
Charlotte berjalan mondar-mandir didepan pintu utama didalam Mansion. Sesekali menajamkan pendengarannya. Ia menggigit jarinya manakala tak kuasa menahan kegelisahannya. Charlotte terus menunggu, menunggu seseorang datang dari balik pintu itu. Ia sebenarnya tidak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini.
“Nona, saya buatkan teh untuk Anda.”
Dona datang meletakkan secangkir teh dimeja lalu mendekati Charlotte. “Tuan Muda akan segera kembali. Nona beristirahatlah.” Ujarnya.
“Siapa juga yang menunggunya.” Sangkal Charlotte. Tidak suka perkataan Dona yang seolah-olah ia tengah menanti kedatangan pria jahat itu.
“Lalu siapa yang sedang Nona tunggu? Nona terlihat mondar-mandir dengan melihat pintu itu.” tanya balik Dona.
Charlotte diam, wajahnya tampak bingung untuk menjawab pertanyaan Dona. Mencari sebuah alasan. “Aku sedang olahraga, lihatlah.” Charlotte tersenyum kikuk sambil menggerakkan tangan dan kakinya memperagakan senam sehat. Tingkahnya sangat konyol.
“Di siang hari?”
“Hah?? Aaa, emb.. Ya! Olahraga itu tidak mengenal waktu, bisa pagi, siang, sore. Malam aku juga bisa olahraga kok.” Jawab Charlotte asal.
Dona tertawa kecil, lalu kembali bersikap datar. “Baiklah Nona. Kalau begitu, saya permisi.”
“Ya. Sana pergilah.”
Ketika Dona sudah pergi, Charlotte menjatuhkan tubuhnya ke sofa. Bernafas lega. Ia pikir, Dona akan mempergokinya sedang menunggu pria jahat itu. Tapi kenapa juga ia harus melakukan hal konyol itu? Hanya buang-buang waktunya.
Sebenarnya ia capek terus-terusan dikamar. Xavier tidak mengijinkan ia keluar. Harus patuh perintahnya dan disuruh jadi istri yang baik.
Tentang kejadian semalam, Charlotte masih kepikiran ucapan Xavier. Pria itu tanpa rasa bersalah kembali menindasnya. Ingin rasanya ia membalas, namun apa daya. Ia hanya wanita lemah yang tidak mampu melawan kekuasaan Xavier. Pria itu pasti bisa melakukan apa saja.
“Tidak. Aku tidak akan lupa perkataannya. Ya, aku akan menunggunya pulang.” Kekeh Charlotte kembali duduk dengan bersedekap tangan.
Brum! Brum!
Charlotte mengalihkan pandanganya ke pintu utama ketika mendengar suara mobil masuk ke halaman Mansion. Charlotte segera berlari ke jendela dan melihat siapa yang datang. Dilihatnya Xavier turun dari mobil bersama Dean. Sontak, Charlotte bergegas menjauh dan berlari ke ruang tamu tak jauh dari sana.
Charlotte duduk dan mengambil cangkir teh buatan Dona. Matanya sesekali melirik kearah pintu, lalu bersikap tenang seperti biasa.
Pintu terbuka lebar, Xavier masuk bersama Dean yang sibuk bicara dengan pria itu. Keduanya tampak fokus dalam pembicaraan mereka.
“Ehem!”
Xavier menghentikan langkahnya. Melihat Charlotte tengah duduk sendirian di ruang tamu. Wanita itu juga melirik sekilas padanya.
“Tunggu disini.” Perintah Xavier pada Dean.
__ADS_1
“Baik Tuan.”
Xavier menghampiri Charlotte. Sejenak memperhatikan sikap wanita itu yang kembali acuh. Xavier merasa ada sesuatu yang ingin istrinya itu katakan. Ia lalu duduk didepannya. Menunggu wanita itu bicara lebih dulu.
Charlotte meletakkan cangkirnya dan menyilangkan kakinya dengan angkuh. Tatapannya begitu datar, hingga membuat Xavier bertanya-tanya, apa yang terjadi dengan istrinya. Tadi pagi mereka baik-baik saja, lalu sekarang? Apa dia punya kepribadian ganda? Xavier ragu menyakini hal itu.
“Ada apa? Kau tampak tidak senang?” tanya Xavier.
“Benarkah, aku justru merasa luar biasa hari ini.” Luar biasa kesalnya! Dan itu karenamu!
“Apa yang membuatmu seperti itu?”
Charlotte memalingkan wajahnya, “Tidak ada.” Singkat, padat, jelas.
Xavier mengangkat satu alisnya, benar-benar dibuat bingung. “Begitu ya. Baiklah aku akan pergi, kurasa kau sedang tidak ingin bicara denganku.” Ucap Xavier. Mulai bangkit dari tempat duduknya. Merapikan jasnya dan hendak berbalik pergi.
“Tunggu!”
Tiba-tiba Charlotte berteriak. Xavier menoleh , menaikkan salah satu alisnya. “Ya?”
“Jika kau pergi, aku tidak akan memaafkanmu!” tandas Charlotte.
“Masih tidak tahu? Kau ini pintar sekali bersandiwara ya.” Charlotte mendengus kesal.
“Sebenarnya kau mau bicara apa? Kenapa cara bicaramu seperti itu?” ucap Xavier tak mengerti sikap Charlotte.
Charlotte menghampiri Xavier hingga mengikis jarak mereka. Pandangan Charlotte masih terlihat kesal, bibinya gemetar menahan emosinya. Hal yang ingin ia dengar hanya permintaan maaf dari pria itu, tapi Xavier sama sekali tidak merasa bersalah. Seperti dugaannya, laki-laki kaya seperti Xavier sangat angkuh. Tidak akan mudah mengingat kesalahannya ataupun minta maaf.
“Minta maaflah padaku?” tuntut Charlotte.
“Tentang apa?” tanya Xavier
“Kau benar-benar tidak ingat?” tanya Charlotte tak percaya jika Xavier melupakannya begitu saja.
“Apa? Katakan yang jelas.” Kini tingkat kebingungan Xavier naik satu level. Jika bukan Charlotte yang ada dihadapannya, pasti sudah dibuat bicara sejak tadi. Xavier bukan tipe orang yang suka main-main teka-teki.
“Semalam, ucapanmu benar-benar menyakitiku. Kau panggil aku dengan sebutan wanita rendahan, padahal kau tidak tahu apa-apa tentang kehidupanku!” Charlotte sedikit menaikkan suaranya. Ujung matanya mulai manganak sungai. Jika mengingat bagaimana Xavier melontarkan kata-kata itu, sungguh membuat Charlotte sakit hati. Ia ingin Xavier minta maaf padanya.
“Aku mengatakan itu karena kau dulu yang memulai. Tapi jika hal itu menyakitimu….. Aku minta maaf.” Ucap Xavier dengan nada bicara biasa tanpa terselip rasa bersalah.
“Kau bicara seolah tidak pernah melakukan kesalahan. Semudah itukah kau minta maaf?” tanya Charlotte, dadanya serasa sesak melihat sikap Xavier yang tidak berubah. Masih menganggap dirinya wanita tidak punya harga diri.
__ADS_1
“Lalu aku harus bagaimana? Kau sendiri tidak minta maaf padaku atas kejadian malam itu. Setidaknya saat kita bertemu, kau katakan semuanya hingga aku tidak perlu mencarimu seperti orang gila! Kau sendiri yang meremehkanku. Apa aku salah?” Charlotte terdiam.
“Jika aku tidak menemukan pemilik topi itu, apa kau tetap diam?” tanya Xavier kembali. Charlotte semakin tersudut.
Xavier mendekat pada Charlotte, memajukan wajahnya dan berbisik ditelinganya. “Aku tidak akan menyesali perbuatanku semalam, karena sejak saat itu, kau tidak akan bisa lepas dariku.”
Keringat dingin bercucuran diwajah Charlotte. Tubuhnya tegang. Perkataan Xavier mampu membuatnya ketakutan setengah mati.
Xavier menjauhkan diri dan berjalan pergi meninggalkannya sendiri.
^
“Jadi, Tuan sudah memberitahu Nona?”
Dean duduk didepan Xavier diruang kerja pria itu. Xavier membolak-balikkan kertas seraya menandatanganinya. “Hm.”
“Jadi karena hal itu kalian bertengkar?”
Xavier melempar laporan yang sudah ditandanganinya ke meja. Dean mengambilnya. Xavier merenggangkan dasi hitam bergarisnya yang dirasa mencekik lehernya. Menggulung lengan kemejanya dan bersandar di sofa.
“Dia keras kepala. Aku terpaksa memberinya pelajaran kecil.” Ucapnya diiringi ******* kecil.
“Nona Shinta menceritakan hal sebenarnya. Dia tidak tahu bahwa Nona Charlotte-lah yang membawa topi miliknya saat malam itu. Karena itu, Anda curiga jika bukan Nona Shinta pelakunya, tapi orang lain?” tanya Dean.
“Ya. Sikapnya biasa, dan tidak terlihat ketakutan saat bertemu denganku.” Ujar Xavier.
“Anda memang bilang sudah menemukan wanita itu, tapi tidak memberitahu siapa orangnya. Bagaimana Anda bisa berpikir jika Nona Charlotte adalah wanita itu?” tanya Dean.
“Ketika memeluknya pertama kali. Aku mencium aroma tubuhnya yang tidak asing. Mungkin ini terdengar konyol, tapi aku mampu mengingat dengan baik aroma tubuh seseorang.” Jawab Xavier.
“Kupastikan lagi dengan membawa adik tirinya ke kantor. Dugaanku semakin kuat saat wanita itu mencurigai Charlotte yang mencuri topinya. Timingnya juga cocok. Lalu, aku telusuri lagi dengan masuk kedalam kamarnya saat dia melakukan fitting gaun pernikahan. Saat ada kesempatan, aku mencari benda itu disana. Dan akhirnya aku menemukannya.”
.
.
.
.
Happy monday... and happy reading... ^-^
__ADS_1