Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 45


__ADS_3

“Kenapa kau pergi ke tempat ini?”


Charlotte menoleh saat Xavier bertanya kepadanya. Kini pria itu duduk disampingnya. Charlotte semakin mendekap tubuhnya, sekilas menatap langit diatasnya.


“Aku merindukan ibuku.”


Xavier sontak menoleh, “Ibumu?”


“Kau pasti sudah tahu kan, tentang ibuku. Dia pergi meninggalkanku saat aku masih kecil. Saat itu aku  hanya bisa menangis sepanjang hari.”


“Sejak kecil aku terlalu bergantung padanya. Hingga aku tidak tahu lagi, kapan aku bisa melepaskan semuanya. Ketika aku menangis, ibuku selalu mengajakku ke luar. Duduk ditaman dimalam hari dan melihat bintang sambil menyanyikanku sebuah lagu. Itu sangat menghiburku. Sekarang dia tidak ada, aku menjadi seperti orang tanpa tujuan.” Charlotte menunduk, bulir air mata jatuh membasahi pipinya, mengingat setiap detik kebersamaannya dengan ibunya. Seakan momen-momen kecil itu masih terasa hangat dalam ingatan.


“Jadi karena itu, Kau jadi liar seperti sekarang.” Xavier melontarkan kata-kata seolah tak peduli. Tetapi kedua sorot matanya menatap dalam pada Charlotte.


“Kau tidak tahu apa yang kualami. Hidup tanpa kasih sayang ibu, seperti hidup di neraka.” tutur Charlotte.


“Kau masih punya ayah dan juga ibumu, bahkan kau punya adik.” Ucap Xavier, nada bicaranya seolah sedang menyindir. Memancing reaksi wanita itu.


Charlotte tertawa kecut, “Mereka? Kupikir, selama ini aku hanya dijadikan….” Charlotte langsung terdiam. Tidak berniat melanjutkan ucapannya. Dia memalingkan wajahnya, menahan diri untuk tidak berkata lebih jauh. Xavier tidak boleh tahu tentang sifat buruk keluarganya. Walaupun dalam hati, Charlotte ingin memberitahu semua orang tentang hal itu. Bagaimana mereka menganggap dirinya sebagai alat menyelamatkan harta mereka.


“Kenapa diam? Lanjutkan saja yang mau kau katakan.”


“Tidak. Tidak ada yang perlu kukatakan padamu.” Bantah Charlotte memilih menutup rapat mulutnya.


“Setiap tindakan pasti akan mendapat hasilnya. Begitupun dengan mereka.”


“Tunggu. Kau ini bicara apa sih?” Charlotte bingung maksud Xavier. Kenapa tiba-tiba membahas hal semacam itu?


Xavier tersenyum penuh arti, “Kau terlalu naïf.”


“Hah?”


“Jangan mudah dimanfaatkan orang lain. Kau tampak bodoh jika seperti itu.”


“Aku bodoh?! Lalu kenapa kau menerima pernikahan ini jika tidak menginginkannya?” Charlotte tak terima. Kini berbalik menyerang Xavier.


“Siapa bilang aku tidak menginginkannya? Bukankah seharusnya kau beruntung bisa menikah denganku.” Xavier tersenyum miring.


“Seenaknya kalau bicara. Jujur saja, aku tidak mau menikah dengan pria menyebalkan sepertimu!” ucap Charlotte menggebu-gebu, menolak mentah-mentah pernyataan tidak masuk akal dari Xavier. Pria disampingnya ini punya banyak alasan yang bisa disombongkan. Charlotte tak habis pikir dengan semua itu.

__ADS_1


“Jadi, kau hanya ingin menikah dengan mantan kekasihmu itu.”


“Hei, Fredy tidak ada hubungannya dengan semua ini. Lagipula, dia akan menikahi Sinta.” Charlotte membuang muka terlihat tak senang mengatakan itu. Reaksi Charlotte tak lepas dari pandangan Xavier. Pria itu menyalahartikan sikap Charlotte dan mengira wanita itu masih memiliki perasaan dengan mantan kekasihnya. Melihat hal itu, Xavier tampak terganggu.


“Jika kau masih mencintainya, kenapa tidak kau kejar.” ucap Xavier.


“Cinta? Siapa juga yang mencintainya.” Bantah Charlotte.


“Kau.”


“Kami sudah berpisah. Dan itu keputusan bersama. Fredy lebih memilih Sinta. Dia sudah tidak mencintaiku lagi.” Ucap Charlotte seraya menggigit bibir bawahnya. Sungguh, kenapa dirinya harus membahas Fredy? Tidak adakah topik pembicaraan lainnya.


“Kau kesal karena dia tidak memilihmu?”


Charlotte langsung menghadap Xavier, wajahnya merah padam seperti menahan amarah. “Dia mengkhianatiku. Lalu apa yang bisa kulakukan?” Dada Charlotte naik turun dengan nafas memburu. Matanya berkaca-kaca.


“Mungkin dulu aku sangat mencintainya karena dia teman kecilku dan juga sahabatku. Kukira setelah kehilangan ibuku, dialah orang yang bisa menjagaku dan menyanyangiku. Tapi pada akhirnya dia melukaiku dengan kebohongannya. Dia menghancurkan kepercayaanku.” Sambungnya.


“Mungkin jika wanita lain, aku bisa menerimanya. Tapi kenapa harus adik tiriku? Hanya itu yang kusesalkan.”


“Jadi begitu. Mungkin karena itu dia menolakmu. Jika dipikir-pikir, adik tirimu itu lebih cantik dan juga sexy dibandingkan denganmu.” Xavier mengamati tubuh Charlotte seolah-olah sedang membandingkannya  dengan Sinta. Tentu hal itu kembali menyulut amarah Charlotte.


“Kalian sudah tidak punya hubungan apapun, untuk apa kau marah?” tanya Xavier penuh provokasi.


“Siapa yang marah. Aku hanya, tidak suka dibandingkan dengan orang lain.” Sangkal Charlotte seraya membuang muka. Xavier mengulum senyum.


“Ceritakan tentang kakekmu. Aku dengar beliau orang yang baik dan sangat menjaga persahabatan. Setiap bertemu Kakekku, dia tak henti membanggakannya. Seperti apa dia?” tanya Xavier.


“Kakekku ya…..” Charlotte mengetuk-ngetuk dagunya dengan jari mengingat kembali masa-masa saat bersama kakeknya.


“Kakek orangnya menyenangkan. Suka bercanda dan penuh kejutan.” Ucap Charlotte tersenyum lucu mengingat Kakeknya.


“Kau sangat dekat dengannya?”


“Ya. Kakek menganggapku cucu kesayangannya. Baginya aku seperti putri Bella yang selalu menebar kebahagiaan. Kakek selalu mengatakan itu setiap aku disampingnya. Dia bahkan tidak mau aku meninggalkannya. Sampai-sampai Ibuku harus datang menjemputku.” Ujar Charlotte.


“Menebar kebahagiaan? Mungkin yang benar menebar kesulitan.” Ujar Xavier dengan meledek.


“Oh ya, itu karena kau selalu menyebalkan.” Balas Charlotte tak mau disalahkan.

__ADS_1


Diam-diam Xavier tersenyum. Ketika menggoda Charlotte, ada kesenangan tersendiri untuknya. Wanita itu walaupun keras kepala, namun sesekali terlihat hangat. Apalagi ketika dirinya melihat sendiri kebaikannya lewat anak kecil tadi. Rasa amarah yang tadi memuncak karena berpikir Charlotte kabur, tiba-tiba menghilang begitu saja. Xavier tidak semudah itu menerima kesalahan orang lain. Berbeda dengan Charlotte, wanita itu bisa memutarbalikkan  suasana hatinya dalam sekejap. Entah apa yang terjadi dengannya.


“Sudah malam. Kita pulang.” Xavier bangkit dari tempat duduknya dan mengulurkan tangan kepada Charlotte.


“Hmm. Baiklah.”


Xavier menarik tangan Charlotte dan membawanya pergi dari tempat itu. Mereka bersama-sama kembali ke Mansion.


^^


Pagi harinya setelah sarapan, Xavier masuk kedalam ruang kerjanya. Hari ini adalah hari libur, tapi pria itu tetap mengerjakan pekerjaannya yang sudah menumpuk. Hari pernikahannya semakin dekat, sebelum hari itu tiba, Xavier harus menyelesaikan semua tugas-tugasnya agar tak terjadi masalah ketika dirinya mengurus pernikahan.


Tok tok!


“Masuk!”


Kepala pelayan Mansion datang ke ruangannya dan berdiri didekat pintu. Menunduk pada Xavier.


“Ada apa Dona?”


Dona, kepala pelayan yang berumur 40 tahun mengangkat kepala dengan wajah datar, tampak begitu tegas. Kedua tangan saling memangku diperutnya.


“Ada Tuan Julius dan putranya Tuan Fredy datang ingin bertemu Tuan Muda.”


Xavier menghentikan pekerjaannya dan mendongak melihat Dona. Sejenak pria itu terdiam, menyandarkan kepalanya di kursi. “Biarkan mereka masuk.”


“Baik Tuan Muda.”


Setelah mendapat perintah, Dona pamit keluar seraya menutup pintu. Jemari Xavier mengetuk meja berirama. Tengah memikirkan sesuatu. Kedatangan orang yang telah ditolak kehadirannya kini nekat datang ke Mansionnya untuk menemuinya. Jujur saja, Xavier malas melihat mereka.


Sejenak matanya menyipit, bibirnya menyunggingkan senyum smirk menakutkan. Mungkin hari ini saat yang tepat untuk dirinya membalas apa yang sudah dilakukan pria itu padanya. Menyadarkan orang itu siapa dirinya sebenarnya.


.


.


.


Hallo Nana balik lagiii... Happy readingg..^-^

__ADS_1


__ADS_2