
“Fred, sorry tadi ada Charlotte.” Ucap Shinta setelah berhasil menenangkan diri. Ia berada di ruang santai bertelepon dengan calon suami tercintanya.
“Charlotte? Dia ada disana?”
“Ya. Bersama suami kayanya.”
“Untuk apa dia kesana? Ada alasan apa?” suara Fredy terdengar khawatir.
“Perusahaan Ayah dalam masalah, jadi dia datang sebagai penyelamat. Berlebihan sekali bukan.” Kesal Shinta.
“Masalah apa?”
“Gak tahu juga sih, aku denger-denger perusahaan hampir bangkrut gara-gara saham turun. Mungkin ayah minta bantuan pada menantunya itu buat urus. Entahlah.” Ujar Shinta acuh.
Tidak ada balasan, sepertinya Fredy tengah berpikir diujung sana. Merasa dicuekin, Shinta memanggil Fredy. “Sayang, Honey? Kau disana?”
“Ya. Maaf. Shin, nanti kutelepon lagi. Aku ada urusan sebentar. Bye.”
Tut Tut…
“Halo sayang? Sayang? Kenapa dimatiin sih?!” Shinta memasang wajah cemberut.
^
Charlotte masuk kedalam kamarnya. Ia menutup pintu dan berjalan ke tempat tidur. Ia dibuat bingung ketika tidak mendapati suaminya disana. Kemana suaminya pergi?
Ceklek…
Pintu disampingnya terbuka, Xavier keluar dengan pakaian rumahan. Rambutnya masih terlihat basah. Sepertinya suaminya habis mandi. Wajahnya tampak segar.
“Darimana?”
__ADS_1
Xavier melangkah mendekat, melontarkan pertanyaan yang membuat Charlotte merinding karena nada dinginnya. Sepertinya suaminya sedang dalam mood buruk.
“Aku menemui ayah sebentar.”
“Sebentar? Hampir satu jam aku menunggu!” Protes Xavier.
“Kau menungguku? Kenapa?”
Xavier ingin sekali marah pada Charlotte. Namun dilihat dari wajahnya, ia masih berusaha menahan diri. Xavier terbangun dikamar tanpa kehadiran istrinya, mood yang awalnya bagus berubah buruk ketika ia merasa hampa ditinggal seorang diri. Selalu seperti itu. Ia tidak bisa mengontrol emosinya yang berubah-ubah. Ia ingin Charlotte selalu disampingnya. Memeluknya dan mendekapnya seharian. Bisakah ia mengantongi istrinya itu didalam dompetnya, agar ia bisa membawanya kemana-mana? Ah, sekarang pikirannya pun sudah bergesekan. Ia jadi tak waras sampai berpikiran bodoh seperti itu.
“Lupakan.”
Xavier memilih menjauh. Egonya lebih tinggi daripada harus mengungkapkan perasaannya. Ia tidak ingin terlihat konyol didepan Charlotte.
“Xavi, tadi aku sudah bujuk ayah.” Charlotte duduk disamping Xavier.
“Benarkah?” Pria itu tampak acuh. Ia sibuk memakai jam tangannya. Sama sekali tidak tertarik.
“Hem.”
“Aku akan pergi bersama ayah ya. Bolehkan?” tanya Charlotte dengan mata puppy eyesnya.
“Terserah.”
“Yes. Thankyou Xavi.”
Cup!
Kecupan lembut mendarat dipipi Xavier. Pria itu tertegun. Matanya berkedip-kedip dengan Jantung berdebar kencang. Tindakan Charlotte begitu mengejutkannya.
“Aku mandi dulu. Setelah itu kita makan siang bersama ya.” Ujar Charlotte. Wanita itu pergi masuk kedalam kamar mandi.
__ADS_1
Xavier menyentuh dada kirinya. Jantungnya masih berdegup kencang. Perasaan yang ia rasakan sangat berbeda ketika ia harus berhadapan dengan musuhnya. Ia sangat gugup. Sampai sekarang, hanya satu orang yang mampu membuatnya seperti ini. Dan orang itu adalah istrinya sendiri! Dia bisa gila!
^^
Esok paginya, Charlotte sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor. Ia memakai kemeja warna coksu dengan dipadu blazer hitam dan rok span warna abu-abu dibawah lutut. Ia menguncir rapi rambut gelombangnya. Memoles wajahnya dengan makeup tipis. Hari ini ia akan bertemu orang-orang penting dikantor. Sekaligus menerima kepemilikan saham milik ayahnya. Ia sebenarnya nervous (gugup). Ini pertama kali ia datang ke kantor setelah kepergian Kakek. Charlotte merasa canggung. Berulangkali ia menyentuh wajah merah tomatnya.
Tiba-tiba dari belakang, Xavier memeluknya. Melingkarkan tangan diperutnya. Meletakkan kepalanya diatas bahunya. Mereka berada didepan cermin. Charlotte bisa melihat dengan jelas wajah bantal bangun tidur suaminya yang menggemaskan.
“Berangkat sekarang hmm?” suara serak pria itu membuatnya merinding. Xavier masih memejamkan mata. Namun pelukannya semakin dipererat.
“Iya. Doakan aku ya.” Tutur Charlotte.
Xavier tersenyum kecil, ia membuka matanya perlahan. Menatap istrinya dari pantulan cermin. “Jangan gugup. Rilekskan dirimu. Anggap mereka hanya orang biasa dan kau penguasa disana. Semua harus tunduk padamu. Mengerti!”
Charlotte tertawa kecil, “Penguasa apaan sih. Aku masih bau kencur dibanding dengan mereka.”
“Jangan takut. Aku selalu dibelakangmu.” Ucap Xavier.
“Iya. Terima kasih ya.” Charlotte tersenyum hangat. Sikap Xavier benar-benar sudah berubah padanya. Ia sangat lembut dan baik.
“Pergilah, aku mau tidur lagi.” Xavier berjalan kembali ke tempat tidur. Melemparkan tubuhnya begitu saja dengan posisi tengkurap. Matanya kembali terpejam dengan disusul suara dengkuran halusnya.
Charlotte tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang menggemaskan. Ia mencubit pelan pipi Xavier dan menciumnya. Lalu kembali memperhatikan dirinya di cermin. Memantapkan diri. “Kau pasti bisa. Semangat!”
.
.
.
Yeeeee.... udh hr senin bestie, yuks Votenya dikencengin yah..... Ditunggu Bestie.... Happy Reading.. See you ^-^
__ADS_1