Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 87


__ADS_3

Pov Xavier


Aku memang sudah gila! Gila karena cintaku yang amat besar pada Charlotte, istriku. Aku begitu mencintainya, menyanyanginya sepenuh jiwa dan raga. Mungkin orang lain mengira aku bodoh hanya karena menginginkan wanita itu. Aku payah dan tolol karena mengharapkan cintanya. That’s okay, because I really love and want her!


Sulit dipercaya jika seorang pemimpin Mafia kotor sepertiku bisa mencintai seorang wanita. Seorang pria yang tidak mengenal kasih sayang dan arti pernikahan setelah dituntut untuk memangku tahta kekuasaan terkuat. Memiliki ribuan pengikut berbagai penjuru dunia. Dari sisi suci maupun sisi gelap. Semua itu bukanlah hal yang wajar.


Jika disandingkan dengan pemimpin Mafia lainnya yang senang mengoleksi wanita, justru aku lebih suka menghindarinya, melakukan hal itu bukan kepribadianku. Sejak kematian kedua orangtuaku aku dibesarkan oleh Kakek, satu-satunya keluargaku saat ini yang menjadikanku pria kuat menghadapi musuh-musuhku. Bagiku mencintai seorang wanita hanya akan menghambat tujuan utamaku.


Namun pandanganku mulai berubah ketika pertama kalinya kulihat calon istriku. Dia tidak cantik dan terkesan udik. Tidak ada satupun hal menarik padanya. Ah, aku ralat, aku tertarik dengan salah satu bagian tubuhnya. Mata cokelat itu, mata yang begitu indah yang memancarkan ketenangan saat kupandangi. Mengingatkanku pada sosok wanita yang sangat kuhormati. Ibuku.


Mata mereka begitu mirip. Aku menyukai pancaran matanya yang meneduhkan. Aku bertekad untuk memilikinya.


Charlotte memang tidak menyukaiku sejak awal. Ia terus memberontak padaku dan berusaha melarikan diri. Berbagai cara ia lakukan untuk melancarkan rencananya tak terkecuali meminta bantuan mantan kekasihnya. Aku menemukan mereka dihotel, dengan keadaan yang sulit kumengerti. Seharusnya saat itu aku acuh padanya dan membiarkannya kabur. Tapi entah kenapa, hatiku tak ingin Charlotte pergi bersama pria itu. Aku marah! Dan merasa kebaikanku disepelekan!


Aku memaafkannya hanya demi Kakek. Ya, kurasa demi pria tua yang selalu mengaturku bukan karena alasan yang lainnya. Aku terus berpikiran seperti itu. Aku memang tidak bisa menolak permintaan Kakek. Sejak dulu. Aku menghormatinya dan menjadikannya prioritasku. Hanya Kakek, satu-satunya keluarga yang kumiliki yang selalu mendukung setiap keputusanku.


Setelah beberapa kali mendapat kesulitan dari Charlotte, akhirnya kami mulai berbaikan. Ia mau menerimaku sebagai teman. Seiring dengan perasaanku yang mulai menyakinkan diri jika rasa yang kualami adalah sebuah cinta. Aku tidak menepisnya karena aku memang menginginkannya! Hingga kulihat dia kembali menemui mantan kekasihnya itu di Mansion, membuatku semakin was-was jika suatu saat nanti wanita itu akan meninggalkanku. Hari itu juga, aku memutuskan mengakui perasaanku kepadanya.


Setelah mengungkapkan semua perasaanku, kami mulai menjalani kehidupan yang jauh lebih baik. Aku beranggapan Charlotte juga mencintaiku. Karena apapun yang kumau, dia tidak menolaknya dan justru membalas hal sama. Aku senang.


Charlotte meminta kembali ke Jakarta demi menyelamatkan perusahaan Kakeknya. Mau tidak mau aku ikut kemanapun dia pergi. Aku mengijinkannya mengurus masalah kantor. Kupikir, aku harus memberikannya sedikit kebebasan. Mungkin dengan cara itu, hubungan kami bisa semakin intim. Aku percaya sepenuhnya padanya.


Namun, kepercayaanku kembali dihancurkan. Aku melihatnya dengan pria brengsek itu lagi. Dihotel milikku! Rasa cintaku yang besar seolah dibalas dengan pengkhianatan. Charlotte bisa dengan mudahnya mengkhianati perasaanku dengan begitu cepat. Pengkhianatannya sangat menghancurkanku jauh melebihi kehancuran yang disebabkan oleh seluruh musuh-musuhku.


Aku cemburu!! Cemburu melihatnya dengan pria yang pernah menjadi kekasihnya. Pria tidak tahu malu yang terus menggoda istriku! Dua kali! Betapa hebatnya aku menahan kesabaranku itu?


Aku murka dan tak ingin mendengar alasannya! Pikiranku berkutat dengan hubungan gelap mereka. Berpikir keras menemukan apa kekurangaku. Memikirkan mereka masih saling menyukai saja sudah memporak-porandakan hatiku, apalagi melihat mereka berada dalam satu kamar. Pikiran warasku seolah lenyap. Keinginan untuk menyingkirkan Fredy Nahendra mencuat begitu saja. Naluriku sebagai suami tidak merelakannya dimiliki oleh mantan kekasihnya itu!

__ADS_1


Masalah kembali datang dengan penyerangan Markas Pusat. Pikiranku bercabang. Aku tidak bisa berpikir rasional jika tetap berada disamping Charlotte. Keinginan untuk melukai menghantuiku. Kuputuskan untuk pergi ke Italia mengurus masalah disana. Hingga aku kembali dan mendengar Charlotte hamil! Seketika tubuhku kaku dan lemas, duniaku seolah hancur. Perasaan yang sama saat aku kehilangan kedua orang tuaku kembali kurasakan.


Luapan kecemburuan memberangusku tanpa sisa. Aku sangat yakin, sangat pasti kalau janin itu bukan anakku! Pikiranku berulangkali menolak kenyataan pahit itu. Aku bersikeras menyakini anak yang dikandung Charlotte adalah anak Fredy. Hasil hubungan gelap mereka. Memang kuakui aku salah tanpa membuktikan lebih dulu. Namun naluriku sebagai pria, membenarkan hal itu. Menyakini pria yang terakhir bersamanya adalah si berengsek itu!


Kedekatan mereka saat di Mansion tempo lalu, sorot mata mereka yang saling bertautan membentuk benang merah kembali terajut tanpa orang lain tahu. Aku bisa melihat mereka memiliki perasaan satu sama lain. Entah aku bodoh atau apalah, aku tidak peduli. Yang ada dalam pikiranku hanya kekhawatiran jika Charlotte pergi dariku. Seperti kepergian kedua orangtuaku.


Ya, aku sangat ketakutan memikirkannya. Tubuhku sampai gemetar mengingatnya. Kehilangan orang-orang yang kusayangi benar-benar membuatku hancur! Aku tidak ingin terulang hal yang sama pada Charlotte. Wanita itu tidak boleh meninggalkanku. Akan kumaafkan semua kesalahannya asal tetap bersamaku. Aku memang egois. Kupilih untuk menyingkirkan semua hal yang akan menjadi penghalang hubungan kami. Walaupun harus membunuh nyawa sekalipun. Aku tidak peduli.


Pov End


^^


“Sayang?”


“Ya?”


“Masih. Kenapa? Mau gantiin?” Charlotte terkekeh.


“Aku tak suka melihatmu sakit.”


Charlotte berbalik. Mereka sedang rebahan diatas tempat tidur dengan posisi saling berhadapan. Memeluk satu sama lain menghangatkan tubuh. Charlotte menatap dalam manik mata hitam yang kini menampilkan wajah memelasnya. Benar-benar khawatir dengan keadaannya. Ia menepiskan senyum simpul yang cantik.


“Beberapa bulan lagi pasti ilang kok. Makasih ya udah perhatian.” Ucap Charlotte seraya mengelus jakun Xavier yang tampak menggodanya. Lalu tangannya naik menuju rahang kuat berbulu tipis diwajah suaminya.


“Lama. Bisakah dipercepat atau dihilangkan saja.”


“Hah? Dihilangkan? Ngaco deh. Itu sudah biasa bagi wanita hamil Xavi. Mana bisa dihilangkan.” Charlotte berpikir Xavier sedang membahas rasa mualnya. Karena memang hampir tiap hari ia merasa mual yang berujung lemas di atas tempat tidur. Charlotte juga heran, kenapa tubuhnya bisa seringkih itu.

__ADS_1


“Kau tidak capek?”


“Tidak. Aku sangat bahagia malah.” Kecupan hangat mendarat di pipi keras Xavier. “Karena ada kau dan calon bayi ini.” Imbuhnya tersenyum manis. Memang ya, kebahagian ibu hamil itu simpel. Maunya diperhatiin dan diturutin. Ckck.


“Kau tambah kurus.” Xavier mengusap pipi Charlotte yang dirasa tidak secuby dulu. Sekarang terlihat tulang pipinya yang menyembul ke permukaan. Xavier tak suka melihat perubahan itu. Ia sedih dan tak ingin istrinya sakit karena mengandung bukan anaknya.


“Biarin, kau mau cari lain gitu?” Charlotte cemberut dan mencebikkan bibirnya.


“Emang boleh?”


Mata Charlotte terbelalak dengan mulut terbuka lebar mendengar perkataan suaminya. “Sungguh? Kau mau cari lain?!!”


“Kenapa tidak? Asal kau memperbolehkannya. Aku tidak akan menolak.” Xavier berusaha kuat menahan tawanya melihat ekpresi Charlotte yang tampak kesal bukan main. Ia hanya ingin melihat seberapa marahnya istrinya itu.


Bibir Charlotte terkatup rapat, bola matanya melotot pada Xavier. Kedua tangannya meremas kuat kain selimut. Sebentar lagi tangan itu pasti melayang diwajah tampannya.


“Lakukan saja! Akan kulempar selingkuhanmu itu ke Mozambik!!” gertaknya penuh ancaman. Tentu saja hal itu mengundang gelak tawa Xavier.


Setelah puas menertawakan kelucuan istrinya, tangan Xavier turun kebawah perut wanita itu secara perlahan. “Sayang, aku ingin…..” Suaranya mendayu penuh bujuk rayu.


.


.


.


Diselilingin manis-manis dlu ya...yg mau endingnya gmana bisa koment dibawah yah..Happy reading ^-^

__ADS_1


__ADS_2