
“Charlotte…” Kakek mendekati cucu menantunya. “Kau sudah bangun sayang? Bagaimana keadaanmu?” tanya Kakek dengan wajah cemas. Namun, pertanyaan kakek sama sekali tidak dibalas oleh Charlotte. Pandangan wanita itu mengarah pada lelaki yang menjadi suaminya. Ya, Charlotte menatap penuh arti pada pria itu.
“Bisa tinggalkan kami berdua. Hanya aku dan Xavi.” Tuturnya pelan.
Xavier mematung ditempatnya. Ia melihat sorot mata istrinya yang tidak biasa. Pandangan wanita itu terlihat kosong. Bahkan sudut matanya sedikit digenangi cairan bening. Apakah istrinya kini sedang menahan tangis?
“Biar kakek temani ya.” Kakek tidak mau membiarkan Xavier bersama Charlotte saat ini. Pria itu belum ia beri hukuman yang setimpal. Apalagi, Charlotte baru sadar, ia takut jika Xavier si cucu bodohnya lagi-lagi melukai wanita itu.
“Tolong tinggalkan kami Kek…” ucap Charlotte mengulang. Suara datar dengan tempo pelan seolah menegaskan jika wanita itu tak ingin siapapun ada disana.
Kakek ingin membantah, tapi Dean cepat-cepat menghampiri pria tua itu. “Nona ingin bicara berdua. Beri mereka waktu Tuan Besar. Toh kita hanya diluar.” Ujar Dean dengan sorot mata meminta.
Kakek mendengus kesal. Ia lirik Xavier dengan tatapan tajam. Ia bangkit dan berjalan keluar. Diikuti lainnya. Kini hanya Charlotte dan Xavier diruangan itu.
Pandangan mereka sejenak bertemu. Lalu seperdetik kemudian, Charlotte mengalihkan pandangannya ke luar jendela berkorden putih. Wajahnya datar, tanpa ekpresi.
“Ba-bagaimana keadaanmu sayang?” Xavier memberanikan diri bertanya. Ia perlahan memajukan langkahnya mendekat. Rasa rindunya pada wanita itu sudah tak terbendung lagi.
“Tetap disana.” Perintah Charlotte kembali menatap Xavier. Namun wajah cantik itu telah berubah muram dan dingin. “Aku punya permintaan padamu.”
“Permintaan apa?”
“Aku ingin melakukan tes DNA. Untuk anakku!” tegasnya.
“U-untuk apa Sa-sayang?” tanya Xavier kaget.
“Untuk membuktikan padamu jika aku tidak berbohong. Setelah melakukan itu….” Suara Charlotte terjeda sesaat. Wanita itu menarik nafas dalam-dalam. “Aku ingin kau menceraikanku!”
DEG!
__ADS_1
Bagai disambar petir, Xavier terhenyak lesu atas permintaan Charlotte.
“Aku tidak akan pernah menceraikanmu! Sayang kenapa kau tiba-tiba meminta itu?” Mungkinkah Charlotte mendengar pembicaraannya dengan Kakek? “Sa-sayang, a-apa kau tadi mendengar semuanya? “
“Aku mendengar atau tidak, sama sekali tidak mengubah keinginanku. Kau yang ingin ini terjadi, aku hanya memudahkan jalanmu….”
Xavier semakin yakin akan dugaannya. Charlotte mendengar pembicaraannya dengan Kakek dan Fredy. Tubuh besar Xavier langsung lemas. Ia bertumpu pada kerangka tempat tidur rumah sakit. Ia menatap sendu wanita didepannya. Ia merasa ketakutan. “Sayang…” Xavier ingin memeluk Charlotte, namun lagi-lagi, wanita itu melarangnya mendekat.
“Kau harus mendengar penjelasanku lebih dulu.“
“Tidak perlu! Semua sudah jelas bagiku. Aku tidak ingin melihatmu setelah ini.”
“Aku minta maaf Char, kumohon maafkan aku. Aku terpaksa melakukannya. Kumohon maafkan aku.” Xavier bersimpuh dikaki Charlotte dengan tubuh bergetar. Air mata Charlotte menggenang diujung pelupuk matanya. Ia mendongakkan kepala, mengerjapkan matanya untuk menghapus kesedihannya. Hatinya terasa sakit.
“Pergi, pergi dari sini! Hubungan kita sudah berakhir ketika kau berniat membunuhnya. Dia nyawaku dan kau dengan mudahnya ingin melenyapkannya? Aku tidak bisa lagi tinggal denganmu, kau sudah menghancurkan kepercayaaanku.” Tutur Charlotte dengan diiringi isakan tangis. Dadanya terasa sesak, sakit hatinya terlalu dalam terluka. Ia sudah tidak mau berhubungan dengan Xavier dalam segi apapun. Terlalu banyak luka yang pria itu berikan padanya. Ia tidak akan mampu bertahan jika terus bersamanya. Mungkin dengan perpisahan, mereka bisa bahagia. Mungkin…
“Belajar kau bilang? Apa ada seorang ayah melakukan itu pada anaknya sendiri? Kau masih meragukannya bukan?!” ucap Charlotte memandangi Xavier dengan rasa tak percaya.
“Bu-bukan begitu. Dia anakku, ya dia anakku….” Xavier seolah terpaksa mengatakannya. Ia seperti itu hanya ingin Charlotte kembali menerimanya, dan sayangnya Charlotte menyadari itu.
“Lepaskan aku! Aku tidak mau melihatmu, segera lakukan tes DNA agar semua terbukti. Pergi dari sini! Cepat pergi!!” teriak Charlotte begitu keras. Membuat orang-orang diluar ruangan masuk. Kakek segera menarik tubuh Xavier pergi dan menyuruh Dean membawanya keluar. Dona mendekati Charlotte dan menenangkan tangisan wanita itu.
“Mulai hari ini, jangan pernah tunjukkan wajahmu pada cucuku! Aku melarangmu Xavier!!!” suara Kakek menggelegar penuh amarah.
^^
“Anda sudah siap Nona?”
Charlotte mulai melakukan tes DNA, proses pengambilan cairan amnion melalui prosedur amniosentesis yang mengambil sampel jaringan plasenta. Usia kandungan Charlotte terbilang masih sangat muda, dan cara itu beresiko sangat besar pada janin dikandungnya. Awalnya Charlotte takut, tapi Dokter berjanji akan melakukannya dengan proses yang baik dan benar. Dan meningkatkan keselamatan ibu dan anak itu diatas segalanya. Kakek khusus mendatangkan Dokter terbaik LN agar prosesnya berjalan lancar.
__ADS_1
Setelah melakukan semua prosedur dan pengambilan sampel. Dokter mengembalikan Charlotte ke ruang perawatan. Hasilnya akan mereka lihat dalam 3 hari. Biasanya hasil itu akan keluar dalam waktu seminggu, tapi Kakek ingin semua dipercepat, biar cucu laki-lakinya itu sadar akan kebodohannya. Kakek geram mendengar Xavier masih meragukan ayah dari bayi yang dikandung Charlotte.
^^
“Kek, aku mau pergi dari sini.”
Charlotte malam itu mendatangi Kakek di ruang santai. Xavier sudah dipaksa Kakek keluar dari Mansion selama Charlotte disana. Ia masih tidak menginjinkan cucu laki-lakinya itu mengganggu kesehatan Charlotte. Kakek tahu, setiap hari Xavier terus datang kesana demi bisa menemui Charlotte. Tapi Kakek melarang dan menutup gerbang rapat-rapat.
“Mau kemana Nak? Kamu sedang hamil, tidak baik berpergian.” Ucap Kakek menasehati.
“Sebentar lagi aku bukan istri Xavi. Aku tidak pantas tinggal disini. Aku akan membawa bayi ini dan merawatnya seorang diri.”
“Tidak bisa! Kakek tidak mengijinkan. Kamu adalah tanggungjawab Kakek. Sampai kapanpun. Tetaplah disini. Ini juga rumahmu.” Ucap Kakek.
“Aku ingin pergi ke luar kota atau kemana saja, asal tidak satu tempat dengan Xavi. Kumohon Kek. Aku ingin menenangkan diri dulu.” Pinta Charlotte memohon.
Kakek menghela nafas. Sulit mengubah pendirian Charlotte saat ini. “Baiklah. Siapkan keberangkatanmu. Besok setelah hasil tes keluar, kamu boleh pergi.”
^^
Xavier seperti kehilangan separuh jiwanya. Ia luntang lantung tidak jelas. Dalam 3 hari ini, ia mondar-mandir Hotel-Mansion demi bisa bertemu istrinya. Semakin hari, semakin susah ia untuk bertemu istrinya, tentu saja semua itu karena Kakek. Xavier tidak memperdulikan Hugo yang terus mengajaknya fokus menghadapi Michael, pimpinan Cossa, ia sudah mengetahui rencana Cossa yang akan melakukan penyerangan pada barang pengiriman Xavier yang transit di pelabuhan. Nilai barang itu tidak main-main. Hampir menyentuh angka $50 juta. Karena memang sengaja didatangkan langsung dari Jepang. Xavier sudah menanti berbulan-bulan untuk mendapatkan barang-barang itu demi melancarkan usaha bisnisnya di kota. Rencana itu ternyata sudah diendus oleh Cossa dan itu digunakan untuk melemahkan kekuatan Xavier.
Hugo kebingungan, mereka belum mempersiapkan taktik apapun. Melihat kakaknya seperti orang gila mengharapkan bertemu dengan istrinya, membuat Hugo terpaksa mencari rencana lain. Ia tahu, Xavier saat ini belum bisa diajak berpikir, ia maklumi masalah yang dihadapi pria itu. Sebagai orang kepercayaannya, Hugo akan mengambil posisi Xavier dalam mengatur anak buah mereka. Berjaga-jaga hal buruk terjadi. Hugo meminta Dean mengurus Xavier, memintanya menenangkan kakaknya agar segera membaik. Hugo berharap, semangat Xavier segera kembali.
.
.
. Crazy up!!
__ADS_1