
Kurang dari satu minggu, Xavier dan Charlotte menanti kehadiran si Kembar. Kehamilan Charlotte sudah mendekati HPL. Selama kehamilan, Xavier menjadi seorang suami yang siaga setiap saat. Tak ingin membuat sang istri kelelahan, atau pun berjuang seorang diri melahirkan anak-anak mereka. Xavier menjadi suami yang tanggap dan selalu setia disamping istrinya. Memenuhi keinginan sang istri yang terbilang cukup merepotkan.
Seperti hari ini, Xavier tengah berada ditengah antrian panjang pembukaan toko minuman baru tak jauh dari Mansionnya. Ia mengantri bersama anak-anak muda yang rata-rata dari anak sekolah. Para penggemar minuman dingin sama seperti istrinya. Sedang menunggu pesanan, berdesakan bersama sang Mantan Pemimpin Mafia.
“Tuan, biarkan saya saja yang mengantri. Anda duduklah dimobil saja.” Dean menawarkan diri untuk menggantikan posisi Xavier. Melihat wajah Xavier yang sudah memerah, dan cuaca panas disekitar mereka belum lagi bisik-bisik para anak muda dengan bahasa gaul yang tidak ia pahami, membuat Tuan Mudanya akan naik darah sebentar lagi. Satu-satunya jalan adalah dengan membuat pria itu pergi dari sana secepat mungkin. Sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan….
“Dean.”
“Ya Tuan?” Menahan nafas, Dean mendekat dengan perasaan was-was.
“Cari pemilik toko ini. Seret dia keluar! Pertemukan aku dengannya!” seru Xavier mulai tak sabar. Mendengus tanda ingin mengakhiri penantian panjang ini.
‘Sudah kuduga…’ Dean menghela nafas pasrah.
“Berikan uang atau apa saja agar ular-ular ini pergi! Fu*k!” Mengumpat, mendengus kasar dengan keadaan menyebalkan didepannya.Tak sabar dan ingin segera pulang bertemu pujaan hati. Membawakan permintaan yang sudah dinanti sang wanita.
“Tuan tenanglah. Saya sudah menawarkan diri tadi. Tuan masih saja bersikeras. Jadi emosi sendiri sekarang kan.” Ujar Dean sedikit jengah.
“Kamu menyalahkanku?! Aku melakukan ini demi istriku yang hamil! Enak saja main menyalahkan!” sembur Xavier tak terima.
‘Salah lagi…’ batin Dean bingung. Memijat keningnya.
“Ya… ya baiklah. Tuan lebih baik kembali ke mobil. Biar saya yang urus yang disini.” Ucap Dean menahan diri. Mencoba bersabar. Istrinya yang ngidam kenapa dia yang sering marah-marah.
“Aku akan disini! Cepat bawa orang itu kemari. Akan kutembak dia karena membuatku menunggu!”
Dean geleng-geleng kepala melihat perilaku Tuan Mudanya. Walaupun sudah setengah tahun mereka bebas dari pekerjaan kotor Mafia, tapi Sang Bos terkadang masih saja berperilaku seperti Mafia yang kejam. Hanya Nona Charlotte yang bisa membuatnya menjadi kucing manis.
Dean meninggalkan Xavier dan berjalan masuk kedalam toko. Awalnya lelaki itu ditolak oleh pegawai toko tapi setelah Dean menyodorkan sesuatu padanya, pegawai itu langsung membiarkan Dean untuk masuk. Xavier memincingkan mata melihat itu. Kesal sendiri, kenapa tidak dari tadi ia melakukan apa yang Dean lakukan? Sial!
Tak sampai 10 menit, Dean keluar dengan membawa sesuatu ditangannya. Lelaki itu berjalan mendekati Sang Bos.
“Kita pulang sekarang Tuan.” Ucap Dean seraya menggoyang-goyangkan kantong plastic berisi minuman sambil menaik turunkan kedua alisnya. Seolah berkata,’Aku berhasil kan Tuan.’ Berlagak lebih hebat.
“Cih, sombong! Aku bisa beli toko ini kalau aku mau! Cepat kita pulang!” Xavier merampas kantong plastik itu dan berbalik dengan wajah kesal. Tak mau akui otak cerdas Dean.
__ADS_1
“Sama-sama Tuan!” Seru Dean tersenyum seolah Xavier sedang berterima kasih padanya. Sang Bos hanya melirik tajam dengan wajah bersungut-sungut.
^
“Lama sekali.” Gerutu Charlotte saat Xavier kembali dan duduk disampingnya. Menyodorkan minuman yang dibawa kepada sang istri.
“Maaf sayang, tadi Dean lama di toilet umum. Salahkan saja dia ya.” Mengecup mesra pipi sang istri tanpa merasa bersalah telah menuduh si Asisten. Mendusel-dusel tubuhnya rapat kepada istri tercinta. Sesekali bergelanjut manja di lengan si wanita.
‘Apa-apaan itu! Dia yang buat lama, kenapa aku yang disalahkan? ’ gerutu Dean kesal.
Xavier tahu, kalau Asistennya itu sedang menatap kesal padanya. Ia memilih acuh dan terus bermesraan dengan Charlotte. Salah sendiri sok hebat didepannya. Ckck
“Enak sayang?” tanya Xavier ketika melihat istrinya minum, seraya menyeka setetes air dari ujung bibir wanita itu dengan tangan, lalu memasukkannya kedalam mulut. Manis. Apapun yang dari bibir sang istri, selalu terasa manis untuknya.
“Jangan begitu, ada Dean disini.” Ujar Charlotte memberi kode dengan matanya kearah sang Asisten.
“Dean, cepat pergi! Kamu buat momen indah kami jadi rusak!” sembur Xavier seenaknya.
Ingin rasanya menceburkan sang Bos ke dalam lumpur hisap lalu kabur. Sejak tadi terus menerus mengejeknya! Seharusnya dia yang kesal disini. Perang batin Dean.
“Kamu jangan marah-marah terus pada Dean. Kasihan dia.”
“Biar saja! Salah sendiri membuatku kesal.” Dengus Xavier.
“Kesal kenapa?” Charlotte memiringkan kepalanya.
“Tidak apa-apa. Lupakan saja. Hari ini kamu mau apa sayang? Jalan-jalan? Shoping?”
“Tidak ah. Aku capek. Pingin dirumah aja nunggu kelahiran di kembar.” Charlotte menyandarkan kepalanya dipundak Xavier. Pundak kokoh yang selalu membuatnya nyaman selama ini. Ingin bermanja dan diperhatikan oleh sang pemilik pundak kokoh itu.
“Baiklah. Aku akan menemanimu sayang.” Mengecup mesra kening pujaan hati. Tangan terangkat menyusup kedalam celah Daster milik sang istri. Mengelus bulatan perut yang semakin membesar. Tak sabar ingin melihat sosok-sosok kecil yang tengah terlelap didalamnya. Belum waktunya menyambut dunia.
Memeluk erat tubuh sang istri masuk kedalam dekapan hangat. Xavier memejamkan mata seraya menghirup aroma tubuh pujaan hati yang selalu candu untuknya.
“Aku mencintaimu ….” Bisiknya penuh cinta ditelinga sang istri.
__ADS_1
“Aku juga mencintaimu…..” balas Charlotte dengan senyuman manis. Tak terhitung sudah berapa kali kata itu sering terucap dibibir mereka. Tak ada kata bosan. Yang ada adalah rasa cinta keduanya yang semakin besar setiap hari.
“Ah…” des*h Charlotte saat tangan yang awalnya hinggap diperut kini telah berpindah di salah satu gunung kembarnya. Bermain-main disana.
“Kita lanjut di kamar sayang?” bisik Xavier dengan sexy. Mulai memberi rangsangan kecil agar mendapat balasan yang sama.
“Xavi, ini masih siang.” Charlotte berniat menolak, seraya menahan diri agar tidak larut dalam permainan lincah sang suami ditubuhnya.
“Tidak masalah. Aku selalu bersemangat kapanpun sayang.”
“Astaga, kamu ini….”
Mendapat lampu hijau dari sang wanita, Xavier menyingkirkan minuman yang dipegang istrinya. Langsung menggendongnya ala bridal style keluar ruangan.
Saking semangatnya Xavier, lelaki itu tak berhenti mengecup seluruh wajah sang istri menuju kamar mereka berdua.
“Ukh!”
Tiba-tiba saja Charlotte merasakan perutnya mulas. Nyeri pada saaat bersamaan. Melihat sang istri kesakitan, Xavier menghentikan langkahnya.
“Ada apa sayang? Kamu kenapa??” tanyanya dengan panik. Takut terjadi apa-apa dengan sang wanita.
“A-aku tidak tahu. Tiba-tiba perutku sakit. Aduh!” Charlotte memegangi perutnya.
“Kenapa sayang?? Mana yang sakit?” Xavier memutar balik langkahnya dan memilih menurunkan sang istri ke sofa. Berlutut disamping istrinya. Ia ikut memegang perut Charlotte. Pikiran buruk merajai isi kepalanya.
“Sayang, kamu kenapa? Donaaa! Donaa! Deann!!!!” teriak sang pemilik Mansion menggelegar dipenjuru tempat.
“Tuan ada apa?” Dona datang lebih dulu disusul Dean dibelakangnya. Mereka terlihat terkejut saat melihat Nona Muda merintih kesakitan.
“Dona! Istriku kenapa? Dia terus mengeluh sakit diperutnya???”
Dona langsung mengecek keadaan Nona Mudanya. Tangannya masuk kebawah paha wanita itu. Matanya terbelalak seketika. “Tuan, Air ketuban Nona sudah pecah dan merembes keluar. Kita harus segera ke rumah sakit!”
“Apa?! Apa maksudnya! Dia kenapa?” Xavier seperti orang kebingungan.
__ADS_1
“Artinya, Nona Charlotte akan segera melahirkan Tuan!” Ujar Dean sedikit keras, Bosnya ini sangat lama berpikirnya!