Menikahi Tuan Penguasa

Menikahi Tuan Penguasa
BAB 44


__ADS_3

Charlotte bergegas pergi setelah mengambil semua barang-barangnya. Dibelakang, Xavier memanggilnya berulang kali tapi tak dihiraukan Charlotte. Charlotte keluar hotel dan berhenti dipinggir jalan. Dirinya menghirup dalam udara malam hari. Perasaannya sidikit lega saat meninggalkan Resto. Entah kenapa, Charlotte ingin pergi dari tempat itu sejauh mungkin. Argh, dirinya tak mengerti dengan isi pikirannya sendiri. Ketika bersama Xavier, ia mengalami berbagai emosi yang belum pernah dirasakan sebelumnya. Rasa benci, marah, sekaligus cemburu?


Cemburu? Tidak tidak! Dirinya tak mungkin merasakan hal semacam itu. Dia tidak peduli mau Xavier dekat dengan siapapun. Mungkin karena mereka akan menikah, dirinya tidak rela pria itu bahagia diatas penderitaannya. Ya, mungkin memang karena itu. Tidak lucukan jika dirinya memiliki perasaan cinta kepada Xavier.  Hanya karena pria itu dekat dengan wanita lain.


Charlotte menengadahkan kepalanya. Menatap ribuan bintang dilangit malam. Saling menyapa dengan cahaya. Kedua sudut bibirnya tertarik keatas membentuk senyuman kecil. Charlotte menyukai bintang. Benda bersinar itu mengingatkannya dengan mendiang ibunya. Beliau selalu menghadirkan kebahagiaan untuk Charlotte lewat bintang-bintang. Menghilangkan semua kesedihannya. Tidak terasa dirinya sudah beranjak dewasa dan menjadi seorang diri. Tidak ada keluarga yang mendukungnya sekarang. Charlotte merindukan ibunya dan ingin mengenang semua kenangan mereka.


Charlotte teringat dimana dirinya pernah datang ke suatu tempat dikota ini. Dulu, bersama Fredy, Charlotte diajak ke sebuah bukit yang bisa menemukan bintang-bintang terindah. Jika ia kesana, rasa rindunya pada ibunya mungkin akan hilang? Ya, dia harus pergi ketempat itu sekarang.


^


“Apa katamu?!”


“Ma, pelankan suaramu.” Sinta berbisik untuk mengingatkan Ibunya agar tak bersuara keras. Mengingat Ayah mereka ada didalam rumah.


“Untuk apa Tuan Muda Xavier memanggilmu dikantor kalau hanya menanyakan tentang topimu yang hilang itu?” ujar Sella tak mengerti.


“Aku tidak tahu Ma. Dia cuma tanya hal-hal tak berguna. Menurut Mama, apa yang sedang mereka cari?” bisik Sinta mencari pendapat.


“Ya mana Mama tahu. Ah, apa mungkin ada orang lain yang menyalahgunakan barang itu untuk melakukan tindak kejahatan?” Sella bergidik ngeri jika benar dugaannya.


“Mama!! Jangan takut-takutin Sinta dong.” Sinta meringsutkan kepalanya diperut ibunya. Wajahnya berubah ketakutan.


“Makanya! Kalau punya barang itu dijaga baik-baik. Topi itu pemberian Fredy, malah kamu hilangkan. Dasar anak nakal!”


“Ouhh, Ma sakit!” Sella mencubit keras pinggang Sinta, hingga membuat putrinya itu menjauh dengan wajah kesal.


“Diam dan jangan bicara lagi. Mama pusing.” Sella bangkit dan pergi begitu saja.


“Mama gimana sih, aku kan cuma tanya kenapa jadi sewot begini.” Sinta ngedumel seraya mengambil ponselnya untuk berkirim pesan manis pada calon suaminya. Wajahnya kembali berseri jika mengingat pria itu.


^


Charlotte tak membutuhkan waktu lama untuk sampai ditempat yang dituju. Letak tempatnya tak jauh dari pusat kota. Disana begitu tenang dan jauh dari hiruk pikuk kendaraan. Charlotte mulai berjalan diantara lampu-lampu lampion kecil yang menerangi jalan setapak menuju puncak bukit.


Dibeberapa sudut dari tempat itu, ada beberapa pendagang berkeliling menjajakan makanan dan minuman. Charlotte melewati mereka dan terus naik sampai ke puncak. Disana, Charlotte mencari tempat bagus dan duduk di rerumputan. Meletakkan tasnya disampingnya. Tidak memperdulikan ponselnya yang terus bordering sejak dirinya berada di Taksi.


“Ma, Charlotte kengen. Kangen pelukan mama dan semuanya.”


Charlotte mulai terbawa suasana. Kedua tangannya mendekap kakinya dengan erat. Menghangatkan tubuhnya yang kedinginan. Senyuman ketegaran tak lepas dari raut wajahnya. Air mata mulai menggenang dipelupuk mata membasahi kedua pipinya.


Tak jauh dari tempatnya kini, seseorang tengah memperhatikan Charlotte. Orang itu mengambil fotonya dan mengirimkan pesan.


^


“Dimana dia?”


Xavier baru saja keluar dari Restoran. Dia menelpon seseorang untuk mengetahui keberadaan Charlotte. Baru beberapa menit yang lalu, dirinya mendapat informasi tentang keberadaan wanita itu lewat anak buahnya. Diam-diam Xavier telah menyuruh salah satu anak buahnya untuk mengawasi Charlotte tanpa sepengetahuan wanita itu. Hal itu terbukti ampuh saat situasi seperti ini.

__ADS_1


“Nona dibukit bagian barat Tuan Muda.”


Untuk apa dia disana?


“Baiklah. Awasi dia sampai aku datang.” Perintah Xavier cepat dan bergegas menuju mobil yang sudah disiapkan didepan hotel. Xavier membanting stir keluar gedung, bergegas pergi ke tempat wanita itu berada.


Di tempat Charlotte sekarang, wanita itu tengah duduk bersila di rerumputan masih memandangi langit malam. Charlotte tidak merasa bosan ataupun berniat kembali ke mansion. Dia membutuhkan ketenangan dan itu ia dapatkan ditempat itu.


Namun, ketenangannya kembali terusik ketika tiba-tiba seseorang menarik tangannya dari belakang hingga membuatnya berdiri. Xavier. Pria itu datang kesana dengan guratan kemarahan.


“Siapa yang mengijinkanmu pergi seenaknya? Belum cukup kau membuatku kesulitan?” geram Xavier. Nafasnya memburu, pandangannya tak lepas dari Charlotte.


“Lepas! Siapa yang seenaknya? Kau sendiri, sibuk dengan orang lain. Untuk apa aku tetap disana.” Seru Charlotte berusaha menepis tangan Xavier di pergelangannya. Pria itu sama sekali tidak ada lembut-lembutnya padanya. Charlotte kesal.


“Lyla hanya bicara tentang bisnis. Tidak bisakah kau menunggu sebentar.” Ujar Xavier.


“Aku tidak sesabar itu.” Charlotte berhasil menjauh dan mengusap tangannya yang memerah. “Tidak bisakah kau baik padaku? Selalu saja kasar.” Lontarnya dengan bibir mengatup rapat menahan kemarahan.


“Bisa.” Xavier memajukan tubuhnya, lalu menunduk mendekatkan wajahnya ke telinga wanita itu. “Asal kau menurut padaku. Mudah, kan?”


Charlotte menghela nafas. Menahan diri agar tidak kembali dikuasi emosi. Xavier bukan pria yang mudah dibujuk. Pria itu bisa melakukan apa saja yang diluar kendalinya.


“Ya, baiklah. Aku salah.” Akhirnya Charlotte mengalah. Dia kembali duduk.


“Ayo pulang.” Perintah Xavier.


Xavier tidak langsung menuruti perkataan Charlotte.


“Aku sangat sibuk. Tidak ada waktu untuk duduk santai denganmu disini.” Tolak Xavier seraya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku. Bersikap acuh.


“Hanya sebentar. Tidak akan sampai membuat pekerjaanmu berantakan.” Ujar Charlotte seraya meraih tangan Xavier.


“Aku bilang tidak ya tidak.” Masih bersikeras menolak. Mereka terus berdebat hal-hal kecil, sampai seorang anak kecil datang membawa dagangan dalam sebuah kotak. Menghampiri mereka.


“Cangcimennya Kak.”


Xavier hanya meliriknya sekilas. Tubuh anak itu kurus dengan pakaian kedodoran. Rambutnya berantakan dan terlihat sangat kelelahan. Melihat kondisi anak kecil itu membuat Charlotte iba. Dia berdiri dan mendekati anak itu. Charlotte berjongkok dan mengelus puncak kepala anak itu.


“Hei tampan, dimana orang tuamu?” tanya Charlotte.


“Aku yatim piatu kak.” Jawab anak itu.


“Oh, astaga. Kamu anak hebat ya. Jualan seperti ini sendirian. Kamu gak capek?” Charlotte melihat isi kotak makanan. Masih ada setengah yang belum terjual.


“Tidak kak. Aku senang. Kan dapet uang.”


“Memangnya uangnya buat apa?” tanya Charlotte lagi. Dia tampak tertarik dengan cerita anak itu.

__ADS_1


“Buat makan.”


Charlotte menatap tak percaya anak itu. Bibirnya terbuka lebar tidak menyangka jika masih ada anak sekecil itu tengah berjuang keras menghidupi dirinya sendiri. Sedangkan dirinya yang punya semua,  Uang dan keluarga masih saja mengeluh hanya karena perjodohan. Hatinya terenyuh. Tangannya terangkat menyentuh pipi anak laki-laki itu.


“Kamu sekolah?”


“Tidak kak.”


“Kenapa?”


“Uangnya buat makan. Ayo kak dibeli, nanti aku kasih tisu gratis.” Ujar anak itu dengan menyunggingkan senyum manis.


“Kakak akan beli semua ini. Tapi dengan satu syarat.”  Ujar Charlotte seraya menyeka sudut matanya yang berair.


“Benarkah? Apa itu kak?” seru anak itu sumringah. Senang karena dagangannya akan dibeli.


“Setelah ini, kamu pulang dan istirahat ya. Lalu belajarlah. Kalau kamu pintar, kamu bisa sekolah tanpa biaya. Hmm?” ucap Charlotte.


“Beneran kak? Aku bisa sekolah kalau pintar?” tanya anak itu seolah tak percaya.


“Iya. Jadi kamu harus semangat belajar yah.”


“Baik kak. Aku pasti akan belajar dengan giat. Supaya bisa sekolah lagi.”


“Ya sudah. Mana yang kakak beli?”


Anak itu girang bukan main, dia langsung mengambil kantong plastik. Dan memasukkannya kedalam sana.


“Hei, diam disana.”


Kali ini Xavier yang bicara dengan suara datar. Pria itu mengambil sesuatu didalam saku celananya dan membuka dompetnya. Mengeluarkan beberapa uang ratusan dan diserahkan pada anak itu. Charlotte termangu melihatnya.


“Ini ambil. Bawa semuanya pulang dan berikan pada teman-temanmu. Mengerti.” Ujar Xavier. Anak itu menerima uang dari Xavier.


“Terima kasih kak. Terima kasih banyak.” Anak itu senangnya bukan main. Dia langsung pergi setelah mengucapkan kata terima kasih berulang kali pada Xavier dan Charlotte. Pergi dengan membawa uang penuh di saku celananya.


“Apa yang kulihat tadi? Kau seperti superman.” goda Charlotte.


“Aku hanya menghentikanmu, untuk terlihat hebat dariku.”


“A-apa? Hei!!”


Xavier mengacuhkan kekesalan Charlotte dan duduk dengan santai.


.


.

__ADS_1


VOTE Sampe 70 auto update yaa... see you ^-^


__ADS_2