Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 105 (END)


__ADS_3

“Sayang…”


Charlotte terpaku sesaat. Mencoba menyakinkan diri dengan apa yang ia lihat. Suaminya telah bangun, dan kini mata yang selalu terpejam sepanjang hari itu terbuka menatap kepadanya. Tanpa bisa ia bendung, air mata Charlotte luruh dengan sendirinya. Ia menangis seraya menghambur kedalam pelukan Sang suami.


“Syukurlah, syukurlah kamu sadar Xavi… hiks… aku takut…. Aku sangat takut terjadi apa-apa padamu…hiks.” Seluruh kesedihan dalam hidupnya selama sebulan ini tanpa melihat sang suami mulai sedikit demi sedikit dikeluarkan. “Kamu jahat! Kamu tidak sayang aku, bagaimana bisa kamu pergi sebelum melihatku. Bagaimana jika terjadi sesuatu denganmu? Bagaimana jika kamu tidak kembali? Kamu jahat padaku! Kamu tidak tahu bagaimana takutnya diriku! Hiks..”


“… Maaf. Maaf karena aku sudah meninggalkanmu… Aku hanya kecewa padamu, tak pernah sedikitpun aku membencimu, jadi kumohon Xavi, jangan tinggalkan aku lagi… hiks…” keluh kesah, dan rasa yang terpedam selama ini terus diucapkan oleh Charlotte tanpa memberi kesempatan pada Xavier untuk membalas. Pria itu hanya membalas memeluknya, seraya tersenyum kecil.


“Sayang, jangan menangis. Hei, lihat aku. Coba lihat aku.” Xavier mencoba menuntun wajah istrinya menghadap padanya. Disekanya air mata itu dengan kedua ibu jarinya, lalu dikecupnya kedua mata cantik itu secara bergantian. “Sayang, bukankah aku yang harus meminta maaf padamu. Aku yang berdosa disini. Kamu harusnya membenciku, bukan menangisiku yang hanya seorang bajing*n ini! Aku tidak pantas mendapat permintaan maafmu. Aku sudah melukaimu, dan bayi kita. Mencoba membunuh kalian! Aku monster! Jadi jangan pernah memaafkanku dengan hatimu yang sangat tulus itu, sayang.”


“Kamu memang salah, tapi aku sudah memaafkanmu.” Tutur Charlotte.


“Kamu sangat baik. Aku beruntung karena memiliki istri sepertimu. Tapi tetap saja aku salah. Kamu harus menghukumku! Aku pasti menerimanya.” Xavier menundukkan kepala.


“Hukuman? Aku tidak pernah menghukum seseorang. Dan aku tidak tahu caranya?” ujar Charlotte.


Xavier tersenyum kecil, lalu mengecup lembut bibir ranum istrinya. “Terserah kamu sayang. Aku akan melakukannya. Apapun itu!”


“Aku tidak tahu Xavi, bisa kita lupakan semuanya? Aku sudah senang karena kamu selamat. Aku tidak mau membuatmu dalam kesulitan.” Ucap Charlotte.


“Tidak bisa sayang. Kamu tetap harus menghukumku. Biarkan manusia jahat ini merasakan balasan atas perilaku biadabnya. Sekaligus menebus semua kesalahan yang diperbuat! Hanya kamu yang berhak melakukan itu.”


Charlotte bingung, ia tampak berpikir sesaat. Jika boleh memilih, ia lebih baik mengubur masalah kemarin dan terus bersama sang suami. Tapi, Xavier terus memintanya untuk memberinya hukuman.


“Suruh suamimu tidur di kandang buaya saja, hukuman yang cocok untuknya!”


Tiba-tiba Kakek masuk kedalam ruangan bersama Dean. Menyeletuk begitu saja pembicaraan mereka. Xavier berdecak kesal, bisa-bisanya Kakeknya sendiri menginginkan ia tidur disamping Ali? Aligator sejenis buaya piaraannya! Sadis sekali cara pria tua itu menghukumnya!


“Tidak mau Kek! Nanti suamiku dimakan gimana?” tolak Charlotte. Membuat Xavier tersenyum menang, ia kembali memeluk istrinya dengan sayang.


“Good think. I love you…” puji Xavier seraya mengecup pipi sang istri.


“Jangan memperngaruhi istrimu! Kandang buaya pilihan paling cocok! Dasar anak nakal!” sembur Kakek.


“Istriku tidak mau, mana mungkin aku memaksanya.” Dalih Xavier.


“Oh ya sudah, Charlotte akan kubawa lagi dan menyembunyikannya darimu! Itu lebih setimpal!” seru Kakek terus mencari hukuman yang cocok.


“Tidak boleh!!! Jangan bawa istriku pergi lagi kek!! Aku bisa mati merana sendiri!!” teriak Xavier kesal. Ia semakin mempererat memeluk istrinya. Tak ingin sang istri dibawa pergi oleh siapapun. Seperti seorang bayi yang tak mau lepas dari ibunya.


“A-aku juga.” Saut Charlotte tertunduk malu. Xavier tersenyum dan kembali mencium bibir istrinya. Ia merasa gemas.


Kakek membuang wajah merasa muak dengan sikap kekanakan Xavier. Untung saja, ia memilihkan wanita yang tepat untuk cucu kurang ajarnya itu!


“Tuan Besar, boleh saya memberi saran?” timpal Dean.


“Hah? Apa itu Dean?”


“Bagaimana kalau kamar Tuan Muda dan Nona kita pisah untuk sementara waktu. Jangan biarkan Tuan Muda mendekati Nona. Nona boleh dekat dengan Tuan Muda jika Nona mau, tapi sebaliknya, Tuan Muda dilarang berdekatan dengan Nona.” Ujar Dean.


“F*ck! Kau mau mati DEAN!!!!” teriak Xavier kesal. Melotot kepadanya.


“Good idea! Dean, saranmu lebih bagus!” puji Kakek.

__ADS_1


“Terima kasih Tuan Besar.”


“Bagus apanya!!!” sembur Xavier. “Aku lebih baik tidur dikandang Ali seharian dibanding harus pisah ranjang dengan istriku! Kau sudah gila menyarankan hal bodoh itu! Sebenarnya siapa bosmu!!!” teriak Xavier tak terima. Enak saja dirinya dipisahkan begitu saja dengan istrinya. Apa mereka belum puas sudah menyiksa dirinya lebih dari satu bulan lamanya? Mereka tidak tau apa, si Joni sudah mulai merindukan sarangnya? Pikiran kesal seperti itu yang kini berputar dibatin Xavier, merasa tersiksa kalau hukuman itu dilanjutkan!


“Keputusan ditangan Charlotte. Nah, Charlotte sayang, bagaimana menurutmu?” tanya Kakek lembut kepada cucu menantu kesayangannya.


“Emb, memangnya berapa lama kami pisah kamar Kek?”


“Sebulan?”


“APAA!!! Tidak bisa! Aku tidak mau!!” protes Xavier menolak.


“Kakek sih maunya itu. Tapi terserah kamu Charlotte sayang. Lagipula, kamu sedang hamil. Dekat-dekat pria jahat akan memperngaruhi perkembangan si Kecil.” Kakek terus mempengaruhi Charlotte. Menggoda kedua pasangan suami istri itu.


“Emb, bolehkah aku menentukan waktunya?”


“Sayang, kamu setuju dengan ide konyol itu? Kamu mau kita berjauhan lagi?” ucap Xavier seraya memandangi Charlotte dengan wajah memelas. Menggelayuti lengan istrinya.


“Kita masih serumah, hanya beda kamar saja.” Ucap Charlotte dengan polosnya, seolah hukuman Kakek akan baik-baik saja bagi sang suami. Padahal, suaminya kini benar-benar dilanda pikiran frustasi.


“Sayang, jangan pilih hukuman itu ya. Aku rela tidur dikandang Ali asal besoknya kita seranjang. Please?” Xavier memelas dengan mata berkaca-kaca. Kakek dan Dean saling melempar senyum.


“Aku tidak mau kamu kenapa-napa! Toh, kita tidak terlalu lama melakukannya. Aku mau, memotongnya menjadi seminggu.” Ujar Charlotte.


“Hah?! Seminggu???”


“Iya. Daripada satu bulan?”


^^


Dalam waktu dua hari, Xavier sudah diperbolehkan pulang ke Mansion. Charlotte senantiasa menemaninya. Hukuman yang mereka sepakati belum bisa terlaksana karena situasi belum memungkinkan. Selama di Mansion, hukuman itu akan dilakukan. Xavier tidak diperbolehkan mendekati istrinya. Para pelayan lah yang nantinya akan mengurus segala kebutuhan Xavier.


Malam harinya, Kakek, Xavier dan Charlotte makan malam bersama. Kakek memutuskan tinggal di Mansion untuk sementara waktu. Tak berselang lama, Hugo datang dan ikut duduk disana.


“Bagaimana kabarmu Kak?” tanya Hugo.


“Baik Hugo. Terima kasih sudah menolongku.” Ujar Xavier.


“Aku sangat marah saat tahu Michael melukaimu! Dia memang licik!” geram Hugo kembali teringat sang Musuh yang sudah ia bunuh saat itu. Hugo bukan orang yang suka memberi musuh kesempatan kedua. Ia akan habisi mereka jika diperlukan. Ia sangat tegas  dan garang saat dimedan pertempuran.


“Membunuh Michael adalah langkah terakhir kita mengakhiri peperangan ini. Kakek sudah menerima penyerahan diri orang-orang Michael. Mereka akan Kakek pindahkan ketempat yang sudah disiapkan. Bisnis kotor Cossa juga akan kita ambil alih dan hancurkan secara permanen. Kita tidak akan berhubungan lagi dengan bisnis semacam itu. Kakek mau, kita benahi semua yang salah Xavi.” Ujar Kakek.


“Baik. Aku mengerti.”


“Jadi, kamu tidak akan kembali menjadi pemimpin Mafia?” tanya Charlotte.


“Iya sayang. Aku akan serahkan semuanya pada temanku yang berada di Italia. Dia yang akan mengurusnya. Aku dan kakek tidak akan lagi terlibat dalam lingkaran hitam itu. Aku sudah punya kamu dan bayi kita. Mempertahankan sesuatu yang kotor, hanya akan membuat keluargaku hidup menderita. Aku hanya mau kita bahagia.” Ujar Xavier bersungguh-sungguh. Mengecup pelan kening istrinya. Wajah Charlotte bersemu merona. Suaminya semakin hari semakin romantis padanya.


“Ehem! Hukuman masih berjalan Xavi! Jangan dekat-dekat istrimu!” seru Kakek.


Charlotte dan Huga tertawa bersama. Begitupun dengan Kakek. Xavier memberengut kesal. Masih saja ia diingatkan dengan hukuman konyol itu.


^^

__ADS_1


Tap Tap Tap….


Suara langkah kaki hampir tak terdengar dalam sebuah lorong kamar. Mengendap-endap menuju kamar berpelitur kayu. Pelan-pelan memasukkan jari telunjuknya kedalam finger. Setelah pintu terbuka, tak lupa ia menoleh kesekeliling kembali memastikan keadaan aman. Ia masuk kedalam kamar itu dan menutup pintu.


“Xavi memang tidak berubah. Dia masih suka melanggar perintah!” gerutu Kakek yang melihat semua gerak-gerik cucu menantunya. Geleng-geleng kepala sendiri. Ia berdiri di ujung tangga bersama Hugo. Keduanya terkekeh pelan.


“Kakak lebih bahagia sekarang ya Kek. Aku senang melihatnya.”


“Hmm, kau benar. Jadi, kapan kau menyusul? Mau dicarikan seperti kakakmu?”


“Hah? Aku masih lama Kek! Yang benar saja!” Hugo memilih kabur, sebelum titah baginda terdengar.


“Dasar anak muda sekarang…” Kakek terkekeh dan beranjak kembali ke kamarnya.


^


“Sayang mau ya? Please..…”


“Kalau Kakek tahu bagaimana?”


Charlotte yang tadi ingin berangkat tidur, kini harus tertunda saat sang suami tiba-tiba masuk kedalam kamar. Mereka berdua kini berada diatas ranjang. Xavier menindih sang istri, berusaha membujuknya.


“Kakek sudah tidur. Kamar ini juga sudah kukunci. Jadi, biarkan aku menyentuhmu… Aku kangen sayang…” pinta Xavier penuh bujuk rayu. Tangannya mulai gatal untuk menyentuh bagian-bagian sensitif tubuh istrinya.


“Jangan pegang-pegang! Aku ngantuk Xavi.” Menyingkirkan tangan sang suami yang sudah bertengger di gunung kembarnya.


“Aku rindu sayang. Si Joni juga. Aku sudah tak tahan, mau ya?”


Charlotte geleng-geleng kepala melihat sifat mesu*m suaminya. Ia menakup wajah tampan Xavier lalu mengecup bibir sang suami. “Malam ini aku milikmu. My Husband.”


Xavier tersenyum lebar mendengar lampu hijau sang istri, “Aku mencintaimu my Beautifull wife.”


“Aku juga mencintaimu…”


Xavier mengecup mesra bibir istrinya, lalu turun kebawah. Ia usap perut istrinya dengan sayang, lalu mengecup lama perut itu. “Maafkan Daddy sayang, Daddy janji akan menjaga kalian. Ijinkan Daddy menjadi orang tua yang baik untukmu. Daddy menyanyangimu sayang.”


Air mata Charlotte menetes melihatnya. Xavier begitu menyanyanginya dan anak mereka. Ia bersyukur telah mendapatkan seorang pria yang bertanggung jawab seperti Xavier. Ia berdoa, semoga hubungan mereka terjalin sampai maut memisahkan. Berharap rasa cinta yang selalu ada diantara mereka, mampu menghancurkan badai yang menerjang.  Ia akan selalu menemani Xavier, tua bersama dengan anak-anak mereka.


“Sayang, aku mulai ya…..”


~ Tamat ~


Assalamualaikum wr. wb


Alhamdulillah... akhirnya novel MTP bisa selesai. Terima kasih untuk para readers tersayang, yang sudah merelakan waktunya untuk membaca karya receh nana. Sabar menunggu jadwal update. Memberikan Vote, dan dukungannya. Nana Seneng punya readers sebaik kalian.. makasih, LOVE YOU ALL!!!


Semoga kalian semua selalu diberikan kesehatan dan kita bisa bertemu di lain kesempatan.....


Sampai jumpa semua...


Wassalamualaikum wr. wb


(Eits, Nanti ada EXTRA PART BAB ya.....) Follow IG author @nanayu_95

__ADS_1


__ADS_2