
“M-maaf.”
Charlotte merasa bersalah telah mengotori wajah Dean. Kini pria yang menjadi asisten suaminya itu hanya bisa pasrah saat kakek mengusap wajahnya dengan tisu.
“Terima kasih Tuan Besar. Tidak apa-apa Nona. Silahkan lanjutkan makan Anda. Saya ke toilet sebentar.”
Charlotte menatap kasihan Dean yang berjalan lesu. Mungkin saja, ke toilet hanya alasannya agar ia bisa bebas mengumpatinya. Hah!
Tapi apa yang diminta Kakek padanya tadi, benar-benar membuatnya kaget. Memberinya seorang anak dari pria jahat itu sama sekali bukan kemauannya. Tidak, itu jelas tidak mungkin!
“Charlotte, kenapa kau terlihat terkejut mendengar permintaan Kakek, Nak? Apa permintaan kakek terlalu berlebihan?” tanya Kakek. Seperti biasa menampilkan ekpresi sedih yang ingin dikasihani.
“Emb, bukan begitu Kek.” Jawab Charlotte bingung menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
“Lalu? Apa kau setuju?” tanya Kakek kembali.
“Emb… T-tentu saja m-mau Kek.” Ucap Charlotte terpaksa. Dan lagi-lagi ia tak mampu menolak permintaan Kakek saat ini. Mau bagaimana lagi, mungkin ia harus bicara hal penting itu dengan Xavier. Mencari solusinya.
“Bagus! Kau dengar itu Xavi? Kakek mau segera mendengar hasilnya.” Ujar Kakek sangat senang.
“Baik Kek.” Jawab Xavier.
“Charlotte..” panggil Kakek.
“I-iya Kek?” jawab Charlotte.
“Jaga suamimu baik-baik, banyak sekali wanita diluar sana yang ingin mendekatinya. Sebagai istrinya, wajib untukmu menghindarkan mereka dari suamimu. Kau mengerti Nak?” ucap Kakek.
‘Menjaga? Untuk apa aku harus menjaganya? Dia mau dekat dengan siapapun, aku tidak peduli.’ Batin Charlotte. Tapi tetap saja ia mengangguk. “Baik Kek. Tidak ada wanita yang akan berani merebutnya dariku. Tapi jika dia berani, siap-siap saja aku tendang bokongnya. Haha.” Kelakar Charlotte kikuk. Omong kosong semua yang dikatakan. Itu tidak akan terjadi! Andweee!!
^
“Kami pergi dulu. Jika ada sesuatu yang kau inginkan, mintalah pada Dona.” Ucap Xavier, berpamitan.
Xavier, Kakek dan Dean berencana mengunjungi kantor cabang yang bermasalah. Awalnya Kakek tidak mengijinkan Xavier ikut dan memintanya menjaga Charlotte, tapi pria itu bersikukuh. Akhirnya mereka bertiga pergi dan berjanji akan kembali saat waktu makan siang.
“Iya. Aku tahu kok. Sana pergilah!” usir Charlotte, sikapnya ketus seperti biasa.
Xavier tidak langsung pergi, pria itu masih berdiri seolah menunggu sesuatu. “Apa lagi sih?” Charlotte meliriknya dengan keheranan.
“Kau tidak melupakan sesuatu?” tanya Xavier ambigu.
“Sesuatu? Tidak ada kok.” Balas Charlotte menggeleng kepala.
“Sungguh?”
“Iya. Tidak ada.”
Xavier berdecak, terlihat kesal. Pria itu lalu berbalik dan berjalan pergi begitu saja. Masuk kedalam mobil yang disopiri oleh Dean, sedangkan Kakek sudah pergi lebih dulu.
Saat mobil Xavier sudah tak terlihat, Charlotte masuk kedalam rumah. Dona yang menemaninya berniat pamit kembali ke dapur.
“Dona, tunggu.”
“Iya Nona?” Dona berbalik.
“Memangnya tadi aku kelupaan sesuatu ya?” tanya Charlotte. Ternyata perkataan Xavier masih terngiang-ngiang dipikirannya.
“Sepertinya iya Nona.” Jawab Dona.
__ADS_1
“Apa itu? Katakan padaku!” seru Charlotte tak sabar.
“Anda melupakan hal penting bagi Tuan Muda. Sebagai istri, seharusnya Anda memberikannya tanpa Tuan suruh.” Jawab Dona sama-sama ambigunya.
“Hah? Apa itu?” tanya Charlotte masih belum paham.
Dona menyunggingkan senyum kecil, “Tuan Muda ingin Nona menciumnya sebagai penyemangat paginya.”
“Hah???? Apa-apaan itu!” seru Charlotte melotot dengan bibir terbuka lebar, kenapa juga ia harus melakukan itu. Apa perlu melakukannya saat hubungan mereka yang tidak jelas. Konyol sekali…
“Tunggu sebentar Nona.”
Dona berjalan pergi masuk kedalam dapur. Charlotte menunggu dengan berbagai pertanyaan tidak masuk akal. Xavier, si pria jahat menginginkan hal mustahil pada dirinya. Apa pikiran pria itu lagi rusak?
Memang mereka sudah melakukan hal paling intim semalam, tapi bukan berarti ia harus bersikap baik padanya. Lagipula, ia dipaksa melakukannya. Itu criminal, tentu saja itu menurut pandangannya.
“Nona, ini bacalah.” Dona datang dan menyerahkan sebuah buku kepada Charlotte.
“Buku apa ini?” Charlotte membaca judul buku itu.
“Ini buku panduan menjadi istri dan suami yang baik. Semua tertulis lengkap disana.”
“Hah? Dona, kau yang benar saja! Kenapa kau menyimpan buku seperti ini?” Charlotte menatap Dona dan buku bergantian.
“Buku itu bukan milik saya Nona.”
“Terus milik siapa?” Charlotte mulai membuka lembar per lembar buku itu.
“Itu milik Tuan Muda.”
“Hah????!”
^
“Ppffffttt…. Hahahaha…. Apa ini? Menjadi suami idaman? Pfffftttt! Huuaaakakakak!”
“Siapa yang membuatnya menyimpan buku seperti ini sih? Wahhhh.... Dona, berkat dirimu, aku bisa membalas perbuatan pria itu padaku semalam dengan ini! Astaga! Apa lagi ini? Hahaha!”
Charlotte kembali mengingat perkataan Dona saat mendapatkan buku ini. Buku ini Dona temukan di tempat sampah didalam ruangan kerja Xavier semalam.
^
Didalam mobil, Xavier terdiam seraya memejamkan mata. Dean yang melihat itu dari kaca spion sontak menegurnya.
“Ada apa Tuan? Apa ada masalah?”
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa Tuan diam? Apa Tuan lelah?”
Xavier membuka mata dan melirik kaca spion depan, “Ini tentang perkataan Kakek tadi malam. Aku sedikit merasa bersalah padanya.”
“Pada siapa maksud Tuan? Tuan Besar?”
“Tidak.”
Flashback On
Malam pernikahan
__ADS_1
Xavier tengah berada di ruangannya. Setelah menjamu banyak tamu, ia merasa kelelahan dan memilih beristirahat sejenak didalam ruang kerjanya. Tubuhnya yang letih disandarkannya disofa seraya memejamkan mata. Ia ingin tidur sebentar sebelum naik ke kamarnya.
Ceklek!
Pintu terbuka, Kakek berjalan masuk menghampiri Xavier.
“Temani istrimu sana!” seru Kakek, sengaja bersuara keras agar Xavier terbangun.
Xavier mendesah kesal, lalu menegakkan duduknya. “Setelah ini, aku keatas.” Kedua mata Xavier menyipit dan menguap menandakan pria itu benar-benar kelelahan.
“Ini, hadiah pernikahan dariku.” Kakek menyerahkan dua kotak barang kepada Xavier. Xavier mengambil salah satu kotak dan membukanya.
“Ini bukan bom waktu kan?” sindir Xavier.
“Haha… aku sebentar lagi memang akan mati, tapi tidak harus mengajakmu anak nakal!” seru Kakek seraya tertawa. Xavier tak menggubrisnya dan melanjutkan membuka kotak itu.
“Ini?”
Sebuah kotak perhiasan dengan kalung berlian bertahta batu delima didalamnya. Xavier tahu tentang kalung itu. Kalung peninggalan ibunya. Sudah lama ia tak melihatnya.
“Berikan pada Charlotte. Dan segeralah punya momongan. Umurmu sudah tidak muda lagi Xavi.” tutur kakek.
Xavier berdecak, “Jangan sekarang Kek. Dia saja masih bersikap acuh padaku.” Keluh Xavier.
“Hoho, jadi cucu Kakek yang kayak beton ini sudah mulai menyukainya?” ledek Kakek tertawa.
“Apaan Kakek ini.” Gerutu Xavier kesal. Kakek mengatainya seenaknya.
“Kau ini kaku, keras kepala dan sulit dimengerti. Bisa menyukai wanita itu keajaiban Xavi. Seharusnya kau bersyukur.”
“Aku pernah pacaran.” Ujar Xavier membela diri.
“Pacaran tapi boongan, cih apa itu!” sindir kakek.
“Kakek yang minta, kenapa malah menyalahkanku?”
“Lyla sama Charlotte itu beda Xavi. Kau tidak pernah mencintainya, tapi dengan Charlotte, kau sudah bucin angkut kan?” ejek kakek menyerang Xavier tanpa henti.
“Astaga Kakek! Itu tidak benar.” Xavier memijat kepalanya, frustasi. Jika berdebat dengan Kakek, tidak ada kata menang untuknya. Heran memang.
“Pokoknya Kakek ingin kau mengikat Charlotte dikeluarga ini. Apapun caranya.” Titah Kakek.
“Kami sudah menikah, mau mengikatnya bagaimana lagi?” keluh Xavier.
“Pernikahan belum menjamin Charlotte betah disini. Karena itu, Kakek berikan hadiah kedua ini.” Kakek membuka kotak hadiah satunya dan menyerahkannya pada Xavier.
“Apa ini?”
“Buku panduan keluarga bahagia.” Tawa khas Kakek langsung meledak. Duh kek!
Flashback Off
.
.
.
Tinggalkan jejak yes... happy reading.. ^-^
__ADS_1