Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 74 (Part 2)


__ADS_3

Charlotte tergugu dilantai dengan pandangan kosong. Ia masih duduk ditempatnya didalam kamar setelah kepergian Xavier. Charlotte merasa kelelahan setelah menangis dalam waktu cukup lama. Matanya membengkak dengan bola mata yang hampir tenggelam. Ia tidak memperdulikan sekarang pukul berapa atau apa yang terjadi diluar sana. Yang ia pikirkan sekarang adalah Xavier. Perkataan pria itu yang sudah menginjak harga dirinya. Namun bagaimanapun ia sakit hati, Charlotte tidak sepenuhnya menyalahkan pria itu.


Wajar jika Xavier marah besar melihat ia bersama pria lain. Ia terluka, namun pria itu pasti lebih terluka dari dirinya. Charlotte baru tahu sebesar apa cinta pria itu. Suaminya tidak main-main dengan perasaannya ketika mengatakan benar-benar mencintainya. Ia ingin memperbaiki hubungan tapi dengan cara apa? Xavier sudah terlanjur sakit hati kepadanya. Pria itu berniat mengurungnya.


Tidak, tidak. Mungkin Xavier hanya asal bicara. Tidak mungkin pria itu membiarkannya sendirian dirumah ini. Xavier akan kembali menemuinya lagi. Saat itu, mungkin saja amarah pria itu hilang. Mereka bisa bicara baik-baik dan memperbaiki hubungan.


Kruk!


“Ouch!”


Memikirkan Xavier membuat Charlotte kelaparan. Ia lupa, jika tadi pagi belum sarapan.  Cacing-cacing diperutnya sudah keroncongan meminta jatah makanan. Ia harus mengisi tenaga, setelah itu mencari suaminya.


Tok Tok!


Ketukan pintu dikamarnya mengalihkan pandangan Charlotte. Senyum yang awalnya hilang seketika mengembang tatkala menduga jika yang ada dibalik pintu kamarnya adalah suaminya. Secepat itukah pria itu memaafkannya? Apa Xavier merasa bersalah karena telah menuduhnya yang bukan-bukan? Andai saja itu benar, tanpa dimintapun Charlotte akan memaafkannya!


Dengan perasaan senang, Charlotte berdiri. Menegakkan tubuhnya dan merapikan pakaiannya sebentar. Ia berlari ke cermin dan menata wajahnya. Xavier tidak boleh melihatnya dengan kondisi menyedihkan.


Charlotte berjalan ke pintu kamar, garis bibirnya tertarik keatas membentuk sebuah senyuman manis.


Ceklek!


“Ayah?”


Charlotte dibuat heran ketika bukan Xavier yang datang menemuinya. Melainkan ayahnya. Wajah pria itu tampak kesal. Menatap padanya dengan tajam.


“Boleh ayah masuk?”

__ADS_1


“Bo-boleh yah. Ayo masuklah.”


Tidak butuh dua kali ajakan, Susanto langsung masuk kedalam kamar putrinya. Tubuhnya berbalik seraya bersedekap.


“Apa yang sudah kau lakukan sampai membuat Xavier marah? Kenapa kau bisa ada dikamar disebuah hotel bersama Fredy?!”


Charlotte terkesiap saat ayahnya membentaknya. Bukan hanya Xavier, tapi ayahnya juga menuduh hal yang sama padanya.


“Jangan salah paham yah. Aku bisa jelasin semuanya.”


“Ya! Kamu harus jelaskan apa yang terjadi! Karena kamu, ayah dipermalukan oleh Xavier!”


“A-apa yah? Xavier mempermalukan ayah?” Charlotte kembali terkesiap.


“Ya! Dia menyuruh ayah mengawasimu agar tidak keluar dari rumah ini. Dan menyuruh Fredy tidak menampakkan diri didepan Xavier. Dia mengancam akan membuat keluarga kita bangkrut kalau hal itu terjadi! Ayah malu dan kesal melihatnya mengancam ayah!”


“Yah, tolong maafkan Xavi. Dia tidak bermaksud melakukan itu. Dia hanya marah pada Charlotte. Jangan marah padanya Yah…” Bujuk Charlotte seraya menyentuh lengan ayahnya mencoba membuatnya tidak membenci Xavier.


“Jelaskan apa yang sebenarnya terjadi.” Kini Susanto kembali bertanya.


“Jadi begini yah. Aku dan Fredy bertemu Tuan Harfin disana. Ayah yang memberitahu tempatnya.”


“Benar. Ayah memberitahu lokasi tempat tinggal Tuan Harfin.”


“Nah disana Charlotte melakukan persentasi dan setelah selesai Tuan Harfin mengajak kami makan siang bersama. Tapi karena kelalaian seorang pelayan kemeja yang dipakai Fredy kotor. Tuan Harfin memberikan bantuan memijamkan kemeja miliknya.”


“Beliau mengajak kami ke kamarnya dihotel itu. Hal itu juga mempermudah Fredy mengganti pakaiannya.”

__ADS_1


“Tapi ketika kami masih disana, kami dikejutkan dengan kedatangan Xavi. Ia melihat aku dan Fredy. Dia salah paham dan meluapkan amarahnya disana. Dia berpikir kami ada apa-apa yah. Padahal kami tidak berdua, disana juga ada Tuan Harfin. Tapi sayangnya, beliau ada dikamarnya dan memperkuat dugaan Xavi jika kami telah melakukan hal yang tidak-tidak. Xavi kecewa padaku. Charlotte ingin menjelaskan semuanya, tapi Xavi tidak mau mendengarkannya.” Jelas Charlotte dengan kepala menunduk. Rasa bersalah kembali menghantamnya.


“Jadi semua hanya kesalahpahaman saja?” tanya Ayah.


“Iya yah. Aku dan Fredy tidak melakukan apa-apa.”


Susanto menghela nafas pelan. “Ya sudah, nanti jika Xavier datang, kau jelaskan hal itu padanya. Kalian ini seperti anak kecil saja!”


Susanto melenggang pergi. Namun ketika ayahnya sampai di pintu, Charlotte kembali memanggilnya. “Yah, memangnya dimana Xavi?” tanyanya.


“Tidak tahu. Dia pergi dengan asistennya.”


“Kemana yah? Apa ayah tahu?”


“Ayah bilang tidak tahu! Sudahlah, jangan pikirkan pria temperamen itu! Diam dirumah ini sampai dia kembali. Jangan membuat masalah selagi dia pergi! Mengerti!” Susanto berdecak kesal dan pergi begitu saja. Charlotte menatap kepergian ayahnya seraya memikirkan Xavier.


.


.


.


Klo konfiknya lebih extrem dari ini, masih kuatkah jntung kalian bestie?


Jujur ya, cerita ini mnurut othor blm dpt gregetnya gtu.. hehe


Masih ingat novel pertama othor kan... nah gregetnya sebelas duabelas lah.........

__ADS_1


bolehlah sarannya.....koment dibawah yesss...... ^-^


Happy reading ^-^


__ADS_2