


Charlotte tidak mau ambil pusing dengan sikap wanita itu. Ia harus mengisi perutnya yang kosong lebih dulu. Seharian ia tidak makan sama sekali. Sibuk memikirkan masalah perusahaan dan Xavier ia terpaksa melewatkan waktu makannya.

__ADS_1


Pelan-pelan Charlotte mulai menikmati makan malamnya. Suasana disana tampak hening. Charlotte baru tersadar akan ketidakhadiran Shinta, adik tirinya. Dulu, ketika ia belum menikah, Shinta selalu menjadi orang pertama yang datang ke ruang makan. Shinta memang tidak bisa telat makan. Ia punya asam lambung, jadi jadwal makannya harus on time. Dan sekarang, Charlotte tidak menemukan keberadaannya disana.


“Yah, dimana Shinta?”


“Untuk apa kamu mencarinya!” nada ketus ibu tiri Charlotte langsung menghujam tajam ditelinganya.


“Dia kan adikku, wajarlah aku mencarinya.”balas Charlotte dengan santai. Wajahnya dibuat semenyebalkan mungkin. Dan apa yang dilakukannya memang berhasil. Sella tampak kesal dengan melototkan matanya.


“Adikmu pergi dengan teman-temannya. Dia bilang akan kembali sebelum dini hari.” Jawab Susanto.


“Owh. Baiklah.” Charlotte melirik pada Sella yang masih dongkol. Ia sedikit menarik  sudut bibirnya dan bersikap biasa. Hal itu tak luput dari mata Sella. Wanita itu meletakkan sendoknya dipiring sampai berdenting keras.


“Aku kekamar dulu.” Sella mendorong kursinya dan bangkit dari tempatnya. Wanita itu mendengus kesal lalu pergi begitu saja.


Kini tinggal ia dan ayahnya disana. Charlotte melirik ayahnya yang masih sibuk makan. Sejujurnya ia ingin tahu, apakah ayahnya sudah dapat info keberadaan Xavier. Mungkin saja, pria itu memberitahu lokasi tempat dimana ia berada pada ayahnya. Tidak salahnya ia bertanya.


“Hmm.”


“Apa Xavi menghubungi ayah?”


“Tidak.”


Charlotte membuang nafasnya kecewa. Ia tidak tau lagi harus kemana mencari informasi. Charlotte kembali tak berselera makan. Makananya hanya habis separo. Ia berniat kembali ke kamarnya.


Ting Tong!


Suara bel pintu utama mengurungkan niat Charlotte. Kedatangan orang dirumah mereka menjadikan ia reflek berdiri. Dengan mata berbinar-binar, Charlotte segera meninggalkan ruang makan.


“Biar aku yang buka Yah!” seru Charlotte yang tubuhnya sudah hilang dari mata.

__ADS_1


“Itu pasti Xavi! Ya, itu pasti dia!” ucap Charlotte penuh semangat. Ia berlari sekencang mungkin menduga suaminya lah yang datang.


Ceklek!


“Xavi, kau kembali-“


Suara Charlotte tercekat saat melihat William, bodyguard lamanya tengah berdiri didepannya. Pria itu menunduk hormat pada Charlotte seraya tersenyum.  Untuk apa pria itu datang kerumahnya? “Selamat malam Nona. Senang bertemu Anda lagi.”


“Kau? Kenapa kau kemari? Dimana Xavi?” mata Charlotte berkeliaran mencari sosok yang ia cari. Ia tidak peduli dengan William.


“Tuan tidak disini Nona. Tuan menyuruh saya datang kesini untuk menjaga Anda.”


“Aku tidak butuh penjagaan. Dimana Tuanmu itu. Panggil dia kemari!” desak Charlotte tak sabar.


“Maaf Nona. Saya tidak bisa melakukannya. Saat ini Tuan Muda Xavier sudah terbang ke Sisilia.”


“Hah? Dimana itu?”


“Tuan Muda pergi ke Italia Nona.”


DEG!


.


.


.


Jgn lupa VOTE nya bestie, sebagai bentuk apresiasi karya othor.... saranghae ^-^

__ADS_1


__ADS_2