
Charlotte turun kebawah setelah berhasil menidurkan suaminya. Ia ingin mencari ayahnya dan membahas masalah perusahaan. Ia mencari ke ruang kerja yang biasa digunakan ayahnya. Charlotte masuk seraya melongokkan kepalanya.
“Ayah?”
“Char, masuklah.” Dugaannya benar, Ayahnya ada disana tengah duduk dengan tumpukan berkas dimeja. Charlotte masuk dan berjalan menghampirinya. Ia duduk didepan ayahnya yang masih sibuk menulis di selembar kertas.
“Ayah sedang apa?”
“Membuat surat permohonan kerjasama. Harus dikirim hari ini.” Jawab Susanto.
“Boleh aku bantu yah? Beritahu aku apa saja kendala yang dialami perusahaan?” tanya Charlotte. Susanto menghentikan aktivitasnya dan mendongak menatap putrinya. Ia menghela nafas sekilas dan meletakkan kacamatanya.
“Xavier sudah meminta mengalihkan saham atas namamu. Biarkan dia yang mengurusnya.” Ucap Susanto.
“Aku sudah memintanya untuk mengijinkankanku mengurus masalah ini. Dia setuju yah.” Ujar Charlotte.
Susanto terkejut, namun ia segera membalas Charlotte. “Kenapa Char, apa kau tidak percaya dengan suamimu?” tanya Susanto.
“Bukan begitu yah. Aku hanya ingin dengan usahaku, aku bisa mengembalikan perusahaan kakek.”
“Char. Ini bukan ajang main-main. Jika kau mengurusnya tanpa bantuan Xavier, ayah tidak jamin semua berjalan baik. Serahkan semua padanya, ayah melakukan ini juga karena ingin menyelamatkan perusahaan.” Jelas Susanto.
Susanto akui selama ini ia telah memforsir keinginannya pada Charlotte. Mendengar putrinya dalam kesulitan dipernikahan mereka, sedikit membuat Susanto bersalah. Ia tahu, Charlotte tidak pernah meminta banyak hal padanya. Putrinya selalu menurutinya. Selalu seperti itu hingga ia tak sadar bahwa putrinya punya jalan hidupnya sendiri.
“Ayah tahu, kau sangat menyanyangi kakekmu. Keinginanmu untuk menyelamatkan perusahaan juga bukan hal salah. Tapi Charlotte, ini benar-benar diluar kuasa ayah. Jika dibiarkan berlarut-larut, ayah khawatir perusahaan akan hancur dalam hitungan cepat. Bersabarlah.”
“Yah…” Charlotte memegang tangan ayahnya. Tersenyum dengan hangat. “Beri Charlotte kesempatan sekali ini saja. Aku tahu ini beresiko, tapi biarkan aku membantu. Jika nanti aku gagal, aku akan merebut kembali perusahaan apapun caranya. Kumohon yah. Ya?” pintanya memohon.
Susanto terdiam. Ia tampak menimbang-nimbang permintaan Charlotte. Sudah jelas bagaimana jadinya jika mereka tidak bisa mempertahankan perusahaan. Sedangkan putrinya ingin turun tangan sendiri. Bisakah ia mempercayakan perusahaan pada Charlotte?
“Yah?”
__ADS_1
“Baiklah. Ayah ijinkan.” Ucap Susanto pada akhirnya. Ia menyerah pada permintaan putrinya yang bersungguh-sungguh.
Senyum merekah terukir diwajah cantik Charlotte ia merasa sangat senang. Ia langsung berdiri dan memeluk ayahnya. Tak menyangka akan berhasil membujuknya.
“Terima kasih Yah.” Ucapnya penuh kebahagiaan.
^
Charlotte kembali ke kamarnya setelah berdiskusi dengan ayahnya. Mulai besok ia akan bekerja dikantor membantu disana. Charlotte berjalan dengan bersemangat. Begitu senangnya, ia tidak menyadari jika Shinta, adik tirinya mendekat dari arah lain. Sibuk bertelepon ria.
DUK!
“Astaga! Punya mata gak sih!?” Seru Shinta saat ada orang yang sengaja menyenggol bahunya. Ia berbalik dan melihat siapa pelakunya.
“Ohh, Kakak Charlotte yang cantik rupanya.” Ucap Shinta sengaja berbicara dengan nada menyindir. Charlotte menanggapinya dengan bersikap tenang. “Sudah punya wajah cantik tapi gak bisa lihat jalan, percuma dong.”
“Maaf, aku tidak sengaja.” Balas Charlotte datar, ia berniat pergi. Tidak ingin berdebat dengan Shinta di saat hatinya sedang senang-senangnya.
Shinta berjalan mendekat membuat Charlotte harus membalikkan badannya. Ia memutar bola matanya dengan malas.
“Kapan kau balik ke tempatmu?”
“Kenapa memangnya?”
“Aku tidak nyaman. Kau dan suamimu itu, terlalu berlebihan.”
“Apa maksudmu?” Charlotte memiringkan kepalanya tidak mengerti.
“Kau tidak lihat diluar, rumah ini seperti rumah tahanan. Banyak sekali pengawal-pengawal bodoh. Teman-temanku sampai tidak mau datang kesini gara-gara mereka!” ujar Shinta.
“Ohhh, jadi mereka mengganggumu ya?” Charlotte bicara seolah peduli.
__ADS_1
“Tentu saja! Pake nanya lagi.”
“Wah, ternyata ada sisi positifnya punya suami hebat. Aku bisa dilindungi banyak orang, dan juga berhasil membuatmu kesal! Haha.” Charlotte tertawa senang penuh ejekan, lalu berlalu pergi meninggalkan Shinta dengan wajah puas.
“Dasar wanita jahat!”
.
.
.
Perhatian!!!
Assalamulaikum wr. wb. temen-temen.... Sebelumnya Nana mau ucapin Selamat berpuasa bagi temen-temen yang menjalankan. Semoga puasanya lancar dan berkah dalam bulan suci ramadhan ini. Tak lupa Nana mau ucapin terima kasih yang sebanyak-banyak untuk temen-temen yang sudah dukung Nana di Novel MTP ini.
Untuk pemberitahuan selanjutnya, HANYA selama bulan puasa ini (30 HARI) , aktivitas nana dalam menulis akan sedikit berkurang mengingat bulan puasa ini adalah bulan baik dalam mencari keberkahan. Nana akan mengoptimalkan aktivitas nana lebih baik lagi. Maka untuk itu Nana buat list untuk satu bulan ini dalam menulis MTP ya :
1. Dalam satu bab akan berisi minimal 500 kata\, bab selanjutnya menjadi part 2. (Biasanya 1000-1200 kata/bab)
2. Setiap hari diusahakan update.
3. Bab baru akan publish rata-rata selesai berbuka puasa.
Jadi untuk temen-temen yang menunggu update terbaru jangan khawatir akan digantung lama-lama ya. Nana bakal tetep nulis walaupun cuma sedikit, daripada hiatus lama.... huhuhuhu (mewek).
Jadi temen-temen semua harus tetap semangat dan terus tingkatkan ibadah puasanya ya......
Terima kasih. Sarang Heo ^-^
Wassalamualaikum wr.wb.
__ADS_1