
“Dean, apa kau sudah melakukan yang kuperintahkan?”
“Sudah. Tapi orang kita belum dapat kabar tentang itu.” Dean tengah menyetir menuju Hotel baru yang akan mereka kunjungi.
Dari depan kemudi, Dean bisa mendengar helaan nafas panjang Xavier. Pria itu sedang menatap keluar dengan berbagai banyak pikiran dikepalanya. Disangganya dengan satu tangan.
“Apa saya saja yang kesana Tuan? Anda bisa beristirahat dirumah.” Saran Dean.
“Tidak perlu.”
Dean menambah gigi mobilnya dan menambah laju kecepatan kendaraannya membelah padatnya lalu lintas ibu kota.
Setelah beberapa menit didalam perjalanan, mobil mereka memasuki pelataran depan area hotel. Seorang penjaga segera membukakan pintu belakang setelah mobil itu berhenti. Penjaga itu menyapa kedatangan Xavier dan membukakan pintu masuk kedalam hotel.
“Selamat datang Tuan Muda Xavier. Saya Rowan.” Seorang pria bersetelan rapi dan beberapa orang dibelakangnya menyambut kedatangan Xavier seraya membungkuk hormat padanya. Mereka adalah Manajer dan pegawai hotel disana.
“Hem.”
“Silahkan Tuan, saya akan menemani Anda selama ada disini.”
__ADS_1
Xavier memasuki hotel dengan tubuh tegap, raut wajah yang datar dengan sorot mata hitam gelap. Aura dingin menakutkan tetap melekat pada dirinya. Ia berjalan didepan Dean dan para pengurus Hotel. Tubuh Xavier yang tinggi begitu mencolok diantara mereka, hingga membuat beberapa tamu hotel saling bertanya siapa gerangan itu.
Xavier mengacuhkan apapun yang dianggapnya tak penting. Ia hanya punya waktu setengah jam disana. Pekerjaannya harus diselesaikan tepat waktu. Xavier selalu berpegang teguh dengan kedisiplinan. Tidak hanya tentang waktu bekerja tapi juga perilaku dalam kinerjanya. Semua harus sesuai keinginannya dan sesuai target. Jika ada bawahannya yang melanggar perintahnya, siap-siap saja menerima hukuman yang sudah ditentukan!
Tidak ada yang boleh menentang keputusannya. Ataupun mempertanyakan hal yang sudah terucap dari bibirnya. Siapapun harus tunduk, karena Xavier tidak menerima kesalahan apapun!
“Silahkan lewat sini Tuan.” Manajer Hotel menunjukkan jalan untuknya. Xavier berjalan mengikutinya.
Deg!
Langkah Xavier tiba-tiba berhenti ketika melihat pemandangan didepannya. Kurang lebih 10 meter dari tempatnya berdiri, dua orang yang ia kenal berjalan masuk kedalam sebuah lift. Xavier sejenak terdiam ditempatnya.
“Tuan, ada apa?” Dean maju bertanya.
Ting!
Tak berselang lama, pintu lift disampingnya terbuka. Sepasang kekasih keluar dari sana. Buru-buru Xavier masuk kedalamnya dan menekan tombol lift.
“Tuan! Tunggu Tuan!!!”
__ADS_1
Suara Dean lambat laun tenggelam bersamaan dengan pintu lift yang tertutup. Xavier terdiam disana dengan buku-buku jarinya yang sudah memutih. Salah satu tangannya mengepal kuat. Ia sama sekali tidak menyangka bisa melihat istri dan mantan kekasih brengs*knya itu datang ke hotel miliknya. Hanya mereka berdua?!
Bukankah pria itu kapan hari ada di Kota S? Kenapa secepat itu datang kesini?! Apa dia mau menemui istrinya? Menggodanya lagi??? Sial!!
Lalu apa yang dilakukan istrinya disini bersama pria itu? Bukankah tadi pagi wanita itu ijin pergi hanya untuk bekerja? Membantu menyelesaikan masalah perusahaan? Lalu apa ini? Yang ia lihat justru sebaliknya! Wanita itu malah pergi bersama dengan mantan kekasihnya di Hotel!!
“Sh****ttt!!”
Nafas Xavier naik turun tak beraturan menahan gejolak emosinya. Xavier merasa geram. Ia merasa ditipu. Tidak terpikirkan olehnya mereka akan kembali bersama dibelakangnya setelah apa yang sudah ia lakukan padanya.
Tidak tidak! Mungkin mereka kesini karena urusan lain? Ya, mungkin seperti itu. Charlotte tak mungkin mengkhianatinya. Hati kecilnya menolak kenyataan pahit diujung matanya. Xavier berkenyakinan jika istrinya tidak akan melakukan hal sehina itu.
Ting!
Pintu lift terbuka, Xavier langsung keluar dari sana. Ia melihat ada 5 kamar dilantai itu. Untuk mengetahui dimana mereka, satu-satunya cara hanya dengan membukanya satu-persatu. Ia harus menemukan mereka!
.
.
__ADS_1
.
Happy reading ^-^