Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 56


__ADS_3

Xavier telah sampai di kantor cabang yang terletak di perbatasan kota. Ia turun dari mobil setelah Dean membukakan pintu untuknya. Kakek sudah menunggunya didepan pintu masuk bersama para pengawal. Sepertinya hari ini akan menjadi hari terburuk bagi pengelola cabang perusahan Xavier satu ini.


Sudah ada beberapa orang menjaga ketat kantor itu. Sidak yang dilakukan Xavier termasuk yang paling menakutkan. Karena pria itu langsung turun tangan menyelesaikan masalah disana.


“Kenapa lama hah? Apa Charlotte menahanmu agar tidak pergi?” goda Kakek.


“Ah, sudahlah kek. Jangan bercanda disini.” Balas Xavier malas. Benar-benar tidak mau bercanda disaat semua orang memperhatikan mereka. Xavier selalu tahu dimana ia meletakkan kewibawaan kepemimpinannya. Tidak ada yang boleh melihat kelemahannya sedikitpun. Musuh ataupun sekutunya sendiri.


“Kakek mau pergi. Kau tangani sendiri ya.” Ujar Kakek seraya mendekat.


“Kakek mau jenguk teman lama Kakek. Kapan-kapan Kakek mampir ke Mansion. Ingat pesan kakek.” Imbuhnya.


“Baik. Hati-hati di jalan.” Ucap Xavier. Kakek mengangguk dan berjalan menuju mobil.


Xavier mengantar Kakek sampai pria itu meninggalkan tempat itu.


“Kita masuk Tuan Muda, mereka sudah menunggu.” Ujar Dean.


“Hmm.”


Xavier berjalan masuk kedalam gedung diikuti Dean dan beberapa orang. Kantor cabang yang dimilikinya ini tidaklah seluas orang lain kira. Hanya memiliki dua lantai, namun pekerjaan didalamnya tak kalah penting dengan yang ada dipusat dalam mengurus bisnis Xavier.


Perlu diingat, Xavier mendirikan perusahaan Xavier Group Global yang bergerak dibidang Perdagangan Ekonomi, Real Estate dan Property, Kesehatan, Hotel, Ritel, Industri, dan lain sebagainya. Dibawah perusahaan itu, berdiri organisasi mafia yang anggotanya tersebar diseluruh penjuru dunia. Berpusat di kota Sisilia, Italy.


Tak banyak yang tahu tentang organisasi mafia miliknya. Xavier selalu berhati-hati dalam menjalankan kegiatannya. Menutupi semua hal tentang dirinya dan orang-orang sekelilingnya.


Musuh terbesarnya yaitu Cosa, organisasi mafia saingannya. Mereka memiliki anggota lebih sedikit dari miliknya, namun system kerja mereka lebih terkesan sadis .Tidak mengenal ampun pada musuh-musuhnya. Para anggotanya hanya tergiur dengan uang dan jabatan.


Saat ia terjebak di Motel, itu semua juga karena ulah orang-orang bayaran dari Cosa. Mereka mengincar kepalanya dengan harga fantastik, tak ayal Xavier selalu diberikan perlindungan ketat oleh Dean dimanapun pria itu berada.


Sebagai balasan atas tindakan mereka, Xavier memerintahkan menghanguskan markas mereka di Kota S hingga tak tersisa bulan lalu.


Xavier yakin, Cosa akan membalas perbuatannya. Yang ia yakini sudah bergerak melalui orang-orang di kantor cabang perusahaan miliknya sekarang.


Ceklek!


Xavier masuk kedalam ruangan Direktur cabang. Disana sudah ada tiga orang pria dewasa dengan posisi mereka berlutut dilantai. Wajah ketiganya muram dengan tubuh gemetar. Menunduk takut ketika Xavier berdiri didepan mereka.


“Silahkan duduk Tuan Muda.” Ucap Dean.


Xavier duduk dikursi yang disiapkan, mengamati ketiga orang dibawahnya. Ada beberapa memar di tubuh mereka, begitupun dengan baju yang mereka pakai. Semua terkoyak dengan luka-luka lebam.


“Bagaimana situasi sekarang?” tanya Xavier.

__ADS_1


Seorang pria langsung memberikan laporan yang sudah dibuatnya kepada Xavier didalam sebuah iPad. “Kami sudah berhasil menutup aliran dana mereka. Dana itu hampir ditranfer ke bank Swiss Tuan.”ujar pria itu melaporkan.


Xavier meneliti setiap angka pada laporan itu. “Hmm, banyak uang yang sudah kalian ambil. Untuk apa semua itu?” Pandangan Xavier kini sepenuhnya mengarah pada tiga orang itu.


Orang yang berada ditengah memberanikan diri menatap Xavier. Walaupun kedua matanya sudah bengkak, namun hanya sedikit keberanian yang tersisa yang pria itu miliki. “Se-semuanya ma-masih u-utuhh Tu-Tuan Mu-muda. Ka-kami ti-dak meng-gunakan-nya se-dikit-pun.” Ucapnya dengan tersendat-sendat.


“Ya, untung saja belum kalian gunakan. Bukankah lebih bagus lagi jika uang itu kalian belikan senjata hebat untuk membunuhku?” ujar Xavier.


“Ti-tidakkk, Tuan Muda!!!!” teriak mereka ketakutan.


“To-tolong maafkan ka-kami, beri kami kesempatan hidup!”


“Bukan aku yang berhak memberi kalian hidup. Aku juga manusia seperti kalian. Atau kalian sengaja menyindirku untuk melakukannya?” ucap Xavier tersenyum smirk.


“Tidak Tuan Mudaa!!! Ampun Tuan!!” teriak mereka semakin keras.


“Cih.. kalian memang pandai menjilat. Berapa Cosa membayar kalian?” tanya Xavier seraya menyandarkan tubuhnya. Ketiganya langsung diam. Seolah jika mereka bicara, tamat hidup mereka.


“Masih tidak mau bicara?” Xavier mulai kehilangan kesabaran, diambilnya pistol dari saku celana Dean dan langsung mengarahkannya pada orang yang berada ditengah.


“Huaaaa!!! Ampuni kami!!!”


Suara teriakan memilukan mereka terdengar keras. Memohon ampun pada Xavier. Bersimpuh dibawah kakinya seolah kehilangan harga diri. Tidak seharusnya mereka mengkhianati bos besarnya dan malah tergiur iming-iming palsu oleh musuh.


Xavier merendahkan tubuhnya, menatap keputusasaan mereka. “Apa yang harus kulakukan pada kalian?”


“To-tolong maafkan kami. Ka-kami rela me-melakukan apa saja. A-asal kami bisa hi-hidup.”


“Begitu? Apapun yang kuinginkan?”


“Te-tentu Tuan !!” Mereka bersamaan bersimpuh dibawah kaki Xavier. Berharap kemurahan hati bos besarnya.


“Kalau begitu, mulailah merangkak.” Titah Xavier.


Semua orang disana terdiam, tidak mengerti apa maksud perkataan Xavier. Kesalahan yang mereka perbuat sangat besar dan berisiko menghancurkan perusahaan. Tapi kenapa mendapat hukuman kecil seperti itu? Dean dan semuanya dibuat bingung.


“Tuan Muda, kenapa Anda menyuruh mereka merangkak? Itu hanya hukuman kecil?” tanya salah satu orang bawahannya. Biasanya, siapapun orang yang berkhianat akan dihukum dengan berat. Seperti kehilangan anggota tubuhnya atau mati.


“Aku belum selesai bicara. Kalian bertiga akan mulai merangkak dari sini sampai kantor pusat.” Lanjut Xavier seraya berjalan ke kursinya.


Merangkak sampai kantor pusat yang berjarak 13 km dari sana. Hukuman yang membuat orang-orang tercengang mendengarnya. Sejak kapan bos mereka memikirkan hukuman konyol seperti itu. Bukankah masih ada hukuman yang lebih simpel dan praktis? Misalnya membunuh mereka.


“Te-terima kasih Tuan Muda!!” ucap ketiga orang itu.

__ADS_1


Mereka seolah menghirup udara segar karena hukuman Xavier yang terbilang cukup manusiawi. Jika orang normal, hal itu sudah terbilang tindak kejahatan. Tapi mereka malah bersyukur. Mungkin itu pilihan terbaik daripada menukar hidup mereka.


“Aku lelah, kita kembali.” Ujar Xavier.


^


“Anda begitu mengejutkan semua orang hari ini.”


Dean tersenyum tipis, sesekali melirik kaca spion. Xavier duduk dengan santai tidak terlalu peduli perkataan Dean.


“Hm.”


“Saya pikir Anda tidak akan memaafkan mereka.”


Xavier menarik nafas dan membuangnya, menatap keluar jendela kaca mobil yang berjalan memecah keramaian jalan raya. “Jika kupikir lagi, kita harus mengubah beberapa aturan. Menghukum mereka dengan cara itu lebih efisien menurutku.”


“Benarkah?”


“Membunuh mereka hanya akan memakan banyak biaya dan menjadikan kekuatanku lemah.”


“Maksud Anda? Bukannya hal itu membuat Tuan lebih ditakuti? Semua orang juga akan berpikir ribuan kali dalam melawan Anda?” ujar Dean berpendapat.


“Tidak. Itu salah.”


Dean diam mendengarkan. “Kita harus membuat mereka menyerahkan kesetiaan mereka padaku.”


“Bagaimana caranya?”


“Beri mereka keamanan sempurna dari segala sisi. Dari keluarga sampai orang terdekat mereka. Jika kepercayaan itu kita dapatkan, tidak akan mungkin mereka berkhianat. ” ujar Xavier.


Dean menganggukkan kepala, membenarkan strategi Xavier. Selama ini, mereka banyak kehilangan orang-orang bawahan mereka. Mudah bagi orang-orang itu memilih memihak musuh dan berakhir terbunuh. Puluhan tahun organisasi mereka berjalan, tidak terpikirkan oleh Dean tentang memberikan kehidupan layak bagi orang-orang yang bekerja padanya. Jika seperti itu mereka tak jauh berbeda dengan organisasi Cosa jika hal itu terus berlanjut.


“Kita juga perlu menaikkan gaji mereka.” Ucap Dean menambah masukan.


“Ya. Lakukan saja.”


“Saya kagum dengan perubahan sikap Anda Tuan Muda. Semua dimulai, sejak Nona Charlotte masuk kedalam kehidupan Anda. Itu menurut pandangan saya.” Ujar Dean.


“Dia? Jangan bercanda.” Xavier mendengus namun menyembunyikan senyum kecilnya.


.


.

__ADS_1


.


Sampai ketemu hari Senin.... See youu..^-^


__ADS_2