Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 69 (Part 2)


__ADS_3

Fredy berjalan diantara mereka. Pria itu menghampiri ayah Charlotte. “Maaf Paman, saya terlambat datang.” Ujarnya.


Susanto berdiri dan memeluk Fredy. Menepuk punggung pria itu dengan jantan. Senyum puas terpatri di wajah pria tua itu. Ia terlihat senang atas kehadiran Fredy.


“Tidak masalah Fred. Kau datang tepat waktu. Terima kasih karena sudah datang.” Ujar Susanto.


Charlotte disana merasa bingung. Fredy datang tanpa ia ketahui. Ia pikir pria itu masih di Kota S mengurus cabang perusahaannya. Tapi kenapa, dia bisa ada disini?


“Kalian semua pasti tahu. Dia Fredy, calon menantuku.” Susanto memperkenalkan Fredy didepan semua orang. Terlihat para petinggi bergiliran berjabat tangan dengan Fredy. Decak kagum meluncur dari mulut mereka melihat ketampanan dan kewibawaan yang tampak di penampilan Fredy.


Siapa yang tidak mengenal Fredy di Kota ini. Pria ambisius yang cerdas dan pintar berbisnis. Masih muda dan matang dalam berpikir. Selalu memenangkan tender besar dibeberapa event khusus. Tak ada yang tak kenal siapa sosok Fredy.


“Silahkan duduk. Mari silahkan duduk.” Fredy meminta semua orang kembali ke tempatnya. Keberadaan pria itu seperti magnet besar yang berhasil mengalihkan pusat perhatian. Jika dilihat dari popularitas, Charlotte sangat jauh perbedaannya. Ia akui Fredy memang unggul dalam masalah seperti ini.


“Jadi, Nona Charlotte ingin mencari investor baru? Benar begitu?” Fredy bicara formal layaknya rekan bisnisnya. Mungkin saja pria itu tidak ingin orang lain mengetahui hubungan mereka dulu. Charlotte memahaminya. Fredy selalu tahu, jika sejak dulu Charlotte tak ingin menjadi pusat perhatian.


“I-iya.” Jawab Charlotte sekadarnya.


“Kita coba. Aku akan membantu. Kita butuh banyak tenaga untuk menyelesaikan masalah ini. Jika dilakukan dua orang pasti akan lebih efisien waktu. Benar begitu Tuan Susanto?” ujar Fredy.

__ADS_1


Susanto mengangguk setuju. “Ya. Itu lebih baik. Charlotte, jika masalah ini kau tangani sendiri, semua tidak akan cepat selesai. Fredy akan membantu.”


“Tapi yah..” sebelum Charlotte menyela, para petinggi sudah menganggukkan kepala s tanda setuju atas pernyataan Susanto. Charlotte tak habis pikir, kenapa semudah itu mereka berubah pikiran hanya karena keikutsertaan Fredy dalam proyeknya.


“Baiklah. Kita beri waktu 1 minggu untuk kalian, cari solusi sebaik mungkin dan kita rapatkan lagi. Beritahu aku apa saja yang kalian butuhkan.” Ujar Susanto. Pria itu berdiri, menutup rapat. Para petinggi bangkit dari tempatnya, dan keluar sana.


“Char, kerjasama lah dengan Fredy. Ikuti keputusan Ayah.” Ucap Susanto.


“Tapi aku bisa melakukannya yah, tidak perlu bantuan Fredy. Ayah tidak percaya padaku?” Tanya Charlotte merasa disampingkan kemampuannya.


“Char, jangan egois. Kita sedang mempertaruhkan nasib perusahaan. Pokoknya ayah ingin Fredy ikut andil dalam rencana ini.” Tegas Susanto. Pria itu lalu pergi begitu saja meninggalkan ruangan. Charlotte terduduk dengan lesu. Bagaimana bisa ayahnya meminta orang lain untuk mengurus perusahaan ini. Seharusnya ayah mempercayainya? Kenapa ayah mengingkari janjinya?


Charlotte mendongak, “Terima kasih Fred. Oh ya, sejak kapan kau ada disini?” tanya Charlotte. Masih heran dengan keberadaan Fredy yang muncul tiba-tiba.


“Aku tidak sengaja dengar perusahaan Kakek sedang dalam masalah. Makanya aku langsung kemari.” Jawab Fredy.


“Oh, begitu ya. Kau tahu aku sangat ingin membantu. Tapi sepertinya aku gagal menyakinkan mereka.” Ucap Charlotte bersedih. Melihat Charlotte seperti itu tangan Fredy terulur mengusap lembut kepala Charlotte. Tersenyum hangat.


“Kau pasti bisa. Aku tidak akan menghalangimu. Berjuanglah. Jika butuh bantuan, kau bisa memanggilku.” Ujarnya.

__ADS_1


“Ayah sudah memintamu membantuku. Aku harus melakukannya.”


“Kau tidak keberatan?”


“Apa aku punya pilihan lain?”


“Tidak.” Jawab Fredy diiringi senyum lucu.


Charlotte dan Fredy sama-sama tertawa. Perasaan Charlotte sedikit lega. Fredy memang selalu mendukung setiap keputusan yang ia ambil. Ia berharap, semua bisa berjalan lancar.


Drtttt Drtttt….


Charlotte mengangkat teleponnya. Ternyata ayahnya menelpon. Ia langsung mengangkatnya. “Iya yah? Oh baiklah. Charlotte akan kesana.”


Charlotte menutup teleponnya, terlihat tergesa-gesa. Fredy yang melihat itu langsung menimpali. “Ada apa?” tanyanya.


“Hari ini aku akan menemui investor itu.” Ujar Charlotte menenteng tasnya keluar ruangan, Fredy terlihat mengekorinya.


“Boleh aku ikut?”

__ADS_1


“Boleh. Asal kau tidak jadi pengacau. Hehe bercanda. Ayo!” Charlotte tertawa kecil lalu berjalan cepat menuju lantai dasar, diikuti Fredy disampingnya.


__ADS_2