Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 40


__ADS_3

Xavier kini berdiri didepan pintu kamar Charlotte. Sudah hampir 10 menit dirinya menatap pintu yang tertutup itu tanpa bergerak untuk membukanya. Dengan pakaian santainya, Xavier memasukkan kedua tangannya disaku celana pendeknya. Tampak berpikir.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tak ada satupun orang disana. Xavier tetap diam ditempatnya berada. Sesekali tangan itu terulur menyentuh pintu namun kembali diurungkan. Pikirannya benar-benar terpecah. Tidak tahu harus memulai sesuatu darimana. Jika dirinya masuk kedalam sana, Charlotte pasti akan menolaknya. Bagaimanapun karena dirinya wanita itu mendapat perlakuan kasar dari orang tuanya. Tapi, ada hal yang lebih mendesak yang ingin sekali dirinya tahu dari wanita itu.


Hal itu berhubungan dengan informasi Dean padanya beberapa jam yang lalu. Tentang wanita yang telah menghabiskan malam bersama dengannya di sebuah Motel. Xavier tidak pernah membayangkan jika wanita itu sangat dekat dengannya. Dan lucunya, wanita itu akan menjadi adik iparnya nanti? Lelucon macam apa ini? Dia benar-benar tidak mengerti.


Menurut Dean, dirinya disarankan agar menanyakan langsung pada Charlotte tentang Shinta. Charlotte adalah kakak tirinya. Mungkin saja dirinya bisa mendapatkan informasi tentang siapa Shinta sebenarnya.


Xavier meremas kuat tangannya. Tindakan yang tepatkah dirinya mengorek informasi tentang Shinta pada Charlotte sekarang? Tidakkah wanita itu justru akan mencurigainya? Dia bingung.


Ceklek!


Xavier seketika memundurkan tubuhnya saat pintu dibuka dari dalam secara tiba-tiba. Charlotte keluar dan termangu melihat Xavier berada diluar kamarnya. Charlotte memakai gaun malamnya seraya memegangi gelas ditangannya. Matanya yang sembab menatap heran Xavier yang sudah kepalang basah diketahui Charlotte.


“Apa yang kau lakukan disini?” tanya Charlotte.


“Aa.. I-itu.. A-aku..” Xavier kebingungan.


“Kau sakit tenggokan? Kenapa gagap begitu.”


“Aku tidak sakit. Tadi aku hanya lewat.” Ucap Xavier beralasan.


“Kalau begitu pergilah. Jangan lewat didepanku lagi.” Ketus Charlotte sambil berlalu meninggalkan Xavier menuju lift. Sama sekali tidak peduli dengan keberadaan pria itu.


Xavier berdecak, hampir saja dirinya ketahuan. Xavier menatap lift yang sudah tertutup.


“Kemana wanita itu pergi malam-malam begini?” gumamnya penasaran. Dengan langkah lebar, Xavier mengikuti perginya Charlotte.


Xavier berhenti ditempatnya saat mengetahui Charlotte tengah duduk di kursi makan dengan gelas berisi air setengah kosong. Wanita itu sedang merebahkan kepalanya dimeja makan. Tatapannya terlihat kosong.


Mansion tampak sepi. Beberapa lampu juga telah dipadamkan. Hanya tinggal mereka berdua disana. Kemudian, Xavier memutuskan untuk menghampiri Charlotte. Duduk didepannya.


“Wajah aslimu tidak kau tunjukkan lagi.” Sindir Xavier dengan senyum miring. Senang rasanya ketika bisa menggoda wanita itu.


Charlotte mengangkat kepalanya dan melihat Xavier. Lalu, dirinya membuang muka dan kembali merebahkan kepalanya kesamping. Tubuh dan pikirannya sudah terkuras habis, benar-benar tak bertenaga.


“Aku kalah dan kau menang. Apa belum cukup membuatmu puas? Kenapa sekarang masih mengejekku?!”


“Kau tahu aku menyukainya.”


“Cih, pria sepertimu memang menyukai kesengsaraan orang huh?? Benar-benar tirani.” Ejek Charlotte.


Xavier tersenyum kecil, “Aku selalu mendapatkan apa yang ku mau. Tak terkecuali membuatmu jinak.”


Charlotte kembali mengangkat kepalanya. Wajahnya terlihat geram. “Kau memang pria sinting!” umpatnya.


“Wajahmu sekarang hampir sama seperti bibirmu yang pedas itu.” Ucap Xavier tersenyum miring. Seolah terlihat sedang mengejek Charlotte.

__ADS_1


“Kenapa? Apa alasanmu ingin melanjutkannya? Aku sudah banyak membuatmu dalam masalah. Kenapa justru ingin mempercepat pernikahan itu!” tanya Charlotte penasaran masih merasa geram.


“Menurutmu, apa alasanku?”


“Heh! Kenapa malah balik tanya!? Mana kutahu!”


“Kau tahu. Tapi pura-pura tidak tahu.” Xavier memiringkan kepalanya terlihat menjengkelkan untuk Charlotte.


“Benar-benar ya kau ini! Aku yakin, hidup bersama orang sepertimu tidak akan membuatku senang. Tapi sengsara!” ujar Charlotte mengungkapkan rasa kesalnya yang naik ke ubun-ubun.


“Kalau begitu, nikmati saja. Setidaknya kau masih hidup.”


Brak!


Charlotte menggebrak meja dengan keras. Berdiri cepat seraya menghunuskan tatapan kebencian. Kobaran amarah telah memenuhi otaknya. “Kau pria gila! Dan tak punya hati! Enyahlahh!!”


“Sayang sekali. Aku tidak bisa melakukannya. Kita akan menikah, kau harus terbiasa dengan pria gila, tak punya hati sepertiku.” Balas Xavier sangat tenang sama sekali tak terpancing emosi.


“Kalau begitu, kita lihat. Siapa yang bertahan sampai akhir. Siapa orang yang paling hancur nantinya…” ucap Charlotte. Menatap penuh pada Xavier seakan dirinya tak akan mundur.


Setelah mengatakan itu, Charlotte pergi. Menyisakan Xavier yang menatap kepergiannya.


“Ya, kita lihat nanti. Kau sendiri yang akan merangkak menghampiriku.” Seutas senyum licik tersungging dibibir Xavier.


 


 


Xavier baru saja memasuki kantornya diikuti Dean dibelakangnya. Pria itu duduk dikursi kebesarannya sedangkan Dean berdiri disampingnya. Dean memberikan agenda acara hari ini. Seperti biasa, Xavier akan selalu disibukkan dengan berbagai pertemuan penting dengan klien besarnya. Perusahaan Xavier bukan hanya ada dinegara ini, namun juga terdapat di Negara lainnya yang tak kalah hebat dari perusahan-perusahan pesaingnya. Kekuasaannya begitu besar namun tak terlihat secara menyeluruh. Xavier sudah mengurus semua kekayaannya tanpa bisa diketahu oleh orang lain. Dia pria kaya dan berkuasa, namun misterius.


Sebagian perusahaannya dipegang oleh Kakek dan beberapa keluarga dekatnya. Xavier hanya ingin berpusat pada bisnisnya yang berada ditempat tinggalnya saat ini. Semua berpusat disana, mempermudahnya untuk mengatur semuanya.


“Tolak pertemuan dengan Nehendra Group. Aku tidak ingin menemuinya.” ujar Xavier.


“tapi Tuan Julius dan Tuan Fred-“


“Aku bilang tolak. Apa kurang jelas?” Xavier hanya melirik sekilas pada Dean. Asistennya itu seketika berhenti dan menganggukkan kepalanya.


“Bagaimana dengannya? Sudah kau minta datang padaku?” tanya Xavier. Mata dan tangannya kini fokus membuka dan membaca dokumen dimejanya.


“Sudah Tuan. 15 menit lagi dia akan sampai.”


“Hmm.”


Tok Tok Tok!


“Masuk!” seru Dean.

__ADS_1


Sekretaris Xavier masuk kedalam menghampiri mereka. “Tuan, ada seorang wanita ingin bertemu. Sebelumnya sudah membuatkan janji temu dengan Anda.”


“Suruh dia masuk.” Ujar Dean.


“Baik.” Sekretaris itu pergi melakukan perintah Dean.


“Tuan Muda, dia sudah disini.” Ucap Dean.


“Hmm.” Xavier hanya menganggukkan kepalanya tanpa memandang Dean.


Shinta masuk kedalam ruangan kantor Xavier. Wanita itu sejenak terpesona melihat ruangan besar yang begitu luar biasa itu. Kedua matanya sibuk melihat sekeliling. Bibirnya tak berhenti senyum mengagumi kekayaan yang dimiliki keluarga calon kakak iparnya.


“Selamat pagi Nona Shinta. Perkenalkan saya Dean, yang kemarin meminta Anda untuk datang kesini.” Sapa Dean yang sudah berdiri didepan Shinta.


“Ya. Ada perlu apa ya?” Shinta bersikap sok acuh dan terlihat angkuh.


“Tuan Muda saya mau bicara sebentar dengan Anda.”


“Tuan Muda? Oh, maksutmu, calon kakak iparku?” ucap Shinta tersenyum manis seraya melirik kearah Xavier yang tengah duduk dibelakang Dean.


“Iya Nona. Mari silahkan duduk.”


Dean mempersilahkan Shinta duduk dikursi depan Xavier. Wanita itu tak henti-hentinya tersenyum kearah Xavier. Seakan sedang berusaha mendapatkan perhatiannya.


“Jadi kau yang bernama…”


“Shinta.” Sambung Dean.


“Ah, ya. Terima kasih Dean.” Ucap Xavier tersenyum karena Dean mengerti dirinya. Dean tahu, jika Tuan Mudanya sangat tak suka memanggil nama wanita lain. Bahkan pada Charlotte yang akan menjadi istrinya  sekalipun, itupun jika dirinya sedang dalam suasana baik.


Shinta terlihat kesal, tapi dirinya tetap berpura-pura tersenyum. Kata ibunya, Shinta tidak boleh membuat Tuan Muda Xavier marah ataupun kecewa padanya. Sikap pria itu memang sulit dimengerti. Shinta baru tahu hal itu.


“Aku akan langsung mulai. Jadi jawab dengan jujur setiap pertanyaanku padamu. Tidak boleh ada kebohongan sedikitpun. Atau kau, akan berurusan dengan Dean langsung.” Ucap Xavier.


‘Hah? Apa dia sedang mengancamku? Si*l, baru aja ketemu sudah main menakuti orang. Dan, kenapa juga aku harus berurusan dengan asistennya ini.’ Batin Shinta dalam hati.


Tak!


Xavier tiba-tiba melemparkan sebuah foto bergambar topi berwarna hitam kearah Shinta. “Beritahu semua yang kau tahu tentang itu.”


 


 


'


'

__ADS_1


'


NB : Mkasih ya udah VOTE cerita halu Nana.... Kalian terbaik deh.. See you next episode.. ^-^


__ADS_2