Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 76 (Part 1)


__ADS_3

Pyar!


Tanpa sengaja, Xavier menjatuhkan asbak rokok yang terbuat dari kaca disampingnya. Pria itu tertunduk dengan mata kebingungan. Tangannya memegang keningnya tampak kalut.


Selama ini Markas pusat sangat dijaga ketat olehnya. Berbagai data penting maupun peralatan berbahaya ada disana. Semua bisnis gelap yang ia jalankan terpusat pada satu tempat itu. Tidak ada orang yang tahu letak pasti markas pusat miliknya. Bahkan di peta pun sengaja ia hilangkan. Tapi, entah bagaimana bisa, Cossa mendapatkan informasi itu. Xavier kecolongan. Ia tidak bisa membiarkan rahasia besarnya terungkap oleh organisasi Cossa yang notabennya musuh besar Xavier.


Dean berniat memanggil pelayan untuk membersihkan pecahan asbak dilantai. Namun Xavier menahannya.


“Dean, segera hubungi Kakek. Ah tidak, Segera bawa intelijen terdekat kita kesana. Amankan semua data-data. Jangan sampai Cossa mendapatkannya! Cepat!!!”


“Baik!” Dean segera pergi keluar ruangan.


Xavier mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi seseorang. “I-ini aku. Kau dimana?”


“….Aku butuh bantuanmu. Apapun akan kuberikan asal kau ke tempat yang kuperintahkan!”


“……Cossa berulah, aku tidak bisa datang kesana tepat waktu. Tidak bisa kujelaskan sekarang. Aku minta padamu, tahan mereka selama mungkin! Aku tidak peduli kau mau bunuh mereka atau memusnahkan mereka, asal jangan kau biarkan mereka menginjakkan kaki di wilayahku!!” Teriak Xavier dengan nafas memburu. William yang ada didepannya dibuat tercengang dengan kepanikan Xavier.


Walaupun ia tidak terlalu mengenal pria itu, tapi ia yakin Xavier bukan tipe orang yang mudah terpancing emosi. Pria itu selalu bersikap dingin dan berwibawa. Jika pria itu sampai sepanik ini, pasti masalahnya sangat besar. Tuan Dean bilang, markas pusat dihancurkan oleh Cossa? Apakah mereka adalah musuh Tuan Muda Xavier? Jika benar, masalah yang dihadapi Tuan Muda Xavier sangatlah besar.


Xavier bangkit dari kursinya dan berjalan pergi. Ketika ia hampir sampai di pintu, ia baru teringat dengan William. Ia berbalik dan memandang pria itu tajam.


“Kau, aku minta padamu. Jaga istriku! Apapun yang terjadi, jangan biarkan dia pergi!” Perintah Xavier penuh penekanan.


“Baik Tuan. Saya akan menjaga Nona dengan nyawa saya.”


“Bagus. Satu hal lagi, jangan beritahu padanya masalah ini. Aku harus pergi ke Sisilia segera, jika ada hal penting segera beritahu padaku!”

__ADS_1


“Baik Tuan!”


Setelah Xavier melimpahkan tugas penting pada William, pria itu langsung pergi dari ruangan. Menyisakan William seorang diri.


Sore itu, Xavier bertolak meninggalkan Negara itu menggunakan pesawat jet pribadinya. Terbang ke Italia. Ia harus bergerak cepat sebelum apa yang ia takutkan terjadi. Dean mewanti-wanti William untuk menjalankan tugasnya dengan baik. Dean juga menambahkan tugas penting lainnya padanya. Setelah mengantar kepergian Xavier, William segera pergi menuju kediaman keluarga Hasana.


^^


“Untuk apa dia kesana? Kau pasti bohong kan?” Raut wajah Charlotte tampak tak percaya dengan perkataan William. Suaminya tidak mungkin meninggalkan begitu saja tanpa memberitahu dirinya.


“Saya tidak berbohong Nona. Tuan sedang mengurus bisnisnya disana.”


“Bisnis apa?! Dia tidak pernah pergi kemana-mana sebelumnya. Kalian pasti bersekongkol untuk membuatku semakin bersalah kan? Iya Kan!” Air mata Charlotte kembali jatuh.


“… Beritahu padanya. Aku sudah mengakui kesalahanku. Suruh dia kemari! Bawa dia menemuiku. Aku ingin bertemu Xavier.” Ucapnya seraya mengusap air matanya.


“Kapan dia kembali?! Katakan padaku!”


“Saya tidak tahu Nona. Mohon maaf.”


Tubuh Charlotte lemas. Ia berpegangan pada daun pintu. Ia tidak tahu lagi bagaimana cara agar bisa menemui Xavier. Pria itu pergi. Meninggalkannya begitu saja. Tidak ada kata pamit ataupun ucapan manis. Dalam sehari, hubungan mereka berubah menjadi orang lain. Charlotte merasa sedih, ia merasa dicampakkan begitu saja. Setidaknya, biarkan ia menjelaskan semua pada Xavier sebelum ia pergi.


“Nona, Nona tidak apa-apa?” William tampak cemas melihat Charlotte yang seperti orang linglung.


“A-aku tidak papa. Kau pergilah.”


“Jika Nona membutuhkan sesuatu, beritahu pada saya.”

__ADS_1


Charlotte menggelengkan kepala. Ia lalu menutup pintu. Charlotte berjalan lesu menuju kamarnya. Sesampainya di kamar, ia langsung menutup pintu dan menguncinya rapat-rapat. Ia berlari ke tempat tidur dan melempar tubuhnya disana. Seketika tangis Charlotte pecah.


“Kau jahat Xavi! Kau pria jahat!! Hiks…. Teganya kau meninggalkanku……Hiks”


^^


Tok! Tok!


Charlotte menggeliat dalam tidurnya. Ia berdecak pelan dengan mata tertutup saat pintu kamarnya diketuk dari luar. Hari ini ia tidak ingin kemana-mana, ia hanya ingin dikamarnya. Setelah semalaman menangis tanpa henti, lewat dini hari tangis Charlotte terhenti. Ia tertidur dengan muka sembab dan air mata yang mengering. Akibatnya, pagi ini Charlotte tidak bersemangat melakukan rutinitas harian.


Tok Tok Tok Tokkk!!


Suara ketukan pintu mulai tak terkendali. Membuat ia terpaksa membuka mata. Pupil matanya hanya selebar satu senti, wajahnya bengkak. Tubuhnya juga letih. Ia ingin sekali mengumpati siapapun yang sedang mengganggu tidurnya!


“Siapa sih?” gumam Charlotte kesal.


“Keluar dasar anak malas! Cepat bangun dan turun untuk sarapan! Apa didalam sana kau pingsan!??”


Suara ibu tirinya sungguh menambah mood buruknya pagi ini. Setelah beberapa saat, hanya terdengar langkah kaki menjauh. Sepertinya wanita itu sudah pergi. Charlotte terpaksa turun dari tempat tidur. Berjalan malas ke kamar mandi. Hari ini akan menjadi hari hampa baginya.


.


.


.


Jgn lupa Vote nya bestie.... See you ^-^

__ADS_1


__ADS_2