Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 86


__ADS_3

1 minggu berlalu…….


Charlotte tengah menyirami tanaman di kebun belakang Mansion Xavier ditemani oleh Dona. Kepala pelayan Mansion itu berdiri tegap disisi tempat duduk mengawasi kegiatan Nona Mudanya. Hal itu tentu saja atas perintah Xavier untuk terus menjaga Charlotte selama pria itu tidak ada.


Charlotte bernyanyi disela-sela kegiatannya. Ia sangat suka berbagai jenis bunga dan tanaman buah. Ia bahkan menanam sendiri pohon mangga dan jeruk. Semua jenis tanaman tumbuh subur ditaman itu yang dijaga baik oleh para pelayan.


BRRUMMM!


Charlotte menoleh cepat ketika mendengar suara mobil datang ke Mansion. Itu pasti mobil suaminya yang baru pulang dari kantor. Charlotte dengan terburu-buru menyelesaikan kegiatannya dan bergegas menyusul  suaminya.


“Nona hati-hati!” Dona begitu khawatir saat Charlotte hampir terjatuh karena kakinya terlilit selang air. Wanita itu hanya tersenyum dan meminta maaf. Charlotte tidak menghentikan langkahnya yang sudah lebih dulu masuk kedalam Mansion, meninggalkan Dona yang lebih lambat darinya.


“Tunggu!”


Charlotte menghentikan seorang pelayan yang tengah melintas didepannya. Pelayan itu menghampiri Charlotte dan membungkuk sopan.


“Apa suamiku sudah datang?” tanya Charlotte terlihat antusias.


“Benar Nona. Beliau ada di ruang kerjanya.” Jawab pelayan itu.


Senyum Charlotte kembali mengembang. Hari ini, ia begitu merindukan suaminya. Ah, bukan hari saja tepatnya, setiap hari ia selalu ingin bersama suami tampannya itu. Entahlah kenapa ia bisa begitu. Kata Dokter Catty, itu mungkin saja efek hormon ibu hamil. Yah mungkin saja begitu. Toh ia hamil anak Xavier, sah sah saja ia merindukan ayahnya. Kalau merindukan Dean, nah itu baru aneh.


Charlotte memutuskan ke dapur. Ia ingin membuatkan teh hijau untuk suaminya. Minuman itu akan merelaksasikan pikiran Xavier untuk lebih tenang setelah bekerja seharian.


Tak butuh waktu lama, Charlotte membawa nampan berisi teh hijau hangat yang ia buat sendiri. Minuman apapun, Charlotte dengan mudah bisa membuatnya. Terkecuali makanan. Ckck.


Dona baru masuk kedalam Mansion, ia melihat Nonanya berjalan seraya membawa secangkir minuman dengan senyum tak pernah luntur. Dona pikir, minuman itu pasti untuk Tuan Muda. Dona ikut merasa senang jika keadaan Mansion berubah membaik karena keharmonisan kedua majikannya. Ia bersyukur atas hal itu.


Charlotte sudah berdiri didepan pintu berpelitur kayu yang menjulang tinggi. Memang, ruangan kerja Xavier dibuat berbeda dengan ruangan lainnya. Dari luar saja, ruangan itu tampak menyeramkan karena bercat hitam dengan perpaduan cokelat tua warna asli kayu yang terkesan tampak mewah. Charlotte perlahan memindai tangannya untuk mengetuk pintu.


“Eh?” Baru saja jari telunjuknya menyentuh pintu, Charlotte melihatnya tidak terkunci. Ada celah kecil yang mampu diakses tangannya agar membuka pintu lebih lebar. Namun ada baiknya ia mengetuk dulu sebelum masuk kedalam.


“Hari ini, selesai sudah tugas saya Tuan. Besok Tuan Julius akan menyerahkan dokumen kepemilikan perusahaan pada Anda.”


Suara William mendominasi pendengarannya saat ini. Charlotte reflek mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu. Sepertinya pembicaraan didalam sana lebih serius. Haruskah ia pergi?

__ADS_1


“Hahaha! Aku tidak salah memberimu tugas itu Will. Kau hebat. Good job!”


Charlotte terkejut kala mendengar tawa Xavier yang terdengar sarkas dan angkuh. Biasanya pria itu tertawa dengan suara pelan dan tidak dilebih-lebihkan. Dan terkesan cool. Charlotte benar-benar ingin tahu, apa yang membuat suaminya tertawa seperti itu?


“Terima kasih Tuan Muda.”


“Kau berhak mendapat kenaikan. Aku pastikan itu!”


“Terima kasih banyak Tuan Muda!”


“Ya. Lalu kapan bedebah itu kesini? Aku ingin dia sendiri yang menemuiku dan meminta ampun.” Tanya Xavier.


“Kalau Anda mau, sekarang saya akan membawanya kemari.”


“Haha, tidak perlu. Aku lebih suka melihatnya menderita dari jauh. Bisa runyam jika Charlotte tahu dia kesini untuk berlutut padaku. Sekarang aku senang…” suara Xavier terdengar terjeda, “Bisnis keluarga Nahendra hancur.”


PRANG!


Suara itu berasal dari pintu ruangan. Xavier dan William sama-sama terkejut saat melihat Charlotte berdiri disana. Cangkir minuman yang dibawa wanita itu terjatuh ke lantai dengan suara keras. Namun pemegangnya, hanya mematung ditempat dengan mata cokelatnya yang tak lepas memandang kearah mereka.


“Sayang, kau tidak apa-apa?” Xavier mengalihkan keterkejutan Charlotte dan menyentuh tubuh wanita itu mencari luka, ia takut jika pecahan cangkir itu terkena bagian tubuh istrinya.


Dona yang juga mendengar suara barang pecah langsung datang. Ia sontak melebarkan mata melihat pecahan benda tajam berserakan didepan pintu ruang kerja majikannya. Ia segera memanggil pelayan untuk segera membereskannya.


Xavier menarik tangan Charlotte menuju kamar mereka. Wanita itu hanya diam tanpa melepaskan pandangannya dari Xavier. Pria itu juga tahu jika sejak tadi, Charlotte memperhatikannya.


Blamm!


Akhirnya mereka berada dikamar, setelah Xavier menutup pintu rapat. Ia mengajak Charlotte ke sofa.


“Lepas!”


Xavier sontak berbalik terkejut dengan reaksi istrinya. Wanita itu melepas genggamannya dengan kasar. Seolah sentuhannya begitu menjijikkan. Tatapan wanita itu berubah-ubah, kadang terlihat bingung, benci dan juga kecewa.


“Sayan-“

__ADS_1


“Apa benar, kau menggulung tikar perusahaan Paman Julius?” tanya Charlotte.


“Kau ini bicara apa? Aku tidak mengerti.” Ujar Xavier pura-pura tidak mengerti. Ia sudah menduga, Charlotte pasti telah mendengar semua pembicaraannya.


“Aku dengar kau menghancurkan bisnis Paman Julius dan kau sangat senang dengan hal itu! Jawab aku Xavi, apa itu benar??”


“Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan. Kau salah paham. Mana mungkin aku menghancurkan bisnis orang lain? Aku juga tidak terlalu kenal dengan orang yang kau panggil Paman Julius itu.” Xavier masih terus menyangkal. Ia tetap bersikukuh,agar istrinya tidak tahu motif ia melakukannya.


“Dia ayahnya Fredy! Keluarga Nahendra yang kau sebut. Dia juga pernah datang kesini! Mana mungkin kau lupa Xavi.”


“Astaga sayang, buat apa aku melakukan itu!”


“Ya aku tidak tahu. Atau jangan-jangan kau ingin membalas Fredy tentang masalah kemarin?” tanya Charlotte memincingkan mata penuh curiga. Jika benar, Charlotte tidak bisa memaafkan Xavier. Ini benar-benar sudah kelewatan. Ia  pikir suaminya sudah berubah dan tidak akan membuatnya kecewa.


“Hei lihat aku!” Xavier menakup wajah sedih Charlotte untuk menatap penuh kepadanya. “Kau lupa, aku sudah meminta maaf padamu. Kita juga berjanji tidak akan mengungkitnya lagi. Kau pikir aku orang yang suka mengingkari janji?” ujar Xavier mencoba mendapatkan kembali kepercayaan istrinya. Ia tidak peduli jika harus berbohong. Charlotte tidak boleh tahu yang sebenarnya.


“Tapiii…. Kenapa aku dengar kau tadi bicara-“


“Kau salah dengar! Mengerti! Jangan terlalu dipikirkan.” Xavier melihat kebingungan diwajah istrinya. Hal itu menjadi kesempatan bagus baginya untuk lebih berusaha menyakinkan wanita itu.


Charlotte tampak menimang-nimang perkataan Xavier. Apa benar ia tadi salah tangkap. Tapi jelas-jelas suaminya menyebut Perusahaan keluarga Paman Julius.


“Benarkah aku salah dengar?” tanya Charlotte kembali.


“Ya. Percaya padaku. Hm.” Akhirnya Charlotte mempercayai Xavier, kepala wanita itu mengangguk pelan. Xavier tersenyum, ia langsung memeluk Charlotte dengan erat.


‘Kau boleh membenciku, tapi tidak akan kubiarkan kau pergi dari sisiku sayang.’ Tekad Xavier dalam hati. Semakin merekuh kuat tubuh istrinya.


.


.


.


Follow Ig @nanayu_95

__ADS_1


__ADS_2