
Charlotte melempar tubuhnya ke tempat tidur. Terisak pilu. Ia membenamkan wajahnya di bantal. Mengeluarkan semua kesedihan, jerit tangis dan rasa sakit yang memenuhi dadanya. Ia sangat kecewa. Tidak pernah terbayangkan sikap Xavier yang selama ini manis, semua itu hanyalah kamuflase untuk tujuannya yang tidak termaafkan. Menghancurkan hidup orang lain hanya karena keinginan balas dendam!
Tubuh Charlotte gemetar menahan semua beban pikirannya. Suaminya ingin ia membunuh bayi tidak berdosa. Hatinya hancur berkeping-keping saat pria yang ia cintai tidak mengakui darah dagingnya sendiri. Ia bingung, kalut. Semua perasaan tercampur aduk menjadi boomerang yang berbalik menghancurkan dirinya.
Ia pikir, Xavier benar-benar mencintainya sepenuh hati. Melupakan semua kesalahpahaman yang ada. Sikapnya yang manis padanya, perhatiannya, semua hanya kebohongan! Ia pikir, suaminya bahagia akan kehadiran buah hati mereka. Tapi nyatanya?
Charlotte terduduk. Ia menunduk, tangannya menyentuh perutnya yang masih rata. Diusapnya dengan lembut seraya menitikkan sisa air mata. Charlotte sangat menyanyangi bayi ini, ia sudah bertekad untuk melindunginya. Walaupun ayah kandungnya sendiri tidak mengakui hal itu!
Ia usap sisa bulir air mata di pipinya. Lalu beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan menuju lemari pakaiannya. Mencari sebuah koper.
Charlotte memasukkan semua barang-barang dan pakaiannya didalam sana. Ia bertekad ingin pergi. Ya! Ia ingin menenangkan diri untuk sementara waktu. Tidak ingin satu tempat tinggal bersama suaminya yang selalu memberikan luka! Ia harus menjaga bayinya.
Ia mengambil tas selempang kecil. Ia masukkan dompet dan ponselnya disana. Lalu mengalungkannya di bahu. Ia seret koper miliknya menuju pintu.
Klek! Klek!
Terkunci! Pintu kamarnya tidak bisa ia buka. Charlotte coba berulang kali namun tak berhasil. Ia gedor pintu itu dari dalam.
“Ada orang diluar??! Tolong bukakan pintunya!” teriak Charlotte.
Tidak ada sautan dari luar. Ia mengambil ponsel miliknya dan menghubungi seseorang.
“Halo Dona, ini aku Charlotte.” Ternyata Kepala pelayan Mansion yang wanita itu hubungi. “Dona, kenapa pintu kamarku terkunci. Tolong bukakan ya, kau pasti punya kuncinya kan?”
“Maaf Nona, saya tidak bisa.” Dona melirik dua orang penjaga yang tengah berdiri tegap di depan kamar majikannya. Tubuh mereka tinggi besar.
“Kenapa tidak bisa! Kau pasti punya kunci cadangannya! Aku mau keluar, cepat bukakan pintu ini!” seru Charlotte tak sabar.
“Saya bisa membuka pintu itu Nona, tapi tidak dengan dua orang pengawal Tuan Muda. Mereka diperintah menjaga disana. Maafkan aku Nona.” Ucap Dona merasa bersalah. Ia akui, ia tidak bisa melakukan apa-apa untuk Nona Mudanya.
“Apa?! Xavi yang melakukan itu?”
“Iya Nona.”
“Sekarang dia dimana?”
“Tuan ada di ruang kerjanya.”
“Baiklah. Aku akan menghubunginya. Terima kasih Dona.”
Tut!
Charlotte memutus panggilan telepon dan kembali menghubungi suaminya. Dering pertama tersambung… Dering kedua tidak ada sautan. Sampai dering ketigaa…. Tut tut tut!
Panggilannya ditolak!
__ADS_1
Charlotte berdecak kesal. Ia kembali menghubungi pria itu. Tapi lagi-lagi, tidak tersambung. Ia melihat layar ponselnya. Tidak ada jaringan! Lhoh, kok bisa?!
“Arghh! Xavi, kau benar-benar menyebalkan!” Xavier pasti sudah memutus sinyal di Mansion. Pria itu memang keterlaluan! Charlotte berjalan hilir mudik, ia tidak tahu bagaimana cara untuk pergi dari sana. Akhirnya ia memutuskan duduk seraya menunggu pintu itu terbuka. Ia lelah, bukan hanya fisiknya tapi juga psikisnya.
^
Malam menjelang. Charlotte terbangun saat mendengar suara pintu sengaja dibuka oleh seseorang. Cepat-cepat ia duduk.
“Dona?” pekik Charlotte. Melihat Kepala pelayan itu datang ia langsung beranjak dari tempat tidur dan menghampirinya. Charlotte senang melihat Dona.
“Maaf Nona, sudah mengganggu istirahat Anda.”
“Tidak kok! Apa sekarang aku boleh keluar?” tanya Charlotte antusias.
“Iya Nona.”
Charlotte bersorak, ia segera mengambil koper dan tasnya.
“Nona, Anda mau kemana?” tanya Dona bingung. Melihat koper dan Charlotte bergantian.
“Aku mau pergi Dona, aku akan pergi dari sini untuk sementara waktu.” Ujar Charlotte.
“Kemana Nona? Kenapa tiba-tiba seperti ini. Apa Tuan tahu?”
“Tapi, sekarang Tuan Muda sedang menunggu Nona dibawah. Tuan mengajak Anda makan malam bersama. Saya disuruh kemari untuk membawa Nona.” Ucap Dona.
“Makan malam? Aku tidak lapar. Lagipula, aku malas bertemu dengannya.”
Krucuk!
Charlotte bisa mengatakan tidak lapar, tapi tidak dengan perutnya! Charlotte tersipu malu, saat Dona menahan senyum mendengar suara itu.
“Makan dulu Nona. Dedek bayi pasti juga lapar.” Ucap Dona.
“Emb, begitu ya.”
“Iya Nona.” Ujar Dona seraya tersenyum tulus.
Akhirnya Charlotte setuju. Ia mengikuti saran Dona. Kasihan jika bayinya kelaparan didalam perutnya. Ia harus menyingkirkan egonya dan mementingkan kesehatan mereka berdua.
Charlotte keluar kamar. Ia terkejut saat melihat dua pengawal yang dimaksud Dona tengah berdiri didepan kamar seperti patung. Tak bergerak ataupun bicara. Xavier memang benar-benar mengurungnya.
Dona membawa Charlotte ke ruang makan. Disana Xavier telah menunggunya. Duduk tenang, seraya memperhatikan gerak tubuh Charlotte. Charlotte melihat begitu banyak makanan disana. Ada hiasan lilin dan juga bunga segar. Ia jadi teringat dengan makan malam romantis mereka beberapa bulan yang lalu.
Charlotte melihat semua makanan itu dengan tatapan lapar. Selama ia hamil, ia sering banyak memakan makanan dalam porsi besar. Rasa lapar selalu menguasainya ketika melihat makanan enak didepan matanya. Charlotte langsung duduk, tanpa melihat Xavier didepannya. Jujur saja, Charlotte masih enggan bertegur sapa atau bertatap muka dengan suaminya itu.
__ADS_1
Dona dan para pelayan pamit meninggalkan mereka berdua. Menutup pintu hingga tersisa Charlotte dan Xavier saja disana. Aroma makanan menguar diindera penciuman Charlotte. Rasanya ia ingin melibas dan membabat habis semua makanan itu. Andai saja, Xavier tidak sedang disana.
“Sayang, kau pasti lapar kan?”
Xavier sejak tadi terus memperhatikan mimik wajah Charlotte. Wanita itu terlihat menelan ludah beberapa kali melihat semua makanan yang terhidang di meja.
“Tidak! Aku sama sekali tidak lapar.” Ucap Charlotte berdusta. Masih tak mau melihat suaminya.
Xavier berdiri dan mengambil gelas kosong. Lalu mengisinya dengan jus jeruk. Ia berikan pada istrinya.
“Makan yang banyak. Dan untuk tadi siang, aku minta maaf ya. Aku salah.” Ucap Xavier. Charlotte mendongak hingga tatapan mereka bertemu. Raut wajah Xavier berubah sayu, ia melihat sorot mata bersalah diwajah itu. Charlotte mulai terenyuh. Sikap Xavier selalu bisa mengubah perasaannya menjadi tak tentu.
“Emb, i-iya. Aku juga minta maaf.” Charlotte mengambil gelas jus yang disodorkan Xavier padanya. Xavier tersenyum. Pria itu mendekat dan langsung merekuh tubuh Charlotte kedalam pelukannya.
“Jangan marah lagi. Aku mencintaimu sayang.” Bisik Xavier lembut.
Charlotte hanya diam, ia takut sikap Xavier sekarang akan berubah nantinya. Ia hanya tidak ingin merasa sakit hati lagi. Xavier melepaskan pelukannya seraya mengecup lembut kening istrinya.
“Kita makan ya.”
“Iya.”
Xavier kembali ke kursinya, lalu mengambil sebuah piring yang berisi daging steak yang telah dipotong-potong. Ia letakkan piring itu dihadapan istrinya. “Makanlah. Beritahu padaku jika kau membutuhkan yang lain.” Ujarnya dengan suara rendah.
Charlotte mengangguk, ia alihkan pandangannya ke makanan itu. Jujur saja, Charlotte masih tak mengerti sifat Xavier. Kadang pria itu manis dan baik padanya, terkadang pula sikapnya sangat menyebalkan dan menyakitkan. Entah yang mana pribadi pria itu yang asli.
Charlotte menegak jus lebih dulu, lalu mengambil daging steak lalu memasukkannya kedalam mulut. Ia makan dengan pelan seraya melirik suaminya. Pria itu duduk diam dengan tenang. Mengiris steak miliknya sendiri. Sejenak ia pandangi raut wajah suaminya yang tampak murung. Kenapa pria itu bersikap seperti itu? Apakah benar jika suaminya merasa bersalah padanya?
Charlotte makan dengan lahap. “Ukh!”
Perut Charlotte tiba-tiba keram sekaligus nyeri. Ia hentikan makannya dan memegang perutnya yang mulai terasa sakit. “Ummhh akhh!” teriaknya ketika semakin terasa rasa sakit yang ia rasakan.
“Sayang, kau tidak apa-apa?”
.
.
.
Hari ini double up, ganti hari kemarin yg reviewnya seharian pnuh!! Astajimmm!
Sistemnya skrg lebih teliti guys, mulai main tolak menolak.. Kyk kisah cinta othor dong.....Wkwk
Jgn lupa VOTE Yaaaaaaaa.... See you ^-^
__ADS_1