
Dokter mengatakan jika Charlotte, cucu menantunya tengah hamil muda. Kabar itu begitu menggembirakan. Kakek hampir terlonjak saking senangnya. Andai saja disana tidak ada orang, ia pasti sudah berteriak seperti orang gila. Akhirnya Xavier berhasil memenuhi kewajibannya. Sekarang Kakek merasa lega. Satu tugasnya sudah selesai. Dengan kehadiran seorang anak diantara mereka, pasti akan membahagiakan rumah tangga mereka. Menjadi keluarga yang harmonis dan penuh kasih sayang. Itulah impian Kakek saat ini. Ia senang kala membayangkan cucunya memiliki keluarga sendiri dan dikelilingi orang-orang yang sangat menyanyanginya.
Kakek melirik Xavier yang berdiri disampingnya. Ia seketika dibuat bingung kala melihat raut wajah sedih cucunya itu. Kakek mengamati sikap Xavier yang menatap Charlotte yang terbaring diatas tempat tidur dengan wajah yang tidak biasa. Biasanya seorang ayah akan merasa senang akan kehadiran calon buah hatinya. Namun kakek tidak melihat itu diwajah Xavier, sejak tadi pria itu banyak diam terkadang lebih menunjukkan rasa khawatir dan sedih terlihat jelas dari sorot bola mata hitamnya.
Tiba-tiba saja Xavier keluar dari kamar. Hal itu semakin membuat Kakek penasaran. Apa mungkin Xavier masih menyimpan kemarahan pada Charlotte tentang masalah mereka sebelumnya?
“Xavi, tunggu Nak.”
“Ya Kek?” Xavier berbalik namun wajahnya masih tampak sedih. Pria itu mengalihkan pandangannya kearah lain selain menatap langsung pria tua yang sudah membesarkannya itu.
“Kakek ingin tanya, apa benar kalian sedang bertengkar?”
Xavier terdiam, ia tidak langsung menjawab pertanyaan Kakek. “Kita bicara diruanganku saja.” Ucapnya sambil berjalan lebih dulu.
“Siapa yang memberitahu Kakek?” Xavier langsung bertanya ketika mereka sudah berada didalam ruangan kerja Xavier.
“Kau tahu jawabannya Xavi. Sekarang jelaskan pada kakek, apa yang sebenarnya kalian masalahkan? Kau seenaknya menuduh Charlotte berselingkuh lalu memukuli Susanto sesuka hatimu? Dimana otakmu! Dia mertuamu!” Suara kakek meninggi jika mengingat perilaku buruk Xavier.
“Aku tidak pernah menganggapnya.”
“Xavi!”
Xavier tak terpancing emosi, ia kembali bertanya, “Kakek tidak ingin mendengar penjelasanku?”
Kakek menghela nafas. Membiarkan Xavier melanjutkan ucapannya. Ia memilih mengalah.
__ADS_1
“…….Ini masalahku dengan istriku, biarkan kami yang selesaikan. Kakek pulanglah.”
“Xavi, Kakek hanya ingin kalian bahagia. Segera selesaikan masalah kalian dengan cara baik-baik. Kakek akan tetap disini dan melihatnya sendiri.” Kekeh Kakek.
Xavier memejamkan mata seolah sedang bersabar diri, namun lagi-lagi emosinya mengalahkannya. “Aku sudah bilang, jangan mencampuri urusan kami! Aku bisa menyelesaikannya sendiri!”
“Kenapa suaramu meninggi seperti itu pada Kakek!”Kedua alis Kakek saling bertaut.
“Itu karena kakek tidak ingin dengar ucapanku! Tolong mengertilah.”
Kakek menghela nafas, “Baiklah. Kakek akan beri ruang untuk kalian.”
“…..Ngomong-ngomong apa kau sudah mengetahui kehamilan istrimu? Kau tidak mungkin tidak tahu.” Kakek kembali mencairkan suasana beberapa menit setelah terjadi kebisuan diantara mereka.
“Aku tahu. Jangan membahas hal itu.”
“…..Kenapa kau diam? Segeralah beritahu kerabat kita di Sisilia tentang kehamilan Charlotte, suruh mereka datang menghadiri acara merayakan kehamilan istrimu”
“Tidak akan ada acara seperti itu disini.”potong Xavier cepat.
Kening Kakek yang keriput mengkerut dalam. “Apa? Kau bercanda kan?”
Setiap ada acara khusus, keluarga Xavier akan mengadakan acara untuk memperingatinya. Mengundang kerabat jauh mereka untuk berkumpul bersama.
“Apa kakek tahu, siapa ayah dari anak yang dikandung Charlotte?”
__ADS_1
“Tentu saja kau ayahnya! Kenapa harus tanya?”
Xavier tersenyum miris, “Dia bukan darah dagingku. Tapi darah daging pria selingkuhannya..”
“Omong kosong apa itu Xavi! Jangan bicara sembarangan!”
“Aku tidak omong kosong, itu kenyataannya. Aku melihatnya berada satu kamar dengan pria itu! Sebelum pergi ke Sisilia, aku yakin Charlotte hamil anak orang itu. Karena dengannya lah, terakhir kalinya dia berhubungan-“
PLAK!!
Kakek langsung menampar wajah Xavier. Rahang pria itu mengeras dengan tangan terkepal. Ia terlihat sangat marah.
“Jangan lanjutkan ucapanmu. Atau aku sendiri yang akan merobek mulutmu!” ancamnya.
“Kau tidak percaya ucapanku?!”
“Aku percaya pada cucu perempuanku. Charlotte wanita yang baik, dia tidak akan melakukan hal serendah itu!” tegas Kakek penuh kenyakinan kuat. Ucapan Xavier hanyalah tuduhan tak mendasar yang akan memicu rusaknya hubungan pernikahan mereka.
“Kenapa kakek lebih percaya padanya. Bagaimana jika kenyataannya seperti itu?” desis Xavier.
“Kalau begitu, kakek sendiri yang akan merawat Charlotte begitupun dengan anaknya. Tidak peduli kau tidak menganggap mereka pun, Kakek pastikan hidup mereka bahagia!”
.
.
__ADS_1
Double up!!
Kasih Votenya dong zeyeng.... Happy reading ^-^