Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 93


__ADS_3

“Char, gue mau tanya ma lu. Tapi lu jawab jujur ya?”


“Apaan sih Mon?”


“Apa bener, lu sama Fredy balikan lagi?”


Charlotte menoleh, “Ya enggaklah Mon. Gue dah punya suami. Nih bukti cinta gue ma dya.” Charlotte menunjukkan perutnya. Ia geleng-geleng mendengar ucapan Mona yang lucu.


“Kata ayah lu, lu sama Fredy ketahuan ngehotel sama suami lu. Suami lu marah dan ajak lu pulang kesini. Bener gak sih?”


“Itu semua salah paham.” Bantah Charlotte. “Xavi emang marah saat tau gue sama Fredy di hotel. Tapi sumpah, gue sama dya gak nglakuin apa-apa kok. Kami bertiga disana.”


“Huh, bertiga? Sama siapa lagi?” timpal Lexy.


“Tuan Harfin, calon investor perusahaan kakek. Itu juga kamar hotel Tuan Harfin. Beliau minjemin bajunya ke Fredy yang kotor. Sekalian ganti disana.” Jelas Charlotte.


“Trus suami lu dah tau semua itu?”


“Udah gue jelasin kalo kita gak ada hubungan. Awalnya dya gak percaya. Tapi setelah gue sakit kemarin, dia mulai berubah. Dia malah makin manis ma gue.”


“Ohhh.”


“Kenapa sih, kok kalian tanya itu? Tumben nanyain suami gue mulu.” Charlotte dibuat bingung oleh mereka berdua.


“Emb, gak gitu juga sih. Kita bingung aja, kenapa lu tiba-tiba balik kesini. Ke Jakarta pun, lu gak ngabarin kita.” Ucap Mona.


“Iya, sory ya. Saat itu gue banyak pikiran. Xavi nuduh gue selingkuh dan pergi ke Italia gitu aja. Gue juga gak diijinin keluar rumah.” Keluh Charlotte.


“Duh, kenapa jadi ribet gitu ya Char.” Ucap Lexy.


“Iya, gue jadi mikir aneh-aneh tauk. Gue pikir, Xavi gak mau ketemu lagi. Gue pikir, dya bakal minta cerai. Tapi setelah Kakek datang dan gue jatuh sakit, sikapnya berubah. Dya jadi lebih perhatian ma gue.” Tutur Charlotte bersemu merah. Mengingat setiap perlakuan manis Xavier padanya.


“Apa lu yakin, suami lu dah gak marah?” sangsi Lexy.


“Kayaknya sih gitu.”


Mona dan Lexy saling pandang. Charlotte menangkap keraguan diwajah mereka. “Ada apa sih?” tanyanya penasaran.


“Char, lu tau kabar tentang perusahaan Om Julian ndak?”


“Perusahaan Fredy? Kenapa?”


Lexy dan Mona kembali melempar pandang. Saling menyakini jika Charlotte belum tahu berita itu. Lexy kembali melanjutkan bicaranya. “Perusahaan Fredy colaps Char. Bener-bener bangkrut.”


Charlotte tertegun, “K-kok bisa?”

__ADS_1


“Entahlah, Kami juga kaget pas tau berita itu.” Balas Mona.


Charlotte terdiam, jadi memang benar perusahaan Fredy bangkrut? Perusahaan yang jauh lebih besar dari milik keluarganya. Kenapa bisa seperti itu? Apa mungkin… Suaminya ada dibalik semua itu?


“Char! Kok malah diem sih?” Mona menepuk bahu Charlotte. Menyadarkan wanita itu akan lamunannya.


“E-enggak kok. Tadi gue…”


“Jangan banyak pikiran deh Char, lu lagi hamil. Bahaya banget kalo lu stress.” Mona seakan tahu jika Charlotte sedang memikirkan Fredy.


Charlotte diam. Pikirannya kemana-mana. Ucapan Xavier kembali berkeliaran dikepala. Ia sangat percaya pada Xavier. Namun kenyataan itu mulai menggoyahkan kepercayaannya. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan langsung pada suaminya itu.


^


“Apa maksud ucapanmu? Charlotte mengandung Anakku?” Fredy kembali mengulang pertanyaannya.


“Ya! Kau pasti senang bukan. Tapi sayangnya, aku tidak akan membiarkanmu mendapatkannya lagi. Hubungan kalian sudah selesai. Sekarang aku yang pantas berada disampingnya!” ucap Xavier tanpa keraguan, ia menghempas tubuh Fredy sampai terjatuh di sofa. Menatap kebencian pada pria itu.


“Tunggu, kau pasti salah. Charlotte mengandung anakku? Ba-bagaimana mungkin?” Fredy seperti orang linglung. Ia masih tidak paham dengan perkataan Xavier. Jika Charlotte hamil, seharusnya itu anak Xavier bukan? Kenapa malah dirinya yang dituduh?


“Kau tanya hal itu padaku? Dasar bajing*n kau!”


Xavier merangsek maju dan langsung memberi Fredy pukulan keras.


Bukk! Bukk! Bukk!


“Bajing*n! Brengs*k! Enyah saja kau!”


Brak!


“Tuan Muda!”


Dean dan Hugo masuk dan langsung berlari menghambur menghampiri mereka. Hugo langsung menarik tubuh Xavier menjauh. Karena hanya pria itu yang memiliki kekuatan besar dalam menahan serangan Xavier pada Fredy. Dean menarik Fredy untuk berdiri. Pria itu sudah babak belur. Mata dan kulit wajahnya membiru. Bibirnya sobek dan mengeluarkan darah segar.


“Bawa dia pergi dari hadapanku!” perintah Xavier menggelegar, ia masih tak terima dengan perkataan Fredy. Yang menurutnya penuh provokasi -padahal tidaklah demikian.


“Brother, tenanglah! Dean bawa orang itu pergi!” seru Hugo.


Dean tak ingin masalah makin runyam, ia segera memapah Fredy keluar dari ruangan meninggalkan Xavier yang masih emosional.


^


“Akhh!”


Fredy menyentuh ujung bibirnya yang terluka. Mendesis kesakitan.

__ADS_1


“Anda tidak apa-apa Tuan Fredy?” tanya Dean tampak cemas, melihat luka diwajah Fredy yang sangat memprihatinkan. “Saya akan bawa Anda ke Rumah Sakit?”


“Tidak perlu. Aku akan pulang.” Fredy beranjak dari tempat duduknya. Ia dibawa Dean ke sofa depan ruangan Xavier setelah pertengkaran mereka. Pria itu masih menahan rasa sakit, seraya berjalan sempoyongan menuju lift.


Fredy menyandarkan tubuhnya di dinding lift yang kini menuju ke lantai bawah. Ia berusaha menyeka darah yang masih mengucur di bibirnya dengan sapu tangan. Pandangannya menerawang. Ia tidak terlalu peduli dengan luka di wajahnya, pikirannya terfokus pada perkataan Xavier yang menyebutkan jika ia adalah ayah dari calon anak Charlotte.


‘Xavier sudah gila? Dia menuduhku dengan hal tidak masuk akal! Aku dan Charlotte tidak pernah melakukan hubungan badan, bisa-bisanya Xavier mengatakan itu! Charlotte pasti hamil anaknya bukan anakku! Gila! Ternyata Xavier hanyalah seorang  suami pencemburu! Lebih gila lagi dia tak akui anaknya sendiri!?’ batin Fredy tak habis pikir. Ia mendesahkan nafas ke udara. Ia benar-benar tak mengerti jalan pikiran Xavier. Pikiran pria itu sangat sempit!


Brak!


Fredy memukul dinding lift dengan kesal! Jika saja, ia bisa menemui Charlotte, ia akan ungkapan semua kekesalannya sekarang. Xavier benar-benar kelewatan! Lalu sekarang, bagaimana nasib Charlotte? Fredy merasa khawatir.


^


Didalam ruang kerja Xavier, pria itu masih uring-uringan. Berjalan kesana kemari dengan mengacak rambutnya. Meredam emosi yang masih melekat dalam diri pria itu. Hugo memperhatikan kekalutan Xavier. Ia sama sekali tak tahu, masalah apa yang membuat kakaknya seperti sekarang ini. Xavier yang selalu berkepala dingin, kini dipenglihatannya hanya seorang pria yang tidak berhasil mengontrol emosi.


“Brother, are you okay? Please tell me, what your problem?” Hugo mulai tak sabar sambil menggerakkan kedua tangannya ke udara. Biasanya dialah orang yang susah diatur saat sedang emosional. Hingga Xavier yang harus turun tangan menghentikan amarah pria itu. Tetapi kini sebaliknya, Hugo dibuat pusing dengan sikap tak jelas kakaknya itu. Ia penasaran dan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi!


“Shut up! Jika tidak tahu jangan ikut campur!” sergah Xavier tak senang.


“Aku tidak tahu, makanya tanya!”


“Urus saja Cossa! Singkirkan mereka! Baru aku tenang!” gerutu Xavier seenaknya. Hugo terperangah. Memangnya menghentikan Cossa segampang itu? Oh tentu tidak! Gerutu Hugo.


“Kita akan melakukannya bersama! Tanpamu aku mana bisa bertindak seenaknya Brother! Aku bisa saja menembak kepala mereka satu persatu dan memberikannya padamu! Tapi kau tahu, itu tidak mungkin! Tanpa rencana matang, aku tidak bisa menyentuh mereka! Aku benci mengatakan ini, tapi aku butuh otak pintarmu!” seru Hugo.


Xavier menyugar rambutnya, menampakkan wajahnya yang kacau. Ia duduk diseberang Hugo. Penampilannya begitu berantakan. Kemeja yang telah digiling sampai siku, kancing atasnya terbuka dengan rambut yang acak-acakkan! Bukan penampilan Xavier biasanya yang terkesan perfeksionis.


“Kita bisa hancurkan Cossa, tapi setelah menyingkirkan masalahmu itu! Kau dengar itu Brother!” Ujar Hugo penuh penekanan.


“Arghh! Sh*ttt!! Kau berisik Hugo!!” Xavier bangkit dari sofa dan berjalan keluar.


“Mau kemana? Aku belum selesai bicara!” seru Hugo.


“Pulang! Aku mau pulang, Brengs*k!”


Brak!!


Pintu berpelitur baja itu tertutup rapat! Bersamaan dengan helaan nafas Hugo.


.


.


.

__ADS_1


Yuks VOTE-nya Bestie........ Ditunggu yahh...


Happy Reading...


__ADS_2