
Satu jam yang lalu, kedua sahabat Charlotte kembali ke Hotel mereka. Sejak kedatangan Mona dan Lexy, Charlotte meminta keduanya untuk menginap di Mansion. Tapi sayangnya, mereka langsung menolak ajakan itu. Mereka berdalih tidak ingin mengganggu kebersamaan Charlotte dan Xavier disana. Tapi alasan utama mereka sebenarnya tentu saja tak ingin mencari masalah dengan pria itu. Bagi mereka, suami Charlotte itu sangat menakutkan! Bicara 5 menit dengan Xavier saja sudah membuat mereka gemetar ketakutan, bagaimana jika berjam-jam berada satu tempat dengan pria itu? Tentu mereka masih ingin hidup lama.
Charlotte tengah melamun di Balkon kamarnya. Menatap pemandangan didepannya. Pohon-pohon cemara hijau terbentang luas disekeliling Mansion bersama puluhan pohon lainnya. Rindangnya dedaunan yang tertiup membawa semerbak angin menyegarkan. Siapapun orang disana, pasti akan merasa tenang dalam berpikir.
Namun berbeda dengan wanita cantik berambut hitam kecoklatan itu. Manik matanya tampak kosong, dahi berkerut dan bibir terkatup rapat. Semua perkataan sahabatnya beberapa jam yang lalu, telah berhasil menyita pikirannya. Ia memikirkan perusahaan Fredy yang dikatakan sudah bangkrut. Ia takut, jika apa yang ia dengar kemarin sore ternyata benar. Xavier, suaminyalah yang telah menyebabkan kebangkrutan perusahaan Nahendra Group.
Mata Charlotte teralihkan pada benda bergerak dibawah sana. Ia melihat mobil Xavier memasuki halaman Mansion bersama dua mobil pengawalnya. Xavier memang selalu membawa orang-orangnya saat bekerja. Untuk keamanan. Melihat kedatangan suaminya, kening Charlotte berkerut. Ia bingung, tidak biasanya Xavier pulang secepat ini.
Suaminya turun dari mobil setelah Dean berhasil membukakan pintu untuknya. Raut wajah Xavier tampak muram dan terkesan dingin. Para pelayan yang menyambutnya pun hanya dilewati begitu saja. Sepertinya suaminya sedang dalam kondisi tidak baik. Charlotte memutuskan turun kebawah menemui suaminya.
^
“Tuan Muda, saya ingin tanya sesuatu.”
Pertanyaan Dean langsung menghentikan langkah Xavier yang hendak menuju lift. Xavier langsung berbalik berhadapan dengan Dean. Mereka hanya berdua disana. Para pelayan maupun pengawal sudah pergi kembali ke pekerjaan mereka masing-masing.
“Ada apa.”
“Ini tentang Tuan Fredy. Kenapa Anda memukulinya seperti itu?”
Xavier sejenak diam, lalu berjalan satu langkah kedepan. “Kenapa? Kau tidak suka?” Pandangannya tajam tampak tak suka.
“Bukan begitu Tuan. Saya-“
“Katakan saja apa yang ingin kau katakan!” sela Xavier cepat.
“Baiklah.” Dean mengambil nafas. Mode serius ia perlihatkan diwajahnya. “Saya hanya ingin tanya alasan Anda menghancurkan perusahaan Tuan Fredy. Bukannya Anda sudah membatalkan perintah itu?”
“Karena dia menyusahkan begitupun dengan perusahaannya.”
“Hanya itu? Tidak ada alasan lain?” desak Dean seolah tak percaya.
__ADS_1
“Ya. Apa perlu alasan lain?” Xavier justru balik bertanya. Suaranya sangat tenang, namun mematikan. Sekali menjawab seperti akan mendapat hukuman. Sikap dingin Xavier seperti membekukan sekelilingnya.
“Perusahaan Nahendra Group sama sekali tidak bersenggolan dengan bisnis kita. Semua orang tahu, bidang kita berbeda dengan perusahaan itu. Lalu kenapa Tuan Fredy menyerahkan sisa asset perusahaannya kepada Anda setelah mengalami kebangkrutan? Kecuali………. Anda sudah merencanakan semua itu sedemikian rupa? Katakan pada saya jika saya salah sangka!” ujar Dean.
Xavier hanya diam, tak langsung memberi tanggapan. Kedua tangannya dimasukkan kedalam saku celana seraya mengangkat rahangnya. Bersikap apatis.
“Kalau benar, memangnya kenapa? Aku berhak meng-Akuisisi perusahaan yang aku beli. Perusahaan Nahendra Group sudah berakhir.” Ucap Xavier dengan menepiskan senyum smirk. Senyum kemenangan.
Dean terperangah. Ia tak menyangka mendapat jawaban jujur dari atasannya itu. Tuan Muda memang pelakunya. Kenapa dan bagaimana melakukannya? Apa motif besar dibalik rencana jahatnya itu. Mungkinkah…… karena masalah dengan Nona Charlotte waktu itu??
“A-apa Anda masih memikirkan hubungan Nona dan Tuan Fredy? Apa Anda …. Masih memiliki dendam padanya?” tanya Dean dengan dugaan buruknya. Menahan nafas, berharap semua itu tidak benar.
Mulut Xavier bungkam, ia seolah tak peduli ucapan Dean. Ia memilih melanjutkan langkahnya menuju lift.
DEG!
Kedua mata Xavier melebar seketika saat ia berbalik. Didepan pintu lift, dilihatnya Charlotte berdiri seraya memandanginya. Tatapan mata cokelat terang itu tak terbaca. Namun dilihat dari sorot wajahnya, Xavier yakin jika istrinya itu telah mengetahui sesuatu. Ada setitik kekecewaan dalam netra cokelat itu.
“Char..”
“Sh*tttt!!” umpat Xavier. Pria itu langsung berlari kearah tangga. Dean hanya diam, karena ia juga merasa kecewa atas tindakan Xavier. Ia bingung sesaat hingga kemudian Dean mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Selamat siang. Ada yang ingin saya sampaikan.”
^
Xavier berlari kencang menaiki ratusan anak tangga menuju lantai kamarnya. Ia sangat takut jika Charlotte mendengar semua yang ia katakan pada Dean. Bodohnya dia, telah ceroboh bicara ditempat yang bisa didengar oleh istrinya. Karena terbawa emosi, ia sama sekali tak pedulikan sekeliling dan asal ucap! Sekarang, Charlotte pasti marah. Istrinya akan tahu jika ia sudah berbohong!
“Oh Sh*tttt!! F*ck!” umpatan kasar terus melucur bebas dari mulutnya. Meruntuki kebodohannya yang tidak bisa mengontrol emosi. Gara-gara bertemu Fredy\, ia tidak bisa berpikir jernih.
Xavier meloncati 3 anak tangga sekaligus hingga ia berhasil sampai dilantai yang ia tuju. Beriringan dengan pintu lift yang terbuka. Dilihatnya, Charlotte keluar dari sana. Ia langsung berlari menghampiri wanita itu.
__ADS_1
“Char…”
Ditariknya tangan istrinya hingga tubuh mereka berhadapan. Nafas Xavier masih terengah-engah. Keringat bercucuran dikeningnya.
“Lepas!” Charlotte menghempaskan begitu saja tangan Xavier. Wanita itu enggan melihat suaminya, ia kembali melanjutkan langkahnya. Xavier bergerak cepat, ia mendahului istrinya dan menghadangnya di depan pintu kamar mereka.
“Dengarkan aku dulu.”
“Apa yang harus aku dengar? Kebohonganmu lagi?” Mata Charlotte mulai berkaca-kaca dan sialnya Xavier tak tega melihat itu.
“Kau salah dengar. Semua tidak seperti yang kau dengar.”
“Sayangnya aku dengar semua pengakuanmu! Kau lah orang yang menyebabkan perusahaan Paman Julius bangkrut!” seru Charlotte.
“Char…”
“Jangan pegang-pegang!” Charlotte memundurkan tubuhnya saat Xavier ingin memeluknya. Pria itu tampak mendesahkan nafas ke udara seraya berkacak pinggang. Terlihat bingung harus menjelaskan seperti apa.
“Masih tidak mau mengakuinya?” tanya Charlotte memiringkan kepala. Sorot matanya tampak kecewa.
Xavier menghela nafas, lalu kembali menatap netra cokelat milik istrinya. “Ya. Memang aku. Aku yang sudah merencanakan kehancuran perusahaan itu. Rasa ingin balas dendam menguasaiku! Aku marah dan ingin melihat mantan kekasihmu itu menderita! Kulakukan semua itu demi kebaikan kita bersama.”
“Kebaikan kita?! Kebaikan yang mana yang bisa terwujud dengan cara menghancurkan orang lain?? Tindakan yang kau lakukan itu sudah keterlaluan! Apa salah Fredy, sampai kau ingin balas dendam?!” tanya Charlotte.
“Dia telah melakukan kesalahan besar, dan aku tidak bisa memaafkannya.” Ujar Xavier dengan nafas yang berat. Mengingat pria itu yang telah membuat istrinya hamil. Pikiran negative itu sangat melekat di benaknya! Dan kenyakinannya semakin besar setelah melihat Fredy tampak sangat bahagia atas kehamilan Charlotte. Hal itu membuat darah Xavier mendidih!
“Apa salah dia Xavi? Tolong jelaskan padaku?” tanya Charlotte dengan suara rendah, berharap mendapat penjelasan dari suaminya. Ingatan akan perkataan menyakitkan Xavier tempo lalu, kembali terngiang. Matanya melebar dengan wajah terkejut, “Apa kau…. Masih sakit hati tentang kejadian itu? Dihotel?”
Xavier mengalihkan pandangannya kesamping, dengan kedua tangan terkepal. Charlotte langsung paham. Suaminya masih menyimpan rasa sakitnya.
.
__ADS_1
.
Gas 2 bab, Vote-nya juga gas poll yess... See youu ^-^