
“Katakan apa yang kau lakukan?”
Charlotte berdiri dengan kepala tertunduk, *******-***** kedua tangannya. Ia seperti tengah disidang oleh dosen penguji yang jika salah menjawab akan kena revisi berbab-bab. Malu untuknya jika Xavier tahu apa yang sedang ia lakukan. Awalnya ia ingin membuatkan bubur untuk pria itu. Xavier sakit juga karena dirinya. Sebagai penebusan kesalahannya, ia ingin membuatkan bubur buatannya sendiri.
Sudah tiga kali percobaannya gagal. Jika Xavier tahu ia bersusah payah demi dirinya, ia pasti diledek habis-habis oleh pria itu. Malunya itu lho yang sulit dihilangkan. Dimana nanti ia menaruh wajahnya? Ia benar-benar malu.
“Kenapa diam. Jawab aku.” Desak Xavier.
“I-iya–iya aku akan jawab.” Charlotte bingung, tapi ia tak punya pilihan lain.
“Aku sedang buat bubur.”
“Untuk siapa?”
“Untuk…. Untukku lah! Siapa lagi.” Sangkal Charlotte cepat. Ia memalingkan wajahnya karena merasa gugup. Xavier tidak boleh tahu yang sebenarnya.
“Oh ya?”
“Iya lah.”
Xavier menatap Charlotte lebih intens dari sebelumnya, menyadarkan punggungnya dikursi. “Tadi kalau tidak salah, aku mendengar wanita menangis karena takut masakannya tidak bisa kumakan. Kira-kira kau tahu siapa orangnya?” ucapnya seraya memiringkan kepalanya. Salah satu alisnya terangkat, dengan tarikan disudut bibirnya.
Charlotte melotot dengan bibir terbuka lebar, tak menyangka jika Xavier melihat dan mendengar ucapannya pada pelayan. Sejak kapan pria itu ada disana? Apa saja yang sudah ia dengar?! Charlotte menggigit jarinya karena tertangkap basah berbohong.
“Kau menguping ya!” tuduhnya sebaliknya.
“Tidak.”
“Kau jelas-jelas melakukannya!”
“Jadi kau ingin bilang ucapanku benar?” Xavier tersenyum smirk.
“Ya! Ma-maksudku tidak!!” bibir Charlotte terpeleset.
Xavier menahan tawanya, membuang muka. Charlotte sungguh membuatnya terhibur. Dasar kucing nakal, sudah ketahuan masih mengelak, pikir Xavier gemas.
“Mau tahu cara membuat bubur yang enak?”
“Hah?”
Xavier bangkit dan berjalan ke depan pantry dapur. Ia mengambil panci baru dan beberapa bahan makanan. Xavier melirik Charlotte. “Kemarilah, kuajari kau membuatnya.”
“Mengajariku?” Charlotte menunjuk dirinya sendiri.
“Ya. Mau atau tidak?”
__ADS_1
Charlotte terdiam sesaat. Bertanya-tanya apa Xavier bisa memasak dengan baik. Ia ragu.
“Dengar tidak? Kau mau masak bubur denganku atau pilih pergi dari sini.” Tegur Xavier sedikit menaikkan suaranya.
“Ah, I-iya.” Charlotte berjalan cepat menghampiri Xavier.
^
Tangan Xavier dengan telaten memasukkan bumbu kedalam panci, tak butuh waktu lama, hanya perlu 10 menit, bubur itu hampir selesai. Tinggal beberapa langkah agar hasilnya maksimal. Xavier melirik Charlotte yang sedari tadi berdiri disampingnya dengan raut wajah antusias. Wanita itu sesekali menggigit bibir bawahnya seolah ingin segera mencicipi hasil masakan Xavier. Xavier tanpa sadar menarik sudut bibirnya melihat tingkahnya yang menggemaskan.
Grep!
Dalam sekejap Charlotte sudah berada didepan Xavier. Pria itu menariknya dengan mudah. Charlotte terlihat terkejut atas tindakan Xavier tersebut.
“Aduklah. Sampai benar-benar matang.” Ujar Xavier.
“Ah, i-iya.” Charlotte melakukan perintah Xavier. Ia mulai mengaduk makanannya.
“Jangan terlalu pelan. Begini caranya…” Xavier tiba-tiba menggenggam tangan Charlotte, membantunya dalam mengaduk. Tubuh mereka begitu dekat, wajah keduanya sangat dekat. Hembusan nafas Xavier terasa menggelitik ditelinganya. Wangi khas tubuh Xavier begitu terasa kuat diindera penciumannya.
Deg.. deg… deg….
Detak jantungnya kembali berdetak cepat. Jedag jedug tak karuan. Sedekat itu dengan Xavier semakin menggetarkan tubuhnya. Semakin kuat dan mempengaruhi pikirannya.
“Ini sangat mudah kan?” bisik Xavier tepat ditelinga Charlotte. Hembusan hangat nafasnya mampu membuat tubuhnya meremang seketika.
“I-iya.”
Netra hitam Xavier menghujam dalam pada netra cokelat milik Charlotte. Menatapnya intens penuh makna. Charlotte semakin salah tingkah. Dipegangnya pinggiran meja dapur dengan kuat. Matanya terpejam rapat saat wajah Xavier semakin dekat kearahnya.
Dua detik… tiga detik… lima detik menunggu… butuh waktu berapa lamakah bibir pria itu mendarat dibibir tipisnya? Ia tunggu-tunggu namun tak kunjung dirasakan. Charlotte tetap memejamkan matanya seolah-olah Xavier akan menciumnya.
Eh? Kenapa Charlotte merasa sunyi? Suara kompor dibelakangnya sudah tak terdengar. Ada gerakan namun terdengar pelan. Perlahan namun pasti, Charlotte memberanikan diri menengok.
Dilihatnya Xavier berdiri membelakanginya tengah memasukkan bubur ayam ke sebuah mangkuk. Charlotte terperangah tak bisa berkata apa-apa. Beberapa menit yang lalu, ia pikir akan dicium oleh Xavier. Ia sudah bersiap-siap, namun apa yang dipikirkannya berbanding sebaliknya. Charlotte malu sendiri jadinya.
“Ini sudah siap. Ayo kita makan.” Ajak Xavier.
“I-iya.”
Charlotte menonyor-nonyor kepalanya sendiri. Sungguh hal memalukan bisa berpikir Xavier akan menciumnya lagi. Ia menyalahkan dirinya sendiri.
Mereka menikmati sarapan bubur ayam buatan Xavier. Charlotte tak bisa berhenti menghilangkan rasa malunya. Ia makan dengan menunduk. Tak berani menatap langsung wajah Xavier. Bubur ayam buatan pria itu juga enak, tapi ia tidak bisa mengungkapkannya sekarang. Menelan ludah saja susah, apalagi bicara dengannya.
Xavier sudah selesai makan. Ia bangkit berdiri. “Aku ke toilet sebentar.”
__ADS_1
“I-iya.”
Setelah Xavier pergi, Charlotte meletakkan kepalanya dimeja dengan wajah lesu. Hari ini terasa sulit untuknya. Ingin membuatkan Xavier sarapan, justru pria itu yang membuatkannya. Berharap mendapat ciuman Xavier, justru rasa malu yang ia dapat. Berharap lebih memang tidak baik. Ia tidak boleh melakukannya lagi.
“Buang pikiran kotormu… Tarik nafas …buang…” Charlotte bicara pada dirinya sendiri. Menenangkan diri.
“Apa yang kau lakukan?”
Xavier datang dengan membawa kotak beludru berwarna hijau zamrud. Ia langsung duduk ditempatnya. Meletakkan kotak itu dimeja.
“Apa itu Xavi?” Seperti kotak perhiasan. Itu perkiraan Charlotte.
“Kau mau lihat? Buka saja.”
Xavier mengedikkan kepalanya menyuruh Charlotte membukanya sendiri. Charlotte mengambilnya. Perlahan membukanya. Netra cokelatnya berbinar, ketika melihat isi kotak itu adalah sebuah kalung yang cantik. Ia terpana, menganggumi desain kalung itu yang memang sangat unik. Berbeda dengan kalung lainnya yang pernah ia lihat.
“Ini sangat indah Xavi, bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya Charlotte. Ia sangat yakin, kalung itu sangat mahal harganya. Ia tidak berani menyentuhnya.
Xavier berdiri dan berjalan mendekati Charlotte. Diambilnya kalung itu dari wadahnya. “Ini untukmu.”
“Hah?!! Untukku??” Charlotte terkejut.
“Ya. Ini hadiah pernikahan dari kakek.” Ujar Xavier beralasan.
“Jadi Kakek yang membelikannya untukku?”
“Kenapa? Kau pikir aku yang membelikanmu?”
Charlotte tertawa kikuk, “Tidak juga.” Mana mungkin kau membelikan barang semahal itu untukku? Aku-nya saja yang Ge-er. Gerutu Charlotte menyesal.
Xavier berdiri dibelakang Charlotte dan membantunya mengalungkan kalung itu. Charlotte terlihat lebih cantik saat memakainya. Xavier tak henti menatapnya.
“Kenapa melihatku? Aku jelek ya?” Charlotte sanksi jika Xavier akan meledeknya.
“Tidak, kau memang sudah jelek.”
“Apa??” Charlotte ingin protes.
Cup…
Tiba-tiba saja, bibir Xavier membungkam bibir ranum Charlotte. Xavier meraih tengkuk wanita itu dan semakin memperdalam ciuman mereka.
.
.
__ADS_1
.
VOTEnya Cantikk... Othor biar semngat lagee.. See youu.. ^-^