
Tubuh Charlotte bergetar hebat. Belum juga ia menghilangkan rasa terkejutnya akan tindakan Xavier, ia kembali dikejutkan dengan ciuman pria itu. Xavier membenamkan ciuman hangat dibibir ranumnya. Hingga membuat kedua mata Charlotte membulat penuh.
Xavier menggigit bibir bawah Charlotte agar dirinya bisa leluasa menikmati bagian terdalam mulut wanita itu. Pancingannya berhasil, Charlotte membuka mulutnya dan memberikan akses mudah untuk lidahnya masuk. Lidah mereka beradu didalam sana menikmati rasa yang disuguhkan.
Charlotte mengerang tatkala ia mulai kesulitan bernafas. Dengan tenaganya yang tersisa ia letakkan kedua tangannya di dada kokoh Xavier dan mendorongnya menjauh. Ciuman mereka terlepas.
“Xavihh, apa yang kau lakukan?” ucap Charlotte dengan nafas yang tersengal-sengal. Ciuman Xavier memang ia rindukan tapi jika pria itu menciumnya bringas dan tanpa jeda, itu sama saja membunuhnya secara perlahan karena nafasnya yang sudah habis.
Xavier tersenyum kecil, sorot matanya yang tadi sempat diliputi nafsu kini bisa terkendali. Ia lupa, jika istrinya masih lemah. Selang infus ditangan wanita itu juga belum terlepas. Ia hampir saja hilang kendali.
“Maaf. Kau tidak apa-apa? Apa aku menyakitimu?” tanya Xavier dengan suara cemas.
“Emb, tidak kok. Aku ta-tadi hanya terkejut.” Jawab Charlotte gugup, kedua pipinya merona. Ia begitu malu kala Xavier tiba-tiba menciumnya. Saking terkejutnya ia lupa bernafas saat berciuman dengan pria itu. Dan sekarang Charlotte terkesiap melihat perhatian manis yang diberikan Xavier padanya.
“Ya sudah. Apa kau lapar?”
Charlotte sejenak diam, netra cokelatnya tak henti menatap kedalam sorot mata hitam suaminya. Ia mencari kepalsuan atau kemarahan didalam sana. Namun ia tidak menemukan hal itu. Xavier sepertinya benar-benar sudah berubah.
“Kenapa diam. Aku ambilkan ya.”
“Xavi..” Charlotte langsung menarik tangan Xavier ketika pria itu ingin pergi. Xavier kembali duduk disamping Charlotte.
“Ada apa?”
“K-kau sudah tidak marah padaku?” tanya Charlotte takut-takut. Ia berharap sikap Xavier padanya bukanlah mimpi.
“Tidak. Lupakan apa yang sudah kukatakan. Aku tahu, kau sudah terluka atas ucapanku. Maafkan aku.”
Charlotte terkesima mendengar ucapan hangat Xavier. Tidak ada kebohongan yang ia tangkap dari mata pria itu. Tanpa sadar, ia langsung memeluk Xavier dan menggelamkan kepalanya didada bidang pria itu.
“Aku juga minta maaf. Aku sangat takut jika kau terus marah padaku. Banyak hal yang ingin kukatakan padamu…. Hiks.” Charlotte terisak dalam pelukan Xavier. Air matany tumpah membasahi kaos yang dipakai Xavier.
Xavier mengusap punggung Charlotte dan mengeratkan pelukannya. “Tidak apa-apa. Yang penting jangan kau ulangi lagi kesalahan itu. Hm?”
__ADS_1
“Iyaa… Aku janji!!.. Hiks.. Maaf…”
“Makan dulu ya?” Xavier melepas pelukannya dan mengusap air mata Charlotte dengan kedua tangannya. Charlotte mengangguk patuh, wanita itu begitu senang. Hatinya sangat senang hingga ia lupa jika dirinya masih sakit.
^
Charlotte makan dengan sangat lahap. Makanan apapun yang disuapkan Xavier padanya selalu ia habiskan. Ia benar-benar lupa jika ia sedang sakit. Ia juga tidak peduli kalau nanti tubuhnya makin berisi. Charlotte ingin terus diperhatikan oleh suaminya.
Xavier seharian menemani Charlotte, Pria itu tidak pergi atau sekedar meluangkan waktu mengurus pekerjaannya. Beberapa kali Dean ingin menemuinya, tapi selalu ditolak Xavier.
Yang paling merasa senang adalah Kakek. Pria tua itu sampai meneteskan air mata melihat kebahagiaan yang terpancar di wajah Charlotte. Charlotte selalu tertawa dan tersenyum saat berada bersama Xavier. Rona ceria tak hilang dari wajah wanita itu sejak mereka berbaikan. Kakek sangat bersyukur atas itu.
Sore harinya, Dokter Catty, Dokter kandungan khusus yang dipilih Kakek untuk perawatan Charlotte datang dan memutuskan melepas selang infus yang terpasang di tangan Charlotte. Dokter Catty memberitahu jika kondisi Charlotte sudah berangsur membaik. Karena itu, Charlotte tidak membutuhkan alat medis itu. Sebelum Dokter Catty pergi, ia menyarankan agar Charlotte rajin meminum vitamin dan makan dengan teratur.
^
“Selamat siang Tuan Besar.”
Dean menyapa seraya menundukkan kepala pada Kakek setelah melihatnya datang. Kakek menyuruh Dean duduk sedangkan dirinya duduk diseberang pria itu. Mereka tengah berada di ruang santai.
“Saya baru ingin pergi Tuan Besar.” Jawab Dean cepat.
“Oh, baiklah. Tapi sebelum kau pergi, ada yang ingin Kakek tanyakan padamu.” Ujar Kakek.
“Apa itu Tuan Besar?”
“Kita hanya berdua disini. Jangan bicara formal padaku.” Tegas Kakek.
Dean tersenyum kikuk. Ia lupa dengan aturan itu. Karena sibuk dengan Xavier yang menolak bertemu dengannya tadi.
“Maaf Kek. Saya lupa.”
“Dean, Kakek lihat kau ingin bertemu Xavier. Ada masalah apa?” tanya Kakek.
__ADS_1
“Oh itu, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan pada Tuan Muda. Tapi dia tidak ingin menemuiku. Kupikir, aku akan menyimpannya lebih dulu.” Ujar Dean.
“Informasi apa itu?” Kakek menegakkan duduknya menatap Dean penasaran.
Dean merogoh sesuatu didalam pakaian jasnya. Lalu mengeluarkan sebuah Ipad kecil. Disodorkannya benda pipih itu pada Kakek.
“Apa ini Dean?” Kening Kakek berkerut dalam.
“Lihatlah Kek. Disana ada rekaman CCTV Hotel dimana Nona Charlotte yang saat itu sedang bersama Tuan Fredy.”
“Benarkah?” Kakek langsung saja menonton video yang tampil dilancar persegi itu.
Sorot matanya tampak berubah-ubah. Kadang terkejut, heran dan serius. Setelah selesai, ia letakkan kembali benda itu di atas meja.
“Darimana kau dapat ini?” tanya Kakek.
“Saat aku masih di Jakarta, Tuan Xavier ingin aku membereskan masalah perusahaan Setiawan Group milik keluarga Nona. Untuk diambil alih oleh Tuan Xavier. Setelah selesai, aku diminta memberi ultimatum kepada Tuan Fredy. Tapi saat aku mendatangi perusahaan milik Tuan Fredy, pria itu justru memberiku rekaman ini. Tuan Fredy bilang, jika Tuan Xavier salah paham atas dirinya dan Nona.” Dean memberi jeda.
“….. Aku pikir dengan menunjukkan video itu, Tuan Xavier akan mengubah keputusannya untuk memberi pelajaran pada Tuan Fredy. Karena memang kejadian itu murni kesalahpahaman.”
Kakek terdiam, ia menghela nafas berat atas kelakuan cucunya yang sudah dibutakan oleh kemarahan. Masalah yang awalnya bisa diselesaikan dengan cara baik-baik justru menjadi pelik. Semua itu hanya dikarenakan kecemburuan semata.
Kakek memang senang melihat Xavier mencintai Charlotte. Tapi caranya terlalu berlebihan. Tetapi melihat keadaan mereka yang kembali harmonis, kakek mengurungkan niat untuk menghukum Xavier. Toh, semua kembali pada tempatnya. Mereka sama-sama mau membuka diri dan saling memaafkan. Untuk apalagi mengungkit masalah itu. Jika Kakek memberitahu video ini pada Xavier, toh hasilnya sama saja. Ia juga tak ingin melihat Xavier mengingat kesalahannya.
“Jangan berikan ini pada Xavi. Itu hanya akan membuatnya semakin bersalah. Kau lihat sendiri, hubungan mereka sudah membaik. Sekarang tugasmu, batalkan rencana Xavi untuk menghukum Fredy. Jangan membuang waktu dengan hal tak berguna seperti itu.” Ujar Kakek.
Dean mengangguk setuju. “Baik Kek.”
“Aku akan bawa rekaman ini. Jika kau yang bawa, Xavi akan tahu.” sewot Kakek seraya mengambil Ipad itu dan membawanya. Dean menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal sembari tersenyum kikuk. Ia setuju dengan keputusan Kakek.
.
.
__ADS_1
VOTEnya ya bestie... happy reading... ^-^