
Peringatan!! Pembaca di bawah umur 18 tahun, HARAP LEWATI ya!!
Xavier tak sabar dan langsung menarik Charlotte. Dihempaskannya tubuh wanita itu ke ranjang King Sizenya. Xavier mulai mendekat. Mengukung tubuh wanita itu hingga kesulitan bergerak.
“Apa yang kau-!“
“Diam!” sentak Xavier. Berhasil membuat wanita itu berhenti memberontak.
Xavier harus memenuhi ucapannya untuk menghukum Charlotte. Walaupun hal itu harus melanggar janjinya yang lain. Dia tidak peduli. Apa yang penting bagi kebahagiaan Kakeknya akan dirinya lakukan meski harus menjadi seorang pria kejam sekalipun. Charlotte tidak akan jera jika hanya bermodal gertakan. Harus ada tindakan yang tepat untuk membuat jera calon istrinya itu agar tidak melarikan diri lagi. Dan hal itu, mengharuskan dirinya menjadi pria paling egois.
Xavier menunduk, melirik sekilas bibir merekah milik Charlotte yang sedikit terbuka. Naluri kelelakiannya mulai memenuhi otaknya sekarang. Mata Xavier beralih ke pundak Charlotte yang terekpos dan turun lagi kebawah. Handuk putih yang melilit tubuh Charlotte benar-benar mengganggu penglihatannya. Ingin rasanya dirinya menarik handuk itu, agar dirinya bisa leluasa melihat semua yang dimiliki wanita itu. Ahh, mata dan pikirannya seolah sudah tertutup dengan hasrat yang kini terpendam.
Tanpa peringatan, Xavier langsung membenamkan kepalanya di ceruk leher Charlotte. Menciuminya kecil-kecil hingga membuat wanita itu menggelinjang kegeliaan.
“Lepaskan brengs*k! Beraninya kau menyentuhku!”
Charlotte memberontak sekuat tenaga. Berusaha melepaskan diri dari kungkungan laki-laki itu. Anggota tubuh dan bibirnya tak henti mengeluarkan penolakan. Tak ingin memberikan apa yang pria itu inginkan. Charlotte tak ingin menjadi wanita lemah dan menuruti apa yang pria itu mau. Dia terus menendang, memukul bahkan menggigit pundak laki-laki itu.
“Lepaskan aku! Dasar pria gay tidak tahu malu!” teriak Charlotte dengan keras.
“Gay?” Xavier menghentikan aktivitasnya, sedetik kemudian dia tergelak dengan tawa keras namun mengerikan. Membuat Charlotte berkerut kesal. “Jadi kau pikir aku Gay?”
“Ya! Kau pria Gay dan juga kejam! Singkirkan tangan kotormu dariku!” Charlotte kembali berteriak, nafasnya tersengal-sengal.
“Lalu, apa kau pikir kau wanita suci? “ sindir Xavier menepiskan senyum miring.
__ADS_1
Charlotte diam, namun pancaran matanya masih penuh dengan kemarahan pada pria itu. Rasa benci pada Xavier kian membesar setiap kali pria itu merendahkan harga dirinya.
“Aku yakin, wanita sepertimu pasti sudah merasakan sentuhan pria lain bukan? Masih muda…” Xavier menurunkan pandangan mengamati Charlotte dari atas ke bawah. “Sayangnya, murahan.” Tertawa merendahkan.
“Diam kau! Aku bukan wanita murahan!” seru Charlotte tak terima.
“Oh ya? Apa buktinya, jika kau bukan wanita seperti itu?” tantang Xavier menaikkan kedua alisnya. Namun Charlotte malah diam. Membuat Xavier tersenyum kemenangan.
“Kenapa diam?” Xavier kembali menggenggam kuat tangan Charlotte. “Jika malam ini kita tidur bersama, maka aku akan tahu, benar atau tidaknya perkataanmu itu. Bagaimana berani bertaruh?”
Charlotte diam tak berkutik. Jika Xavier membuktikan perkataannya, pria itu pasti tahu jika dirinya bukan lagi seorang wanita virgin. Padahal, dia melakukan ‘hal itu’ hanya dengan Xavier seorang. Karena pria itu pingsan malam itu, Charlotte yakin jika Xavier tidak mengingat malam itu. Malam memalukan yang ingin dihapus dari ingatan Charlotte.
“Kenapa diam? Apa kau merasa takut? Tenang saja, aku akan main sepelan mungkin.” ucap Xavier menyunggingkan senyum sinis. Charlotte rasanya ingin mencakar wajah menyebalkan milik Xavier. Harga dirinya sudah diinjak-injak olehnya.
“Kau bukan pria gentle, kau hanya seorang pengecut!” umpat Charlotte.
“Kau tidak dengar ya. Kau itu pria pengecut. Kau hanya bisa mengancamku dengan cara kotor itu! Jika kau pria hebat, secuilpun kau tidak akan berani menyentuhku….”
Xavier memincingkan matanya, “Apa ini caramu agar terhindar dari hukumanku, dengan menghinaku?”
“Tidak. Aku mengatakan hal yang sebenarnya. Kau tidak lebih dari sampah!”
Xavier menggeram pelan, “Ucapanmu sudah kelewat batas. Kupastikan kau akan menyesal telah menghinaku…”
Xavier menunduk, dan langsung mencium Charlotte. Lebih kasar dari sebelumnya. Charlotte terus menangis mendapat perlakuan dari Xavier. Laki-laki itu terus berusaha menyentuh Charlotte. Charlotte tak mengerti kenapa hukuman Xavier harus selalu menyentuhnya, tidak seperti janji pria itu yang tak akan melakukannya sebelum mereka menikah. Charlotte marah dan sudah kehilangan rasa empati pada pria itu.
Xavier melepaskan Charlotte sejenak, bergerak cepat ke nakas dan mengambil sesuatu didalam laci. Xavier kembali mendekati Charlotte. Mencengkram dagu wanita itu hingga bibirnya terbuka. Sebuah pil dimasukkan kedalam mulutnya hingga wanita itu terbatuk-batuk. Xavier melepas cengkramannya dan menjauhkan diri.
__ADS_1
Charlotte terduduk mencoba mengeluarkan apa yang ditelannya. Menatap Xavier penuh amarah. “Apa yang kau berikan brengsek!”
“Hanya uji coba. Seberapa lama kau gila karenaku, Nona Charlotte.” Ucap Xavier penuh seringai. Pria itu kemudian duduk di kursi tak jauh dari sana. Mengambil botol champagne dan menuangnya digelas. Meneguknya perlahan seraya mengamati Charlotte dari sudut matanya.
Charlotte terengah-engah, mencoba bangun dari tempat tidur milik Xavier. Berjalan sempoyongan menuju pintu.
Klik!
Pintu itu sulit terbuka, Xavier telah menguncinya dari dalam. Tubuh Charlotte terasa lemas, kedua tangannya bertumpu di handle pintu untuk menahan berat tubuhnya sendiri.
Dari dalam tubuh Charlotte mulai merasakan reaksi aneh. Tubuhnya terasa panas dan terbakar. Kepalanya pusing. Perasaan ini seolah pernah dirasakan sebelumnya. Charlotte menatap tajam pada Xavier yang duduk tenang disana tanpa merasa terganggu.
“Kau! Katakan apa yang sudah kau berikan padaku!? Obat apa itu!” teriak Charlotte dengan gigi gemeretak, berusaha menopang tubuhnya. Mendekap erat tubuhnya yang semakin tak karuan. Laki-laki didepannya ini benar-benar membuatnya emosinya meledak.
“Kemarilah, kau akan mendingan.” Jawab Xavier seraya menepuk pangkuannya, senyum miring tak henti terukir diwajah tampan sedingin es balok itu.
“Ap- Akhhh!” Charlotte menggeram merasakan sakit diseluruh tubuhnya. Panas yang menjalar membuatnya gila. Dia tidak tahu, apa yang terjadi dengan tubuhnya saat ini. Rasanya sangat menyiksa.
Charlotte merintih, dan bersimpuh didepan Xavier. Mendekap erat tubuhnya dengan kedua tangannya. Xavier bangkit dan mendekati Charlotte. Berjongkok didepan wanita itu. Mengusap lembut pundaknya yang terbuka. Sentuhan Xavier seharusnya membuat Charlotte menepis kasar tangan pria itu. Mengingat betapa jijiknya dirinya saat ini pada pria tak berperasaan seperti Xavier. Namun lagi-lagi, Charlotte tidak berkutik. Dia justru menikmatinya. Sentuhan itu seolah melenyapkan rasa sakit ditubuhnya. Dia menyukainya.
“Well, kau ingin melanjutkannya?” goda Xavier sensual melihat Charlotte yang berubah jinak.
Charlotte mendongakkan kepalanya dengan mata sayu\, “Please? Help me.” Lirihnya memohon. Meminta pria itu untuk menyesaikan hukumannya yang sangat menyakitkan ini. Xavier tersenyum puas\, obat perangs***miliknya telah bekerja dengan baik. Satu pil sudah memberikan efek kuat bagi siapapun yang meminumnya. Baru tadi pagi Xavier memesan obat itu. Untuk berjaga\, jika Charlotte kembali membangkang. Ternyata\, dugaannya benar walaupun dirinya tidak yakin hal itu terjadi. Intuisinya selalu akurat\, dan itu menguntungkan bagi Xavier.
Tak ingin menunggu lama, Xavier segera membawa Charlotte masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
NB : Yuk jgn lupa VOTE, VOTE sampe 35, auto update lagi yessss... See you.