
“Xavi, tunggu! Aku belum selesai bicara!”
Bruk!
“Aduh.” Charlotte tak sengaja menabrak punggung Xavier. Perdebatan mereka masih belum usai.
“Berisik!” Xavier hanya menoleh sekilas dan kembali menjauh. Mereka berdua seperti mengukur luas kamar. Berjalan mondar-mandir tak jelas. Yang satu sibuk dengan rasa kesalnya yang satu sibuk mengekori satunya minta penjelasan yang sebenarnya sudah jelas pokok masalahnya.
“Jangan melarikan diri. Jelaskan dengan benar!” seru Charlotte masih pantang menyerah.
Xavier menghela nafas dan membuangnya. Ia berbalik badan tepat didepan pintu kamar mandi. Di pundaknya sudah tersampir handuk. Ia sepertinya berniat membersihkan diri. “Lupakan. Kau tidak akan mengerti.”
“Apa yang tidak kumengerti?” Charlotte mendekat hingga mengikis jarak mereka. Charlotte harus mendongak karena tubuh Xavier yang Nauzubillah tingginya.
“Jangan membuatku untuk membuatmu mengerti. Atau kau akan menyesal.” Bisik Xavier.
“Maksudmu?” tanya Charlotte memiringkan kepala tak mengerti.
Xavier maju dan meraih pinggang Charlotte. Tubuh kecil wanita itu menabrak Xavier. Keduanya saling pandang dengan artian berbeda. Xavier menatap dalam Charlotte. “Kau benar-benar tidak tahu?” tanyanya lagi.
“Tahu? Tahu apa?”
“Aku menyukaimu.”
Charlotte terdiam sesaat. Bibirnya terkatup rapat. Tak berkedip, netra cokelatnya menatap balik netra hitam kelam Xavier. Mencari kebohongan diwajahnya.
Xavier menyukainya? Apa ia tidak salah dengar? Charlotte tak tahu harus mereaksi seperti apa. Dia bingung sekaligus terkejut dengan pangakuan Xavier. Tidak pernah terbayangkan, pria kejam dan berkuasa seperti dia bisa menyukai wanita seperti dirinya. Apa kelebihannya? Yang disukai pria itu.
Mereka selalu bertengkar dan saling membenci. Sama-sama tidak menginginkan pernikahan diantara mereka. Apa yang membuat pria itu kini tertarik? Mereka baru berbaikan sehari, dan tiba-tiba saja…. Menyatakan perasaan padanya?
Apa ini lelucon?
“Kenapa tiba-tiba? Jika kau mengatakan itu agar aku menerima pernikahan ini….”
“Aku tidak memaksamu. Itu semua murni dari perasaanku. Dan itu tidak secara tiba-tiba.”
“Aku sudah tertarik padamu sejak pertemuan perjodohan itu.”
Charlotte hanya menatap Xavier tanpa sepatah katapun bicara. Ia masih kaget mendengar semuanya. Waktu itu, Xavier masih mengira ia seorang wanita jelek dan buruk rupa. Pertemuan mereka waktu itu bahkan membuat Charlotte harus merias diri sejelek mungkin agar pihak calon suaminya jijik padanya. Tapi, kenapa Xavier bilang menyukainya sejak saat itu? Seorang penguasa setampan dan sepintar Xavier tertarik pada wanita buruk rupa sepertinya? Apa itu normal?
__ADS_1
“Kau pasti berpikir aku gila? Ya, kuakui itu.”
‘Apa? Dia bisa baca pikiranku?’
“Kau tidak perlu tanya alasanku menyukaimu. Karena aku yakin kau tidak akan mengerti. Jadi, pahamilah apa yang kukatakan.” Jelas Xavier. Ia melepas Charlotte.
Melihat Charlotte tetap bergeming ditempatnya, Xavier seakan tahu, perasaannya hanya sepihak. Charlotte mungkin masih mempunyai perasaan pada mantan kekasihnya. Itu bisa saja, apa yang sebenarnya ia harapkan? Mendapatkan balasan yang sama? Konyol sekali. Xavier tertawa kecut dalam hati. “Jika itu mengganggumu, kau bisa lupakan semua yang kukatakan.”
Xavier membalikkan badan, ia harus menyingkirkan perasaannya sendiri. Atau hal itu akan membuatnya menjadi pria lemah. Xavier melangkah maju.
“Xavi…”
Xavier mendengar suara rendah Charlotte memanggil namanya. Ia langsung berbalik.
Cup!
Kecupan singkat dibibirnya membuyarkan pikiran Xavier. Charlotte berjinjit, menatap dalam sorot mata Xavier.
Sebenarnya Charlotte sendiri tidak tahu apa yang sudah ia lakukan. Ia tiba-tiba saja ingin mencium Xavier karena telah mengungkapkan perasaannya. Melihat Xavier memintanya untuk melupakan semua, ia merasa kesal. Mana mungkin ia bisa melupakan perasaan Xavier yang bersungguh-sungguh kepadanya.
“Maaf, aku tidak bermaksud-“
Xavier berbalik meraih tubuh Charlotte dan menciumnya bibirnya. Tangan satunya menahan kepala Charlotte, dan semakin memperdalam ciumannya. Charlotte awalnya hanya mengikuti permainan Xavier, namun lambat laun ia mulai membalas tapi tidak sepiawai pria itu. Mereka saling memberikan kenikmatan dan mengimbangi satu sama lain.
Sejenak, Xavier melepaskan ciuman mereka setelah itu kembali menciumnya lebih kuat dari sebelumnya. Xavier terlihat tak sabar, tangannya mulai bergerilya kemana-kemana. Membelit seperti gurita.
“Morning S** with me?” ucap Xavier dengan nafas memburu.
Charlotte ingin menolak namun ia tidak tega melihat kekecewaan diwajah Xavier lagi. Ia mengangguk lemah. Setelah mendapat lampu hijau, Xavier langsung mengangkat tubuh Charlotte masuk kedalam kamar mandi. Menutup pintu hingga hanya terdengar suara merdu keduanya.
^
Susanto sudah sampai dibandara Kota S. Sebentar lagi ia akan menemui Xavier untuk meminta bantuannya. Ia tidak sabar dan ingin segera menyelesaikan masalah perusahaannya. Jika saja ia tahu dari awal, ia pasti sudah membuat Xavier menanggung semua beban perusahaan dan tidak perlu mendapat masalah seperti ini.
Tujuan ia menikahkan putrinya dengan pria itu hanya karena keluarga Xavier akan menjamin perusahaannya agar tidak pailit. Ia percaya suatu saat perusahaannya akan menjadi salah satu perusahaan besar di Asia berkat songkongan perusahaan milik Xavier. Itu adalah harapan besarnya. Kali inipun semua impiannya harus tercapai.
Percuma ia menyerahkan Charlotte pada mereka, jika kondisi perusahaannya masih sama bahkan lebih sulit dari sebelumnya. Susanto berencana membuat Xavier memberikan seperempat kekayaan milik Charlotte yang ia dapat kepada perusahaannya. Tentunya dengan dalih memperbaiki keuangan perusahaan.
Susanto mulai memesan taksi online, untuk mempercepat perjalanannya.
__ADS_1
^
Tangan Charlotte bermain-main membentuk pola melingkar diperut sixpack Xavier. Ia dan Xavier baru saja menyelesaikan aktivitas mereka yang melelahkan. Charlotte ingin sekali tidur, namun mengingat waktu sudah hampir siang, ia harus membuatkan makan siang untuk Xavier. Walaupun ia tidak bisa memasak, tapi setidaknya ia harus membantu didapur. Mungkin saja suatu saat ia akhirnya bisa memasak setelah melihat langsung proses pembuatannya.
“Xavi, kau sudah tidur?” panggil Charlotte. Ia mendongakkan kepala keatas. Suara nafas pria itu terdengar halus, menunjukkan telah tertidur lelap. Melihat itu, bibir Charlotte tertarik keatas. Ia merasa gemas dengan suaminya itu.
“Tidurlah, bangun kalau aku sudah selesai menjalankan misi yah.” Charlotte terkekeh pelan. Lalu beranjak dari tempat tidur. Ia melilitkan selimut ditubuhnya dan berjalan ke lemari pakaian.
Sepuluh menit kemudian, Charlotte turun kebawah, ia langsung berjalan ke arah dapur. Disana sudah ada 2 koki dan 3 pelayan membantu membuatkan makanan. Charlotte menghampiri mereka.
“Selamat siang Nona.” Sapa mereka bersama. Membungkuk sopan padanya.
“Siang. Apa menu siang ini?” tanya Charlotte penasaran. Ia mengedarkan pandangannya, tampak beberapa bahan makanan sudah disiapkan.
“Kami akan membuat menu hidangan Italia, yaitu Roti panggang Bruschetta, Steak Fiorentina, Truffles, dan juga ada Ribollita Soup. “ jelas Koki.
“Ri-Ribol apa?” Charlotte tak mengerti.
“Ribollita Soup Nona, semua makanan itu adalah kesukaan Tuan Muda.”
“Oh, ya ya… kenapa harus makanan Italia. Tidak ada Indo?”
“Tentu ada Nona, kami sudah siapkan menu lainnya. Silahkan dilihat, ini menu kita untuk hari ini. Nona bisa minta menu yang lain.” Ucap Koki seraya menyerahkan daftar menu harian. Charlotte mengambilnya dan melihat berbagai macam masakan. Dari mulai lokal sampai luar. Kebanyakan dari menu selalu ada makanan Italia. Kenapa begitu?
“Kenapa ada makanan Italia? Apa Xavier tidak suka makanan Indo?” Charlotte masih kepo.
“Itu karena Tuan Muda berasal dari sana Nona.” Dona datang menghampiri Charlotte.
.
.
.
Vote nya dong bestie....
Biar up nya dikencengin.......
Boleh kok saran mau ending yg bgaimna ....Happy or Sad?
__ADS_1