Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 85


__ADS_3

Charlotte merasa diperhatikan, setiap detik setiap menit. Ia tak henti-hentinya berterima kasih pada Xavier atas perhatian yang begitu memenuhi kebahagiaan dalam hatinya. Kini suaminya itu tengah membantunya berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama Kakek. Charlotte awalnya menolak karena ia bisa berjalan sendiri walaupun pelan-pelan, namun Xavier bersikeras membantunya bahkan berniat menggendongnya. Charlotte takut jika Xavier sampai membuktikannya, ia tak akan punya wajah dihadapan semua orang atas kelakuan suaminya. Xavier benar-benar berubah.


“Pelan-pelan sayang.” Pinta Xavier kala ia membantu Charlotte berjalan saat hampir sampai ditempat tujuan mereka. Ruang makan.


“Aku gendong ya?”


“Tidak! Aku bisa sendiri Xavi.” Tolak Charlotte. Karena posisi mereka kini hanya berjarak 10 meter saja dari ruang makan.


Disana, Kakek sudah duduk tenang. Melihat Cucu dan cucu menantunya saling berdebat hanya karena masalah sepele. Kakek senang, ia berharap hubungan mereka tetap langgeng seperti sekarang.


“Hati-hati.” Xavier mendudukkan Charlotte perlahan, lalu ia tarik kursi disamping wanita itu dan duduk disana.


“Terima kasih Xavi.” Ucap Charlotte dengan wajah bahagianya.


“Sama-sama sayang.” Xavier mendaratkan kecupan di kening istrinya.


“Duh duh…. Kakek iri melihat kalian akur gini. Boleh gak kalau kakek nikah lagi?” timpal Kakek dengan mengulum senyum.


“Tidak!!” jawab Charlotte dan Xavier bersamaan. Hal itu membuat Kakek terkekeh.


“Iya iya. Kalian kok kompak sekali hm? Teruslah seperti ini ya. Jangan khawatir kakek tidak akan menikah lagi, satu wanita cukup tertanam dihati ini…” tutur Kakek mulai lebay.


Xavier memutar bola matanya malas, sedangkan Charlotte terkikik senang. “Kakek yang terbaik.” Ujar Charlotte sembari memberikan dua jempol. Kakek tersenyum dan membalas hal yang sama. Setelah itu mereka melanjutkan makan bersama.


“Besok Kakek akan pulang.”


Charlotte langsung mendongakkan kepala tampak terkejut dengan ucapan Kakek. “Kenapa mau pulang kek. Disini saja dulu.” Pintanya. Kakek tertawa ketika dilihat Charlotte tak rela jika dirinya pergi.


“Kakek masih ada urusan disana sayang. Toh sudah ada Xavier disini. Kakek hanya akan mengganggu kalian.” Kelakar kakek.


Charlotte kembali melanjutkan makannya. Sebenarnya ia masih ingin ditemani Kakek. Perhatian pria itu mengingatkannya pada almarhum Kakeknya.


^^


Keesokan paginya….

__ADS_1


“Hati-hati ya Kek. Jaga kesehatan disana.” Pinta Charlotte dengan wajah sedih. Ia dan Xavier mengantar kepergian Kakek didepan Mansion.


“Jangan sedih sayang. Ini bukan perpisahan terakhir kita. Kakek akan berkunjung lagi jika ada kesempatan.” Ujar Kakek seraya memeluk Charlotte dengan sayang. Charlotte terlihat menangis namun segera ia usap bulir-bulir air matanya.


Mobil Kakek segera meninggalkan halaman Mansion. Xavier langsung mengajak Charlotte untuk masuk kedalam.


^


Tok Tok!


“Masuk!”


Dean masuk kedalam ruang kerja Xavier. Hari ini Xavier akan memulai pekerjaannya walaupun dari rumah. Ia meminta Dean menemuinya siang itu.


Dean berdiri didepan Xavier yang tengah duduk dikursi. Mengamatinya sejenak sebelum memulai berbicara. “Aku ingin dengar laporan tentang tugas yang kuberikan padamu.”


“Baik Tuan. Saya sudah menyiapkannya.” Dean menyerahkan berkas yang terletak di sudut meja yang memang sudah ia siapkan untuk diberikan pada Xavier. Xavier membaca setiap tulisan dikertas itu. Senyum miring terukir di wajahnya.


“Bagus. Dengan begini aku bisa mengawasi Mertuaku yang tidak tahu malu itu.” Ucapnya tersenyum puas. Perusahaan Setiawan Group telah resmi bergabung dengan perusahaannya. Tidak butuh waktu seminggu, sebulan atau bertahun-tahun untuk mendapatkannya. Xavier akan mengembangkan perusahaan itu sendiri, namun tetap diluar lingkup kegiatan perusahaannya.


Xavier memutuskan akan mengembangkan perusahaan milik Keluarga Charlotte. Jika nanti ia berhasil mengembalikan keadaan perusahaan itu lebih baik, akan ia berikan kembali pada istrinya yang lebih berhak memilikinya.


Dean mengerjapkan mata dengan wajah bingung. Mungkinkah tugas tentang Tuan Fredy? “Maksud Tuan, tentang Tuan Fredy?”


“Ya! Bagaimana hasilnya?”


“Begini Tuan. Kemarin saya bicara dengan Tuan Besar. Saya mengatakan semua yang Anda perintahkan pada saya. Tuan Besar tidak ingin saya melanjutkan perintah Anda. Dan meminta saya menghentikannya.” Jelas Dean. Ia sejenak melihat kearah Tuan Mudanya. Reaksi Xavier hanya datar. Pandangannya lurus namun sulit untuk ditebak.


“Hm, baiklah. Kau bisa pergi.”


Dean menghela nafas lega. Tadi ia pikir, Tuan Mudanya akan marah dan tetap melanjutkan rencannya, tapi pikirannya salah. Benar kata Kakek, Tuan Mudanya sudah berubah lebih tenang dari sebelumnya.


“Kalau begitu saya permisi.”


“Hmm.” Dean pergi dan menutup pintu.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Xavier meraih ponselnya dan menghubungi seseorang. Wajahnya masih datar seperti sebelumnya. “Masuk ke ruanganku!”


Tak berselang lama, William masuk dan berdiri tegap didepan Xavier. Pria itu menunduk menunggu perintah. Setelah mendapat telepon dari atasannya ia langsung bergegas datang dengan terburu-buru. Ia akan melakukan tugas apapun demi menghapus kesalahannya.


“Kau bisa menyamar?”


“Ya Tuan! Saya bisa!” William menjawab dengan cepat. Karena itu salah satu keahliannya.


“Bagus. Aku akan memberimu tugas penting.” Xavier memberi jeda sejenak. Ia condongkan tubuhnya kedepan seraya menatap William dengan tajam. William mendekat untuk lebih jelas mendengar ucapan Xavier. “Masuklah di perusahan Julius Nahendra, dan sabotase perusahaan itu!”


William menatap Xavier ia bisa melihat aura balas dendam dimatanya yang gelap. Willian menelan salivanya dengan susah payah.


Siapa yang tidak mengenal perusahaan milik Julius Nahendra. Perusahaan itu adalah milik keluarga Fredy. Perusahaan yang masuk 5 besar di Negara ini. Kini William diberikan perintah yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Mudah baginya untuk menyabotase perusahaan orang, ia sudah mempelajari semua teknik semacam itu. Ia hebat dalam hal pengawalan dan mendapat gelar terbaik di pusat pendidikannya. Selama William menjalani pendidikan yang sangat berat, ia juga dituntut memahami seluk beluk atau latar belakang perusahaan dalam berbisnis. Ia mengambil banyak job dan pelatihan yang sulit. Karena itu ia bisa mendapat sabuk hitam dari sekian banyak pesaingnya.


Dan kini, ia bekerja dibawah kekuasaan seorang Mafia besar dan menakutkan di seluruh Negara dan ditakuti beberapa pemimpin dunia. Ia tahu konsekuensi apa yang akan ia terima jika menyerahkan kesetiaan itu pada Ferdinant Xavier. Pria yang terkenal ambisius, berdarah  dingin dan kejam. Ya, banyak yang mengatakan hal-hal buruk pada kepribadian Xavier. Hal itu sama sekali tak menyurutkan nyali William untuk bisa menjadi bawahan pria itu. Xavier salah satu sosok yang ia kagumi sampai saat ini.


“Kapan saya harus memulainya Tuan?”


“Besok. Aku akan siapkan semua keperluanmu. Waktumu hanya 1 minggu. Jika gagal, kau tahu konsekuensinya. Aku tidak butuh orang tidak berguna!” tegas Xavier.


“Baik. Saya mengerti!”


“Satu hal lagi, sembunyikan rencana ini dari siapapun termasuk Dean. Dan singkirkan orang-orang dibawah perintah kakekku. Aku tidak senang siapun mencampuri urusanku saat bekerja. Lakukan dengan benar!”


“Siap Tuan! Saya pastikan tujuan Anda tercapai! Nyawa saya taruhannya, jika saya gagal!”  William menundukkan kepala dengan kuat. Menerima setiap perintah Xavier dengan penuh kenyakinan. Ia keluar dari ruangan.


Xavier menyandarkan kepalanya di kursi seraya memejamkan mata. “Kini tinggal satu lagi yang harus kuselesaikan. Maafkan aku sayang, demi bisa bersamamu, aku harus menyingkirkan penghalang kita. Aku terpaksa harus menyingkirkan anak itu.”


.


.


.

__ADS_1


Konflik masih berlanjut bestie..... Harap sabar karena ujian bukan hanya di dunia nyata, tapi juga didalam novel yahh.. ckckkc...


VOTE nya ditunggu yahhh... See you.. ^_^


__ADS_2