Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 41


__ADS_3

“Apa yang Anda pikirkan Tuan Muda?”


Dean melihat Xavier terdiam sejak kepergian Shinta dari ruangan itu. Setelah mendengarkan penjelasan Shinta, Xavier tiba-tiba menjadi pendiam. Tertunduk memandangi kedua tangannya yang bertautan. Ekpresi Xavier sulit untuk ditebak Dean saat ini. Dean yakin, pikiran Tuan Mudanya kini telah terganggu.


“Jika Tuan Muda memikirkan tentang perkataan Nona Shinta, alangkah baiknya Anda mengubur rahasia ini rapat-rapat. Jika Tuan besar tahu, akan semakin besar juga masalah ini.” Ucap Dean memberi saran.


“Hm.” Xavier menyandarkan punggungnya dikursi. “Jangan biarkan ‘dia’ tahu soal ini.”


“Nona Charlotte, Tuan?”


Xavier mengangguk. “Ya. Biarkan ini jadi rahasia. Kau urus wanita itu.”


“Baik. Saya akan mengawasi Nona Shinta. Anda tidak perlu khawatir.” Kemudian Dean mengambil ponselnya di Jas dan menghubungi bawahannya. Dean berjalan menjauh untuk lebih leluasa memberikan arahannya.


Sedangkan Xavier, dirinya kembali mengingat malam itu. Seadainya saja sejak awal dia tahu lebih cepat siapa wanita di malam itu, dirinya tak akan sebingung ini. Dia bimbang, apakah keputusannya untuk mempercepat pernikahan sudah benar dilakukan?


“Tuan Muda, untuk acara nanti malam. Dimana saya harus memesan tempat?” Dean telah berdiri disamping Xavier menunggu jawaban Tuan Mudanya itu.


“Hotel Roses Bels.” Balas Xavier singkat.


“Tempat itu bagus untuk Dinner Romantis Tuan. Anda memang tepat memilihnya.” Puji Dean.


“Urus saja sesukamu. Aku tidak mood lagi.” Ujar Xavier seraya memijat pelan kepalanya.


“Tuan Muda, untuk mendekati Nona Charlotte Anda harus lebih dulu yang melakukannya. Lagipula, Anda akan segera menikahinya. Cara ini lebih baik dibanding cara pendekatan lainnya dalam merebut hati Nona.”


“Aku tidak pendekatan dengannya! Ataupun berniat merebut hatinya! Jangan salah paham!” Xavier memberengut kesal. “Siapa juga yang mau dekat dengan wanita singa itu.” Memalingkan muka.


Dean menahan senyum. Masih saja Tuan Mudanya membantah. Padahal tadi, Tuan Mudanya sendiri yang meminta saran padanya cara mendekati wanita. Untuk apalagi jika bukan ingin merebut hati Nona Charlotte? Apa dirinya salah?


“Baik Tuan Muda. Maafkan perkataan saya yang sudah berlebihan. Anda pasti sangat kesal sampai tak bersemangat melakukan makan malam bersama Nona. Lebih baik saya batalkan untuk reservasinya-“


“Kau ini bicara apa! Enak aja membatalkan sepihak.” Xavier berdiri dengan wajah marah. “Cepat pergi beritahu dia! Aku tidak suka menunggu orang.” Ucapnya kemudian, Dean menggaruk kepalanya, jadi bingung dengan Tuan Mudanya.


“Ba-baik. Saya permisi Tuan Muda.” Dean bergegas pergi sebelum Tuan Mudanya berubah pikiran. Dean berjalan keluar seraya sudut bibirnya tersenyum. Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah Tuan Mudanya.


^

__ADS_1


 


 


William datang ke Mansion. William yang dulunya pernah menjadi bodyguard Charlotte kini telah berganti tugas menjadi asisten Dean dalam mengurus pekerjaan dikantor. Pria itu datang setelah mendapat perintah dari Dean untuk memberitahu rencana makan malam Tuan Mudanya kepada Nona Charlotte. Charlotte sendiri yang mendengar rencana itu hanya menghela nafas jengah dan tidak  bersemangat sama sekali. Bibirnya memberengut kesal.


“Ini baju untuk Nona. Saya akan menjemput Nona pukul 7.” Ujar William.


“Untuk apa pria itu melakukan ini? Buang-buang waktu.” Gerutu Charlotte, namun William masih mendengarnya.


“Tuan Muda ingin memperbaiki hubungan dengan Nona. Saya pikir, ini adalah cara terbaik untuk memperlancar pernikahan. Tuan Muda sudah berusaha keras untuk mempersiapkannya. Alangkah baiknya Nona menerima keinginan baik Tuan Muda.” Ucap William.


“Dia itu licik dan pemaksa. Keinginan baik darimana? Sudahlah, nanti kalau moodku baik, aku pergi. Jika tidak, aku tidak akan keluar walaupun dia mengemis didepanku.” Ujar Charlotte seraya berdiri dan berjalan pergi menuju kamarnya.


William menghembuskan nafas. Nona Mudanya memang keras kepala. Tidak ada yang bisa dia lakukan. Tugas dari Dean sudah dijalankan. Hanya menunggu keputusan Nona Charlotte.


“Apa-apaan pria itu. Seenaknya membuat acara denganku.” Gerutu Charlotte disepanjang jalan menuju kamarnya.


Ting!


Lama Charlotte menimang rencana makan malam Xavier, bertanya-tanya apa maksud terselubung pria itu. Merencanakan makan malam romantis dengan dirinya, orang yang setiap hari selalu mengajaknya bertengkar. Itu aneh, jelas aneh. Kenapa pria itu berubah sikap? Mungkinkah karena kakek? Xavier pernah bilang jika dia terpaksa berbohong pada Kakek yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Pria itu juga menerima pernikahan ini karena keinginan kakeknya. Jika diingat-ingat lagi, Xavier selalu menuruti perintah dan sangat menghormatinya. Jika benar begitu, orang yang bisa mengendalikan Xavier hanya Kakek.


“Jadi begitu. Tuan sok berkuasa itu lemah hanya pada Kakek kan. Kakek baik padaku. Aku harus berusaha mendapatkan hatinya. Jika berhasil, aku bisa menghentikan kelicikkan pria itu padaku.” Tiba-tiba senyum jahat terbit dari raut wajah wanita itu. “Baiklah, aku sepertinya harus pergi. Acara ini akan jadi menarik. Aku harus berpura-pura baik padanya. Lalu… menghempaskannya jauh jauh. Hehe.”


 


 


^^


 


 


“Nona, besok ingin memasak apa?”


“Terserah. Asal aku bisa membuatnya.” Balas Charlotte tak peduli. Dirinya sibuk berdandan didepan cermin dikamarnya. Ditemani satu pelayan yang terus menanyakan pekerjaan untuk Charlotte lakukan besok sebagai pelatihan menjadi calon istri yang baik. Titah Yang Mulia kembali diterapkan padanya. Memasak, membersihkan Mansion dan melayani keperluan Xavier. Jujur saja, kegiatan itu sangat membosankan untuk Charlotte. Dia yakin, Xavier melakukan itu terhadapnya hanya karena ingin membalas dendam.

__ADS_1


“Dasar pemilik otak picik,” umpat Charlotte pelan. Merasa emosi sendiri.


“Maaf Nona jika saya terlalu banyak bertanya.” Ucap pelayan itu merasa bersalah menjadi orang yang memicu kemarahan Nona Mudanya.


“Ah, bukan kau. A-aku hanya asal bicara kok. Tenang saja.” Koreksi Charlotte cepat. Hampir saja dirinya membuat pelayan itu salah paham.


Charlotte memakai dres pemberian Xavier. Memoles sedikit cantik wajahnya yang terbalut kacamata hitam. Rambutnya yang tergerai bergelombang dibiarkan begitu saja. Hari ini dia akan menyenangkan Xavier. Mungkin saja pria itu bisa luluh padanya dan  Charlotte bisa bebas dari hukuman.


“Selesai.” Charlotte bangkit dengan memutar tubuhnya didepan cermin. Gaunnya mengikuti arah pergerakan Charlotte.


“Nona cantik sekali.” Puji pelayan itu tersenyum senang melihat Charlotte.


“Hehe, benarkah?”


“Iya Nona. Tuan Muda Xavier pasti jatuh cinta pada Nona setelah melihat Nona secantik ini.”


Wajah Charlotte tiba-tiba berubah. Setiap mendengar nama pria itu, Charlotte langsung kehilangan semangat hidup. Hah! Kapan dia bisa terbebas dari jeratan si pria jahat itu.


Setelah itu, Charlotte turun ke bawah diikuti pelayan tadi yang ingin mengantarnya sampai didepan Mansion. Disana, Charlotte melihat William sudah standby disamping mobil Alphard hitam yang disiapkan untuknya pergi. Charlotte sejenak melihat William yang membungkuk ketika dirinya berdiri depan pria itu. William masih muda darinya, sikapnya yang selalu menghormatinya selalu mengingatkan Charlotte pada sepupunya.


“Jangan terlalu formal padaku Will. Atau aku akan kabur lagi lho.” Goda Charlotte pura-pura mengancam.


“Saya hanya melaksanakan tugas Nona. Tapi, saya akan mencoba lebih baik lagi.” Ujar William.


“Baiklah. Kalau begitu duduk disampingku ya.”


“Hah?? Maksud Nona?” wajah William langsung berubah ketakutan.


“Hhaha. Aku bercanda..”


 


.


.


. JGN LUPA dukungannya zeyeng... ^-^

__ADS_1


__ADS_2