Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 17


__ADS_3

Setelah kejadian diruang makan, Charlotte masuk kedalam kamar dan berniat tidur. Dia merangkak keatas kasur ingin merebahkan tubuhnya yang terasa lelah seharian ini. Charlotte menatap langit-langit kamar tidurnya. Sosok Xavier kembali terlintas dipikirannya.


“Laki-laki aneh. Apa sebenarnya yang sedang dia pikirkan ketika menerima pernikahan itu? Dia Gay, tapi kenapa mau menikahiku? Ini sudah ketiga kali kami bertemu, tapi dia sama sekali tidak mengingatku. Apa sesusah itu mengingat wajahku yang jelek ini?” gumam Charlotte pelan. Merenungkan semua yang terjadi antara mereka berdua.


Malam ketika di Motel menjadi malam paling tak terlupakan bagi Charlotte. Malam itulah, kali pertama dirinya memberikan harta berharganya pada laki-laki asing. Charlotte masih kesal jika mengingat cara licik ibu tirinya untuk menyukseskan rencananya jahatnya. Dia tidak ingin terjatuh lagi pada jebakan wanita jahat itu.


Tapi, apa yang terjadi diantara mereka benar-benar sulit dimasukkan akal pikiran manusia. Setelah malam itu, Charlotte terus bertemu laki-laki itu. Lalu sekarang, laki-laki itulah yang akan menjadi calon suaminya yang katanya Gay itu. Ini seperti takdir. Takdir yang begitu menyedihkan untuk dirinya. Dia akan menikah dengan laki-laki yang sudah ditidurinya. Bukankah itu artinya dia sudah memberikan mahkota berharganya pada suaminya sendiri? Arrggghhh kenapa bisa kebetulan begitu?


Suami? Tidak-tidak. Laki-laki itu bukan suaminya. Dia tidak akan mau menikah dengan laki-laki dingin yang tampak kejam seperti Xavier itu.

__ADS_1


“Kenapa terus memikirkan orang itu  sih! Aku tidak mau gila sebelum menikah!” seru Charlotte seraya terduduk dan mengacak-acak rambutnya frustasi. “Lebih baik aku membuat susu agar tidurku nyenyak malam ini.”


Charlotte lalu bergegas pergi keluar kamar menuju dapur. Namun, ketika langkahnya sampai didepan pintu kamar orangtuanya, dia mendengar isak tangis wanita jahat itu. Tak mau mati penasaran, Charlotte langsung menguping dipintu yang sedikit terbuka itu.


“Hiks… Kenapa kamu tega dengan Shinta. Charlotte tidak berhak memiliki gaun dan perhiasan itu! Pokoknya Mama gak mau tahu, jangan ijinkan putrimu mengambil milik Shinta! Hikss…” Sella menuntut suaminya atas ketidakadilan yang dialami putri tersayangnya.


“Charlotte membutuhkannya sayang. Dia harus terlihat sempurna dimata keluarga Xavier. Kamu tahu bagaimana aku memaksa mereka agar mau mempercepat pernikahan Charlotte? Itu sangat susah.” Balas Susanto.


“Tapi tetap saja, kamu menyakiti hati Shinta dengan berbuat begini. Dia sudah lama menunggu mendapatkan gaun itu! Kamu tidak kasihan padanya! Lihatlah putrimu itu.”

__ADS_1


Susanto beralih pada Shinta yang juga berada disana. “Shinta sayang, tolong mengertilah. Ayah melakukan itu demi keluarga kita. Perusahaan membutuhkan keluarga Xavier agar tetap berdiri.”


“Selama ini, Shinta terus mengalah dari Charlotte. Tapi sekarang, aku ingin kamu berjanji pada Shinta.” Ucap Sella.


“Apa itu. Katakanlah.”


“Aku mau kamu mewariskan seluruh kekayaan kamu untuk Shinta.”


Susanto menghela nafas. Memejamkan mata seolah memikirkan permintaan sulit istrinya. Tidak mudah itu memberikan harta kekayaan pada Shinta. Karena Charlotte juga berhak mendapatkannya.

__ADS_1


“Baiklah. Tapi Nanti. Ini bukan saat yang tepat membicarakan hal itu.” Jawab Susanto pada akhirnya.


Sella tampak kesal. Dia mendekati Susanto. “Aku gak mau nanti-nanti lagi. Pokoknya kamu harus menghadiahkan saham yang kamu berikan pada Charlotte itu kepada Shinta dihari ulang tahunnya!”


__ADS_2