Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 48


__ADS_3

Charlotte berdiri dengan merentangkan kedua tangan menatap cermin besar didepannya. Membiarkan Mike dan dua asistennya mencocokkan gaun pengantin ditubuhnya. Charlotte memasang wajah pasrah tatkala dirinya dipaksa menjajal semua baju pengantin yang disiapkan untuk acara pernikahan besok. Xavier, pria itu duduk di sofa sambil menatap intens kepadanya. Aura dingin terpancar diwajahnya yang tampan. Membuat Charlotte berpikir dua kali untuk membantahnya.


Sejak kedatangan pria itu ke kamar, suasana mulai berubah. Mike yang cerewet sejak pertama bertemu kini hanya diam melanjutkan pekerjaannya. Seolah mereka mengerti apa yang harus dilakukan jika sedang berada disekitar Xavier.


Ada beberapa gaun yang dicoba Charlotte. Dari gaun janji pernikahan sampai gaun malam. Charlotte sebenarnya kelelahan, gaun itu tidak hanya berat tapi membuatnya tak nyaman. Ada gaun yang benar-benar mengekpos area sensitifnya dan itu sangat memalukan.


“Sudah selesai. Sekarang ijinkan aku melihat wajah Nona. Aku akan mencari make up apa yang cocok dipakai.” Tangan Mike terulur menyentuh kacamata Charlotte.


Plak!


“Ouch! Sakit Nona. Kenapa Nona memukul tanganku.” Keluh Mike seraya mengusap tangannya yang memerah.


“Biar seperti ini saja.” Bibir Charlotte sedikit gemetar.


“Maksud Nona, Nona akan memakai kacamata jelek itu saat pernikahan?” Mike menahan diri untuk tidak tertawa.


“Kenapa? Apa salahnya?” tanya Charlotte.


“Itu tidak mungkin Nona. Nona harus tampil sempurna di pernikahan. Dan benda jelek itu harus disingkirkan. Mengerti nona?” ucap Mike mencoba memberi pengertian sebaik mungkin.


“Ini pernikahanku, aku berhak memilih apa yang kupakai.” Masih kekeh tak ingin melepas kacamatanya.


“Nonaa…. Mohon mengertilah. Aku berjanji akan membuat pernikahan Nona dan Tuan Muda sempurna seperti dalam dongeng yang tak terlupakan nantinya. Sebab itu, Nona harus melepasnya dan menggantinya dengan ini.” Tutur Mike seraya memperlihatkan softlens keluaran terbaru. Charlotte seketika menjauh.


“Tidak. Aku akan tetap pakai ini!” serunya menolak keras.


Charlotte tidak ingin wajah aslinya terekpos didepan umum. Bahkan keluarganya tidak tahu tentang itu selama ini. Mereka pasti menyalahkan dirinya karena telah membohongi mereka. Charlotte tak ingin hal itu terjadi. Dia harus menjadi wanita jelek seperti selama ini orang lain pikirkan. Itu adalah tameng baginya menghindari orang lain memanfaatkannya.


Sikap Charlotte tak lepas dari pandangan Xavier yang sejak tadi memperhatikannya. Pria itu berdiri dan mendekati mereka. “Pergilah. Tugas kalian sudah selesai.”


“T-tapi Tuan Muda, saya belum mengukur baju An.. Ah, baik Tuan Muda.” Mike tertunduk saat Xavier menatap tajam padanya. Pria itu langsung memberi kode mata pada kedua asistennya untuk berkemas. Lalu segera pergi meninggalkan kamar itu. Kini hanya menyisakan Charlotte dan Xavier disana.


“Kau masih ingin menyembunyikan wajahmu?”


Charlotte mendongak, namun hanya menatap Xavier tanpa mengatakan apapun.


“Semua orang pasti akan tahu cepat atau lambat. Jadi lepaskan.” Titah Xavier.


“Berhenti memerintahku. Kau pikir aku akan menurutimu? Jangan mimpi! Bertahun-tahun aku menyembunyikannya. Kali ini tetap akan sama.” Tolak Charlotte.


Xavier tersenyum smirk. Lalu dengan mudah, tangannya menarik kuat dagu Charlotte. Memaksanya menatap padanya. “Tidak seorang pun yang berani melawanku. Termasuk dirimu. Setelah menjadi istriku, kau harus mematuhi perkataanku. Suka atau tidak, itu kewajibanmu. Mengerti?!” Sejenak mereka saling menatap penuh emosi. Lalu dihempaskannya wajah Charlotte begitu saja. Xavier berbalik dan berjalan pergi.

__ADS_1


“Pria jahat!” teriak Charlotte.


^


“Xavi, ada apa?”


Kakek datang tepat ketika Xavier menutup pintu kamar Charlotte. Suara teriakan wanita itu terdengar jelas sebelum pintu tertutup. Membuat kakek bertanya-tanya ada masalah apa diantara mereka. Xavier mendekati Kakek dan memeluknya sebentar.


“Kakek pulang lebih awal? Kenapa tidak bilang padaku?” tanya Xavier.


“Kakek hanya ingin segera kembali kesini. Kau akan menikah, tentu saja kakek ingin melihat semua persiapannya.” Ujar Kakek seraya tersenyum.


“Semua sudah diatasi Dean. Kakek tidak perlu khawatir.”


“Hmm, baiklah. Kau selalu menyerahkan semuanya pada Dean. Apa lagi yang harus kakek lakukan?” ujar Kakek tertawa kecil.


“Kita ke ruanganku saja Kek.” Ajak Xavier.


Kakek berjalan lebih dulu diikuti Xavier. Mereka turun menuju ruang kerja Xavier dilantai dasar. Xavier duduk disofa, begitupun dengan Kakek disampingnya.


“Ada apa dengan Charlotte? Kalian masih bertengkar?”


“Haha, apa yang tidak Kakek tahu, hmm? Apa yang sudah Charlotte lakukan, semata karena dia tidak ingin menikah. Kakek maklumi itu. Tapi setidaknya, kau bersikap baiklah padanya. Wanita jika diperlakukan lembut, pasti akan luluh. Jangan keras-keras padanya.” Kata Kakek menasehati.


“Sudah kucoba, tapi dia tetap keras kepala.” Ujar Xavier.


“Berikah perhatian lebih. Kau akan merasakan perbedaannya.” Ucap kakek.


Xavier menghela nafas, menyugar rambut hitam legamnya. Matanya sejenak terpejam. Kakek menepuk bahu Xavier, “Kakek tahu kau menyukainya sejak awal bertemu. Iya kan?” tersenyum penuh arti.


Xavier tersentak, “Ke-kenapa Kakek bilang begitu? Siapa yang menyukainya.” Sangkal Xavier memalingkan wajah.


“Sikapmu menjelaskan semuanya. Jika tidak tertarik padanya, kau akan menolak perjodohan ini sebelum Kakek menyuruhmu membawanya kemari. Kakek pernah bilang, kau boleh menolak jika kau tidak menyukainya.” Ucap Kakek.


“Semua kulakukan demi Kakek. Cuma itu.” Ucap Xavier masih kekeh.


Kakek menyandarkan tubuhnya dan menerawang keatas. Sudut bibirnya sedikit tertarik keatas. “Ayahmu dulu mengatakan hal yang sama. Hingga pada akhirnya dia menikahi ibumu.”


“Ayahmu mencintai ibumu sampai maut memisahkan mereka. Kakek hanya ingin, kau melakukan hal yang sama.” Kakek berdiri, menepuk kembali pundak Xavier, lalu berjalan keluar dari ruangan.


Xavier terdiam, menundukkan kepala berpikir keras setiap perkataan Kakek padanya.

__ADS_1


“Jika aku baik padanya, apa dia akan tetap menjadi milikku.” Gumamnya pelan.


^^


Hari pernikahan tiba.  Setelah didandani begitu cantik dengan gaun pengantin putih, Charlotte duduk di ruangan khusus menunggu acara dimulai. Mike yang mendandaninya sejak pagi, begitu histeris ketika tahu wajah asli calon istri Tuan Mudanya. Dia begitu mengagumi kecantikan Charlotte yang natural dan tidak membayangkan wanita bertampilan mirik betty lavea itu kini menjelma bagaikan bidadari langit, begitu cantik dan sempurna, benar-benar diluar ekpektasinya selama ini.


Susanto masuk kedalam ruangan, seketika dibuat terkejut dengan penampilan putrinya saat ini. Ayah kandung Charlotte itu beberapa kali menyakinkan diri jika wanita didepannya adalah putrinya yang dicap buruk rupa oleh semua orang.


“Charlotte?”


“Ayah.”


Susanto tersenyum, wanita itu benar-benar putrinya. Susanto mendekat, “K-kau mirip sekali dengan mamamu.”


“Benarkah yah?”


“Ya. Kau cantik Charlotte. Tuan Muda Xavier pasti semakin tertarik denganmu… Gunakan kesempatan itu. Kau mengerti kan.”


Wajah Charlotte yang senang kini berubah pias. Ayahnya masih saja mementingkan cara merebut hati Xavier didepannya. Ini hari pernikahannya, tidak bisakah sedikit saja ayahnya mengerti bagaimana perasaannya?


“Ya Ayah. Charlotte mengerti.” Charlotte menunduk, meremas kedua tangannya penuh sesal.


Kemudian Susanto menggandeng Charlotte, ketika seorang pelayan meminta mereka untuk bersiap karena acara segera dimulai. Mereka berdiri didepan pintu yang tertutup dimana pintu itu menghubungkan mereka menuju altar yang dipenuhi seluruh tamu undangan.


Susanto kembali bertanya pada Charlotte, “Apa Tuan Muda sudah tahu tentang wajahmu?”


Charlotte membalas dengan tersenyum getir dan memusatkan kembali pandangannya kedepan.


“Bagus. Ayah bangga padamu.”


Hatinya sakit, tidak ada sedikitpun orang peduli padanya. Hari ini seharusnya menjadi hari paling penting baginya. Hari pernikahannya yang diimpikannya, membayangkan berdiri bersama dengan pria yang dicintainya. Berjanji untuk saling mencintai dan hidup semati. Ya, mimpi yang hanya akan menjadi mimpi untuknya.


Pintu terbuka lebar, Charlotte dan Susanto berjalan perlahan menuju altar. Dimana dirinya akan menunjukkan pada semua orang rahasia terbesarnya. Dan lagi-lagi, semua atas keinginan pria kejam itu.


.


.


.


jgn lupa VOTEnya boskuhh.... see youu

__ADS_1


__ADS_2