Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 97


__ADS_3

Entah sejak kapan, Xavier sudah berdiri disampingnya. Memegang erat bahunya. Charlotte tak bisa fokus, rasa sakit diperutnya sungguh tak tertahankan. Ia pegang erat ujung meja. Menyalurkan bagaimana rasa sakit itu.


“Xa-Xavihh… Pe-peruttkuh…. Ukh!” Charlotte menggigit bibirnya. Matanya terpejam rapat kala perutnya terasa ditusuk-tusuk ribuan belati. Ada apa dengan tubuhnya sebenarnya?


“Sayang, tahan. Kau pasti kuat!” Xavier memeluk Charlotte. Menyalurkan ketenangan pada wanita itu.


“A-aku Akhh! Ini sakit Xavihh!!” Charlotte tak kuasa menahan rasa sakitnya. Ia tertegun kala merasakan sesuatu mengalir dibawah sana. Ia raba dengan tangannya untuk menyentuh sesuatu yang basah di roknya.


Kedua mata Charlotte sontak membulat penuh kala melihat tangan itu dipenuhi darah. Tubuhnya gemetar. “I-ini ap-apa?” suara Charlotte bergetar, bulir matanya menggenangi pelupuk.


Xavier tidak menjawab. Pria itu juga tak kalah terkejut. Sungguh, ia tidak tahu akan jadi seperti ini. Tubuh istrinya hampir jatuh kebawah, Xavier dengan sigap menahannya. Kini darah itu mengotori lantai. Xavier mulai ketakutan, raut wajah istrinya mulai pucat. Ia tepuk-tepuk pipi istrinya saat mata cokelat itu mulai menutup.


“Charlotte, kumohon jangan tidur. Dona!! William!!” teriak Xavier memanggil pelayan dan pengawalnya.


Dua orang yang dipanggil langsung masuk kedalam ruang makan. Mereka tersentak kaget ketika melihat Nona Muda mereka hampir tak sadarkan diri!


“Nona Charlotte!!” Dona berangsur duduk disamping Charlotte. Ia tampak khawatir. “Tuan, kenapa dengan Non-“


“Will!! Siapkan mobil cepat! Kita ke rumah sakit!!” Xavier tak punya waktu menanggapi kekhawatiran Dona. Ia gendong istrinya dan membawanya pergi. William langsung berlari keluar Mansion.


Mobil berwarna hitam sudah siap disana. William langsung membuka pintu mobil belakang. Xavier sedikit berlari sambil menggendong tubuh lemah istrinya. Mata Charlotte sudah terpejam rapat. William dihantam rasa bersalah. Ia benar-benar takut, takut jika terjadi apa-apa dengan Nona majikannya. William merasa menjadi orang paling bodoh didunia! Karena menuruti perintah Tuan Majikannya, Nyawa Nona muda dan anak yang dikandungnya terancam.


“Apa yang kau tunggu!! Cepat pergi dari sini!!!” bentak Xavier emosional saat melihat William hanya diam mematung.


“Ba-baik Tuan!”


‘Singkirkan rasa bersalahmu dulu bodoh! Nyawa Nona dan calon bayinya lebih penting!!’ batin William menggeliat. Ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri jika terjadi apa-apa dengan mereka! Dia sangat bodoh mau mengikuti perintah Tuan Mudanya. Seandainya ia diberi kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya, pasti ia akan lakukan apapun itu! Ia merasa sangat bersalah melihat keadaan Nona mudanya yang kini lemah akibat perbuatannya.


Mobil melaju keluar Mansion. Diperjalanan William mengemudi dengan kecepatan sedang. Didepan tengah macet, karena mereka melewati tengah kota. Xavier yang tidak sabaran langsung menghardik William.


“Kau bisa cepat tidak hah?! Kau ingin istriku mati?!” teriak Xavier kayak orang kesetanan.


“Didepan ada pertunjukkan Tuan, jadi banyak orang turun ke jalan untuk menyebe-“

__ADS_1


“Tutup mulutmu!! Cari jalan lain bodoh!!”


William langsung menurut, jujur pengawal Xavier itu sedang tidak fokus. William segera belokkan mobilnya melewati mobil-mobil lain dengan mudah. Ia langsung mencari jalan alternatif menuju ke rumah sakit.


“Hei kau, obat yang kau beli itu apa benar obat yang kuminta?”


“Benar Tuan.” William menjawab dengan tangan sedikit gemetar.


“Kau yakin?”


“Yakin Tuan.”


“Lalu kenapa istriku jadi seperti ini?! Aku baca efek obatnya tidak sampai keluar darah atau pingsan! Kenapa berbeda dengan kenyataannya!” seru Xavier geram. Merasa janggal.


“Benar Tuan. Saya sudah beli sesuai permintaan Anda.” Jika saja Xavier tahu, bagaimana wajah ketakutan William sekarang, mungkin pria itu akan membunuhnya langsung dimobil!


“Awas jika kau bohong dan membahayakan istriku! Aku akan gorok lehermu!” umpat Xavier. William hanya diam, dalam hati, ia juga kecewa dengan Tuan Mudanya. Bukankah pria itu sendiri yang ingin membunuh anak tak berdosa? Yaitu anaknya sendiri? William tak habis pikir. Ia ingin sekali menyadarkan kesalahan Tuan Mudanya, tapi apalah daya, ia hanya seorang pengawal.


Xavier kembali seperti orang kesetanan. Ia berteriak pada Dokter dan Perawat untuk segera menolong istrinya. Charlotte diletakkan di atas brakar. Istrinya dibawa ke ruang UGD.


“Maaf Tuan, Dokter harus memeriksa kondisi istri Anda. Mohon tunggu disini.” Ujar Perawat sebelum memasuki ruang khusus.


“Sh*ttt!” Xavier mengumpat kasar kala pintu itu tertutup. “Will! Suruh mereka bukakan pintu ini! Aku ingin menemani istriku!”


“Maaf Tuan, tapi perawat meminta kita menunggu disini. Jika Anda kedalam, takutnya Dokter tidak bisa fokus menyembuhkan Nona.” Ucap William.


“Fuck*ng Sh***!! Yang benar saja!” Xavier mendengus kesal. Ia berjalan mondar-mandir seraya melirik pintu. Raut wajahnya cemas tapi itulah yang pantas ia rasakan. Ia ingin membunuh anak dalam kandungan Charlotte\, maka saat itu pula\, nyawa istrinya juga ikut dipertaruhkan. Ucapan Charlotte kepadanya\, seakan meluluhlantakkan hatinya yang bagaikan batu.


“Sayang, bertahanlah. Kumohon kembalilah padaku….” Xavier hanya bisa meratapi kesalahannya. Ia tidak tahu, jika apa yang ia lakukan sekarang akan berdampak buruk bagi istrinya.


^


Satu jam berlalu. Kini Xavier tidak hanya bersama William. Dona sudah datang atas perintah Xavier. Xavier tidak mengerti apa yang dibutuhkan seorang wanita disaat seperti ini. Ia butuh Dona untuk menyiapkan keperluan Charlotte saat istrinya berhasil diselamatkan.

__ADS_1


Xavier terus berpikiran baik, ia berharap istrinya kembali sehat. Ia yakin, para Dokter didalam sana akan menyelamatkan istrinya. Istrinya harus sembuh. Ia pasti akan menjaga wanita itu, melindunginya dengan nyawanya. Xavier hanya menginginkan istrinya.


Egois, kah? Obsesif, kah? Xavier tidak peduli dengan semua itu. Walaupun membunuh seorang bayi tak berdosa adalah sebuah kesalahan besar, ia anggap itu setimpal dengan pengabdiannya pada wanita yang ia cintai nanti. Mereka akan bahagia, membentuk keluarga baru, bersama anak-anak mereka nanti. Impian seperti itu adalah keinginannya saat ini. Ia sangat yakin Charlotte akan bahagia bersamanya.


“Kenapa lama sekali?” ucap Xavier semakin cemas, duduk dikursi tunggu. Ia benar-benar tak sabar ingin melihat kondisi istrinya.


“Xavi!”


Xavier menoleh kesamping.


Deg!


Ia terkejut melihat Kakek datang dengan Dean dibelakangnya. Wajah Kakek tampak khawatir dan juga … marah?


Kening Xavier bertaut tajam, ia sama sekali belum memberitahu kabar Charlotte pada Kakek. Ia juga tidak merasa menghubungi Dean. Sekilas ia melirik William disampingnya. Pengawalnya itu menunduk, seolah tak melihat kebingungan diwajah Xavier.


“Bagaimana keadaan Charlotte? Bagaimana dengan cicitku? Apa mereka baik-baik saja?!” seru Kakek tak sabar. Rahangnya mengeras dengan mata berkilat tajam. Salah bicara sedikit, Xavier akan kena dampratnya! Ya, seperti itu yang Xavier rasakan sekarang.


Jika Kakek tahu apa yang terjadi dengan Charlotte karena ulahnya, kepala Xavier pasti sudah hancur kena tembakan berturut-turut oleh pistol orang tua itu. Xavier tahu bagaimana Kakek menyanyangi Charlotte. Xavier bergidik ngeri membayangkan hukuman dari pria tua itu. Ia harus menyembunyikan masalah ini darinya. Kesembuhan Charlotte lebih penting sekarang.


“Dokter masih memeriksanya. Aku juga tidak tahu keadaannya…”


“Kenapa tidak tahu! Kau kan bisa bertanya kondisinya dengan Dokter lain! Xavi, kakek sudah mengingatkanmu untuk selalu menjaga Charlotte! Kau sama sekali tidak becus menjaga istri sendiri!” damprat kakek murka. Kakek memijat pelipisnya. Sakit kepala pria tua itu sepertinya kambuh. Xavier hanya menunduk. Ia tidak tahu harus menjawab apa.


“Panggil Dokter Helmi! Aku harus tahu kondisi cucu dan cicitku segera!” perintah Kakek.


Dean segera bergegas pergi dari sana. William juga mengikuti Dean. Kakek mendekat ke kaca pintu. Wajah kuyunya menatap nanar kedalam. Hatinya seolah teriris-iris sembilu. Ia sangat khawatir dengan keadaan Charlotte. “Bagaimana kejadian ini bisa terjadi? Katakan semuanya pada Kakek!” menatap Xavier dengan tatapan setajam pisau.


.


.


Vote-nya bestieee.... Happy reading ^-^

__ADS_1


__ADS_2