
Xavier tetap diam disaat Charlote terus meminta penjelasannya. Sejak mereka berada di mobil sampai di pesawat yang kini telah landing di bandara Kota S. Charlotte yang kelelahan akhirnya hanya bisa tidur dengan kedongkolan hatinya. Xavier harus membangunkan wanita itu untuk segera keluar. Tapi karena keras kepalanya, Xavier harus menunggu sampai 30 menit untuk membuat wanita itu turun dari pesawat. Charlotte masih kesal, dan memilih mogok bicara pada suaminya.
Didalam mobil yang membawa mereka ke Mansion kota S, Charlotte tetap berdiam diri tanpa menoleh sedikitpun pada Xavier. Begitupun dengan pria itu. Xavier menyibukkan dirinya dengan benda lipat dipangkuannya. Mengamati perkembangan Markas Pusat di Sisilia setelah penyerangan yang dilakukan musuhnya.
Charlotte segera turun, tanpa menunggu Dean membukakan pintu untuknya. Mengacuhkan beberapa pelayan yang menyambut mereka termasuk Dona dan masuk kedalam Mansion dengan wajah kesal. Kepala pelayan Mansion Xavier itu terlihat bingung dengan sikap kedua majikannya yang seperti tengah bertengkar. Padahal saat mereka pergi, satu detikpun tidak pernah bisa melepas kemesraan mereka.
“Selamat Siang Tuan Muda.” Sapa Dona seraya menundukkan kepala.
“Hm, siapkan makan siang setelah ini.” Perintah Xavier datar. Mata pria itu masih mengamati sikap istrinya yang berjalan masuk kedalam Mansion. Ia seolah membiarkan sikap Charlotte.
Sejak di Pesawat, wanita itu tak henti memintanya kembali. Namun Xavier tetap teguh pendirian. Hingga wanita itu memutuskan mogok berbicara dengannya.
“Dan juga, siapkan kamar terpisah untukku.” Imbuhnya.
“Ya Tuan?” Dona terkejut mendengar perintah terakhir majikannya. Ia melirik Dean, pria itu hanya mengedikkan bahu dan menganggukkan kepala. Tanda untuk mengikuti keinginan Xavier. “Baik Tuan, saya mengerti.”
^
Charlotte melempar tubuhnya diatas tempat tidur. Ia tengkurap seraya menenggelamkan wajahnya dibantal. Ia mulai menangis.
Ia tak tahu kenapa Xavier begitu marah pada keluarganya. Bahkan tega melukai mereka. Ia terkadang juga marah atas sikap mereka yang selalu menindasnya, namun bukan berarti ia harus membalas mereka dengan menyakitinya. Ia sedih melihat kening ayahnya mengeluarkan darah, dan itu karena Xavier.
Charlotte turun dari tempat tidur dan keluar dari kamar. Dicarinya pria itu. Charlotte ingin menanyakan kembali tindakan Xavier. Ia harus mendapatkan jawaban dari pria itu!
__ADS_1
“Nona mau kemana?” Dona tiba-tiba datang menghampirinya. Membungkukkan kepala sejenak.
“Kebetulan kau ada disini. Dimana Xavi?”
“Tuan Muda sedang beristirahat di kamar Nona.”
“Hah? Dikamar? Dia tidak ada disana.” Kening Charlotte mengkerut.
“Tuan tidur di kamar lain Nona.” Jawab Dona.
Apa ia tidak salah dengar? Suaminya memilih menjauhinya dengan pisah ranjang? Ia harus memberi perhitungan pada pria keras kepala itu!
“Tunjukkan kamar itu padaku!” perintah Charlotte.
Charlotte mengeluh kesal, ia benar-benar tidak mengerti jalan pikiran suaminya! Kaki Charlotte menghentak lantai saking kesalnya.
“Beritahu saja dimana kamarnya! Kau tidak ingin dipecat kan Dona.” Ancam Charlotte pada kepala pelayan itu. Ia yakin, Dona tidak akan menolak perintahnya. Bagaimanapun ia Nyonya dirumah ini. Semua pelayan pasti mengikuti perkataannya. Ia harus segera menemui Xavier agar masalah mereka cepat selesai.
“Maaf Nona, saya tidak bisa.”
Ck! Charlotte membulatkan mata saat Dona menolak perintahnya. Kepala pelayan didepannya ini sama keras kepalanya dengan majikannya! Sungguh Charlotte tak habis pikir.
“Dona, apa kau senang kalau aku dan Xavi bertengkar seperti ini? Kau pasti tahu kalau kami sedang perang dingin. Jadi demi kelangsungan kedamaian Mansion, katakan padaku dimana Xavi sekarang! Aku harus menyelesaikan masalah kami!” ucap Charlotte gemas.
__ADS_1
Perkataannya sedikit membuat Dona terdiam beberapa saat. Charlotte melihat wanita itu berpikir. Ia menarik sudut bibirnya karena merasa Dona terbujuk rayuannya.
“Baiklah Nona. Saya akan tunjukkan kamarnya. Mari ikuti saya.” Charlotte sumringah saat usahanya berhasil, ia mengikuti Dona pergi.
Mansion milik Xavier memang sangat luas. Mungkin luasnya setara stadion sepak bola di ibukota. Karena itu dibeberapa sudut tempat, terdapat lift yang menghubungkan lantai satu dengan lainnya. Charlotte diajak ke lantai paling atas. Dimana ia belum pernah menjamah tempat itu. Lantai itu sangat sepi. Bahkan hanya sedikit lampu penerangan yang menyala disana. Hingga langkah Charlotte terhenti di ujung lorong didepan sebuah pintu besar berbahan baja berwarna cokelat.
“Tuan ada didalam. Anda hanya perlu membukanya dengan jari Nona. Kamar dan juga ruangan ini terhubung dengan Anda. Tuan sudah mengaturnya. Dan masih belum berubah sama sekali.” Jelas Dona.
“Oh baiklah. Terima kasih Dona.” Ucap Charlotte.
“Nona.”
“Ya?” Charlotte terhenti saat tangannya hampir menyentuh finger print pintu.
“Tuan sangat jarang kesini. Beliau akan datang saat pikirannya sedang kacau.” Dona menghela nafas sejenak. “Apapun masalah kalian, tolong selesaikan dengan baik-baik. Tuan memang keras tapi akan bersikap baik pada orang yang disayanginya. Saya pikir, Anda bisa meluluhkan hati Tuan.”
Charlotte terdiam, ia kemudian mengangguk mengerti. Charlotte kembali meletakkan jari telunjuknya ke kotak berbentuk persegi. Pintu seketika terbuka, ia menarik hadle pintu dan membukanya perlahan.
.
.
.
__ADS_1
Jgn lupa VOtenya bestie.. saranghae.. 😘