
Ruangan dengan penerangan minim menyerang penglihatan Charlotte pertama kali memasuki ruangan itu. Hanya lampu tidur dikedua sisi tempat tidur king size yang ada disudut ruangan yang mampu dijamah oleh mata Charlotte. Pandangan Charlotte beredar disetiap penjuru, memperhatikan setiap benda yang bisa dijangkaunya.
Disisi lain tempat tidur ada lemari tinggi beretalase berisi buku, benda-benda kuno dan beberapa foto. Disana juga ada sofa single dengan meja berbentuk lingkaran. Ada satu kamar mandi, dan juga balkon yang pintunya tertutup rapat dengan korden abu-abu.
Mata Charlotte beralih ke tempat tidur yang ukurannya memang cukup besar. Diatasnya tampak berbaring seseorang dengan lengan kokohnya sengaja menutupi mata. Hanya dengan penerangan minim dikamar itu, ia bisa melihat jika sosok itu adalah suaminya. Dengan langkah pelan, ia maju kedepan mendekati pria itu.
Deru nafasnya yang teratur dengan perutnya yang naik turun, menunjukkan jika Xavier tengah terlelap dalam tidurnya. Saat tidur seperti itu membuatnya terlihat manis dimata Charlotte.
“Astaga! Apa yang kau pikirkan sih?” gumam Charlotte dengan menepuk jidatnya sendiri. Disaat seperti ia masih bisa berpikiran seperti itu. Ia masih marah dengan Xavier.
Charlotte bimbang, haruskah ia membangunkan suaminya. Xavier tampak kelelahan dengan cara tidurnya yang sama sakali tak terganggu. Bagaimana nantinya jika Xavier terkejut melihatnya disini. Pasti ia akan dianggap tak sopan karena masuk kedalam kamarnya tanpa ijin. Tapi jika tetap dibiarkan terus, masalah mereka tidak akan selesai.
Sibuk dengan pikirannya sendiri, Charlotte sampai tak menyadari jika mata Xavier perlahan terbuka. Charlotte berdiri disisi tempat tidur dengan berbagai dugaan buruk.
“Bagaimana kau bisa kesini?”
Suara serak khas bangun tidur Xavier membuyarkan lamunannya. Ia buru-buru menoleh cepat pada pria itu. Matanya terbelalak kala Xavier berusaha mendudukkan tubuhnya berhadapan dengan Charlotte. Sorot mata pria itu tampak redup, namun fokus pada Charlotte yang kini kesulitan menegakkan tubuhnya. Wanita itu tampak canggung. Ia bingung harus memulai pembicaraan dari mana.
“Kenapa diam?”
“Emb, Xavi. Ada yang ingin kukatakan.”
__ADS_1
“Jika soal orang tuamu dan perusahaan, aku tidak berminat.” Jawab Xavier cepat. Ia renggangkan kepalanya kekanan dan kekiri, mengurangi rasa pegalnya. Lalu pandangannya kembali berpusat pada Charlotte.
“Kenapa? Aku berhak tahu apa yang sudah kau lakukan.” Ujar Charlotte.
“Untuk apa? Kau juga ingin menghinaku seperti yang dilakukan orang tuamu?” tanya Xavier santai, namun sarat akan ketidaksukaan.
“Jika benar perusahaan telah kau ambil, wajar saja mereka marah.”
Xavier merotasi bola matanya dengan mengendus kesal, ia palingkan wajahnya kesisi lain. “Jika itu tujuanmu menuntutku, pergilah. Aku ingin istirahat.” Xavier berniat kembali tidur, namun Charlotte langsung menarik tangannya, hingga memaksa Xavier menatap istrinya.
“Aku tidak marah jika kau mengambil alih perusahaan. Tapi aku marah padamu karena kau menyakiti ayahku.”
“Lalu kau mau apa? Aku minta maaf padanya?”
Xavier mendengus lalu tersenyum miring. “Kau pikir dia juga tidak salah padaku? Ayahmu sudah menghinaku dan Kakekku! Seharusnya dialah yang minta maaf padaku dan berterima kasih karena sudah kuselamatkan perusahaannya! Tapi tidak, dia justru ingin memukulku. Beraninya dia melakukan itu?” Wajah Xavier tampak kecewa juga menahan emosinya.
“Karena emosi, setiap orang bisa melakukan kesalahan. Pikiran Ayahku sedang tidak baik saat itu.”
“Aku juga sama. Pikiranku sedang tidak baik saat itu, bukan hanya melihatmu selingkuh tapi juga atas kehamilanmu! Kau pikir aku bisa sesabar ini padamu,? Tidak lagi! Jadi kuperingatkan kau secepatnya pergi dari sini dan jangan menemuiku!” seru Xavier dengan nafas memburu. Ia coba mengatur emosinya yang hampir tak terkendali. Hanya mengingat kehamilan Charlotte, semakin menambah pikirannya.
“K-kau bilang apa? A-aku hamil?” Charlotte tampak bingung, ia menatap Xavier lamat-lamat.
__ADS_1
“Ya, kau hamil. Dan aku tidak menyangka, anak itu adalah buah dari pengkhianatanmu padaku dengan pria sampah itu!”
Charlotte terkejut atas tuduhan Xavier padanya. Yang ia terima dari ucapan suaminya adalah ia sedang hamil dan Xavier dengan seenaknya mengakui anak itu adalah milik Fredy. Ia tidak mengerti bagaimana suaminya bisa punya pikiran sedangkal itu. Jika ia hamil, tentu saja itu anak Xavier.
“Kenapa kau mengira ini anak Fredy? Tuduhanmu telah menyakitiku Xavi!” ujar Charlotte tak habis pikir.
“Memang benar bukan, jika kau berselingkuh dengannya maka anak itu adalah buah hasil kebohonganmu! Sekarang aku tanya padamu, berapa pria yang sudah kau ajak tidur sebelum diriku?”
PLAK!!
Tamparan keras melayang ke wajah Xavier. Charlotte terkesiap sekaligus sakit hati atas tuduhan Xavier padanya. Air matanya tanpa bisa dicegah mengalir deras diwajahnya.
“Kau pikir aku wanita murahan Xavi?! Bagaimana kau bisa setega itu menuduhku tidur dengan pria lain?!! Aku sudah menjelaskan padamu dari awal, hanya kau pria pertama bagiku! Tidak ada yang lain!” teriak Charlotte dengan terisak.
“Bulshit! Jangan membohongiku lagi! Aku muak dengan itu!”
“Kau muak denganku apalagi diriku? Yang dari awal tidak pernah menginginkan pernikahan ini! Kau memaksaku dan membuatku jatuh cinta padamu. Dan sekarang, dengan mudahnya kau menuduhku dengan hal yang bahkan tidak pernah kulakukan!! Apa selamanya aku buruk dimatamu? Kalau iya, seharusnya sejak awal kau menolak pernikahan ini dan tidak membuat hatiku terluka! Kau sangat kejam, kau tahu itu Xavi….. Hiks.” Charlotte tak kuat menahan tubuhnya, hingga ia limbung kebelakang sebelum pandangannya berubah gelap.
.
.
__ADS_1
.
Happy Reading ^-^