Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 76 (Part 2)


__ADS_3

“Ma, semalem aku dengar ada orang nangis. Kupikir ada kunti. Eh gak tau nya….” Shinta bicara dengan melirik Charlotte yang baru saja bergabung di meja makan bersama mereka. Wanita itu diam-diam tersenyum meledek. Begitupun dengan Sella, kedua wanita itu terlihat puas telah berhasil menertawakan sikap Charlotte semalam.


Shinta mengetahui Charlotte menangis semalam ketika ia baru pulang dari rumah temannya. Ia tak sengaja mendengar wanita itu menangis didalam kamar. Tentu saja hal itu ia segera beritahukan pada Sella, mamanya.


Charlotte hanya melirik mereka sekilas, lalu duduk di kursi samping Shinta. Ia memilih mengacuhkan mereka dan mengambil susu hangatnya. Semalam, suara tangisnya benar-benar sampai keluar kamar. Mendengar Shinta membicarakan dirinya, wanita itu pasti sudah memergokinya. Dengan tidak tahu malunya, membicarakan aib dirinya pada orang lain. Adik tiri yang baik memang.


“Untuk apa kamu tangisi pria itu. Biarkan saja dia pergi. Kalau perlu tidak usah kembali!” Ujar Susanto.


“Ckck, mantu idaman kita cuma Fredy. Gak ada yang lain. Iya kan sayang?” Sella bersuara dengan lembut namun sarat akan sindiran halus. Charlotte membuang nafas ke udara. Menganggap ucapan mereka angin lalu.


Sudah biasa ia mendapat perkataan menyakitkan dari keluarganya. Tidak heran jika Charlotte sudah kebal dengan celotehan mereka. Kedua wanita itu seolah tidak memahami penderitaan Charlotte. Mereka akan sangat bahagia jika dirinya dapat kesulitan. Terkadang, ada keinginan untuk pergi menjauhi mereka. Hidup mandiri seorang diri. Namun pada kenyataannya, ia terikat oleh pernikahan yang diatur oleh mereka. Terkadang masih ada rasa sesal dalam hatinya.


“Ma, Pa. Besok kan libur, apa boleh aku pergi dengan teman-temanku  ?” pinta Shinta.


“Tentu boleh sayang. Lakukan sesukamu. Kapan-kapan ajak mereka mampir kerumah ya.” ucap Sella antusias.


Bagaimana tidak senang. Putri kesayangannya itu memiliki teman dari kalangan atas. Hal itu membuat derajat mereka naik dimata orang. Selalu Shinta yang dipuji dan menjadikannya keberuntungan dirumah itu. Shinta diperlakukan dengan sangat manja bak putri kerajaan. Sangat berbeda dengan sikap mereka pada Charlotte.


“Baik Ma.”


“Kamu memang putri Mama paling cantik.” Puji Sella berlebihan.


“Makasih Ma.”

__ADS_1


“Aku selesai.” Charlotte berdiri tanpa menyentuh satupun makanannya. Ia benar-benar muak dengan drama yang mereka buat. Baru beberapa hari ia berada dirumah, seolah rumah itu menjadi alasan ia jenuh.


“Makan sarapanmu. Nanti suamimu pikir, ayah tidak memberimu makan kalau kamu sakit.” Tegur Susanto.


“Aku tidak lapar yah.” Charlotte tidak memperdulikan ucapan ayahnya dan pergi dari sana.


Kini Charlotte bingung harus melakukan apa. Ia dilarang keluar rumah. Banyak pengawal Xavier menjaga diluar rumah. Ia terkurung dalam sebuah sangkar besi.


Mungkin jika itu sangkar emas, semua yang dibutuhkan Charlotte akan terpenuhi. Ia tidak perlu memikirkan apapun karena semua sudah tersedia dan dilayani oleh pelayan. Namun berbeda dengan sekarang. Ia tidak bisa bergerak bebas, tinggal bersama Saudara  dan ibu tiri yang jahat. Selalu disalahkan atas semua tindakan yang ia lakukan. Semua serba salah untuknya.


Charlotte berjalan kemanapun kakinya melangkah. Ia malas melakukan apapun. Yang ia inginkan hanya pergi keluar dari rumah ini dan menemui Xavier. Ingin rasanya memarahi pria itu dan memukul kepalanya yang keras kepala itu. Tapi dimana keberadaannya ia sendiripun tak tahu.


Langkah Charlotte terhenti diteras samping rumah yang biasa dipakai untuk bersantai. Tempat itu terhubung dengan jalan setapak menuju halaman depan. Disana tidak ada orang. Tempat itu salah satu tempat favorit Charlotte ketika ingin sendirian. Charlotte duduk di kursi yang terbuat dari kayu mahoni. Didepannya terdapat kolam yang berisi  ikan koi dan ikan-ikan kecil lainnya. Diatas kolam itu ada tumbuhan teratai dengan bunga yang mekar dengan indah. Suara gemericik air dari pancuran atas menenangkan hati Charlotte. Ia lebih memilih berlama-lama disana dibandingkan didalam rumah yang serasa neraka.


Langkah kaki seseorang menghampiri Charlotte dari belakang. Ia menoleh sedikit. Dilihatnya William datang. Charlotte memutar bola matanya, begitu malas jika harus meladeni bodyguard Xavier itu.


“Saya mencari Nona.”


“Ada apa mencariku! Jika tidak penting pergilah. Aku ingin sendiri.” Usir Charlotte sedikit kesal.


“Saya hanya ingin memastikan Nona dalam keadaan baik. Jika kehadiran saya mengganggu, saya akan pergi. Permisi Nona.” William membungkuk sopan, lalu membalikkan tubuhnya.


“Tunggu!”

__ADS_1


Charlotte berdiri dan mendekati William. Sikap Charlotte sedikit dingin. Ia memandangi William seolah berusaha mencari kesalahan pria itu. Hingga membuat William salah tingkah.


“Berikan padaku.” Tangan Charlotte menengadah.


“Hah? Apa maksud Nona?” William tidak mengerti.


“Ponselmu! Aku ingin bicara dengan suamiku, jika aku pakai nomorku sendiri, dia pasti akan menolaknya. Jadi berikan ponselmu dan bekerja samalah denganku!”


“Saya tidak bisa Nona. Saya akan dihukum oleh Tuan.“


“Tidak akan, percayalah padaku.”


“Tetap tidak bisa Nona.”


Charlotte mendengus kesal. Bodyguard Xavier satu ini memang sulit dibujuk. “Kalau begitu, telfonkan dia sekarang!”


“Maaf Nona, saya tidak bisa. Tuan tidak bisa diganggu.”


“Heh! Aku ini istrinya, dia harus menerima telfon dariku. Istri itu harus didahulukan daripada yang lain!” ujar Charlotte tak mau kalah.


Wiliiam hanya diam tertunduk seperti patung. Charlotte jadi lelah sendiri untuk dalam mempengaruhi pria itu. Ia menghela nafas kesal, lalu menjatuhkan tubuhnya dikursi.


“Apa aku salah kalau merindukan suamiku sendiri? Hiks…” Charlotte kembali terisak pelan.

__ADS_1


__ADS_2