
“Selamat siang Tuan Harfin. Saya Charlotte dari Setiawan Group.” Sapa Charlotte. Mengulurkan tangan pada Tuan Harfin yang berusia sekitar 50 tahunan, berperawakan tinggi kurus dengan rambut setengah botak.
Tuan Harfin berdiri menyambut jabat tangan Charlotte. “Ya. Duduklah.” ucap Tuan Harfin mempersilahkan mereka.
Charlotte dan Fredy duduk didepan Tuan Harfin. Charlotte sedikit canggung karena merasa bersalah. “ Maafkan saya atas keterlambatan kami. Saya baru tahu kalau tempat pertemuan telah berubah. Tolong maafkan kami.”
“Hem. Sebenarnya aku ingin pergi setelah ini. Karena Tuan Susanto bilang ini penting, jadi aku tunda. Kita mulai saja pembicaraannya.”
“Baik Tuan.”
“Lalu siapa pria ini?” Tuan Harfin melihat Fredy sekilas.
“Ah, perkenalkan saya Fredy. Saya menemani Nona Charlotte yang cantik ini. Semoga saya tidak mengganggu disini.” Ujar Fredy sedikit bercanda.
“Haha, baiklah aku mengerti. Kalian pasangan yang cocok. Mari kita lanjutkan.” Ucap Tuan Harfin.
Charlotte termangu, ia ingin membantah perkataan Tuan Harfin tentang hubungan mereka yang seperti pria itu utarakan. Saat ia menoleh pada Fredy, pria itu hanya tersenyum. Fredy mengedikkan kepalanya memberi isyarat agar Charlotte memulai presentasinya. Charlotte hanya bisa menuruti Fredy, bagaimanapun pekerjaan ini jauh lebih penting. Charlotte memulai presentasinya.
__ADS_1
^
“Mari kita makan siang lebih dulu.” Ajak Tuan Harfin setelah Charlotte selesai memberikan penjelasan. Pria itu beranjak dari tempatnya. Charlotte terlihat kebingungan karena hasil keputusan belum dibuat oleh Tuan Harfin. Justru pria itu mengajak mereka untuk makan siang bersama. Hal itu membuat kekhawatiran Charlotte bertambah. Mungkinkah Tuan Harfin merasa bosan dengan presentasi yang ia buat? Karena itu beliau memilih pergi?
“Tapi Tuan-“
“Sudahlah, Char. Kita ikuti keinginan Tuan Harfin dulu. Masalah pekerjaan bisa kita bicarakan nanti.” Sela Fredy memberi pengertian. Sangat terlihat jelas jika Tuan Harfin bukan tipe orang yang tergesa-gesa dalam mengambil keputusan. Orang seperti itu akan mencoba melihat reaksi lawan bicaranya terhadap sikapnya. Fredy mengerti akan hal itu, jadi ia harus mengambil sikap sebaliknya. Ia harus mengikuti keinginan Tuan Harfin untuk saat ini.
Namun berbeda dengan Charlotte yang baru terjun ke dunia bisnis. Wanita itu harus dibimbing agar bisa terbiasa dengan sifat orang-orang yang membingungkan seperti Tuan Harfin.
Tuan Harfin mengajak mereka ke Resto didalam hotel. Ia telah memesankan makanan di salah satu meja. Charlotte dan Fredy duduk berhadapan dengan pria itu yang kini tengah menikmati kopinya.
“Baik.”
“Terima kasih Tuan.”
“Sama-sama. Oh ya, ngomong-ngomong aku menginap disini. Bagaimana menurut kalian hotel ini?” tanya Tuan Harfin.
__ADS_1
“Ah, tentang itu. Saya pikir ini hotel yang bagus, punya desain yang menarik dan satu-satunya bergaya Eropa di kota ini. Itu bisa menarik minat pengunjung.” Ucap Charlotte.
“Kau benar, aku juga berpikir begitu. Sudah lima hari aku disini. Seadainya aku bisa bertemu pemilik gedung ini, akan sangat menyenangkan bisa berbagi inspirasi dengannya.” Ucap Tuan Harfin penuh harap.
“Orang-orang hebat biasanya menyukai hal-hal yang berbeda dari biasanya. Menciptakan hal baru adalah cara terbaik meningkatkan citra perusahaan. Anda juga memiliki perusahaan hebat. Saya sangat kagum ketika mendengar perkembangan bisnis Anda.” Ujar Fredy.
“Haha…. Benarkah? Terima kasih atas pujiannya. Sebenarnya aku sudah lelah mengurus semuanya. Mungkin tahun depan, posisiku harus kuberikan pada putraku..” Ucap Tuan Harfin.
“Sebagai perayaan atas keberhasilan Anda, mari kita rayakan dengan Sampanye?”
“Hoho, boleh-boleh.”
Fredy bangkit dari tempatnya, ia berniat mengambil Sampanye di Pantry. Namun ketika dirinya berbalik, seorang pelayan yang tengah membawa minuman langsung menumpahkan minumannya ke kemeja putih Fredy. Warna tumpahan minuman itu langsung tercetak jelas disana.
.
.
__ADS_1
.
Masih selow-selow yes... tp jantung dag dig dug... ^-^