Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 88


__ADS_3

"Pa,"


"Kenapa kau kemari? Belum cukup memberi papamu ini masalah? Lihatlah sekarang, perusahaan kita bangkrut! Itu karena kau tidak bisa menahan diri! " sentak Julius di kursi kebesarannya. Penampilan pria itu sungguh berantakan. Rambut acak-acakan dengan kantung mata membesar. Fredy duduk didepan ayahnya dengan kepala menunduk.


"Biar aku yang menemui Xavier. Dan meminta maaf padanya."


"Untuk apa! Dia sudah marah padamu! Tidak ada gunanya, kita sudah jatuh! "


"...... Papa sudah peringatkan padamu sejak awal. Jangan ganggu keluarga Xavier! Pria itu bisa melakukan apa saja. Tapi kau tidak dengar dan terus menggoda istrinya! "


"Aku tidak melakukannya Pa! Itu semua salah paham. Aku dan Charlotte hanya sebatas teman. Ya, aku akui aku masih mencintainya. Tapi sekarang, aku tidak punya niat apapun untuk merebutnya dari Xavier. Percaya padaku Pa! Kali ini, biarkan aku bicara padanya." pinta Fredy.


Julius terdiam, ia memperhatikan putranya. Fredy tampak serius mengatakannya. Tapi ia masih ragu membiarkan Fredy bertemu Xavier. Ia takut terjadi apa-apa dengan putranya.


"Papa akan ikut."


"Jangan Pa. Biarkan aku pergi sendiri."


"Kau bisa mati ditangannya!! "


"Tidak semudah itu pa. Aku juga ingin memberitahu sesuatu padanya. Dia akan mendengarkan aku." Teguh Fredy.


Julius menghela nafas berat. "Baiklah. Pergi dan jangan buat onar lagi. Selesaikan masalah kalian baik-baik."


"Baik pak. Aku permisi. "


Fredy berdiri dan berjalan keluar ruangan. Hari itu juga ia akan berangkat ke Kota S, bertemu Xavier. Kalau bisa, ia juga ingin menemui Charlotte dan meminta maaf padanya.


^^


“Sayang aku ingin….”


“Jangan sentuh-sentuh!” Charlotte yang masih kesal menghempas tangan nakal Xavier dari atas perutnya.


“Sudah lama si junior tidak diberi asupan gizi. Kau tidak kasihan?” pinta Xavier.


Charlotte terdiam, namun tidak menoleh sedikitpun pada suaminya yang minta haknya malam ini. Xavier terus membujuk dengan memberi sentuhan di kaki dan lengan wanita itu. Seperti anak kecil yang merajuk minta dibelikan barang kesukaannya. Wajah Xavier dibuat semelas mungkin agar istrinya bisa luluh.


Ia tidak bisa lagi menahan diri untuk memadu kasih dengan Charlotte. Sudah beberapa minggu kejantanannya tidak mendapat kehangatan. Karena banyaknya insiden diluar kendalinya, mengharuskannya berpuasa. Dan mementingkan egonya.

__ADS_1


“Ayo sayang. Jangan marah, aku hanya bercanda tadi.” Gurau Xavier mencoba mencairkan amarah sang istri.


Charlotte hanya bergeming ditempatnya, masih merajuk. Tetap tak ingin disentuh. Hal itu tak menyurutkan tangan Xavier yang terus bekerja menemukan labuhannya.


Semakin lama tubuh Charlotte menjadi merinding akan sentuhan-sentuhan kecil yang memang disengaja untuk membangkitkan sesuatu dalam dirinya. Xavier memang tahu bagian-bagian tubuh mana yang mampu membuat istrinya tak berkutik.


Tangan Xavier mulai naik keatas, tepatnya dileher jenjang istrinya yang terekspos. Charlotte memakai Gaun tidur yang tipis dengan tali spageti di pundak. Belahan dadanya pun tercetak sempurna membuat Xavier menelan ludah beberapa kali. Panjang gaun itupun hanya sebatas lutut yang membuat tangan lain Xavier dengan mudah menyelinap masuk kedalam. Malam ini, Charlotte terlihat cantik dan menawan.


Suara merdu wanita pujaannya mulai terdengar indah dipendengaran pria itu. Xavier tersenyum puas. Ia dengan cepat membalikkan keadaan. Charlotte tidak akan bisa menahan efek setiap sentuhannya.


“Apa sayang?” goda Xavier tanpa berniat menghentikan tangan nakalnya. Ia menatap wajah Charlotte yang mulai terpejam. Menikmati.


“Itu, si-singkirkan…” Tangan Xavier dibawah sana mulai tak terkendali. Hingga membuat Charlotte tak kuasa untuk tidak meng*rang.


“Biarkan saja. Kau akan menyukainya.” Xavier tersenyum puas, ia semakin bersemangat membuat istrinya tak berdaya dengan permainan yang ia lakukan.


Tubuh Charlotte terangkat keatas secara perlahan. Matanya terpejam. Menggigit  bibir bawahnya. Ia merasa ada sesuatu yang mendesak ingin dikeluarkan dibawah sana. Benar-benar tidak tahan akan sentuhan yang makin membuat kepalanya pening.


Tangan Charlotte berusaha menggapai tangan kokoh Xavier untuk menyikirkannya, sebelum gelombang itu datang. “Xavihh…”


“Iya sayang, aku disini.” Xavier sungguh menyebalkan. Pria itu seolah tak memahami apa yang kini Charlotte rasakan. Ingin sekali Charlotte mendorongnya jatuh ke lantai.


Melihat Charlotte seperti itu, keinginan untuk menaklukannya semakin besar. Tangan kanan Xavier tak tinggal diam, bukit kembar yang masih tertutup kain sutra itu kini disentuhnya lalu di genggamnya dengan perlahan.


Charlotte terlihat seperti cacing kepanasan. Badannya meliuk kekanan dan kekiri, keatas dan kebawah. Sungguh pemandangan yang indah bagi Xavier. Ia semakin bersemangat. Wajahnya didekatkan pada Charlotte, lalu mencium bibir ranum wanita itu dengan mesra. Benda itu sejak tadi menggugah hasratnya.


Terjangan itu semakin datang, seiring tangan dibawah sana dipercepat. Charlotte merasa acak adul saat ini. Ia diserang disegala penjuru. Tidak ada jalan untuk melepaskan diri. Ia ingin segera mengeluarkan apa yang ia tahan. Satu detik… dua detik… sampai…..


“Uhh..” Rasa lega melingkupi dirinya saat semua sudah selesai, beriringan dengan dadanya yang membusung indah. Ada sesuatu yang mengalir deras dibawah sana. Charlotte tidak kuasa melihatnya, keringat seukuran biji jagung menetes memenuhi wajahnya yang lelah. Sungguh, permainan Xavier tidak bisa ia tolak begitu saja.


“Capek sayang?” Xavier masih saja bercanda disaat Charlotte tak sanggup berbicara. Wanita itu hanya diam mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.


“Sekarang, aku ingin masuk ke permainan utama kita. Bersiaplah.”


Kini Xavier berubah posisi menjadi diatas tubuh Charlotte dan mengungkungnya dibawah sana. Xavier mulai melepas kaos hitamnya dan melemparnya ke lantai, jatuh mengenaskan disana. Perut eightpack kotak-kotak keras nan liat langsung menjadi pemandangan luar biasa dimata Charlotte. Wanita itu menelan ludah dengan susah payah. Ia bisa melihat lelehan keringat dari leher Xavier meluncur kebawah sampai ke titik dekat perutnya. Matanya turun semakin kebawah dan menatap takjub benda tegang yang ada dibalik celana suaminya.


Xavier tersenyum melihat tingkah istrinya yang sejak tadi tak berkedip memandangi tubuh kekarnya. Dengan sengaja ia lepaskan sabuk dicelana dan melemparnya asal hingga berdenting keras ketika menyentuh lantai. Lalu ia menundukkan kepala dan meraih bibir merah menggoda istrinya. Tangannya mulai turun kebawah dan menyentuh dua bukit kembar wanita itu seraya mengintimkan ciuman mereka.


Teriakan untuk menyudahi terus meluncur dari mulut Charlotte tanpa bisa dicegah. Ia sudah dibuat gila dengan tindakan Xavier pada tubuhnya. Desiran darah seolah tak henti mengalir disekujur tubuhnya. Keringat bercucuran menunjukkan eksistensinya. Charlotte hanya diam menikmati apapun yang disuguhkan oleh suami tercinta.

__ADS_1


Xavier mulai menggerayangi setiap inci tubuh Charlotte, tangannya mencari resleting yang terletak dibelakang gaun tidur wanita itu. Menurunkannya perlahan, lalu melepasnya dengan mudah. Begitupun dengan bray dengan kain segitiga dibawah sana. Sekarang tubuh polos bayi istrinya terpampang nyata.


“Xavi.. aku…”


“Jangan ditutupi. Aku suka.” Cegah Xavier dengan suara seraknya. Ia menyingkirkan tangan Charlotte ke atas kepala.


Xavier kembali meraih bibir merekah itu dan menikmatinya hingga puas. Lalu turun kebawah, ke leher. Menggigit kecil bagian itu sampai membekas. Bibirnya kembali turun sampai menemukan dua gundukan indah yang menantang. Tanpa babibu, Bibir Xavier melahap keduanya.


Entah sudah berapa kali teriakan Charlotte menggema di dalam kamar itu, namun pria diatas tubuhnya tetap bermain dengan hebatnya. Charlotte sudah tak kuat, hingga terjangan hebat kembali menghantamnya.


Xavier sangat puas dengan reaksi istrinya sekarang. Xavier mulai melepaskan celana yang dipakainya begitupun dengan boxer yang melindungi sang junior. Dengan gerak cepat, ia tanamkan benda pusaka itu kedalam sarangnya. Hingga mereka berteriak bersama.


Xavier menciumi seluruh wajah istrinya, dari kening, kelopak mata, hidung dan berakhir dibibir ranum itu. Xavier berusaha menenangkan Charlotte yang kini  merasa kesakitan. Memeluknya dengan sangat erat, Seiring tubuhnya bergerak dibawah sana.


Waktu terus berputar, 10 menit, 30 menit bahkan sudah 50 menit mereka berpacu. Xavier belum menunjukkan kelelahan sama sekali, berbeda dengan Charlotte yang kini suaranya sudah tak terdengar sekeras sebelumnya. Hanya e-rangan kecil dengan tubuh lemas dibawah pria perkasa itu. Xavier terus menghujani ciuman padanya agar tetap tersadar. Mata Xavier beralih ke perut Charlotte yang masih datar.


Perasaan berkecamuk kembali menghantamnya. Ia menatap perut itu dengan rasa tak suka. Sejak menyentuh Charlotte, area itulah yang selalu ia hindari. Tidak ingin hatinya gundah akan kehadiran sosok didalamnya, Xavier mulai mempercepat penyatuan mereka.


Hantaman kenikmatan menyerang keduanya secara bersamaan. Nafas Charlotte maupun Xavier terengah-engah. Xavier berguling disamping wanita itu dan meraihnya kedalam pelukan. Lalu menyelimuti tubuh mereka.


“Tidurlah. Terima kasih sayang.”


“Iya, kau hebat Xavi.” Tanpa sadar ucapan itu terlontar dibibir Charlotte. Ucapan yang terselip rasa kagum akan keperkasaan lelaki yang kini menjadi suaminya. Xavier tersenyum dan mengecup kening Charlotte.


“Besok lagi ya, sekarang tidur.”


Charlotte sontak mendongakkan kepala bersiap memprotes. Namun Xavier langsung cepat-cepat menurunkan kepala wanitanya hingga bersandar sempurna didadanya. “Jangan mikir macam-macam. Dasar istri mes*mku. Tidur!”


“Kau yang mes*m!” Xavier terkekeh. Bisa saja istrinya membalas.


.


.


.


.


Panas dingin huhah!!!😋

__ADS_1


Boleh saran, boleh kritik, asal jgn menghujat.. hehe... saranghae 😍


Happy Reading 😘😘😘


__ADS_2