Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 60


__ADS_3

“Kenapa melihatku? Apa ada sesuatu diwajahku?”


Charlotte menakup wajahnya dengan tangan. Ekpresinya bingung, ketika Xavier memandanginya terus menerus.


“Kemarilah.”


“Hah?”


“Kemari…” Xavier mengayunkan jari telunjuknya, agar Charlotte mendekat.


Charlotte sedikit menggeser tubuhnya. Sikap Xavier yang ambigu, membuat Charlotte mengikuti ucapannya.


Cup…


(Blush)


Wajah Charlotte berubah merona dalam sekejap. Secara tiba-tiba, bibir Xavier telah mendarat sempurna dipipinya yang cubi. Menciumnya dengan lembut. Sejenak, Charlotte terdiam. Berusaha mencerna apa yang dilakukan Xavier.


Xavier melepaskan ciumannya, menatap Charlotte yang masih diam mematung tanpa berkedip. Sepertinya istrinya sedang syok.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Xavier seraya menepuk pundak Charlotte.


“Ke-kenapa?....” suara Charlotte tak jelas.


Xavier memajukan wajahnya, “Apa?”


“Ka-kau… ke-kenapa kau menciumku?” tanya Charlotte dengan terbata-bata. Wajahnya kini seperti kepiting rebus. Memerah semakin merona.


Xavier tertawa kecil, merasa lucu saat Charlotte mempertanyakan hal yang dianggap biasa. “Apa itu mengganggumu?” tanyanya.


“T-tidak sih.. Cuma, embb…” Charlotte tampak kebingungan mengutarakan apa yang ia rasakan. Ini bukan pertama kali Xavier menciumnya. Kenapa jantungnya terus berdebar tak karuan? Perasaan macam apa yang ia rasakan?


“Kalau begitu, ayo kita tidur.” Ajak Xavier.


“I-iya.”


^^


Pagi menjelang, diiringi cuaca mendung dengan gerimis yang masih membasahi bumi. Semalam penuh, hujan tiada henti seolah sedang memberitahu penghuni semesta agar tetap terjaga oleh hawa dingin yang menusuk sampai ke tulang. Begitupun dengan langit, masih malu menampakkan cerahnya pagi ini.


Dikamar yang temaram, Xavier terbangun dengan mata letih, enggan untuk beranjak dari tempat tidur. Charlotte merawatnya dengan baik hingga ia tak ingin pergi dari tempatnya terbaring. Semalaman, Charlotte terus membuat dirinya hangat. Berbagai cara wanita itu lakukan agar tubuhnya tetap hangat. Mulai dari memakaikan baju serta jaket tebal, membungkusnya dengan selimut dan juga memeluknya. Xavier tak mengira bisa mendapatkan perlakuan manis dari wanita yang selalu acuh padanya. Ia merasa senang sekaligus bahagia bisa merasakan pagi yang luar biasa saat terbangun.


Tangan Xavier terulur untuk meraih sosok disampingnya, agar ia kembali merasakan kehangatan itu.


Tunggu…  Sesaat ia merasa hampa.

__ADS_1


Xavier melebarkan matanya, melirik tempat tidur disampingnya. Kosong. Istrinya tidak ada disana. Kemana wanita itu pergi sepagi ini?


Xavier mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. Tidak ada tanda-tanda keberadaan siapapun. Ia kemudian bangkit dan turun dari tempat tidur. Xavier berjalan ke pintu kamar, membukanya lalu melongokkan sedikit kepalanya keluar.


Dilantai tiga itu, tak ada siapapun yang ia temukan. Sepertinya para pelayannya pun juga telah selesai mengerjakan tugas mereka masing-masing. Padahal, ia ingin tahu, dimana istrinya berada.


Pada akhirnya, Xavier masuk kembali kedalam kamar.  Ia meraih telepon rumah dan menghubungi kepala pelayan.


“Selamat pagi Tuan Muda. Ada yang bisa saya bantu?” suara Dona terdengar jelas diujung sana. Xavier mendudukkan tubuhnya di sofa seraya menguap menahan kantuk.


“Dona, apa kau tahu ‘dia’ dimana?”


Sesaat tidak ada jawaban dari Dona. Sepertinya kepala pelayannya itu sedang berpikir.


“Apa maksud Tuan, Nona Muda?”


“Ya. Siapa lagi.” Xavier mendengus. Ia seolah tak peduli jika Dona sedang berpikir keras tentang pertanyaan ambigunya. Dona pasti berpikir jika Tuan Muda sedang mencari Dean, atau pengawalnya yang lain. Tidak biasa, Tuan Mudanya mencari orang yang jelas-jelas ada disampingnya semalaman penuh.


“Maaf Tuan, saya tidak tahu keberadaan Nona. Biarkan saya mencarinya lebih dulu.”


“Tidak perlu, biar aku saja. Lanjutkan saja tugasmu.” Xavier langsung menutup telepon. Ia memijat pelipisnya yang terasa pening.


“Kemana dia pergi?”


Xavier tak mau berpikir lama-lama, ia segera membersihkan wajah dan keluar dari kamar, mencari keberadaan Charlotte.


^


“Apa Tuan Muda masih mencari Nona?” ucap Dona setelah membungkuk untuk menyapa Xavier.


“Ya. Kau sudah menemukannya?”


“Belum Tuan, mu-“


Prang!!


Terdengar suara barang pecah dari arah dapur. Xavier dan Dona saling lempar pandang.


“Apa itu?” tanya Xavier.


“Saya kurang tahu Tuan, lebih baik kita melihatnya langsung.” Saran Dona.


Xavier segera menuju tempat suara berasal. Begitupun Dona yang mengikutinya dibelakang. Sayup-sayup terdengar suara orang berbicara. Xavier menghentikan langkahnya saat menemukan apa yang ia cari.


“Nona, saya akan bantu membersihkannya.”

__ADS_1


“Jangan! Biar aku saja.” Charlotte berjongkok untuk mengambil pecahan cobek batu yang tidak sengaja ia jatuhkan. Charlotte terlihat lesu, bibirnya terkatup rapat dengan raut wajah sedih.


“Kenapa aku tidak bisa melakukannya sih? Padahal sudah kulakukan sesuai resep kalian.” Keluh Charlotte dengan wajah muram.


“Nona sudah melakukannya dengan baik.”


“Baik apanya! Lihat itu, semua gosong….. Hiks hiks…. Bagaimana cara makannya kalau begitu hasilnya… Xavi pasti tidak akan memakannya. Hiks.” Charlotte menangisi bubur buatannya yang gosong dipanci. Bau menyengatnya sampai tercium sampai keluar. Bubur ayam yang sengaja ia buat untuk Xavier yang sakit.


Kedua pelayan yang menemani Charlotte, hanya bisa tertunduk. Tidak tahu harus melakukan apa. Charlotte memang tidak menyalahkan mereka, semua itu murni kesalahannya.


Melihat Charlotte menangis seperti anak bayi, Xavier menahan tawa. Pria itu berdiri dipintu menikmati tingkah konyol istrinya. Charlotte rela bangun pagi-pagi hanya untuk memasakkannya bubur. Sulit dipercaya, tapi memang benar terjadi.


“Kalau begitu, ambilkan bahannya. Aku akan mencobanya lagi. Kali ini harus berhasil.” Ujar Charlotte pantang menyerah. Ia kembali memulai ritual memasak. Charlotte terlihat bersemangat.


“Tuan…”


“Diam Dona, kau tidak lihat aku sedang sibuk.” Saut Xavier seolah tak ingin diganggu saat dirinya tengah menikmati kejadian langka didepannya. Lebih menarik minatnya dari apapun.


Dona tersenyum, sadar dengan apa yang dimaksud Tuan Mudanya. Ia memilih pergi meninggalkan “kesenangan” yang dimaksud pria itu.


Xavier menyandarkan tubuhnya dengan nyaman. Kedua tangan bersedekap didada.  Sesekali bibir seksinya mengulas senyum lucu. Sangat menikmati apa saja yang dilakukan Charlotte. Charlotte berjibaku dengan panci dan beberapa alat masak lainnya. Tidak ada satupun pelayan yang boleh ikut campur didalam pembuatan masakannya. Mereka hanya melihat dan membantu menyediakan kebutuhan yang diperlukan saja.


Charlotte cukup telaten mempraktekkan pembuatan bubur ayam sesuai resep. Ia terus menerus mengeluh saat bentuk makanannya terlihat aneh.


“Huft…” Charlotte terduduk lesu, menatap sedih hasil makanannya sendiri.


“Ada apa Nona?”


“Aku gagal lagi.” Wajah Charlotte kembali muram. “Rasanya asinnn! Kenapa bisa asinnn???” Mendongak menatap pelayan satu persatu. Mencari pendapat dibagian mana ia salah memasukkan bumbu.


“Bikin malu.” Xavier tak kuasa menahan diri dan akhirnya masuk untuk menghampiri Charlotte. Tak ayal wajah jenakanya masih terlihat dibeberapa ekpresi datarnya.


“Ke-kenapa ka-u ada disini?” Charlotte berdiri secepat kilat saat mengetahui Xavier datang. Xavier memberi kode dengan matanya agar para pelayan pergi. Tidak butuh dua kali perintah Xavier, mereka langsung keluar.


Xavier mengambil tempat duduk Charlotte. Pria itu menyilangkan kakinya dengan masih bersedekap dada. Pandangannya tak lepas dari Charlotte, sarat akan penilaian kepadanya. Kemudian pandangannya beralih kesekeliling. Melihat alat-alat masak kececer dimana-mana, bahan makanan tumpah ruah dilantai. Hasil masakan yang tak sesuai ekpektasi. Begitu berantakan sampai dapur itu tak berbentuk layaknya dapur pada umumnya. Xavier menggeleng-gelengkan kepala saking herannya.


“Kau mengotori dapur milikku. Kenapa tidak kau hancurkan semua isinya?”


Charlotte ikut-ikutan melihat sekitarnya. Ia menelan ludah dengan susah payah. Tak dipungkiri, apa yang dikatakan Xavier memang benar. Ia sudah mengacak-acak dapurnya dan melakukan hal memalukan! Dan yang paling parah, Xavier mengetahuinya!


“Hehe… Xavi, kau seharusnya tidak kemari. Kenapa bangun, tidur lagi ya..” pintanya sambil tersenyum malu. Dasar Charlotte payah! Jeritnya dalam hati.


.


.

__ADS_1


. Dasar Charlotte, masak aja asin apalgi othor.. wkkwwkkwk


__ADS_2