
Xavier masuk kedalam kamar. Berniat mengganti pakaiannya. Ketika masuk, ia melihat Charlotte duduk dipinggir tempat tidur. Membelakanginya dengan memegang sebuah buku. Charlotte tampak melamun. Jika saja mereka tidak bertengkar, mungkin ia akan menghampirinya. Namun Xavier merasa enggan jika harus kembali berdebat, ia memutuskan untuk membersihkan diri.
Limabelas menit kemudian Xavier keluar, ia mengganti pakaiannya dengan kaos panjang hitam dan celana jeans pendek. Rambutnya dibiarkan acakan begitu saja. Xavier keluar dari walk in closet.
Saat didepan pintu, ia dikejutkan dengan keberadaan Charlotte yang berdiri disana. Wanita itu menunduk dengan sebuah buku ditangannya.
“Ini, milikmu.” Wanita itu menyodorkan buku itu pada Xavier.
Xavier meliriknya sebentar, lalu mengambilnya. Xavier terkesiap saat melihat judul buku itu. Buku pemberian Kakek semalam. “Bagaimana ini bisa ada padamu? Aku sudah membuangnya.” tanyanya heran.
Karena berisi hal-hal konyol dan lebih tepatnya memalukan, Xavier akhirnya membuangnya begitu saja. Menurutnya, Kakek terlalu berlebihan membelikan buku itu. Ia tidak mungkin membacanya dan mengimplentasikannya di kehidupan nyata. Mengingat istrinya yang keras kepala dan membencinya. Itu mustahil dilakukan Xavier.
“Dona mengambilnya dan memberikannya padaku. Katanya ini milikmu.” Ucap Charlotte, nada suaranya begitu rendah. Matanya tidak berani menatap langsung mata hitam Xavier.
“Aku tidak membutuhkannya. Buang saja.” Xavier memberikan buku itu pada Charlotte dan berjalan pergi. Kembali bersikap apatis.
“Kenapa dibuang? Kau sudah repot-repot membelinya kan?”
Langkah Xavier terhenti, ia memalingkan kepalanya ke belakang tanpa menggerakkan tubuhnya. “Itu hadiah pernikahan dari Kakek. Tidak berguna dan hanya merepotkan.” Ucap Xavier.
“Hadiah dari Kakek?” Charlotte terkejut dan memperhatikan kembali buku yang dipegangnya.
“Kakek sudah membelikannya untukmu. Kenapa harus dibuang.” Imbuhnya merasa disayangkan. Sebenarnya, awalnya ia ingin menggunakan buku itu untuk membalas perlakuan Xavier, tapi diurungkan karena ia merasa bersalah.
Xavier berbalik badan, kedua tangannya dimasukkan kedalam celananya. Mengamati perubahan sikap Charlotte. Wanita itu berubah lembut dari sebelumnya. Xavier bertanya-tanya dalam hati.
“Tidak salahnya menyimpannya. Meskipun kau tidak mau membacanya. Setidaknya Kakek senang.” Ucap Charlotte.
“Simpan saja. Aku tidak butuh itu.” kata Xavier acuh, berbalik dan pergi begitu saja.
^
‘Sikapnya berubah dingin, seolah aku saja yang salah. Apa dia benar-benar ingin aku minta maaf? Egois sekali.’
Charlotte makan malam dengan perasaan kesal. Makanan dipiringnya tidak tersentuh dan hanya di acak-acak. Pria didepannya, begitu menikmati makanannya tanpa memikirkan masalah yang terjadi siang tadi. Charlotte yang kesal terus minum air sampai habis dua gelas. Menu makan malam hari ini terlihat enak-enak, namun nafsu makannya seolah lenyap begitu melihat sikap Xavier yang acuh.
“Nona, apa perlu saya buatkan makanan lainnya?” Dona menawarkan diri saat dilihatnya Charlotte tak sedikitpun memakan makanannya.
“Ti-tidak perlu. Ini saja cukup.” Ucap Charlotte menolak. Charlotte melirik Xavier yang masih sibuk dengan makanannya tanpa merasa terganggu. ‘Dasar pria menyebalkan!’
Srreeet!
Charlotte mendorong kursinya kebelakang sampai berderit. Ia lalu berdiri. “Aku sudah selesai. Aku mau ke kamar.” Ucapnya. Ia tidak menunggu jawaban Xavier dan pergi dari sana.
__ADS_1
Charlotte naik ke lantai tiga, masih pukul 7 malam dan ia enggan untuk tidur saat ini. Ia bingung harus melakukan apa supaya menghilangkan kekesalannya. Mansion Xavier memang besar, tapi tidak ada satu pun yang membuat ia terhibur. Banyak pelayan dan pengawal disana namun ia merasa sendirian. Sikap Xavier yang kembali dingin semakin membuatnya larut dalam kesendirian. Charlotte bingung, kepada siapa ia harus menumpahkan kesedihannya sekarang.
Akhirnya, Charlotte memutuskan untuk turun. Ia ingin ke taman yang ada di samping Mansion. Langkah kecilnya menuntunnya ke tempat itu yang menurutnya tempat terbaik untuk menenangkan pikirannya saat ini. Tidak ada yang ingin ia lakukan selain melihat bintang diluar sana.
Taman itu memiliki luas kurang lebih 1 hektar dan dikelilingi pohon cemara, berbagai macam bunga, dan juga ada tanaman merambat. Diujung sana, ada sebuah saung dibawah pohon mangga yang tumbuh tinggi. Tempat itu sangat cocok dijadikan tempat pengaduan kesedihan, seperti itu. Charlotte duduk di saung disudut taman. Hawa dingin dan suasana malam yang sunyi menjadikan tempat itu tenang. Charlotte suka ketenangan. Mungkin ia akan jadikan tempat itu tempat favoritnya sekarang.
Saung yang terbuat dari bamboo itu memiliki dinding terbuka dan sandaran rendah di pinggirannya. Atap yang terbuat dari tumpukan batang padi yang kering mengingatkannya dengan pondok kecil ditengah sawah. Walaupun disana tidak ada tanaman seperti di area persawahan, namun cukup membuatnya mengenang masa lalu ketika ia masih kecil.
Ayah dan ibunya pernah mengajaknya ke pedesaan. Mancari katak dan bermain perosotan ditengah sawah. Sangat menyenangkan dan menghiburnya. Ada juga saluran irigasi yang mengaliri tanaman yang berasal dari sungai. Ia bermain sepuasnya hingga basah kuyup. Ia ingat, waktu itu ayah kesal dan memarahinya. Tapi ibu melindunginya. Hal-hal semacam itulah yang pasti akan sangat ia rindukan. Entah kapan lagi, ia bisa menikmati momen menyenangkan seperti itu.
“Kaburmu kurang jauh.”
Suara barington dari belakang mengalihkan perhatian Charlotte yang asik melamun. Ia dibuat terkejut saat melihat Xavier berjalan ke arahnya. Pria itu mudah dikenali hanya dengan postur tubuhnya yang tinggi. Xavier memakai jaket hitam. Ditangannya memegang sweeter rajut berwarna merah muda. Yang Charlotte duga adalah miliknya.
Xavier berdiri didepan Charlotte yang masih tertegun melihatnya. Tanpa diduga, pria itu langsung memakaikan sweeter itu kepada Charlotte. Wanita itu hanya diam dan membiarkan Xavier melakukannya.
“Disini dingin.”
“Kenapa kau kemari?” Charlotte menatap Xavier tanpa berkedip.
“Ini Mansionku, terserah aku mau kemana.” Ucap Xavier monohok. Pria itu mengambil tempat duduk disamping Charlotte.
“Tidak ada bintang. Apa mereka bersembunyi?” Imbuhnya seraya menatap langit malam yang kelabu.
“Kenapa kesini? Kau bilang ingin ke kamar.” Tanya Xavier tanpa melihat Charlotte.
Charlotte menoleh cepat, “Kau tadi mendengarku ya?”
“Kau pikir aku tuli.”
“Tidak. Kupikir hatimu itu sudah beku. Sampai tidak mau melihatku.” Keluh Charlotte kembali menunduk sedih.
Xavier memperhatikan Charlotte yang kembali tertunduk sedih. Ia menghela nafas dan membuangnya perlahan, “Maafkan aku.”
“Hm? Kau bicara apa?” Charlotte sontak melihat Xavier. Suara pria itu sangat pelan, hingga ia tak mendengarnya.
Xavier berdeham, lalu melanjutkan perkataannya. “Aku minta maaf. Sudah membuatmu terluka. Aku sama sekali tidak ada maksud mengatakannya. Aku terlalu terbawa emosi. Maafkan aku.”
Charlotte terdiam sampai tak mampu berbicara. Apa yang ia dengar bukan mimpi kan? Akhirnya ia mendengar permintaan maaf pria itu. Xavier terlihat tulus mengatakannya. Sorot matanya mengatakan semuanya. Ketulusan dan rasa bersalah itu, tampak sangat jelas.
“Aku juga minta maaf. Karena terlalu takut memberitahumu yang sebenarnya.” Tutur Charlotte. Pandangan mereka saling beradu hingga membentuk seutas senyum diantara keduanya.
“Baiklah. Masalahnya sudah selesai sampai sini. Tidak perlu mengungkitnya lagi.” Ucap Xavier.
__ADS_1
“Iya. Aku setuju.” Tiba-tiba Charlotte tertawa kecil, Xavier terheran melihatnya.
“Kenapa tertawa?”
“Tidak, aku hanya merasa lucu. Kau tahu, baru kali ini kita baikan. Selama ini kita seperti Tom and Jerry.” Charlotte tersenyum sendiri.
“Begitukah?”
“Hmm, kita bertengkar dan mementingkan ego masing-masing. Aku yang menolak pernikahan ini pasti membuatmu kesulitan. Mungkin benar, jika aku belum dewasa. Masih banyak yang harus kupelajari.” Tutur Charlotte.
“Hm, kau memang merepotkanku.” Balas Xavier tak menepisnya.
Charlotte kembali mengulum senyum. Mungkinkah ini awal pertemanan mereka?
Pertemanan? Kenapa ia tiba-tiba terpikirkan hal itu. Berteman dengan Xavier, terdengar lebih baik dibandingkan dengan permusuhan. Hubungan tidak baik yang mereka jalin. Awal pertemuan yang buruk diantara mereka dan berakhir pernikahan. Mungkin ini saatnya, ia berdamai dengan pria itu. Dan memulai hidup yang baik dengannya?
“Ngomong-ngomong kenapa kau mau dijodohkan? Kau bisa menolaknya kan? Kau pasti tahu menikahi anak kecil itu merepotkan, lalu kenapa kau lakukan?” tanya Charlotte penasaran.
“Sudah kukatakan alasanku.”
“Apa? Aku lupa.”
Cletak!
“Ouch! Sakit! Kenapa menyentilku?!” Charlotte mengusap keningnya karena ulah Xavier.
“Kau memang pelupa dan keras kepala. Dibandingkan melawanku, lebih baik kau perbaiki sifat jelekmu itu.” Sindir Xavier.
“Aaa, kau meledekku ya! Ini rasakan!” Charlotte memukul bahu Xavier. Pria itu tidak menghindar, menerima semua pukulan wanita itu. Mereka menikmati gurauan kecil mereka hingga….
Tik tik tik…. (Hujan turun)
“Hujan?” Charlotte mengadahkan tangannya keatas. Hujan deras mulai membasahi tanah pijakan mereka. Mendung yang awalnya tenang, kini mengubah kesenangan menjadi kepanikan.
.
.
.
Jgn lupa VOTE, follow juga IG Othor @nanayu_95
See you ^-^
__ADS_1